
"Bukankah ini kalung pemberianku?" tanya Gio setelah mengambil kalung itu.
"Baru saja aku menemukannya mungkin terjatuh," ucap Dokter itu membuat Tiara menatapnya.
"Sini, aku pakaikan lagi. Jangan sampai terjatuh lagi karena aku tidak memilikinya lagi untuk aku berikan padamu." Gio berkata seraya memakaikan kalung itu.
"Dokter terima kasih, sudah menemukannya," ujar Gio yang berdiri menghadap Dokter itu.
"Sama-sama. Boleh aku bicara dengan pasienku?" tanya Dokter itu membuat Gio heran hingga kening pria itu mengerut.
Gio melirik Tiara sesaat lalu berkata," Baiklah, aku akan menunggu di mobil." Gio segera berjalan memutari mobil, masuk dan duduk di bagian kemudi.
"Dokter apa yang terjadi? Kenapa kamu mengembalikan kalung ini?" tanya Tiara.
Dokter itu menunduk, menyentuh kedua pundak Tiara lalu berkata, "Kalung itu sangat berarti bagimu bukan? Kamu pernah bilang bunga matahari adalah harapanmu, jadi aku pikir tanpa kalung itu apa kamu akan menikmati harimu? Aku berubah pikiran, nikmatilah harimu selama yang kamu inginkan. Jangan memikirkan temanmu itu, dia pasti baik-baik saja, aku akan menjaganya. Berliburlah, nikmati harimu bersama suamimu dan keluargamu."
"Apa itu artinya aku tidak harus kembali besok?"
"Hem," Dokter itu mengangguk.
"Terima kasih, tapi … apa Dokter ingat pesanku? Jangan lupakan itu, ingatlah perkataanku, hanya kamu orang yang aku percaya. Dan aku akan sangat bahagia jika menolong orang lain." Tiara tersenyum setelah mengatakan itu lalu masuk ke dalam mobil dibantu Dokter itu.
Dokter itu termenung menatap kepergiaan Tiara, keinginan yang Tiara katakan sangat sulit untuk diwujudkan.
.
.
"Pasien mau dibawa ke mana Bu?" tanya seorang perawat yang masuk ke dalam kamar Rara.
Rara dan ibunya yang hendak pergi terduduk kembali. "Maaf Suster, saya akan membawa anak saya pulang. Kami tahu belum membayar biaya inap dan pengobatan Rara, tapi saya tidak akan kabur. Saya akan kembali untuk membayar sisanya," ucap Ibu Rara.
"Belum bayar, tapi kalian mau pergi," kata Suster itu.
"Bukan begitu. Saya membawa pulang anak saya demi mengurangi biaya pengobatan. Kami tidak akan kabur percayalah." Ibu itu sudah panik takut jika pihak rumah sakit menahannya.
Rara hanya diam, bahkan tatapannya tidak tentu arah.
"Begini Bu, karena kondisi anak Ibu belum pulih, kami sarankan untuk tidak di bawa pulang dulu ya Bu, sampai nanti ada pendonor mata."
"Tapi Suster."
"Ibu jangan khawatir, soal biaya sudah selesai. Untuk saat ini pihak rumah sakit hanya menunggu pendonor mata untuk putri Ibu, kami sedang mencari di bebagai rumah sakit," jelas Suster itu.
"Aku akan melihat kembali?" tanya Rara, Suster itu mengangguk dengan ramah.
"Iya. Anda bisa melihat kembali setelah mendapatkan donor mata dan operasi." Rara tersenyum, gadis itu sangat senang karena memiliki kesempatan lagi untuk melihat.
Tetapi tidak dengan ibunya yang gelisah perihal biaya rumah sakit.
__ADS_1
"Suster, tunggu sebentar saya ingin bicara," kata wanita itu menghentikan Suster itu pergi dari kamar.
"Ada apa ya Bu?" tanya Suster itu.
"Begini … saya sangat berterima kasih atas kepedulian dari pihak rumah sakit. Namun, saya tidak bisa terima, soal …," ucap wanita itu terhenti.
"Semua biaya sudah ditanggung. Jangan terlalu memikirkannya."
"T-Tapi … s-siapa?"
"Ada orang yang baik yang menginginkan kesembuhan putri anda. Jadi anda bisa tenang menemani putri anda sampai mendapatkan donor mata. Berdoa saja ya Bu, semoga putri Ibu segera mendapatkan pendonor mata itu," ucap Suster itu lalu pergi.
"Siapa orang baik itu?" tanya wanita itu dalam hati.
.
.
Revan mendatangi sebuah cafe. Pria itu celingukan mencari seseorang hingga sudah duduk di mejanya. Entah siapa yang Revan cari, tatapannya terus tertuju pada setiap waitres pelayan cafe.
"Permisi," ujar Revan menghentikan seorang pelayan.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Saya sedang mencari teman. Beberapa hari yang lalu dia bekerja di sini tapi saya tidak pernah melihatnya lagi," ungkap Revan.
"Rara," jawab Revan.
"Oh Rara, beberapa hari yang lalu dia mengalami kecelakaan, jadi Rara tidak lagi bekerja di sini."
"Kecelakaan?"
"Hem," jawab pelayan itu dengan anggukan.
"Apa aku boleh tahu alamatnya?"
"Maaf, saya tidak tahu. Mungkin kamu bisa mencarinya di rumah sakit terdekat," ucap pelayan itu lalu pergi.
Revan diam sejenak dan berpikir lalu pergi meninggalkan cafe.
.
.
Tiara sudah sampai di rumahnya, dia memasuki kamarnya. Tiara mendekati lemari dan mengambil sebuah gaun. Bibirnya melengkung sesaat, ketika melihat gaun pernikahannya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Gio yanh baru saja masuk, berjalan mendekati Tiara.
"Aku menemukan gaun ini. Gio, bagaimana jika kita berfoto?"
__ADS_1
"Berfoto? Kamu sangat aneh, kenapa sering sekali meminta foto?" tanya Gio heran.
"Kita tidak memiliki foto pernikahan, kita tidak sempat berfoto karena aku harus dilarikan ke rumah sakit. Aku ingin memakai gaun ini untuk berfoto, kamu juga memakai jas pernikahan kita."
"Tiara, ada apa denganmu? Kamu berkata seolah akan pergi. Kamu meminta foto pernikahan yang tidak begitu penting. Pernikahan tidak dilihat dari foto, kamu bertingkah seperti orang yang akan tiada." Gio berkata dengan sedikit emosi.
"Aku hanya ingin mengabadikan momen pernikahan kita. Semua orang berfoto, bahkan mereka memajangnya di dalam kamar. Aneh saja saat memasuki kamar tidak ada foto pernikahan kita sama sekali," ucap Tiara yang menunduk diam.
Gio menghela nafas berat, kesal dan tidak suka dengan keinginan istrinya, tapi Gio tetap mengabulkan. Hari ini Gio menghubungi jasa fotographer. Bahkan Tiara didandani secantik mungkin bak seorang pengantin.
Gio menatap dirinya pada pantulan cermin, merasa aneh harus memakai kembali baju pernikahannya. Gio berjalan gontai ke arah kamar, di mana Tiara berada.
Pria itu hanya melamun menatap sang istri yang sedang dirias.
"Gio?" Panggilan Tiara membuyarkan lamunannya, Gio tersenyum dan berjalan ke arah Tiara.
"Apa aku sangat cantik?" tanya Tiara dengan senyuman.
"Hem," jawab Gio.
"Fotolah, foto aku dengan ponselmu."
Awalnya Gio hanya diam tetapi Tiara terus memaksa. Hingga akhirnya satu potret berhasil Gio abadikan dengan ponselnya. Dan kini mereka berdua dipotret seorang fotographer dengan berbagai pose.
Tiara terlihat bahagia dan tersenyum, tapi tidak dengan Gio yang hanya memasang wajah datarnya.
Susan dan Danu hanya melihat mereka dari jauh.
"Papa, apa Papa memiliki firasat buruk tentang foto pernikahan hari ini?" tanya Susan pada suaminya. "Entah, kenapa perasaanku tidak enak. Aku terus memikirkan Tiara, keinginannya membuat aku sedih." Susan bersedih.
"Wajar saja Tiara ingin berfoto, karena dia tidak memiliki foto pernikahan. Sudahlah Ma, berpikir yang positif," ujar Danu, tapi Susan tetap merasa gelisah.
Kembali pada Tiara dan Gio yang masih asyik berfoto.
"Wah, hasilnya cantik," kata Tiara setelah melihat fotonya.
"Aku ingin yang ini untuk diperbesar, aku akan memajangnya di dalam kamarku." Tiara berkata dengan bahagianya, Gio hanya diam sambil meliriknya.
"Aku ingin besok, foto itu sudah jadi." Pinta Tiara pada sang fotographer.
"Baiklah, saya permisi dulu besok akan saya tunjukkan." Sang fotographer pun pergi meninggalkan mereka berdua di halaman belakang.
"Mm," gumam Tiara segera mendongak, mentutup hidung dengan tangannya.
"Tiara!" Gio terkejut, segera mengambil sapu tangannya. "Jangan bergerak." Gio berkata seraya mengelap darah mimisan itu perlahan.
"Apa kamu khawatir?" tanya Tiara setelah darah mimisan itu berhenti. "Aku senang sakit seperti ini." Perkataan Tiara membuat Gio menatapnya tajam.
"Aku ingin selalu melihatmu khawatir padaku," ucap Tiara demikian.
__ADS_1