Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Semua sudah berbeda


__ADS_3

Seorang gadis duduk melamun di atas kursi rodanya. Tatapannya begitu kosong, menatap langit senja. Wajahnya begitu pucat, pipi tirus dan ciput rajut menutupi bagian kepalanya, sungguh sangat berbeda. Hanya bunga-bunga matahari yang menemaninya.


"Non, Tiara?" Panggil seorang wanita tua pada gadis di atas kursi roda. Dialah asisten rumah tangga yang selama ini mengabdi pada keluarganya.


Wanita tua itu berjalan ke arah Tiara yang hanya memandang bunga-bunga mataharinya.


"Non, ponselnya berbunyi tapi Bibi tidak sempat jawab," ujar wanita itu yang menyerahkan sebuah ponsel pada Tiara.


"Siapa Bi?" tanya Tiara mengambil ponselnya. Tiara tertegun, wajahnya menegang seketika saat melihat nama Gio yang tertera pada layar datar itu.


Tidak disangka Tiara membuka sim card itu lalu dibuangnya.


"Non, kok dibuang?" tanya wanita tua itu.


"Belikan aku sim card yang baru," jawab Tiara langsung menyimpan ponselnya.


"Tapi, Non kenapa?" tanya wanita itu tertahan karena Tiara menatapnya tajam.


"Apa aku harus memberutahu Bibi alasannya? Orang itu selalu menggangguku jadi aku ingin mengganti kartu saja," jawab Tiara lalu memutar kursi rodanya memasuki rumah. Wanita tua itu hanya memandangnya sedih.


Tiara memasuki kamar lalu mendekat ke arah meja rias yang berdiam diri memandang dirinya pada pantulan cermin.


"Wajah yang sangat menyedihkan," ucap Tiara memandang wajah pucatnya dan kepala yang tertutup ciput rajut.


Sedetik air matanya turun membasahi wajahnya. Satu tangannya menyapu bersih semua benda yang ada di atas meja rias. Tangisan pun pecah hingga menggetarkan punggungnya.


"Tiara?" Panggil Karina, yang awalnya diam melihat kekacauan itu. Tiara langsung menghapus air matanya dan berhenti menangis.


Karina mendekat lalu berjongkok memungut satu persatu benda yang berserakan di bawah meja rias. "Apa mau Mama hubungi Gio? Kamu pasti kesepian karena …."


"Tidak usah," sanggah Tiara membuat Karina langsung terdiam. "Apa Mama mau membuat Tiara malu? Lihatlah Tiara yang sekarang Ma, lihat seluruh tubuh Tiara. Gio pasti tidak akan mengenalinya," ucap Tiara membuat Karina ingin menangis.


Penampilan Tiara memang sangat berbeda, dulu memiliki rambut panjang dan indah kini hanya tertutup ciput rajut menutupi kepalanya yang botak. Tubuhnya semakin kurus dan wajah semakin tirus mungkin siapa pun yang bertemu tidak akan mengenalinya.

__ADS_1


"Kalau begitu makanlah. Dari pagi kamu belum memakan apa pun," ujar Karina karena nafau makan Tiara semakin berkurang sekarang.


"Tiara belum lapar, Tiara ingin tidur," ucap Tiara yang memutar kursi rodanya menuju ranjang. Bahkan Tiara menolak ketika Karina akan membantunya.


Karina membiarkan Tiara sendiri, menyelimuti tubuhnya lalu pergi meninggalkan kamar.


Hati seorang ibu tidak bisa berbohong yang sangat terluka jika putrinya terluka, yang akan menangis jika putrinya sedih. Isakan tangis Karina mulai terdengar ketika berada di luar kamar.


Tiara kembali menangis yang terbaring di atas ranjang.


***


Gio terus mencoba menghubungi Tiara tetapi tidak ada jawaban. Hanya suara operatorlah yang terdengar. Gio merasa kesal dan frustasi Tiara pergi tanpa pamit dan tidak memberikan kabar.


Beberapa bulan yang lalu, Gio langsung membawa Tiara ke rumah sakit karena saat di pantai Tiara sudah tidak terbangun.


Gio sangat panik dan gelisah hingga tidak pernah meninggalkan Tiara sedetik pun. Namun, saat itu Gio harus meninggalkan Tiara karena sekolah. Ketika Gio kembali Tiara sudah tidak ada di dalam kamarnya, Gio mencari di setiap kamar dan bertanya pada setiap perawat tidak ada yang memberitahukan ke mana Tiara pergi.


Hingga Gio pergi mengunjungi rumah Tiara tetapi rumah itu sudah kosong, semua orang membawa Tiara pergi entah ke mana, sampai sekarang Gio tidak tahu keberadaan Tiara.


Junita melihat itu yang langsung mengejar Gio, tetapi Gio terlanjur pergi mengendarai motornya dengan cepat.


"Mau ke mana Gio? Jangan sampai dia balapan lagi," ucap Junita mengkhawatirkan Gio.


Pukul 12.00 malam Gio meninggalkan rumahnya, pergi ke mana lagi jika bukan ke tempat tongkrongannya. Selama kenal dengan Tiara Gio tidak pernah lagi mendatangi tempat itu. Namun, sekarang tempat itu kembali Gio kunjungi.


"Hei brow, bukankah itu Gio." Seorang pemuda bertanya pada temannya ketika melihat Gio menghentikan motornya.


"Gio!" seru seorang pemuda menghampiri Gio. Gio tersenyum pada temannya sambil melangkah ke arah markas tempat mereka berkumpul.


"Ke mana saja brow?" tanya seorang pemuda sambil menjabat tangan ala anak geng. Gio tidak menjawab yang langsung duduk di antara mereka.


"Kayanya lo ada masalah. Mau minum?" tanya seorang pria tetapi Gio hanya tersenyum lalu menggeleng. segabut apa pun Gio tidak pernah mencoba minuman yang memabukan itu.

__ADS_1


"Cobalah sedikit brow," ujar temannya yang menyerahkan segelas air arak. Gio tetap menolak yang langsung melemparkan pandangannya ke arah di mana para remaja sedang bersiap untuk berbalap.


"Lo mau balapan?" tanya seorang pria. "Ayo sana ikutan kalahkan pemotor biru itu. Dialah pemenang unggul selama kamu tidak ada."


"O ya? Aku ingin lihat apa dia bisa mengalahkan ku," ujar Gio langsung melangkah mendekati motornya mengikuti balapan.


"Gio!" teriak teman-temannya. Gio segera berbaris di antara pemotor lain. Kedua tangan terus memutar stang gas dan rem hingga suara deruan motor terdengar sangat keras. Asap knalpot mampu menyesakkan hingga mengaburkan pandangan semua orang.


Posisi punggung yang condong, helm fullface sudah mentutup wajahnya tatapan Gio fokus tertuju pada jalanan di depannya. Hingga sebuah bendera diturunkan semua motor segera melesat jauh saling mendahului, berlomba untuk menjadi pemimpin.


Gio tersenyum ketika posisinya paling depan yang terus menekan stang gas supaya motornya melaju dengan cepat. Namun, tiba-tiba pikirannya kacau ketika melewati sebuah jalanan berbelok, bayangan masa lalu kembali terlintas ketika Gio menabrak tubuh Tiara saat itu.


Karena pikiran itu mengacaukan kefokusannya, mata Gio terbelalak, stang motor segera dia lemparkan untuk menghindari kecelakaan. Namun, Gio hilang keseimbangan hingga motornya melesat ke jalanan aspal membuat tubuhnya terseret jauh.


Beberapa pembalap berhenti ketika melihat Gio yang tergeletak di tengah jalan. Mereka segera turun membantu Gio. Sebagian mereka mengangkat motor Gio yang terlempar jauh.


Gio hanya meringis, kecelakaan itu membuat lutut dan tangannya terluka. Hingga Gio membutuhkan bantuan teman-teman untuk membuka helmnya.


"Gio, lo gak apa-apa?" tanya temannya panik. Mereka segera membawa Gio ke markas untuk mengobati luka dengan obat medis yang ada.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya temannya.


"Entahlah, seseorang menghadang jalanku hingga aku harus menghindar," jawab Gio.


"Apa masalahmu terlalu berat? Seharusnya kamu tidak ikut balapan jika tidak bisa fokus," kata temannya laku mengobati lutut Gio dengan sebuah cairan.


"Gio, motormu mati sepertinya harus diperbaiki," kata seorang pria. "Biar aku perbaiki tapi butuh waktu lama," sambungnya.


"Perbaiki saja. Lagi pula aku tidak akan bisa pulang dalam keadaan seperti ini," ujar Gio lalu berbaring di atas kursi. Pria itu pun mengangguk yang mengatakan akan memperbaiki motornya.


...----------------...


Kok sepi sih, ramein dong dengan komentar kalian. Seberapa banyak sih penggemar Tiara dan Gio hehe .... Maafnya sering ada typo karena aku ngetiknya pakai HP.

__ADS_1


Kalian bisa gedor-gedor IG aku @dini_rtn jika lupa update, kadang suka lupa soalnya 😊


__ADS_2