Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Rumah sakit


__ADS_3

"Apa kamu membawa baju-bajumu? Sampai kamu membawa kaos kaki segala."


"Ya, aku membawa pakaianku karena aku tidak akan pulang."


"Apa kamu bertengkar dengan ayahmu?"


"Sudah ku bilang aku bosan tinggal di rumah."


Perkataan Gio semalam membuatnya kepikiran. Tiara takut Gio benar-benar pergi apalagi ketika di rumah sakit Gio menulis sebuah kenangan. Tingkahnya semalam seperti akan pergi jauh yang lama untuk kembali.


"Gio kamu kemana?" ucapnya yang duduk melamun pinggir lapangan basket. Tidak berselang lama Revan datang mendekat.


"Tiara?" Tiara segera menoleh ke arah Revan yang berdiri di depannya. Revan langsung duduk di samping Tiara.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Revan.


"Apa kamu tahu Gio dimana?" tanya balik Tiara.


"Kamu menanyakan Gio setelah sembuh. Baru saja aku ingin bertanya bagaimana keadaanmu tapi kamu malah mencemaskan Gio." Revan kecewa.


"Bukan begitu, aku menghubunginya tapi tidak dia angkat. Aku takut Gio kenapa-napa. Karena terakhir kali bertemu sepertinya Gio ada masalah. Dia bilang tidak ingin pulang dan bosan berada di rumah."


"Jangan heran, dia sering melakukannya. Jika ada masalah dia akan pergi untuk menenangkan diri nanti juga dia pasti kembali."


"Apa kamu bisa menghubunginya?" Tiara memohon.


"Baiklah akan aku coba," ujar Revan yang langsung menghubungi nomor Gio tetapi tidak ada jawaban. "Dia tidak akan menjawab panggilan ku, hubunganku dengannya tidak terlalu baik." Perkataan Gio membuat Tiara kecewa.


***


Tiara pulang ke rumah dengan wajah yang murung. Bahkan saat di tanya ibu dan ayahnya terlihat tidak semangat.


"Tiara?" panggil Susan. Tiara hanya menoleh sesaat lalu melangkah lagi menuju kamarnya.


"Pa, ada apa dengan Tiara?" tanya Susan pada suaminya.


"Entahlah Ma, Papa juga tidak tahu," jawab Danu menatap istrinya bingung.


Tiara masih terus menghubungi Gio, tetapi tetap tidak ada jawaban. Seharian Tiara hanya murung di dalam kamar.


"Gio apa kamu baik-baik saja? Aku mencemaskan mu." Katanya sambil menatap langit. Tiba-tiba cairan merah turun dari lubang hidungnya, Tiara segera menunduk menahan darah mimisannya.


Tiara segera berlari ke dalam kamar, menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa darah. Namun, tidak hanya mimisan kesehatan Tiara kembali memburuk mulutnya terus saja memuntahkan cairan tanpa henti.


Tiara sudah lelah hingga dia tersungkur atas lantai. "Tidak, jangan … jangan ambil aku dulu. Aku masih ingin bertemu Gio." Tiara segera bangkit mencari obat dalam laci, dia meminum semua obat yang ada di sana.


Namun, bukannya lebih baik Tiara semakin hilang keseimbangan. Pandangan yang semakin kabur hingga akhirnya dia jatuh pingsan.

__ADS_1


"Tiara!" Susan sangat terkejut. Berniat untuk memberikan segelas jus dikejutkan dengan keadaan Tiara yang tergeletak di dalam kamarnya hingga tidak sadar sudah menjatuhkan gelasnya.


Danu yang mendengar suara pecahan gelas langsung datang ke kamar putrinya. "Mama ada ap …. Tiara!" Segera mereka menghampiri Tiara yang belum sadarkan diri.


"Papa! Tiara Pa, Mama belum ingin kehilangan Tiara," ucap Susan yang menangis.


"Kita akan bawa Tiara sekarang. Siapkan mobil." Perintah Danu membuat Susan langsung berlari mengeluarkan mobil. Danu terlihat panik yang menggendong Tiara.


Ketika mereka hendak pergi Mytha dan Zy datang untuk menemui Tiara. Berharap akan bersenang-senang tetapi malah melihat Tiara yang tidak berdaya.


"Zy, apa ini benar rumah Tiara?" tanya Mytha.


"Ya, sesuai alamatnya," jawab Zy melihat kertas di tangannya.


"Wah, ternyata dia anak orang kaya ya," ujar Mytha yang merasa takjub.


"Bukankah sekolah kita tempat untuk mereka dari keluarga kaya. Kecuali masuk lewat beasiswa."


"Oh, bukankah itu Tiara? Ada apa dengannya?" Tunjuk Mytha ke arah Danu yang menggendong Tiara.


Sedetik mereka berdua saling pandang lalu berteriak memanggil Tiara. "Tiara!" Mytha dan Zy langsung menghampiri Susan dan Danu. Tetapi mereka rirak sempat bertanya karena Danu sudah lebih dulu membawa mobilnya.


"Zy ayo kita susul mereka," ajak Mytha menarik tangan Zy. Mereka pun masuk ke dalam mobil lalu menyusulnya.


***


"Aku harap Gio akan menyadari betapa khawatirnya kamu," ucap Baskara menatap Junita.


"Aku juga berharap kamu tidak akan kasar lagi pada Gio," balas Junita.


"Aku menyesal, mungkin Gio tidak akan berada di sini jika pertengkaran itu tidak terjadi."


"Sudah aku bilang tidak mudah meredahkan emosi anak muda. Kamu yang harus bersabar," ucap Junita yang dianggki Baskara.


"Akan aku coba," balas Baskara. "Dokter bilang keadaannya semakin membaik dia sudah melewati masa kritis, jika besok semakin baik Gio akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Jangan terlalu khawatir, kamu belum memakan apa pun dari pagi makanlah dulu biar Gio aku jaga," titah Baskara pada Junita.


"Kamu pikir aku nafsu makan di saat seperti ini. Tapi aku harus jaga kesehatanku untuk Gio. Aku pergi ke kantin dulu."


"Ya."


"Apa kamu mau titip sesuatu?" tanya Junita.


"Tidak," jawab Baskara menggeleng.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Junita pun pergi meninggalkan ICU.


Junita memasuki lift untuk turun ketika keluar dia melihat Susan dan Danu berlari panik. Junita pun mengikuti mereka.

__ADS_1


"Bu Susan!" panggil Junita sesaat Susan menoleh dan berbalik. "Bu Junita," ucap Susan.


"Bu Susan ada apa? Apa Tiara sakit lagi?"


"Iya. Aku menemukan Tiara dalam keadaan pingsan. Bu Junita sendiri sedang apa?" tanya Susan. Junita pun mengatakan jika Gio kecelakaan, Susan merasa terkejut. Pantas saja Gio tidak bisa dihubungi dan Tiara sangat murung ternyata inilah penyebabnya.


"Kapan itu terjadi? Maaf aku tidak tahu," ujar Susan


"Tidak apa-apa. Ini adalah kecelakaan lagi pula Gio sudah lebih baik," kata Junita.


"Syukurlah. Tapi aku harus segera melihat Tiara mungkin aku akan melihat Gio nanti."


"Iya, pergilah." Susan segera pergi menemui Tiara. Dalam perjalanan ke kamar dia tidak sengaja bertemu Zy dan Mytha, mereka berteriak menghentikan langkah Susan lalu mengenalkan diri sebagai teman Tiara.


Susan pun membawa mereka bersamanya.


"Papa, bagaimana keadaan Tiara?" tanya Susan pada Danu yang menatap heran kedua gadis di belakang istrinya. "Mereka teman Tiara," kata Susan menjawab keheranan suaminya.


"Tiara baik-baik saja dia hanya pingsan, itu sering terjadi. Sebentar lagi Tiara akan siuman," jelas Danu membuat Susan tenang.


"O iya Papa, tadi Mama bertemu Bu Junita katanya Gio kecelakaan."


"Gio!" teriak Mytha dan Zy bersamaan. Susan dan Danu langsung menoleh pada kedua gadis itu. Ternyata mereka teman sekelas Gio dan Tiara.


Mereka berdua pun duduk bersama di depan kamar Tiara. "Leukimia … apa itu penyakit parah?" tanya Zy dan Mytha. Terpaksa Susan mengatakan semuanya.


"Bisa di bilang seperti itu. Tapi mohon jangan katakan pada yang lain tentang penyakit Tiara. Tiara tidak ingin teman-temannya tahu," ujar Susan.


"Kami tidak akan memberitahu siapa pun dan kami akan menjaga Tiara di sekolah," ucap Zy.


"Terima kasih kalian teman yang baik."


"Tante kami ingin menanyakan sesuatu, apa benar Tiara dan Gio bertunangan?" Polosnya Zy dan Mytha bertanya. Susan menanggapi dengan senyuman.


"Rumor menyebar sangat cepat."


"Jadi benar?" tanya Zy lagi. Susan hanya mengangguk.


"Belum bertunangan tapi baru dijodohkan. Tapi kami berencana untuk meresmikan pertunangannya," ucap Susan membuat hati Zy sedikit sakit. Bagaimana pun Zy menyukai Gio.


"Akan ada yang banyak patah hati," ucap Zy yang bersedih. Mytha menatapnya kasihan.


"Kasihan sekali. Gio cowok populer di sekolah, banyak para siswi mendambakannya. Mereka berlomba untuk mendapat perhatian, tidak menyangka Tiara gadis yang beruntung," ucap Mytha.


Susan dan Danu pun tidak percaya. "Kami tidak menyangka jika Gio sepopuler itu," tutur Susan. "Bisakah kalian menjaga Tiara? Tante dan Om akan melihat Gio sebentar," ujar Susan.


"Tentu saja Tante kami akan menjaganya," jawab Zy dan Mytha. Susan dan Danu pun pergi meninggalkan kamar Tiara.

__ADS_1


__ADS_2