Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Tanpa Kabar


__ADS_3

"Gio!" teriak Tiara yang terbangun dari tidurnya. Peluh keringat bercucuran hingga nafas yang tersengal-sengal. 


Entah mimpi buruk apa Tiara malam ini, membuatnya terbayang-bayang akan Gio. Tiara turun dari ranjang berjalan pelan menuju meja rias lalu duduk di atas bangku, menarik laci yang ada di bawah meja rias lalu tangan kanannya mengambil sebuah cincin dari dalam. 


Sekilas bayangan masa lalu muncul. Tiara kembali teringat Gio yang memakaikan cincin itu dan betapa bahagianya Tiara saat itu. "Kenapa hatiku gelisah, apa terjadi hal buruk padanya?" tanya Tiara yang menggenggam liontin bunga matahari. 


"Gio …." 


"A … a … a …!" teriak Gio sesorang memijat kaki dan tangannya. "Hentikan! Jangan sentuh tangan dan kakiku lagi," umpat Gio pada pria tua. 


"Gio kaki dan tanganmu terkilir harus di obati. Aku tahu pasti sakit rasanya tapi bersabarlah," ujar Nico yang menemaninya. 


Gio kembali menjerit saat kakinya disentuh. Revan langsung memasukkan sapu tangan ke dalam mulut Gio agar tidak lagi teriak. "Revan kamu melakukan hal yang benar," ujar Nico mengacungkan jari jempolnya. 


Semalam Junita menghubungi Nico dan Revan, memohon untuk mencari Gio sebab Junita takut Gio kenapa-napa walau Baskara menentangnya, meminta Junita untuk membiarkan anak nakal itu. 


Nico dan Revan tahu ke mana Gio pergi, akhirnya mereka menjemput Gio lalu membawanya pulang. Dan mereka terkejut ketika mendapati Nico yang terluka. 


Pengobatan Gio pun selesai Revan dan Nico membawanya pulang.


"Jangan membawaku pulang ke rumah," ujar Gio membuat Revan dan Nico memandangnya. "Kalian tahu ayahku seperti apa bukan? Aku tidak ingin berdebat dengannya," tambah Gio seolah mengerti tatapan kedua temannya. 


Nico segera melajukan mobil meninggalkan tempat pijat. Revan hanya diam tidak bicara, begitulah dia yang hanya bicara seperlunya. 


"Apa kamu frustasi kehilangan Tiara?" tanya Nico, Gio langsung memandangnya tajam. 


Segera Gio palingkan tatapan itu dari Nico yang duduk di bagian kemudi. Melemparkan pandangannya ke arah jalanan. "Jangan menyebut namanya lagi," ucap Gio entah tulus dari hati atau sebatas emosi. Nico kembali diam yang tidak mengatakan apa pun lagi. 


Tiara masih terpikiran tentang mimpinya semalam. Hingga dia tidak tenang jika belum menanyakan kabar Gio. Tiara segera mengirim pesan pada seseorang yang dianggap tahu apa yang Gio lakukan dan terjadi padanya. 

__ADS_1


Sedetik kepalanya menunduk, Tiara membuka telapak tangan kirinya yang memperlihatkan sepasang kumang. 


"Kenapa kamu terus bersembunyi? Apa aku terlihat menakutkan sehingga kamu tidak ingin menampakan dirimu." Tiara berkata seraya mengelus lembut cangkang kumang itu. 


"Apa kamu tahu keadaan Gio? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya pada kumang. Tiara kembali terdiam, melamun sambil melihat bunga-bunganya. 


"Sayang, apa tidak bosan memandang bunga-bunga ini?" tanya Karina mendekati Tiara. "Kita masuk yuk, saatnya kita pergi ke rumah sakit," ujar Karina lalu menarik kursi roda yang Tiara duduki. 


Tiara hanya diam saat Karina membawanya ke dalam rumah. Hari ini Tiara kembali menjalani kemoterapi mungkin dia akan tinggal di rumah sakit lebih lama lagi. 


Mengingat kesehatan Tiara yang semakin memburuk Karina dan Danu memutuskan untuk membawa Tiara berobat ke luar negeri. Mereka terpaksa merahasiakan kepergiaan Tiara demi kesehatan Tiara juga karena Tiara yang tidak ingin teman-temannya tahu. 


Tiara langsung berganti pakaian yang diberikan khusus oleh rumah sakit. Tiara dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang hanya ada dirinya seorang. 


Dokter mulai menyuntikan cairan obat ke dalam tubuhnya, beberapa alat medis terpasang pada tubuhnya. Tiara hanya berbaring selama waktu yang ditentukan. Dan terus dilakukan sampai kemoterapi itu selesai. 


Karina dan Danu hanya diam menunggu Tiara di luar. "Entah sampai kapan Pa, kita akan melihat Tiara kesakitan seperti itu," ucap Karina yang langsung mendapat belaian dari Danu. 


Danu menjawab panggilan itu yang membuatnya gelisah. Danu segera mendekat ke arah Karina ketika sambungan telepon itu di tutup. 


"Hari ini Baskara kembali mendatangi rumah kita, bahkan dia terus mencari tahu keberadaan Papa pada semua klien bisnis," ujar Danu membuat Karina menoleh. 


"Sebenarnya aku tidak ingin merahasiakan keberadaan kita, tapi Tiara … dia tidak ingin Gio tahu." Kata Karina seraya menatap Tiara.


"Tenang saja Papa akan merahasiakannya sebaik mungkin mereka juga tidak memberitahukan tempat tinggal kita. Sampai Tiara yang memintanya nanti," ujar Danu lalu memeluk istrinya.


Di lain tempat Baskara masih mencari tahu keberadaan Danu. "Bagaimana apa kalian sudah mendapatkan informasi?" tanya Baskara pada seorang informan.


"Maaf Bos, kami sudah menghubungi klien bisnisnya tapi tidak ada yang tahu keberadaan Danu," jawan informan itu.

__ADS_1


"Musrahil, jika tidak ada satu pun yang tahu. Tidak mungkin Danu memutuskan kerja sama dengan para klien. Teruslah cari informasi itu sampai tahu di mana mereka berada."


"Baik Bos," ucap informan itu lalu pergi. 


Baskara mengusap wajahnya kasar. Selama ini dia terus mencari keberadaan Tiara sebab, selama Tiara pergi tingkah Gio kembali seperti semula. Pembangkang dan semakin brandalan. 


Baskara berpikir jika Tiara kembali Gio akan berubah menjadi anak yang lebih baik. Namun, sampai saat ini Baskara tidak bisa menemukannya. "Ke negara mana mereka pindah, kenapa harus merahasiakannya," ucap Baskara yang sangat aneh hubungan yang dekat menjadi jauh.  


Junita datang menghampirinya yang duduk melamun di ruang kerjanya. Secangkir kopi Junita simpan di depan Baskara, aroma kopi yang khas membuat Baskara tersadar dari lamunannya. 


"Pantas saja aku mencium bau kopi ternyata kamu yang membawakannya," kata Baskara yang tersenyum pada Junita. "Terima kasih," ucapnya lalu meneguk kopi hangat itu. 


"Gio ada di rumah Nico, dia tidak ingin pulang. Kaki dan tangannya sudah diobati." Baskara tertegun setelah mendengar perkataan Junita lalu menaruh cangkir kopinya lagi.


"Suruh dia pulang. Katakan padanya aku akan memarahinya jika dia tidak pulang ke rumah," ujar Baskara. Walau tegas dan acuh tapi Baskara tetaplah seorang ayah yang akan khawatir pada putranya.


Apalagi saat ini Bella ada di dekatnya, Baskara tidak akan rela jika Bella membawa Gio darinya.


"Cepat hubungi anak itu atau temannya. Suruh dia pulang, aku tidak akan menunggunya sampai larut malam," ucap Baskara. 


"Baik," ucap Junita yang menghubungi Nico. Baskara kembali menyeruput kopinya.


"Gio, nyokap lo suruh lo balik," kata Nico setelah mendapat telepon dari Junita. 


"Malas," ucap Gio yang berbaring di atas ranjang. 


"Bokap lo akan marah jika lo gak pulang," ujar Nico mengingatkan tetapi Gio malah acuh dan mengabaikan peringatan temannya itu. 


"Gio lo denger gak sih!"

__ADS_1


"Bisa diam gak? Kasih tahu saja gue akan pulang besok, beritahukan juga jika gue terluka," ujar Gio kesal. 


__ADS_2