Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kembali dan Pergi


__ADS_3

"Tiara? Tiara …." Panggilan lembut Gio membangunkan Tiara yang tertidur di bahunya. "Tiara apa kamu tidur?" tanya Gio memastikan.


"Jadi aku hanya bicara sendiri. Tiara di sini sangat dingin, bangunlah kita masuk ke dalam."


Tiara masih diam, tidak bergerak atau bicara. Gio hendak berdiri, tapi tubuh Tiara langsung bergoyang yang hampir terjatuh. Beruntung Gio langsung menahannya.


"Tiara!"


Pria itu sangat panik, melihat sang istri yang tidak menyahut apalagi terbangun. Gio langsung membawa Tiara pergi dari sana. Saking paniknya tangan Gio gemetar, berulang kali menjatuhkan kunci mobilnya.


Gio langsung membawa Tiara ke rumah sakit. Tidak lupa Gio memberitahukan kedua orang tua mereka.


Gio masih menuggu dengan gelisah.


"Gio, apa yang terjadi dengan Tiara?" tanya Susan yang sangat panik.


"Entahlah Ma, awalnya Tiara baik-baik saja. Tiba-tiba dia tidak terbangun," jawab Gio.


Susan semakin khawatir dan gelisah. Tidak berselang lama seorang Dokter keluar dari ruangan.


"Dokter bagaimana dengan Tiara?"


"Dokter katakan bagaimana putriku?"


Dokter Indra hanya diam, tidak menjawab perkataan mereka berdua. Sedetik Indra menunduk lalu berkata, "Yang sabar, ini sudah takdir Tuhan."


"Apa maksudmu Dokter!" teriak Susan.


Sebuah brankar rumah sakit yang tertutup kain didorong keluar dari ruangan. Gio segera mendekat dan membuka kain itu hingga wajahnya terkejut.


"Tiara!"


Semua orang terkejut hingga tidak dapat menahan tangisan. Danu langsung memeluk Susan, wanita itu sangat histeris. Baskara yang baru datang tidak kalah terkejut. Junita merasa sedih melihat Gio yang sangat terpukul hingga terpukul di bawah lantai.


Tidak peduli para perawat dan Dokter membawa Tiara ke ruang jenazah.


"T-tidak … tidak mungkin. Tiara!" teriak Gio bangkit dan berlari menghadang brankar itu.


"Tiara bangun! Bangun Tiara. Bukankah kamu bilang kita akan memiliki dua anak, bermain di danau bersama mereka. Kamu tidak pernah bilang akan pergi meninggalkanku Tiara!" teriak Gio dengan tangisan.


"Gio, sadarlah. Relakan Tiara, biarkan dia pergi dengan tenang," ucap Baskara menahan Gio.


"Relakan? Kamu bilang relakan?"


"Gio, kita semua di sini sedih kehilangannya. Tidak hanya kamu," lanjut Baskara.


Gio melepaskan genggaman Baskara, sedetik tubuhnya melorot dan terisak.


Indra segera memeluk Gio, menahan tubuh pria itu membiarkan jenazah Tiara dibawa ke ruangan khusus. Indra hanya bisa diam saat melihat Susan dan Gio yang histeris. Kecuali Danu yang masih tegar.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Indra pada Danu.


Danu hanya tersenyum lalu memeluk Indra. "Ini sudah takdir putriku, aku sudah ikhlas … ikhlas." Danu berkata seraya memeluk Indra.


Ikhlas, harus ikhlas. Namun, Danu tidak bisa membohongi dirinya, jika dia juga ingin menangis.


Para pelayat memenuhi kediaman mereka, untuk mengantarkan Tiara ke tempat peristirahatan terakhir.


Revan, dan Nico baru saja datang. Mereka melihat wajah Tiara untuk yang terakhir kali.


'Kenapa Tiara? Kenapa kamu tidak mendengar perkataanku. Aku pikir kisah romansa itu tidak akan terjadi padamu," batin Revan, diiringi butiran bening yang jatuh dari sudut matanya.


"Aku juga tidak tahan ingin menangis," ujar Nico yang menghapus air matanya. "Ngomong-ngomong di mana Gio?" tanya Nico celingukan mencari keberadaan Gio.


Gio duduk termenung di depan danau. Masih teringat apa yang mereka obrolkan semalam.


"Apa yang kamu bayangkan sepuluh tahun kemudian tentang rumah ini?"


"Sepuluh tahun? Kenapa harus selama itu?"


"Karena kita harus memiliki masa depan bukan? Apa kita akan punya anak? Mungkin saja," ucap Tiara.


"Kamu benar, sepuluh tahun kemudian tempat ini akan ramai dengan anak-anak. Mereka akan bermain di tepi danau, memancing, bahkan berkemah. Sangat menyenangkan, kita bisa melakukan semua itu tanpa harus pergi jauh," ujar Gio membuat Tiara tersenyum.


"Berapa anak yang kamu bayangkan?" tanya Tiara lagi.


"Apa kamu ingin menyiksaku? Bagaimana bisa aku melahirkan empat orang anak dalam waktu sepuluh tahun," sanggah Tiara membuat Gio tertawa.


"Mungkin aku tidak akan terlihat cantik lagi," sambung Tiara berekspresi kesal.


"Jika kamu tidak cantik lagi mungkin aku juga tidak setampan sekarang. Kamu benar, empat anak akan menyiksaku, aku harus bekerja tanpa lelah, untuk menghidupi anak-anak kita. Jika aku pikirkan lagi satu atau dua anak lebih dari cukup." Gio berkata ngaur.


"Sungguh indah hanya membayangkannya saja. Kita akan bersenang-senang, melihat mereka bermain. Mungkin mereka akan bertengkar merebutkan ikannya. Aku harap danau ini tidak akan pernah berubah untuk selamanya," ucap Tiara.


"Tidak ada yang akan berubah," balas Gio.


Tiara tersenyum seraya memejamkan mata.


"Apa yang kamu inginkan jika terlahir kembali?" tanya Tiara membuat Gio diam.


"Jika terlahir kembali? Mungkin aku ingin selalu ada di sampingmu, menjadi satu-satunya bunga matahari untukmu," jawab Gio.


"Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi wanita sehat tanpa penyakit yang ku derita," ujar Tiara.


Setitik air matanya jatuh mengingat semua itu.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Nico yang sudah berdiri dihadapan Gio, tidak lupa Revan di sisinya.


Mereka berdua ikut duduk bersama Gio.

__ADS_1


"Aku tahu ini berat bagimu. Kamu dan Tiara sudah berusaha, tetapi takdir tidak dapat dicegah. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Tiara." Nico berkata seraya menepuk bahu Gio.


Kini mereka bersama mengantarkan Tiara ke tempat peristirahatan terakhir.


Tanah merah yang ditaburi bunga, akan menjadi tempat tinggal Tiara saat ini. Semua orang hanya diam menyaksikan, Susan masih terus menangis tetapi Gio sudah bisa tegar.


Perlahan menyirami tanah tersirat itu.


Selain Gio ada seorang pria yang masih gelisah, pria itu adalah Dokter Indra. Masih diingat perkataan Tiara sebelum tiada, agar Indra tidak lupa dengan pesannya.


"Dokter, masih ingat perkataanku? Aku harap kamu melakukannya dengan benar, aku percaya padamu Dokter," kata Tiara sebelum mengakhiri nafasnya.


"Huh." Indra menghembuskan nafasnya kasar seraya memalingkan wajah dari pusara itu.


.


.


Di tempat lain, seorang Dokter membuka perban yang menutupi mata Rara yang baru saja menjalankan operasi beberapa hari lalu.


"Buka matamu pelan-pelan," kata Dokter itu.


Perlahan Rara membuka matanya, awalnya hanya diam. Seketika senyumnya terlukis, Rara bahagia karena bisa melihat kembali.


"Aku bisa melihat. Mama!"


Rara dan ibunya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Mereka bersyukur, Rara kembali melihat dan bisa menjalankan hidupnya yang dulu lagi.


"Terima kasih Dokter," ucap wanita tua yang ada di samping Rara.


Indra yang mengintip di luar pintu hanya tersenyum.


"Kelihatannya operasimu berhasil," ujar Indra memasuki kamar Rara. "Pasienmu sangat bahagia," tambahnya lagi.


"Kamu seperti orang yang menyerah, apa karena pasienmu meninggal? Itu bukan salahmu, tapi sudah takdir Tuhan," ujar Dokter yang mengoperasi Rara.


Sesaat Indra menatap Rara sambil berkata, "Kamu seperti pasienku, siapa namamu?"


"Tiara Anastasya, tapi biasa dipanggil Rara," jawab Rara.


"Tiara," gumam Indra tersenyum sinis. "Kenapa nama kalian bisa sama?"


"Apa?" tanya Rara sedikit mendengar gumaman Indra.


"Mm … aku hanya ingin mengatakan, gunakan mata itu sebaik mungkin. Orang yang telah memberikan matanya pasti sangat menginginkan kamu terus semangat, dan melihat dunia ini. Jangan kamu sia-siakan," ucap Indra memberi pesan.


Rara pun mengangguk.


"Aku akan berterima kasih pada orang yang telah memberikan mata ini. Dan aku juga akan berterima kasih pada seseorang yang menyemangati ku," ujar Rara yang mengingat Tiara.

__ADS_1


__ADS_2