
Gio diam mematung menatap Tiara yang masih berbaring di atas brankar. Alat medis masih terpasang di area tubuhnya. Bahkan selang oksigen masih melingkar di bawah hidungnya.
Gio duduk di samping Tiara dan terus menatapnya. Dia masih ingat saat terakhir kali mendatangi rumah sakit ini. Ketika membawa Tiara pergi ke atas atap.
Pandangan Gio beralih pada sebuah jeruk yang ada di atas meja, sedetik senyumnya mengembang ketika mengingat kenangannya bersama Tiara.
***
"Gio! Gio, Gio!" teriak Zy dan Mytha menghadang langkah Gio. Mereka memancarkan senyum yang lebar supaya Gio tidak marah.
"Ada apa?" tanya Gio dingin.
"Kita dengar kamu menunggu Tiara di rumah sakit. Bolehkah kita ikut bersamamu Gio please … kita ingin menjenguk Tiara juga," ucap Zy memohon.
"Tunggu saja di gerbang sepulang sekolah," kata Gio dingin lalu melangkah pergi.
"Yeah!" sorak Zy dan Mytha girang. Akhirnya Gio membolehkan mereka ikut.
Sepulang sekolah Zy dan Mytha sudah berdiri di depan gerbang. Mereka masih menunggu Gio yang belum keluar. Tidak berselang lama Gio pun keluar dengan motor sportnya tiba-tiba Nico dan Revan menghadangnya.
Gio menatap kedua sahabatnya itu heran. Nico membuka helm fullfacenya lalu berkata, "Aku dan Revan juga ingin ikut menjenguk Tiara," ucap Nico membuat Gio langsung menatap Revan.
"Kamu mengajak mereka berdua tapi tidak dengan kami itu tidak adil," kata Nico lagi. "Bagaimana pun Tiara juga teman kami," sambung Nico.
"Terserah kalian." Gio berkata dengan dingin. Menutup helm fullfacenya lalu melajukan motor.
"Eh! Gio meninggalkan kita," umpat Zy.
"Kalian naiklah! Kita susul Gio," ujar Nico meminta Zy dan Mytha untuk naik ke atas motornya. Mytha segera naik ke atas motor Nico tetapi Zy masih diam mematung karena Revan tidak mengatakan apa pun.
"Kenapa kamu hanya bengong? Naiklah!" titah Revan dingin. Walau begitu Zy tetap naik dan merasa gugup karena Revan tidak hanya diam saja sepanjang jalan. Tidak seperti Nico yang terlihat mengobrol bersama Mytha.
Gio sampai lebih dulu di depan rumah sakit tidak lama kemudian Revan dan Nico pun sampai. Kini mereka memasuki rumah sakit bersamaan.
"Apa di antara kalian tidak membawa apa pun?" tanya Gio denga cetus. Revan, Nico, Zy dan Mytha melihat kedua tangan mereka yang kosong.
"Kami melupakan itu," ucap Mytha.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kami akan membawakannya lain kali," ujar Nico.
"Siapa bilang kami tidak membawa apa pun. Tidak mungkin menjenguk orang sakit dengan tangan kosong bukan," ucap Revan lalu membuka tasnya. "Pegang ini," titahnya pada Zy seraya memberikan satu bingkisan.
Zy yang belum siap hampir menjatuhkan bingkisan itu dari tangannya. Gio menatap kesal pada Revan begitu pun sebaliknya.
"Aish, di sini sangat panas sekali apa kita tidak masuk saja?" tanya Nico menghangatkan suasana. Zy dan Mytha pun mengangguk. "Iya," kata mereka berdua.
"Gio ayo tunjukkan di mana kamar Tiara," ujar Mytha berharap Gio dan Revan tidak lagi saling menatap.
"Iya benar. Apa kamu pikir tanganku tidak pegal memegang ini," ujar Zy yang mendelik ke arah Revan. Revan langsung mengambil bingkisan itu dari tangan Zy.
"Tidak perlu bertanya padanya kita bisa datangi resepsionis," ucap Revan lalu melangkah pergi. Gio tersenyum sinis ketika Revan melewatinya.
Zy, Mytha dan Nico hanya melongo melihat sikap mereka berdua. Niatnya menjenguk Tiara malah menjadi tegang seperti ini.
Di dalam kamar mereka hanya saling diam. Tiara yang sudah tersadar hanya menatap Gio dan Revan yang saling berpandangan. Nico, Mytha dan Zy mencoba menghangatkan suasana.
"Tiara, kami membawamu jeruk apa kamu ingin memakannya?" tanya Nico yang memegang satu buah jeruk.
"Itu punyaku," ucap Revan yang menatap tajam pada Nico lalu mengambil jeruknya.
"Akh!" ringis Tiara sontak Gio dan Revan berdiri.
"Tiara kamu tidak apa-apa?" tanya Gio dan Revan bersamaan. Bahkan keduanya menyentuh masing-masing pundak Tiara.
Tiara menatap Gio dan Revan bergantian. "Aku hanya butuh ketenangan," ucap Tiara. "Bisakah kalian tenang dan jangsn berselisih," sambung Tiara membuat mereka berdua diam.
Gio dan Revan kembali duduk di bangku masing-masing. Pandangan mereka masih sama. Sama-sama tajam.
"Terima kasih sudah menjengukku," ucap Tiara yang di sanggah Gio.
"Tiara sudah berterima kasih pada kalian jadi kalian bisa pergi," ucap Gio yang tatapannya pada Revan.
Revan yang ditatap mengalihkan pandangannya pada Tiara lalu menawarkan. "Apa kamu mau makan jeruk?" tanya Revan. Tiara hanya mengangguk. "Boleh," jawab Tiara. Gio semakin kesal melihatnya ketika Revan mengupas kulit jeruk itu dan akan menyuapi Tiara.
Namun, belum sempat jeruk itu masuk ke dalam mulut Tiara Gio langsung mengambilnya lalu memakannya. Revan menjadi kesal seraya menatap mulut Gio yang bergoyang.
__ADS_1
"Asam, kamu jangan memakannya," ucap Gio pada Tiara. Revan menjadi kesal lalu memakan jeruk itu sendiri.
Nico, Mytha dan Zy hanya diam memandang tingkah temannya itu. "Niat ingin menjenguk Tiara malah menonton perselisihan mereka," ucap Mytha dengan bibir mencebik.
"Aku tidak tahu apa aku harus menangis atau bahagia," ujar Zy.
"Kenapa?" tanya Mytha heran.
"Setiap pria yang ku sukai menyukai Tiara. Lihatlah setelah Gio, Revan juga. Zy berkata seraya menghela nafas. "Tapi aku akan mengalah demi Tiara," sambung Zy yang menatap sedih Gio dan Revan di depannya.
Mytha hanya menggeleng.
"Hei kalian! Apa tidak cukup menyuapiku sebanyak ini," ujar Nico. Sedetik Zy dan Mytha menoleh pada Nico yang mulutnya penuh dengan jeruk. Tanpa sadar mereka berdua terus memasukan jeruk pada mulut Nico.
"Nico … maaf," ucap Zy dan Mytha bersamaan. Lalu mengeluarkan semua jeruk dalam mulut Nico.
"Apa hanya mereka berdua yang tampan? Kalian tidak sadar ada aku di sini? Nicholas Saputra tidak kalah tampan dengan mereka berdua," ucap Nico kesal. Lalu pergi meninggalkan kamar.
"Apa dia marah?" tanya Mytha pada Zy yang hanya mengangkat kedua bahunya. "Lebih baik aku susul Nico saja dari pada di sini," kata Mytha lalu pergi meninggalkan Zy.
Zy yang merasa sendiri ikut pergi meninggalkan kamar. Kini hanya Gio dan Revanlah yang tinggal bersama Tiara.
"Kenapa kalian hanya diam? Kita bisa memakan jeruk ini bersama. Aku akan mengupasnya untuk kalian," ujar Tiara yang hendak mengambil jeruk tetapi Revan tahan.
"Aku yang akan mengupasnya untukmu," ucap Revan dengan senyuman lalu mengambil jeruk dari tangan Tiara. Namun, belum selesai Revan mengupas jeruk itu Gio lebih dulu menyuapi Tiara dengan jeruk yang Gio kupas.
"Aku sudah mengupasnya makanlah punyaku, ini sangat manis," ucap Gio yang tersenyum manis setelah jeruk itu masuk ke dalam mulut Tiara.
Tiara hanya diam seraya menguyah jeruk itu dengan pelan. Revan juga tidak mau kalah yang langsung memberikan jeruk itu pada Tiara.
"Jerukku lebih manis karena aku membelinya dengan tulus bukan karena mengambil paksa milik orang lain," sindir Revan yang menatap Gio. Gio merasa tertampar mendapat sindiran itu.
"Cobalah," ujar Revan membuat Tiara langsung mengunyah jeruknya. Gio yang kesal hanya bisa menendang besi ranjang di bawah kakinya.
...----------------...
Makasih yang masih stay menunggu update Tiara, maaf jika masih banyak Typo. Buat yang sudah kasih komentar dan dukungannya terima kasih🥰
__ADS_1
Salam sayang untuk kalian jangan lupa like, vote, hadiahnya kasih bintang 5 juga ya 🤗