
"Bagus bukan?" Tiara bertanya tentang foto pernikahannya yang dipajang di dalam kamar.
"Bagus," jawab Gio, dan kedua orang tuanya.
"Sayang, Mama juga akan memajang satu foto ini di ruangan," ujar Susan yang diangguki Tiara.
"Mama akan memasak untuk kalian," lanjut Susan melangkah keluar dari kamar. Namun, bukannya pergi memasak Susan malah menangis di depan kamar putrinya.
"Apa yang terjadi? Kenapa menangis di sini?" tanya Danu saat melihat sang istri menangis.
Susan segera menghapus air matanya.
"Aku tidak tahan, aku tidak bisa melihatnya. Wajahnya begitu pucat tetapi putri kita masih bisa tersenyum. Aku yakin dia merasakan sakit yang luar biasa, jika saja aku bisa …," ucap Susan tertahan ketika Danu menggenggam tangannya.
"Jangan lanjutkan," ucap Danu seolah mengerti apa yang istrinya rasakan.
Pria itu pun mencoba menahan tangisnya.
"Bukankah kamu akan memasak? Ayo, aku temani," ujar Danu lalu menuntun Susan pergi.
Di dalam kamar Tiara dan Gio masih memandangi foto mereka.
"Apa kamu merasa ada yang aneh dengan mama dan papaku?" Tiara bertanya seraya memandang ke arah pintu. "Mama sedikit pendiam," lanjut Tiara, tersenyum masam lalu menatap lagi foto dihadapannya.
"Aku rasa istriku yang aneh, mereka juga pasti merasakannya itu sebabnya kedua orang tuamu sedikit pendiam," ujar Gio yang mendapat tatapan dari Tiara.
"Apa sebuah foto itu aneh? Aku hanya ingin selalu dikenang saat aku tidak ada dengan kalian," kata Tiara yang langsung disanggah oleh Gio.
"Berhenti mengatakan hal itu. Kamu tidak akan pergi ke manapun. Ke manapun kamu pergi aku akan selalu ada bersamamu. Aku akan memindahkan foto ini," ujar Gio hendak mengambil satu foto yang tersisa.
Namun, Tiara menghentikannya.
"Mau dibawa ke mana foto ini? Aku ingin kita memajangnya di kamar kita, di rumah kita," ucap Tiara.
Gio menoleh pada Tiara dan menatapnya dalam diam. Mereka pun kembali ke rumah kecilnya, sesuai keinginan Tiara Gio memasang foto itu di dalam kamar, tepat di depan ranjang tidurnya.
"Ini terlihat indah, jika kita tidur kita akan selalu memandangnya," ucap Tiara dengan senyuman.
Sedetik senyumnya memudar, entah kenapa dia teringat Rara.
"Gio, apa kamu bisa hubungi Dokter Indra? Aku ingin bicara dengannya."
"Tentang apa?" tanya Gio lalu duduk di atas ranjang menghadap Tiara. "Ada yang kamu sembunyikan? Apa yang kalian rahasiakan? Kemarin kalian juga bicara tanpa aku." Gio menatap Tiara dengan curiga.
Tiara hanya tersenyum.
"Apa kamu cemburu? Memangnya apa yang akan kami bicarakan jika bukan tentang penyakitku. Sebenarnya aku mengkhawatirkan Rara, apa kamu ingat saat aku hilang dari kamar? Saat itu aku berniat mencarimu, tetapi aku malah bertemu dengan Rara. Gadis itu mengalami kecelakaan hingga matanya buta."
"Buta," ucap Gio terkejut. Tiara hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ya. Aku merasa kasihan," ujar Tiara.
.
.
Revan berjalan gontai ketika memasuki sebuah ruangan di rumah sakit. Tatapannya kini tertuju pada Rara yang sedang duduk termenung di atas ranjangnya.
"Mama," ucap Tiara ketika mendengar suara langkah seseorang.
"Mama? Siapa di sana, Dokter … suster?" tanyanya lagi.
Revan masih diam, dia merasa heran pada Rara yang sama sekali tidak mengenalinya.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya Revan.
Rara segera berbalik ke arah pintu, tatapan mata itu kosong dan jauh, seperti menatap tanpa arah.
"Kamu seorang pria? Siapakah?" tanya Rara membuat Revan tertegun.
"Kamu tidak mengenalku?" tanya Revan.
"Maaf, aku tidak bisa melihat," jawab Rara sangat mengejutkan.
'Apa dia buta? separah itukah kecelakaan yang dia alami?' batin Revan yang merasa kasihan.
Pria itu terus mendekati Rara, hingga berada tepat dihadapan gadis itu. Revan terdiam sejenak menatap Rara dengan intens.
"Revan," ucap Rara. "Aku senang kamu mengunjungiku," lanjtutnya dengan senyuman.
Revan terlihat sedih, tatapannya berubah jadi sendu. Mereka berdua bicara bersama, hingga Rara mengatakan tentang kecelakaan itu.
"Jadi setelah hari itu … aku tidak tahu kamu akan mengalami hal buruk, mungkin jika aku tahu, tidak akan aku biarkan kamu pulang sendiri." Revan merasa menyesal.
"Bukan salahmu, itu adalah kesalahanku yang tidak fokus saat berkendara. Karena melamun aku tidak melihat lampu merah hingga menerobos dan berakhir di sini. Mungkin itu sudah takdirku," ungkap Rara, lalu menghela nafasnya panjang.
"Apa kamu khawatir? Dari hembusan nafasmu terdengar sangat mengkhawatirkanku," ucap Rara membuat Revan tersenyum."Biasanya kamu selalu dingin, dan cuek. Sekarang aku senang kamu mengkhawatirkanku," sambung Rara.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Revan yang menatap Rara.
Rara menunduk sesaat lalu berkata, "Awalnya aku syok, saat terbangun semuanya gelap, aku tidak bisa melihat apa pun. Ketika Dokter mengatakan bahwa aku buta, detik itu juga hidupku hancur. Kamu pasti tahu seperti apa keseharianku, aku pekerja paruh waktu, pagi, siang, malam aku bekerja di tempat yang berbeda. Semua yang aku lakukan ini demi hidupku. Namun, setelah hari itu semangat hidupku hilang, aku tidak bisa lagi melanjutkan hidupku, apa yang bisa dilakukan gadis buta sepertiku."
Rara merasa sedih hingga perkataannya terhenti.
"Namun, setelah ada seseorang yang menyemangatiku, memberikan dukungan dan harapan, hidupku jauh lebih baik. Aku mulai menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa melihat. Aku masih memiliki kesempatan untuk melihat hanya waktunya saja, aku harus menunggu seseorang untuk mendonorkan matanya," kata Rara membuat Revan terenyuh.
"Apa kamu ingin mendengar sebuah cerita? Aku akan bacakan untukmu," ujar Revan mengalihkan kesedihannya.
"Mengingat cerita, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kamu suka membaca novel? Sangat jarang seorang lelaki menyukai buku romansa sepertimu. Apa kamu seorang penulis?"
__ADS_1
Revan tersenyum menanggapi perkataan Rara.
"Ya, aku suka menulis," balas Revan.
"Jadi benar?" tanya Rara lagi dengan senyuman. "Kalau begitu aku ingin mendengar cerita tentang buku romansa yang kamu berikan pada Tiara, aku ingin mendengar cerita itu," ujar Rara, Revan pun tersenyum.
"Kamu yakin? Baiklah aku akan bacakan, tapi jangan marah, karena cerita ini akan membuatmu menangis," tutur Revan.
"O ya? Apakah kisah cinta yang tragis? Aku sangat penasaran, kalau begitu ceritakan sekarang aku akan mendengarkan," ucap Rara.
Revan menghela nafas panjang dan mulau bercerita.
.
.
Tiara dan Gio duduk berdua di depan sebuah danau. Danau yang ada di belakang rumahnya. Gio membiarkan Tiara bersandar pada bahunya, satu tangan Gio setia memeluk Tiara dengan hangat.
"Apa yang kamu bayangkan sepuluh tahun kemudian tentang rumah ini?" Gio melirik Tiara sesaat ketika mendengar perkataannya.
"Sepuluh tahun? Kenapa harus selama itu?" tanya Gio yang kembali menatap danau.
"Karena kita harus memiliki masa depan bukan? Apa kita akan punya anak? Mungkin saja," ucap Tiara.
"Kamu benar, sepuluh tahun kemudian tempat ini akan ramai dengan anak-anak. Mereka akan bermain di tepi danau, memancing, bahkan berkemah. Sangat menyenangkan, kita bisa melakukan semua itu tanpa harus pergi jauh," ujar Gio membuat Tiara tersenyum.
"Berapa anak yang kamu bayangkan?" tanya Tiara lagi.
"Anak? Hm … dua, empat, atau …."
"Apa kamu ingin menyiksaku? Bagaimana bisa aku melahirkan seorang anak dalam waktu sepuluh tahun," sanggah Tiara membuat Gio tertawa.
"Mungkin aku tidak akan terlihat cantik lagi," sambung Tiara berekspresi kesal.
"Jika kamu tidak cantik lagi mungkin aku juga tidak setampan sekarang. Kamu benar, empat anak akan menyiksaku, aku harus bekerja tanpa lelah, untuk menghidupi anak-anak kita. Jika aku pikirkan lagi satu atau dua anak lebih dari cukup." Gio berkata ngaur.
"Sungguh indah hanya membayangkannya saja. Kita akan bersenang-senang, melihat mereka bermain. Mungkin mereka akan bertengkar merebutkan ikannya. Aku harap danau ini tidak akan pernah berubah untuk selamanya," ucap Tiara.
"Tidak ada yang akan berubah," balas Gio.
Tiara tersenyum seraya memejamkan mata.
"Apa yang kamu inginkan jika terlahir kembali?" tanya Tiara membuat Gio diam.
"Jika terlahir kembali? Mungkin aku ingin selalu ada di sampingmu," jawab Gio.
Tiara semakin melemah, mata itu tertutup dengan rapat.
"Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi wanita sehat tanpa penyakit yang ku derita," ujar Tiara..
__ADS_1
Gio tertegun, perkataan itu membuatnya ingin menangis.