Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Divonis Kanker


__ADS_3

"Perbanyak istirahat, jangan keluar kamar. Jika membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggil Dokter atau suster. Jangan sampai kamu kelelahan, mengerti?" Gio berpesan pada pasiennya.


Gadis kecil itu mengangguk.


"Dokter?" Gadis kecil itu memanggil. "Bisa ceritakan tentang wanita itu? Apa dia kekasihmu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya."


"Apa yang ingin kamu tahu tentang wanitaku?"


"Karena kamu sering tersenyum padanya, aku ingin tahu seperti apa dia, sehingga Dokter mudah tersenyum tidak seperti pada wanita-wanita di sini."


Pandainya gadis kecil itu berkata, Gio tersenyum, menarik sebuah kursi lalu duduk dihadapan gadis itu.


"Apa kamu ingin mendengar sebuah cerita?" tanya Gio.


"Cerita? Mm … cerita apa?" tanya Gadis itu.


Gio menghela nafas sejenak lalu berkata, "Ada seorang pria yang sangat nakal, dia ketua geng motor. Banyak sekali wanita yang mengaguminya, karena pria itu sangat tampan. Namun, pria itu bersikap semena-mena, bersikap semaunya tanpa memperdulikan perasaan para wanita itu. Tidak ada orang yang bersahabat dengannya, begitupun kedua orang tuanya."


"Apa orang tuanya juga musuh?" tanya Gadis itu, Gio hanya tersenyum.


"Tidak ada yang berhubungan baik dengannya. Namun, ada satu wanita yang meluluhkan hati juga sikap kerasnya, wanita itu sangat manis, lembut, senyumnya begitu indah dan menyukai bunga matahari." Gio berkata, sambil membayangkan Tiara.


"Bunga matahari, pantas saja di ruanganmu banyak sekali bunga matahari. Apa wanita itu ?" tanya Gadis itu, Gio hanya tersenyum lalu mengusap lembut kepala gadis itu.


"Sudah cukup ceritanya, sekarang tidurlah."


"Dokter?" Panggil gadis itu lagi menghentikan langkah Gio.


"Ya? Tidak ada cerita lagi," ujar Gio yang menoleh.


"Maukah kau temaniku sampai aku tertidur," ujar Gadis itu.


"Kenapa?" tanya Gio heran.


"Aku selalu takut, jika tidak akan terbangun lagi."


Gio terenyuh mendengar perkataan gadis itu. Apa mungkin Tiara juga merasakan hal yang sama sejak berbaring di rumah sakit. Gio melangkah mendekati gadis itu.


"Apa tidak ada yang menemanimu? Ibu atau ayahmu?" tanya Gio.


Gadis itu menggeleng.


"Mereka sibuk bekerja, untuk biaya pengobatanku," jawab Gadis itu.


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini, sekarang berbaringlah," titah Gio. Akhirnya Gio menenani gadis itu hingga tertidur.


.


.


"Sudah Mama bilang jangan dulu bekerja," ujar Miranti pada Rara yang kekeh membantunya.


"Rara sudah sembuh Mah, jangan khawatir. Rara akan cuci sayuran dulu," katanya yang pergi ke arah westafel membawa seranjang sayuran.

__ADS_1


Hendak melipatkan lengan bajunya, Rara melihat luka memar di bawah siku tangannya.


"Kenapa ini? Perasaan aku tidak terjatuh, tapi kenapa tanganku memar," ucapnya.


Rara tidak ingin terlalu memikirkannya, yang segera membasuh sayuran itu.


Setiap pagi Rara akan mengirimkan sarapan untuk Revan. Rara segera pergi ke Healvito Grup, dengan langkah gontai Rara menyeberangi jalan memasuki perusahaan itu.


Rara tersenyum ketika bertemu Revan di lobi.


"Revan!" Panggil Rara mengalihkan pandangan Revan.


Masih bisa Revan lihat, wajah Rara terlihat pucat walau dengan senyuman.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Revan. Rara pun mengangguk.


"Ya, aku mengantarkan sarapan untukmu," ujar Rara.


"Kamu yakin? Wajahmu masih pucat." Revan khawatir.


"Jangan khawatir, ini bekas kemarin. O ya, apa kamu akan pergi? Lalu bagaimana dengan sarapannya?"


"Aku ada meeting, aku akan memakannya tapi setelah meeting. Terima kasih sudah mengantarkan," ujar Revan.


"Apa sepagi ini?"


"Ya, aku masih menunggu Nico."


"Mm …." Revan bingung menjawab.


Rara langsung menuntunnya, membawa Revan pada sofa yang tersedia di lobi. Kotak makanan yang sudah Rara bawa dibuka. Dengan cepat Rara menyuapi makanan itu untuk Revan.


Revan tertegun saat sendok itu ada di depan mulutnya.


"Kenapa diam? Ayo makan," ucap Rara.


"Mm … biar aku sendiri saja." Revan merasa malu jika harus disuapi.


"Jika kamu sendiri, tidak akan menghabiskan sarapanmu. Aku akan menyuapimu sampai Nico tiba," ujar Rara.


Revan pun tidak bisa menolak, yang langsung menerima suapan demi suapan. Walau banyak staf yang memperhatikan mereka.


"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Revan yang melihat luka memar pada tangan Rara.


"Ouh, sudah biasa. Kadang suka memar tiba-tiba," kata Rara dengan senyuman.


"Kamu yakin tidak ingin ke rumah sakit?"


"Tidak perlu. Aku sudah sembuh," jawab Rara, tetapi Revan tetap merasa khawatir.


Nico datang mengejutkan mereka. Revan pun izin pergi untuk menghadiri meeting.


"Rara maaf aku harus pergi," kata Revan.

__ADS_1


"Iya. Kamu pasti sudah ditunggu. Bawalah sarapan ini, Nico pastikan bosmu itu memakannya."


"Siap!" Nico berkata seraya hormat pada Rara. Setelahnya mereka pun pergi meninggalkan Rara yang masih di lobi.


Rara kembali menatap luka memarnya.


"Ini pasti memar biasa, kenapa aku jadi takut begini," katanya lalu pergi meninggalkan perusahaan.


Rara hendak menyebrang, kembali ke kedai. Namun, tiba-tiba tubuhnya berjongkok menahan rasa pusing dan mual. Gadis itu semakin tidak tahan, samar-samar ia melihat sang ibu yang sibuk melayani pelanggan.


Pandangannya semakin kabur pada akhirnya gadis itu pun tumbang.


Miranti menoleh ke arah jalanan, seberang perusahaan besar itu. Namun, hanya sesaat lalu kembali ke dapur. Wanita itu tidak melihat Rara yang dikerumun banyak orang, yang akhirnya dibawa ke dalam taksi dan pergi menuju rumah sakit.


Taksi itu pun berhenti, sang supir turun meminta para tenaga medis membantunya. Bersamaan dengan itu, Gio keluar dari lobi. Namun, tidak melihatnya karena arah jalan yang diambil berbeda.


Rara dibopong ke dalam, dan Gio pergi meninggalkan rumah sakit membawa motornya.


.


.


"Dokter, apa aku baik-baik saja? Apa sakitku parah?" tanya Rara setelah sadar.


"Kami perlu melakukan uji lab, ada beberapa faktor yang harus diperiksa," jawab Dokter.


"Apa harus uji lab? Apa penyakitku parah?" tanya Rara lagi.


"Semoga saja tidak, tapi melihat gejala-gejala yang kamu alami itu mengarah pada Leukimia, kanker darah."


"Apa? Kanker." Rara sangat terkejut.


Rara berjalan gontai disepanjang lorong. Gadis itu terus memikirkan perkataan Dokter tentang penyakitnya. Hingga Rara terduduk lemah di atas kursi, ia masih tidak percaya dengan apa yang Dokter katakan.


Mengingat gejala yang dialami, Rara segera mencari tahu dari internet. Badannya semakin lemas saat membaca kata demi kata dari artikel itu.


'Tidak mungkin,' batinnya.


Rara, segera berdiri yang berlari pergi meninggalkan rumah sakit.


'Tidak itu tidak mungkin. Hasil lab belum keluar, mungkin saja perkiraan Dokter salah dan gejala-gejala ini tidak benar. Aku pasti demam biasa, dan sakit biasa bukan kanker,' batinnya.


Setitik air mata terus turun dari sudut matanya. Rara tidak bisa terima jika semua itu terjadi. Gadis itu semakin mempercepat langkagnya walau, rasa pusing, mual, dan lemas kembali ia rasakan.


Sesekali langkahnya terhenti hanya untuk bersandar pada dinding. Jari-jari tangannya mencengkram kuat dinding-dinding itu.


"Aku tidak mungkin mengidap kanker. Dokter itu pasti salah, ya … kemungkinan hasil labnya akan benar besok dan dugaan Dokter salah. Aku tidak boleh seperti ini, berhentilah menangis Rara jangan sampai Mama melihatnya. Aku harus segera pergi ke kedai," ucapnya yang langsung berdiri.


Hendak melangkah, seorang pria dari arah yang samping berjalan, langkahnya begitu cepat hingga menabrak tubuh Rara yang muncul di sisi kirinya.


Tubuhnya yang lemas membuat Rara terkoyak, tidak bisa menahan tubuhnya dan akhirnya terjatuh. Namun, kecekatan pria itu membuat Rara selamat, dan jatuh pada pelukannya.


Pandangan mereka pun bertemu, dalam diam keduanya saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2