Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Bertemu Gio


__ADS_3

"Tiara."


"Gio," ucap Rara dan Gio bersamaan.


Segera Gio melepaskan pelukannya, begitu pun dengan Rara yang bangkit berdiri.


"Maaf, aku memanggilmu Tiara." Gio berkata seraya memalingkan wajahnya.


"Tidak apa-apa, namaku juga Tiara kamu bisa panggil aku Rara atau Tiara, ya … walau aku bukan Tiara istrimu," ucap Tiara.


Gio hanya diam.


'Kenapa aku bisa memanggilnya Tiara, jelas-jelas dia bukan Tiara,' batin Gio. 'Menatap matanya aku seperti melihat Tiara, ada apa ini kenapa seperti ini?' batinnya lagi.


"Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu," ujar Rara dengan senyum andalannya.


"Baik," jawab Gio singkat dengan ekspresi datarnya.


Kini mereka berdua berada di tengah taman. Gio datang membawakan minuman yang diberikan pada Rara yang duduk di atas kursi taman.


"Terima kasih," ucap Rara setelah menerima satu cup jus.


"Sama-sama," jawab Gio yang menatap lurus ke depan.


"Apa kamu sakit?" tanya Gio sesaat melirik Rara.


"Hanya kelelahan," jawab Rara. "Kamu sendiri sedang apa di sini? Apa menjenguk seseorang?" tanya Rara yang tidak tahu jika Gio adalah seorang Dokter.


Gio pun tidak ingin memberitahunya, tetapi seorang pasien memanggilnya Dokter.


"Dokter? Apa kamu Dokter di sini?" Rara sangat terkejut hingga terbelalak.


"Ya," jawab Gio singkat.


"Sejak kapan?" tanya Rara, Gio pun menoleh, menatapnya heran.


"Aku dengar dari Revan dan Nico kamu pergi ke Amerika. Kapan kamu kembali? Apa sudah lama?"


"Kamu bertemu dengan mereka?" tanya Gio. Rara mengangguk.


"Ya. Tidak menyangka kalian menjadi orang sukses, Revan sebagai Direktur, Nico Asisten Direktur dan kamu … seorang Dokter. Aku sangat iri pada kalian," kata Rara menatap jauh ke depan.


"Kebahagiaan seseorang tidak bisa dilihat dari kesuksesan, martabat, jabatan, tidak menentukan seseorang bahagia. Sepertimu kamu selalu terlihat ceria walau harus bekerja paruh waktu," kata Gio yang menatap Rara.


"Aku gadis ceria bukan." Rara berkata dengan senyuman.


"Bukankah kamu tidak bisa melihat? Sejak kapan kamu kembali melihat?"


"Dua tahun lalu aku menjalani operasi mata, ada seseorang yang mendonorkannya untukku."

__ADS_1


'Dua tahun lalu, bukankah Tiara juga meninggal dua tahun lalu,' batin Gio.


.


.


Gio mendatangi sebuah rumah sakit, pria itu terus berjalan melewati sepanjang lorong dan koridor rumah sakit. Entah, apa yang Gio cari langkahnya terhenti ketika melihat Indra, Dokter yang selama ini mengobati Tiara.


Tatapan Gio sangat menakutkan, pria itu berjalan menghampiri Indra.


"Gio," ucap Indra yang menatap heran.


"Bisa kita bicara? Ada yang ingin aku tanyakan," ujar Gio. Indra menanggapinya dengan tenang lalu pergi ke ruangannya.


"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu? Aku pikir kamu masih di Amerika, kapan kamu kembali?" tanya Indra yang sudah duduk di mejanya.


"Satu bulan yang lalu," jawab Gio dingin.


"Apa yang membuatmu datang kemari? Apa kamu sudah pergi ke atap?"


"Aku ingin menanyakan tentang Tiara," kata Gio membuat Indra heran.


"Saat Tiara meninggal, ada seorang pasien yang dioperasi mata. Apa kamu memberikan mata Tiara pada pasien itu?" tanya Gio dengan tegas.


Indra terdiam.


"Jawab. Apa benar kamu memberikan mata itu untuk orang lain?"


"Maaf, tapi Tiara yang …," ucap Indra terhenti karena Gio langsung menyanggahnya.


"Tiara yang meminta maksudmu? Tapi kamu jangan lupakan aku sebagai suaminya. Aku tidak akan rela siapa pun mengambil mata istriku."


"Itu permintaan terakhir Tiara padaku. Aku tidak pernah memintanya untuk mendonorkan mata dia sendiri yang memohon. Aku tahu aku salah karena tidak memberitahumu soal itu, tapi … sebaiknya kita tidak membahas itu sekarang karena Tiara sudah pergi," kata Indra semakin membuat Gio emosi.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah rela. Sekarang aku akan meminta pertanggungjawaban orang itu." Setelah mengatakan itu Gio pergi.


"Gio!" teriak Indra.


'Apa maksud perkataannya? Apa dia akan menemui wanita itu? Bagaimana ini,' batinnya.


.


.


Rara kembali ke kedai, mendatangi Miranti yang sedang membersihkan meja. Rara berjalan gontai ke arah Miranti lalu memeluknya.


"Rara," ucap Miranti yang berbalik menghadap Rara.


"Apa yang terjadi padamu? Wajahmu … kamu sakit lagi?" tanya Miranti khawatir.

__ADS_1


Rara tersenyum sambil menurunkan tangkupan tangan Miranti dari wajahnya. "Hanya lelah, tadi aku istirahat sebentar di sana, maaf aku tidak bisa membantumu. Mama pasti sangat kerepotan," ujar Rara.


"Duduklah!" titah Miranti. "Kamu kelelahan karena belum makan, jangan dibiasakan, makanlah yang teratur," ujar Miranti membawakan beberapa hidangan untuk Rara.


"Makanlah, mulai besok kamu tidak usah ke kedai. Istirahatlah, Mama bisa melakukannya sendiri. Lagi pula kedai kita tidak seramai dulu," kata Miranti.


Rara menggenggam tangannya, dan berkata, " Tidak ramai jika di kedai, tapi kedai kita tidak berhenti menerima orderan, Mama … bagaimana jika kira merekrut seorang pegawai, setidaknya afa yang akan membantu Mama saat aku tidak ada."


"Memangnya kamu mau ke mana? Bicara seperti itu kaya orang yang mau pergi saja," sanggah Miranti, Rara hanya tersenyum.


"Aku tidak tahu kapan akan fokus di kedai, tubuhku sedang kurang sehat saat ini. Setidaknya ada yang membantu Mama saat aku sakit," ujar Rara, Miranti hanya menghela nafas.


Mereka menutup kedai sebelum malam, Miranti dan Rara hendak menghentikan sebuah taksi, tetapi sebelum itu terjadi mobil Revan sudah lebih dulu sampai di depan mereka.


Revan turun, untuk menawarkan tumpangan. Mau tidak mau Rara menerima tawaran itu. Kini mereka berada di dalam mobil Revan.


"Apa kamu baik-baik saja? Aku dengar kamu pingsan di depan kantorku," ucap Revan membuat Miranti terkejut.


Rara hanya diam, sesekali melirik Miranti. Padahal Rara tidak memberitahukan tentang jatuhnya Rara saat itu karena tidak ingin membuat Miranti khawatir.


"Pingsan? Kapan?" tanya Miranti membuat Rara terdiam.


"Apa ibumu tidak tahu?" tanya Revan lagi.


Rara menghela nafas sejenak lalu berkata, "Tadi … aku mengantarkan makanan untukmu, tiba-tiba kepalaku pusing mungkin karena telat makan," jawab Rara sedikit canggung.


Miranti yang berada di belakang sudah siap menerkamnya, tatapan wanita itu sangat tajam mungkin kecewa karena Rara tidak memberitahunya tentang hal itu.


"Itu sebabnya kamu datang terlambat? Kamu bilang istirahat sebentar, tapi kebenarannya kamu pingsan. Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Miranri dengan emosi.


"Rara tidak ingin Mama khawatir itu saja. Sudahlah Ma, jangan marah. Rara baik-baik saja." Rara berkata seraya melirik pada Miranti yang memalingkan wajahnya.


"Maaf, aku tidak tahu jika kamu merahasiakan itu dari ibumu," kata Revan sedikit berbisik.


"Tidak apa-apa, ibuku pasti tahu walaupun bukan darimu," timpal Rara.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai. Mereka semua turun bersamaan, Miranti mengucapkan terima kasih lalu memasuki rumah. Sedangkan Rara masih bertengger dengan Revan.


"Terima kasih sudah mengantarkan kami. O ya, besok aku tidak akan mengantarkan sarapan. Mau istirahat, kamu bisa meminta Nico membelikannya. Aku masuk dulu … sekali lagi terima kasih sudah mengantarkanku."


Rara hendak melangkah memasuki rumahnya, tetapi tangan Revan menggenggamnya, membuat langkahnya terhenti.


Rara kembali berbalik pada Revan.


"Kamu yakin baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit? Aku akan mengantarmu," ujar Revan.


Rara menunduk, menatap tangannya yang digenggam lelaki itu. Dengan pelan Rara melepaskan genggaman Revan dari tangannya.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku masuk dulu," ucap Rara kembali melangkah memasuki rumah.

__ADS_1


Revan masih diam menatap kepergian Rara hingga wajah gadis itu tidak terlihat.


__ADS_2