Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Lembaran Baru


__ADS_3

Dua tahun kemudian


………..


Seorang gadis kewalahan melayani pengunjung rumah makan. Gadis itu terus berbolak-balik mengantarkan pesanan.


"Hei anak muda mana pesananku?" tanya seorang pengunjung yang berteriak.


"Iya, sebentar." Rara menyahut dengan suara yang tinggi. 


"Maaf, ini pesananmu." Rara berkata seraya menyimpan beberapa hidangan di atas meja lalu kembali ke dapur. 


Rara duduk di atas kursi seraya mengatur aliran nafasnya. 


"Mah, lelah sekali hari ini. Pembeli cukup ramai," ungkap Rara pada ibunya.


Mereka memutuskan untuk membuka rumah makan, walau tidak besar setidaknya cukup untuk menghidupi kebutuhan mereka berdua. 


Miranti, tidak ingin kecelakaan itu terjadi lagi pada putrinya. Hingga mereka berhenti dari pekerjaan setelah memiliki tabungan yang cukup, dan mereka membuka usaha sebuah rumah makan.


"Minumlah ini, kamu sudah bekerja keras," kata Miranti menyodorkan segelas jus mangga pada Rara.


Rara langsung mengambil segelas jus itu lalu menyeruputnya."Segar sekali," ucap Rara setelahnya.


"Hari ini kita tutup sore hari." Perkataan Miranti mengejutkan Rara, karena biasanya mereka akan tutup kedai pada jam 9 malam. 


"Ada acara apa? Kenapa harus tutup sore hari?" tanya Rara.


"Apa kamu tidak ingin berlibur?" 


"Apa Mama berniat mengajakku liburan?" Semangatnya Rara bertanya.


"Besok kita ke pantai." 


"Benarkah? Oh, Mama aku mencintaimu." Rara berkata seraya memeluk Miranti. "Selama setahun akhirnya aku dapat liburan juga," tambah Rara membuat mata Miranti membulat. 


"Apa aku selalu menyiksamu? Setiap minggu kamu punya jatah libur," hardik Miranti Rara hanya tersenyum. 


"Namun, aku curiga, apa setelah liburan nanti pekerjaanku akan sangat banyak? Huh, sepertinya iya," keluh Rara. 


"Kita akan banyak pesanan mulai minggu depan. Kita akan mengirim makan siang untuk karyawan Healvito Grup." 


Sedetik Rara terbelalak, karena mereka mendapat job yang besar.


"Maksud Mama, Healvito Grup yang di sebelah itu? Perusahaan besar itu? Bukankah mereka memiliki kantin untuk apa memesan makanan pada kita?" 


"Kita hanya memberi layanan untuk para staf, bukan karyawannya. Kebetulan teman Mama bekerja di sana, dia membawa satu makanan kita untuk diberikan pada teman-teman yang lain, jadi mereka ingin kita menyiapkan makan siang untuk mereka. Bukankah itu bagus? Setidaknya kita tidak perlu buka kedai 24 jam. Kita bisa tutup setelah sore hari dan kamu bisa belajar." 

__ADS_1


"Belajar?" tanya Rara heran. 


Miranti langsung memberikan sebuah surat pada Rara. Rara sangat terkejut saat membukanya. 


"Kuliah! Mama …." 


"Kamu bisa melanjutkan lagi kuliahmu yang tertunda," ujar Miranti langsung memeluk Rara. 


"Terima kasih," ucap Rara dengan senyuman.


.


.


Rara dan Miranti pulang menuju rumah menaiki sebuah bus. Semenjak kecelakaan itu, Miranti melarang Rara untuk membawa motornya. Dan setiap hari mereka akan menaiki angkutan umum.


Bus mereka berhenti di depan sebuah toko bunga. Awalnya Rara hanya fokus ke arah depan hingga akhirnya ia melirik pada toko bunga di sampingnya. 


Entah kenapa Rara yang tidak pernah tertarik pada bunga, tiba-tiba bunga-bunga itu menghipnotis dirinya. Rara senang melihatnya.


'Aneh, dulu aku tidak suka bunga,' batin Rara.


Tatapan matanya terus tertuju pada bunga matahari.


'Aku tidak suka bunga, tapi mengapa aku suka melihatnya, terutama bunga matahari itu. Apa mungkin aku merindukan Tiara? Aku akan mengunjunginya besok,' batin Rara.


Bus yang mereka tumpangi akhirnya melaju dengan pelan. Rara masih menatap bunga-bunga itu bergerak mundur. Wajahnya segera berpaling ketika bus itu semakin jauh dari toko bunga. 


"Anda mau membeli bunga itu?" tanya si pemilik toko. 


Pria itu tersadar dari lamunannya, menoleh pada si pemilik toko seraya mengangguk dan berkata, "Ya," ucap pria itu. 


"Berapa yang anda butuhkan?" 


"Semuanya," jawaban pria itu membuat si pemilik toko tercengang. 


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengikatnya dulu." Si pemilik toko itu pun mengambil semua bunga-bunga matahari. 


Pria itu pergi setelah membayar. Menyimpan satu buket bunga besar di atas motornya. 


Hendak menaiki motor, langkahnya terhenti karena sebuah telepon yang masuk pada ponselnya. Pria itu pun menjawabnya terlebih dulu. 


"Gio, apa kamu sudah sampai? Kenapa tidak memberitahukan Mama," ujar Bella di tempat yang berbeda. 


"Aku baru saja sampai, akan pulang ke rumah," jawab Gio yang baru saja membeli bunga-bunga itu. 


"Baiklah, setelah sampai rumah jangan lupa telepon Mama." 

__ADS_1


"Hem, nanti aku beri tahu," ucap Gio lalu menutup sambungan teleponnya. Gio menaiki motor sport miliknya pergi meninggalkan toko. 


Tujuannya saat ini adalah sebuah pusara. Gio menghentikan motornya di depan sebuah pemakaman, memasuki tempat itu lebih dalam sambil membawa bunga matahari di tangannya. 


Langkah pria itu terhenti ketika tiba di sebuah tanah tersirat bertuliskan Tiara. Segera Gio bersimpuh dan menyimpan bunga itu. 


"Sudah lama aku tidak mengunjungimu, maafkan aku. Sekarang aku sudah kembali dan akan sering mengunjungimu," ucap Gio mengecup lembut batu nisan itu.


Dua tahun sudah Tiara meninggalkannya, tetapi Gio tidak pernah melupakan. Selama di Amerika yang Gio pikirkan hanyalah Tiara. Wanita secantik apa pun tidak menggetarkan hatinya. 


Hanya sebentar Gio meninggalkan pemakaman. Tujuannya saat ini adalah rumah kecilnya. Gio tertegun menatap rumah itu yang sama sekali tidak berubah. 


Selama pergi, Gio menitipkan rumah itu pada pelayannya. Agar tetap menjaga dan merawat. Gio tersenyum, sepanjang pekarangan dipenuhi bunga matahari yang mekar dengan baik. 


"Tuan Gio, sudah datang," ujar seorang pelayan yang berjalan ke arahnya lalu membungkuk hormat. 


"Bagaimana kabarmu Tuan?" tanya pelayan itu tetapi tatapan Gio terus tertuju pada bunga-bunga. "Saya merawatnya dengan baik, apa anda menyukainya?" tanya pelayan itu membuat Gio menoleh.


"Terima kasih," ucap Gio demikian.


"Rumah ini masih tidak berubah," kata Gio setelah memasuki rumah. Matanya memindai setiap sudut ruangan.


"Apa Tuan menginginkan sesuatu?" tanya si Pelayan.


Gio meliriknya dan berkata, "Aku bekum sarapan apa sesuatu yang bisa aku makan?" 


Pelayan itu tersenyum lalu menunduk. "Akan saya siapkan Tuan," jawab si Pelayan demikian. 


Gio melangkah memasuki kamar, tatapannya langsung tertuju pada sebuah potret, pernikahannya dengan Tiara. Bayangan-bayangan Tiara kembali terlintas ketika mata itu memindai sekeliling kamar.


"Tuan?" Panggilan si pelayan membuyarkan lamunannya.


"Tuan makanannya sudah siap," kata si Pelayan itu yang diangguki Gio.


"Aku segera turun," ujar Gio, yang menyimpan barang-barangnya terlebih dahulu. 


Ponselnya kembali berdering, saat dilihat nama yang tertera bibirnya tersenyum. Benda itu segera ia dekatkan pada telinganya. 


"Maaf, aku lupa memberitahumu lagi," ucap Gio pada Bella yang sedang menelpon.


"Mama jadi khawatir. Apa kamu sedang menangis? Lupakanlah kesedihanmu, jika sulit pulanglah ke rumah papamu di sana lebih baik," ujar Bella membuat Gio tersenyum.


"Tidak perlu khawatir. Hari ini biarkan aku mengingatnya, karena esok aku akan sibuk, mungkin tidak ada waktu untuk mengingatnya," ucap Gio.


"Jangan lupa mengunjungi papamu, mama sudah memberitahukannya bahwa kamu pulang hari ini."


"Iya, aku akan mendatanginya nanti malam. Sudah dulu aku harus sarapan." 

__ADS_1


"Baiklah, jalan lupa menghubungiku," ujar Bella sebelum sambungan telepon itu ditutup. 


Gio melangkah keluar dari kamarnya.


__ADS_2