Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Olah Raga


__ADS_3

"Gio perkataanmu sungguh menyakitkan," ucap Tiara yang menangis sendirian di dalam toilet. "Aku hanya takut jika hidupku tidak lama lagi dan itu akan menyakitimu tapi kamu malah membenciku." Tiara kembali menangis.


Tiara segera menghapus air matanya lalu keluar dari dalam toilet. Siapa sangka di luar sana Angel the gang sedang berkaca sambil bercanda. Tiara hendak masuk kembali tetapi Angel terlanjur melihatnya.


"Hei! Lihatlah ada cinderella di sini. Gadis yang tidak tahu malu beraninya mempermalukan Gio," ucap Angel dengan sinis.


Angel melangkah mendekati Tiara lalu mendorong tubuh Tiara hingga terbentur pintu. Tiara merasa kesakitan karena Angel mencengkram pundaknya.


"Masih berani kamu menampakan diri?" tanya Angel dengan emosi. "Aku pikir kamu tidak akan datang lagi ke sekolah karena malu," ujar Angel yang terus mencela.


"Lepaskan tanganmu," ucap Tiara tetapi Angel malah tersenyum.


"Kenapa sakit? Ouh … aku lupa jika kamu gadis penyakitan. Apakah kamu sudah sadar bahwa hidupmu tidak lama lagi dan kamu tidak pantas untuk Gio, itu sebabnya kamu membatalkan pertunangan. Baguslah jika kamu sadar hal itu, karena gadis penyakitan sepertimu tidak akan berguna," ucap Angel yang tertawa. Bahkan kedua temannya pun ikut tertawa.


"Kamu benar Angel, jika pun dia menikah dengan Gio, mungkin Gio akan menjadi perawatnya yang mengantarkan ke rumah sakit, memberikannya obat, sungguh hanya akan menyusahkan Gio. Gio akan menderita dengan mu Tiara," cibir Amel satu geng bersama Angel.


Setelah puas menghina Angel pun pergi meninggalkan toilet.


Tiara terdiam. Perkataan Angel dan Gio sangat menampar hidupnya. Gio yang mengatakan jika dirinya hanya kasihan pada Tiara karena penyakitnya. Dan Angel yang terus merendahkan jika Tiara hanya akan mempersulit orang lain.


"Argh!" Tiara berteriak sambil menangis. "Kenapa aku harus menderita penyakit ini kenapa!" teriaknya dengan emosi.


"Apa yang dikatakan mereka tidak benar. Aku tidak mempersulit orang lain dan aku bisa hidup mandiri tanpa orang lain. Hidupku masih lama. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak lemah." Tiara menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan toilet.


***


Di tengah lapangan para siswa dan siswi sudah siap untuk menjalani kegiatan olah raga. Mereka semua masih duduk santai di pinggir lapangan sambil menunggu guru.


Para lelaki sibuk memainkan bola. Sedangkan para wanita sedang melakukan pemanasan. Tiba-tiba Tiara datang mengejutkan mereka.


"Tiara," ucap Mytha dan Zy. Penyakit Tiara sudah tidak di rahasiakan lagi, teman-temannya sudah tahu. Apalagi Tiara yang diperlakukan istimewa oleh para guru dan tidak mengikuti kegiatan olah raga kini Tiara ikut serta dalam kegiatan itu.

__ADS_1


"Tiara sedang apa kamu di sini?" tanya Zy.


"Untuk olah raga apalagi," jawab Tiara santai. "Apa kalian sedang pemanasan? Aku juga akan melakukannya."


"Tiara?" Panggil Mytha seraya menarik tangan Tiara. "Kamu tahu kondisi tubuhmu 'kan jangan lakukan ini Tiara lebih baik kamu duduk saja dan tonton kami," kata Mytha dengan senyuman.


Tiara menurunkan tangan Mytha dari tangannya lalu berkata, "Inilah yang tidak aku inginkan. Kalian semua selalu memandangku rendah hanya karena penyakit ku. Mulai hari ini aku akan ikut semua kegiatan, jangan khawatirkan aku … aku sangat sehat," ucap Tiara melangkah maju ke tengah lapangan. Mytha dan Zy merasa khawatir.


"Tiara untuk apa kamu di sini? Jangan membuat orang lain susah karena kamu pingsan nanti," cibir Angel yang berada di samping Tiara.


"Lebih baik kamu diam di kelas, minum obat lalu tidur karena itu cocok untukmu," singgung Amel. Namun Tiara memilih untuk mengabaikan dari pada harus berdebat dengan Angel.


Karena kesal Tiara menginjak kaki Angel. "Aw." Angel meringis seraya memegang ujung kakinya.


"Sekarang siapa yang lebih kuat aku atau kamu," tegas Tiara lalu pergi. Angel merasa marah karena perlakuan Tiara.


Gio yang baru datang terfokuskan pada Tiara yang berdiri di tengah lapangan. Bahkan Tiara ikut pemanasan. Sebenci apa pun Gio dia lebih tahu kondisi Tiara, hatinya tidak bisa berbohong yang masih memiliki rasa khawatir.


"Gio lepas," ujar Tiara yang melepaskan genggaman Gio. Sedetik Gio berbalik menatap Tiara. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa membawaku pergi dari lapangan?" tanya Tiara dengan dingin.


"Apa kamu sadar kesehatanmu? Jangan melakukan apa yang tidak pernah kamu lakukan, yang akhirnya akan membuat orang lain susah," ucap Gio.


"Jangan mempedulikanku. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi atau pun orang lain. Biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan aku tidak ingin mereka baik padaku hanya karena rasa kasihan," ucap Tiara membuat Gio tertegun.


Tiara kembali ke tengah lapangan. Guru olah raga sudah datang, para siswi berkumpul ke tengah lapangan merapatkan barisan. Mereka semua mengikuti gerakan seorang guru yang membimbing.


Cuaca siang ini cukup panas, Tiara yang tidak pernah lama-lama berdiri di bawah matahari mulai merasa pusing, badannya mulai lemah dan penuh dengan keringat. Namun, Tiara menguatkan diri demi membuktikan pada teman-temannya.


Tiara berpura-pura tertawa padahal tubuhnya sangat sakit. Gio terus memperhatikan Tiara dari jauh, Gio merasa frustasi melihat Tiara mengikuti pelajaran olah raga.


Tiara segera berlari ke toilet setelah kegiatan itu selesai. Tiara sudah tidak tahan memuntahkan isi dalam perutnya. Berpura-pura sehat itu lebih menyakitkan.

__ADS_1


Tiara keluar dari toilet kembali ke lapangan. Tiara mungkin bisa berpura-pura sehat tetapi wajahnya tidak bisa berbohong yang begitu pucat.


"Tiara kamu." Mytha cemas melihat wajah


Tiara yang sangat pucat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zy yang sama khawatirnya.


"Lebih baik kamu kembali ke kelas," titah Mytha.


"Mytha benar, pergilah!" titah Zy yang semakin cemas.


"Apa yang kalian khawatirkan? Aku baik-baik saja," ucap Tiara kekeh.


Namun, tidak dengan Gio yang merasa kesal dengan sikap Tiara yang sok kuat dan sehat. Kini Gio tidak akan membiarkan Tiara yang langsung memangku tubuh Tiara lalu meninggalkan lapangan.


"Gio lepaskan!" Teriak Tiara seraya memukul-mukul punggung Gio. Gio tidak peduli yang terus membawa Tiara ke dalam kelas.


Semua siswa tercengang melihat perlakuan Gio pada Tiara. Apalagi Angel yang kesal karena Tiara Gio gendong.


"Ih! Menyebalkan," gerutu Angel lalu pergi meninggalkan lapangan.


****


"Gio turunkan aku," pinta Tiara yang masih berada di pangkuan Gio. Gio tetap tidak peduli hingga tidak sadar sepanjang lorong tetesan cairan merah mengotori lantai dan baju olah raganya.


Hingga saat tiba di kelas barulah Gio menurunkan Tiara. "Gio kamu …," ucap Tiara tertahan ketika Gio menatapnya intens.


Gio segera melangkah menuju mejanya mencari sesuatu yang bisa menahan darah mimisan yang keluar dari hidung Tiara. Bukannya marah Tiara malah tertegun melihat tingkah Gio.


"Duduklah," kata Gio yang mendudukan Tiara di atas bangku. Tiara hanya diam ketika Gio mengusap hidungnya dengan tissu. Bahkan Tiara bisa melihat jelas kekhawatiran Gio.

__ADS_1


__ADS_2