Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Saling menolong


__ADS_3

"Di mana Gio?"


Tiara masih menunggu Gio yang berjanji akan membawanya ke sekolah. Tiara turun dari ranjang lalu berjalan keluar menggunakan kursi roda.


Matanya terus memindai sekitar lorong, hingga Tiara terus menjalankan kursi rodanya dan berhenti di depan sebuah kamar.


Rara duduk melamun di atas ranjang. Tiara sangat terkejut melihat Rara yang berada di ruang rawat, wanita itu pun menghampirinya.


"Rara?" Panggil Tiara, Rara yang mendengar suara itu hanya diam karena tidak bisa melihat keberadaan Tiara.


"Siapa?" tanya Rara membuat Tiara terheran-heran.


"Rara, aku Tiara apa kamu tidak mengenalku? Kamu yang selalu datang menjenguk dan menghiburku." Tiara belum menyadari jika Rara mengalami kebutaan.


"Aku mengenalmu, tetapi aku tidak bisa melihatmu," ujar Rara menatap lurus ke depan. "Aku tidak bisa melihat, beberapa hari yang lalu aku mengalami kecelakaan dan sekarang aku buta tidak bisa melihat apa pun," ujar Rara dengan tangisan.


"B-Buta?" Tiara terkejut.


"Iya, aku adalah gadis buta. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, apa ada orang yang percaya pada orang buta? Mungkin aku akan kehilangan separuh hidupku, aku tidak akan bisa kuliah juga bekerja. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Mungkin tidak bagimu Tiara, karena kamu orang berada tanpa bekerja dan sekolah kamu bisa menikmati hidupmu."


"Kenapa kamu bilang begitu? Apa karena aku kaya? Kamu pikir aku tidak menderita, selama aku hidup selama itu pula penderitaanku. Di saat semua teman-temanku bermain aku hanya berbaring di atas ranjang, hanya melihat tanpa berbaur. Hingga dewasa tidak ada yang berubah dalam hidupku, dan sekarang aku hanya mengandalkan kursi roda untuk berjalan," ucap Tiara terhenti sejenak.


Tiara kembali menatap Rara yang menatap lurus ke depan tapi tidak ada yang tahu apa yang dia lihat.


"Sekarang aku tanya bagaimana masa kecilmu? Apa kamu bermain dengan bebas? Berlarian, memainkan layang-layang dan bermain hujan. Apa kamu melakukan semua itu? Jika iya, kamu orang yang beruntung Rara, kamu lebih beruntung dariku. Kamu masih bisa memiliki kesempatan untuk melihat, sedangkan aku … entah berapa lama lagi hidupku, mungkin esok, atau lusa, atau mungkin sekarang … mungkin ini pertemuan yang terakhir kita Rara, sebelum aku tiada."


"Jangan katakan itu Tiara, apa kamu tidak ingin sembuh? Ada Gio bersamamu, apa kamu tidak ingin menikmati hidup bersamanya?"


"Aku ingin sembuh, dan aku ingin hidup. Namun, penyakitku tidak bisa di sembuhkan," ujar Tiara lalu bertanya,


"Rara, kenapa kamu tidak operasi mata?"


"Karena belum ada pendonor," jawab Rara yang tersenyum masam.


Tidak berselang lama seorang wanita memasuki kamar, wanita itu adalah ibu Rara. Wajahnya terlihat gelisah dan tergesa-gesa.


"Rara, ini siapa?"


"Mama, ini temanku Tiara," jawab Rara. Tiara segera menunduk saat wanita itu menoleh, keduanya saling membalas senyum.


"Rara aku kembali ke kamar, semoga kamu cepat pulih dan mendapat pendonor."


"Terima kasih Tiara, lain kali aku akan mengunjungimu," balas Rara dengan senyuman.


Tiara pamit seraya memutar kursi rodanya. Ibu Rara membantu mendorong kursi rodanya hingga sampai di depan pintu.


"Terima kasih Tante," ucap Tiara.


"Sama-sama, hati-hati," ucap wanita itu yang diangguki Tiara.


Ketika hendak pergi Tiara mendengar pembicaraan Rara dan ibunya. Mereka sedang kesulitan perihal biaya rumah sakit. Keadaan keluarga Rara tidak sebaik dirinya yang serba kecukupan.

__ADS_1


Tiara sedih mendengar hal itu.


"Tiara?" Panggilan seorang Dokter mengalihkan pandangannya.


"Sedang apa di sini? Suamimu mencarimu," kata Dokter itu yang berdiri dihadapannya.


"Aku sudah menjenguk teman, dia berada di kamar ini. Dia buta karena kecelakaan." Rara berkata seraya menatap pada jendela kamar yang tertutup tirai.


"Tapi temanmu masih ada kesempatan untuk melihat jika bukan buta permanen," jelas Dokter itu.


"Apa tidak ada pendonor untuknya?"


"Saat ini rumah sakit sedang tidak ada pendonor mata," jawab Dokter itu.


"Apa aku bisa menjadi pendonor?" Dokter menatap Tiara heran. "Jika aku tiada, berikan mataku untuknya," sambung Tiara membuat Dokter itu tertegun.


"Tiara … jangan pernah mengatakan itu," tutur Dokter itu.


"Perjalanan hidupnya masih panjang, dia seorang gadis pekerja keras, kasihan jika harus hidup tanpa melihat. Biarkan aku menjadi pendonor untuknya."


"Dia akan mendapat pendonor tapi bukan darimu. Berhenti bicara omong kosong aku akan mengantarmu ke kamar." Dokter itu berkata dengan dingin. Lalu mendorong kursi roda Tiara.


"Tunggu dulu Dokter, antarkan aku ke bagian administrasi."


"Untuk apa?" tanya Dokter itu heran.


"Ada yang harus aku tanyakan," ucap Tiara.


Tiara menanyakan biaya pengobatan atas nama Rara, mengingatkan percakapan mereka Tiara ingin membayar semua pengobatan Rara, hingga mendapatkan donor mata.


Dokter dan perawat itu sangat terkejut ketika Tiara siap membayar total biaya pengobatan Rara, termasuk donor mata yang belum ada.


"Tiara, apa yang kamu lakukan?" tanya Dokter.


"Aku hanya ingin membantu temanku, selama aku masih hidup." Perkataan Tiara membuat Dokter itu diam.


"Tiara sudah aku jangan menyerah, seolah-olah kamu akan mati. Berhentilah bersikap seperti itu Tiara, aku sebagai Doktermu sakit hati mendengar perkataanmu itu."


Tiara hanya mengulum senyum.


"Bukankah semua orang akan mati? Jika pun aku akan mati hari ini, esok atau lusa. Setidaknya ada kebaikan yang aku lakukan sebelum pergi."


Dokter itu semakin tidak bisa berkata. Wanita pucat itu kembali menghadap seorang perawat yang berdiri di bagian administrasi lalu berkata, "Aku akan membayar semuanya, tapi tidak hari ini karena aku tidak membawa uang. Bagaimana jika besok? Aku akan meminta orang tuaku untuk membawakan tabunganku," ucap Tiara, lalu membuka kalung pemberian Gio.


"Kalung ini sangat berharga, aku tidak mungkin membuang atau memberikannya pada orang lain. Kalung ini sangat berarti bagiku, jadi … simpanlah ini sebagai jaminan, aku akan kembali besok tapi tolong jangan biarkan pasien yang bernama Tiara Anastasya pergi dari rumah sakit," ucap Tiara.


Perawat itu memandang sang Dokter yang mengangguk. Mereka sudah mengenal Tiara sebagai pasien VIP. Perawat itu pun mengangguk lalu membuatkan rincian pembayaran untuk Rara.


"Tiara!" teriak Gio mengalihkan pandangan Tiara dan Dokter itu.


Gio berlari ke arah Tiara yang tersenyum padanya, raut wajahnya sangat gelisah mungkin karena Tiara hilang dari kamarnya.

__ADS_1


"Aku mencarimu, kamu dari mana saja?" tanya Gio panik.


"Aku baru saja akan mengantarkannya,' ucap Dokter itu. "Sudah aku bilang, kan, suamimu panik mencarimu," sambung Dokter itu yang menatap Tiara.


"Apa kamu khawatir?" Tiara bertanya seraya menyentuh tangan Gio. "Maaf, tadi aku menunggumu. Karena bosan aku berjalan-jalan saja." Maksud perkataan Tiara adalah mengelilingi rumah sakit.


"Lain kali jangan lakukan lagi," ucap Gio Tiara hanya mengangguk. "Kamu mau pergi ke sekolah, kan?" lanjut Gio.


"Iya, tapi sekalian pergi ke rumah. Ada barang yang harus aku ambil," ucap Tiara.


"Hem," jawab Gio dengan anggukan.


"Kalian lupa ada aku di sini," ujar Dokter itu. Tiara dan Gio yang hendak pergi pun menoleh dan tersenyum.


"Aku izinkan kalian pergi hanya dua hari tidak lebih. Dan kamu jangan membuat Tiara capek dan kelelahan," ucap Dokter itu dengan tegas. Bahkan pria itu mewanti-wanti pada Gio agar menjaga pasiennya.


"Dokter tenang saja, besok aku akan kembali karena ada yang harus aku urus, terima kasih telah mengizinkanku pulang," kata Tiara.


Dokter itu menghela nafas panjang lalu berkata, "Hati-hati, nikmatilah harimu esok berbahagialah."


Tiara mengangguk dengan senyuman.


"Kami pergi dulu," ujar Gio segera membawa Tiara pergi.


Dokter itu menatap sendu kepergiaan Tiara, tatapannya terlihat sedih hingga bendungan air mata tidak bisa lagi tertahan.


Pria itu menunduk sedikit lalu menghapus air mata itu dengan jarinya.


"Kembalikan kalung itu," pinta Dokter itu pada bagian administrasi.


"Tapi …."


"Aku akan membayarnya," ucap Dokter itu yang langsung memberikan kartu debitnya.


"Tapi Dokter ini melarang aturan rumah sakit."


"Aku tahu, tapi kalung itu sangat berarti bagi pasienku. Tiara sudah aku anggap sebagai anakku jadi … anggap saja aku membantu anakku. Berikan kalungnya sekarang."


"Tapi Dokter!" teriak perawat itu ketika Dokter itu pergi membawa kalungnya.


Pria berpakaian amamater itu berlari menyusuri lorong, hingga langkahnya terhenti saat melihat Tiara yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Tiara!"


Tiara menoleh ketika sang Dokter memanggilnya. Gio menatap heran ketika Dokter itu mendekat.


"Ada apa Dokter?" tanya Gio setelah pria itu mendekat.


"Kalungmu tertinggal," ucap Dokter itu memperlihatkan kalung berliontin matahari.


Tiara tercengang, dia menatap Dokter itu. Gio mengambil kalung itu, Tiara semakin takut jika Gio marah karena kalung yang Gio berikan sudah Tiara jadikan jaminan.

__ADS_1


__ADS_2