Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Antara Gio dan Revan


__ADS_3

"Hei! Bukankah itu Gio," ujar seorang siswa yang melihat Gio berlari menggendong Tiara.


"Apa itu Tiara?" tanya mereka membuat semua siswa berkumpul untuk melihat. Mereka berjajar di depan pagar pembatas, mata mereka tertuju pada Gio yang di bawah sana.


Bahkan mereka semua terpaku melihat Gio yang menangis seraya membawa Tiara dalam gendongannya.


"Apa yang terjadi pada Tiara?" tanya mereka. Membuat langkah Revan dan Nico berhenti, sesaat mereka saling pandang lalu membelah kerumunan para siswa yang berdiri di sisi pagar.


"Tiara," ucap Revan lalu pergi, berlari menuruni tangga.


"Revan tunggu!" Nico segera menyusul.


Gio segera membawa Tiara ke dalam mobil, entah milik siapa mobil itu Gio tidak peduli. "Tiara kamu harus bertahan," ucap Gio setelah menidurkan Tiara di jok belakang. Lalu keluar untuk memutar menuju kursi kemudi.


Namun, langkahnya terhenti ketika seorang siswa menghadangnya. "Gio apa yang kamu lakukan itu mobilku," ujar siswa itu yang ternyata pemilik mobil.


"Minggir! Biar kami pakai mobilmu," ucap Revan tiba-tiba datang.


"Tapi …," ucap pria itu yang tertahan.


"Udah sana pergi. Tidak tahu apa di dalam sedang ada orang yang sakit." Kata Nico seraya mendorong siswa itu. "Mobil mu tidak akan lecet kita hanya pinjam sebentar," sambung Nico lalu melangkah mendekati mobil.


"Biar aku yang menyetir," ujar Nico langsung masuk ke bagian kemudi.


Revan dan Gio malah berebut pintu duduk. Mereka tidak ada yang mengalah yang ingin menjaga Tiara.


"Oh Tuhan, apa yang mereka lakukan," gerutu Nico kesal. "Apa kalian tidak akan masuk hah! Sudahlah mengalah salah satu ini sedang darurat pikirkanlah Tiara," ujar Nico membuat Revan dan Gio saling pandang.


"Gue tunangannya jadi gue yang berhak," ucap Gio menunjukkan jari manisnya lalu masuk ke dalam mobil. Revan mengalah terpaksa duduk di samping kemudi.


"Begitu kek dari tadi," ujar Nico lalu melajukan motornya. Gio tidak lupa memberitahukan Susan hal ini supaya mereka menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hei kalian ngapain sih?" tanya Mytha dan Zy, yang baru melihat kerumunan siswa.


"Apa kalian tidak tahu teman kalian Tiara dibawa oleh Gio, sepertinya dia pingsan," jelas mereka.


"Pingsan! Lalu ke mana sekarang?" tanya Zy dan Mytha khawatir.


"Dasar gadis penyakitan padahal dia lebih baik mati," kata Angel tiba-tiba datang membuat Zy dan Mytha emosi.


"Kamu saja yang mati Angel," ujar Zy yang langsung menjambak rambut Angel.


"Zy! Kurang ajar kamu ya," ujar Angel yang tidak kalah membalas.


Gio, Revan, dan Nico baru sampai di rumah sakit. Mereka segera membawa Tiara ke ruang UGD. Para perawat segera datang membawa sebuah brankar, Gio dan Revan segera memindahkan tubuh Tiara ke atas brankar. Lalu mendorong brankar itu memasuki UGD.


"Tiara bertahanlah," ucap Gio ketika genggaman tangannya harus terputus saat Tiara dibawa masuk ke dalam UGD. Mereka hanya bisa menunggu di luar.


Semua Dokter panik bahkan mereka memasang beberapa alat medis pada tubuh Tiara. Gio, melihat semua itu hanya bisa menangis.


"Kenapa Gio sampai menangis seperti itu?" tanya Nico. Revan hanya diam. "Ayolah katakan padaku apa sebenarnya penyakit Tiara?" tanya Nico lagi.


"Revan to …," ucap Nico tertahan karena Revan menyanggahnya.


"Leukimia," jawab Revan membuat Nico tertegun. Karena Nico baru mengetahuinya.


"Leukimia, apa Tiara menderita penyakit parah itu? Kasihan sekali dia," ucap Nico jadi sedih. "Pantas saja Gio menangis," ucap Nico lagi yang menatap Gio.


****


"Kenapa kamu suka bunga matahari?"


"Karena menyukainya. Bunga ini adalah harapanku."

__ADS_1


"Harapan?"


"Aku berharap akan seperti matahari yang terus menyinari bumi, selalu bercahaya sepanjang waktu yang tidak pernah lelah. Hidupnya sangat panjang yang tidak akan lenyap sampai hari akhir."


Gio teringat perkataan Tiara saat itu, harapannya adalah ingin hidup. Hingga setiap kali datang Gio selalu membawa bunga matahari yang dia simpan di atas meja samping ranjang tidurnya.


Sudah satu minggu lamanya Tiara masih terbaring lemah, bunga matahari yang selalu Gio bawa sudah menumpuk di atas meja.


"Padahal bunga matahari selalu di sampingmu. Kapan kamu akan sadar Tiara," ucap Gio menatap Tiara.


Gio mulai menyerah, setiap kali datang tidak pernah ada perubahan dalam diri Tiara. Gio tidak tahu apa Tiara akan kembali terbangun atau tertidur selamanya.


"Aku akan kembali lagi esok, aku harap kamu sudah bisa melihatku Tiara," kata Gio lalu melangkah pergi.


Baru saja Gio pergi, Revan datang menjenguk Tiara. Revan melangkah mendekat lalu melirik pada bunga matahari yang ada di atas meja.


"Bunga ini semakin bertambah," ucap Revan merasa heran. "Matahari, apa Tiara menyukai bunga matahari?" katanya yang tersenyum.


Revan duduk di atas kursi samping ranjang lalu memandangi Tiara. "Tiara, apa kamu ingat love story buku romansa yang pernah aku berikan padamu, aku masih ingat apa yang kamu katakan saat itu, kamu bilang bagaimana jika aku memiliki kekasih yang sakit keras apa yang akan aku lakukan," ucap Revan bercerita sendiri.


"Aku akan selalu ada di sampingnya sampai ajal menjemput," sambung Revan yang menatap Tiara.


"Aku tidak tahu sampai kapan kamu akan tertidur Tiara, aku akan tetap ada di sini. Aku harap akulah orang yang pertama kamu lihat. Dalam buku romansa mungkin wanita itu tiada tapi hidupmu tidak akan seperti dalam cerita itu, kamu akan tetap hidup Tiara," ucap Revan yang mulai berkaca-kaca.


"Tiara memang akan tetap hidup. Tapi orang yang pertama Tiara lihat adalah aku bukan kamu," ucap Gio. Revan segera berbalik menatap Gio di belakangnya.


Tatapan mereka begitu intens yang saling menatap tajam. "Aku jadi penasaran apa akhir dalam cerita buku romansa, sehingga kamu menyamakan hidup Tiara dengan cerita fiksi itu," kata Gio dengan sorott mata yang tajam.


"Aku juga ingin tahu seberapa berartinya bunga matahari ini sehingga kamu terus membawanya, apa kamu tidak takut bunga ini akan layu?" tanya Revan pada Gio.


Gio masih diam tanpa ekspresi, wajahnya begitu datar. "Kamu tidak tahu bunga matahari adalah kesukaan Tiara? Yang tidak akan pernah layu karena itulah harapan Tiara," ucap Gio yang menatap Tiara sejenak lalu menatap pada Revan.

__ADS_1


Revan hanya diam lalu melirik pada sebuah kalung dengan liontin bunga matahari yang Tiara pakai. Lalu melirik pada Gio dan berkata, "Aku memang tidak tahu seberapa berartinya bunga itu bagi Tiara, tapi aku tahu apa harapan Tiara," ujar Revan kembali menatap Gio. Kini mereka hanya saling pandang.


Sedetik bibir Revan tersungging lalu pergi meninggalkan kamar Tiara. Gio hanya diam ketika Revan melewatinya.


__ADS_2