Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Mendekati


__ADS_3

Dengan gontainya Gio berjalan memasuki kamar. Ia terduduk lemah di bibir ranjang, tarikan nafas berat ia hembuskan, seraya menatap potret pernikahannya.


"Aku selalu menyesal tidak bisa menyembuhkanmu. Setidaknya aku bisa mencegahnya. Tiara, sudah cukup bagiku kamu memberikan matamu padanya apa harus dengan penyakitmu juga?" 


Gio menghentikan perkataannya sesaat.


"Itu sungguh menyiksaku, melihatnya aku seperti melihatmu yang terlahir kembali." 


Setitik butiran bening jatuh dari sudut matanya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Gio mengingat Rara.


Beberapa jam yang lalu.


Gio terkejut ketika melihat Rara yang terbaring lemah. Tidak pernah Gio menyangka jika gadis yang baru saja dimakinya adalah pasiennya sendiri.


"Ini Dokter," ucap seorang perawat memberikan selembar kertas yang menyatakan penyakit Rara. 


"Tidak mungkin," gumam Gio setelah membaca catatan itu. Rara memiliki penyakit yang sama dengan Tiara.


Rara tersadar, ia merasa heran saat terbangun berada di tempat asing yang penuh dengan alat medis. "Di-Di mana aku?" monolognya. 


Rara hendak turun tetapi seorang perawat menghentikannya. 


"Nona anda mau ke mana? Jangan dulu pergi anda masih harus melakukan beberapa tes lagi," kata Suster itu.


"Tes? Tes apa?" tanya Rara. 


Suster itu pun mengantarkan Rara ke ruangan Dokter. Rara terkejut melihat Gio ada dihadapannya.


"Duduklah!" titah Gio. 


Dengan bingung Rara pun duduk di depannya. 


"Aku harap tidak akan ada yang mengalami sakit yang sama dengan Tiara. Namun, kamu …." Tatap Gio pada gadis pucat itu. 


Rara masih diam.


"Jadi benar aku sakit kanker? Apa kamu Dokter hematologi itu?" 


"Hm …," jawab Gio dengan anggukan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rara yang menatap kosong. 


"Kapan kamu diagnosis kanker?" tanya Gio.


"Beberapa hari lalu," jawab Rara. 


"Apa dari keluargamu ada …," ucap Gio terpotong. 


"Ya. Ayahku meninggal karena itu," ucap Rara membuat Gio terdiam.


"Jangan bersedih, kankermu masih stadium awal. Masih bisa diselamatkan. Mulai dengan kemoterapi." 


"Apa biayanya sangat besar? Tolong katakan apa biayanya sangat besar?" tanya Rara.

__ADS_1


Gio diam sesaat lalu menjawab, "Ya, puluhan dolar."


Yang Rara pikirkan bukan antara selamat atau tidak, tapi tentang biaya yang harus dikeluarkan. Mungkin Rara,membutuhkan banyak uang sekarang. 


Rara terus melamun sepanjang langkahnya. Setibanya di rumah, langsung memasuki kamar Miranti, melihat wajah teduh Miranti kala tertidur.


Bibirnya melengkung sesaat. Sedetik butiran bening jatuh membasahi pipinya. Gadis itu berjalan mendekati Miranti, berbaring disampingnya lalu memeluk wanita itu. Entah apa yang Rara pikirkan sekarang, hanya air matanya yang tahu.


"Rara? Apa yang kamu lakukan?" tanya Miranti merasakan pelukan Rara.


"Biarkan aku seperti ini Mama. Aku ingin tidur sebentar," ucap Rara. Miranti hanya membiarkannya dan tertidur kembali. 


.


.


Revan memasuki ruangannya, sebuah bok nasi sudah ada di atas meja membuat Revan tersenyum menatap nasi bok itu. Ia langsung berlari keluar mencari Rara. 


Namun, sudah jauh berlari tetapi Revan tidak menemukan Rara. Hendak berlari lagi Revan melihat gadis itu yang menyeberang dari perusahaan menuju kedainya. 


Sedetik senyuman manis terpancar, melihat Rara membuatnya bahagia. Seolah lama tidak berjumpa. 


Segera pria itu merogoh ponsel dari dalam saku jasnya hanya untuk menghubungi Rara. 


Baru saja sampai di depan kedai, sebuah deringan ponsel menghentikan Rara yang harus menjawab panggilan itu. Rara tersenyum menatap nama Revan yang tertera. 


Segera ia jawab, mendekatkan ponsel itu pada telinganya. 


Telepon


"Kamu sudah datang? Memang tugasku mengantarkan makanan untuk apa aku menunggumu," kata Rara yang masih berdiri di depan kedai.


"Apa kamu tidak ingin bertemu denganku?" tanya Revan.


"Bertemu? Sepertinya kita tidak punya urusan," jawab Rara. Membuat Revan kesal.


"Oh, jadi hanya ada urusan? Aku punya urusan denganmu. Aku butuh penjelasan karena kamu tidak mengirim makanan padaku selama seminggu. Jadi aku tunggu kamu di kantorku mengerti?" 


"Eh!" 


Belum sempat Rara berkata, Revan sudah mematikan ponselnya. Rara segera menoleh pada gedung tinggi di seberang kedainya. Namun, Revan sudah kembali menuju ruangannya.


Terpaksa Rara kembali menyeberang menemui Revan. 


Rara mengetuk pintu.


"Masuk!" seru Revan dari dalam. Rara langsung membuka pintu, masuk ke dalam ruangannya. 


"Pagi Pak," ujar Rara dengan sopan. Namun, Revan sangat tidak senang dengan panggilan itu. 


"Pak? Apa aku setua itu?" 


"Para karyawan di sini memanggilmu Pak, kenapa aku tidak boleh? Bukankah kita sedang ada di kantor," ujar Rara, Revan langsung bungkam. 

__ADS_1


"O ya, ada apa pak Direktur? Apa anda ingin aku menjelaskan kenapa aku tidak mengirimkan makanan untuk anda selama seminggu? Seminggu kemarin badanku kurang sehat jadi aku tidak bisa mengantarkanmu sarapan dan makan siang," ucap Rara yang menunduk hormat.


Revan memperhatikan Rara dalam diam. 


"Apa kamu masih sakit?" tanya Revan demikian. 


Wajah Rara memang masih terlihat pucat. 


"Sekarang sudah sembuh," jawab Rara dengan senyuman. 


"Benarkah? Jika kamu merasa sehat aku ingin kamu menemaniku ke suatu tempat. Aku ingin berlibur tapi bingung dengan siapa," ujar Revan.


"Kenapa tidak dengan Nico saja," balas Rara.


"Jika Nico ikut bersamaku, siapa yang akan mengurus pekerjaanku. Itu sebabnya aku ingin mengajakmu," kata Revan yang mencuri pandang. 


"Kapan?" tanya Rara yang langsung dijawab Revan.


"Besok." 


"B-Besok …." Rara diam sejenak.


"Diammu aku anggap setuju," ujar Revan memutuskan. "Kamu boleh pergi sekarang, besok aku akan jemput kamu." 


"Eh, tapi aku belum memutuskan mau atau tidak," sanggah Rara.


Revan menatapnya intens. "Sudah aku bilang, diammu aku anggap setuju," ucap Revan membuat Rara melongo. 


.


.


Revan tidak lupa mengingatkan Rara, bahwa besok mereka akan pergi. Dan Revan meminta Rara mengemas barangnya karena mereka akan pergi dalam beberapa hari. 


"Aku tidak bisa jika harus pergi lama," kata Rara pada sambungan telepon. 


"Kamu tidak bisa membatalkan karena tiket dan hotel sudah aku pesan. Pokoknya besok pagi aku jemput." Suara Revan terdengar tegas di ujung sana, dan menutup teleponnya. 


"Sejak kapan dia jadi keras kepala!" umpat Rara setelah sambungan telepon itu ditutup. 


Berbeda dengan Rara yang sedang mempersiapkan untuk kepergiaannya besok, Gio dia masih sibuk di gedung penuh dengan alat medis. Bahkan, malam-malam begini pria itu masih harus melihat catatan medis milik pasiennya. 


Tiba-tiba seseorang menyimpan sebuah cola dihadapannya. Gio segera mendongak menatap siapa orang itu. Bola matanya berputar malas ketika melihat Angel yang tersenyum manis lalu duduk di depannya. 


"Kamu tidak bertanya kenapa aku ada di sini," ujar Angel yang diacuhkan.


"Ada apa kamu datang?" tanya Gio dengan malas. Namun, Angel tetap tersenyum. 


"Aku datang untuk menemuimu. Kamu benar-benar Dokter yang rajin, jam segini masih saja lembur. Apa kamu sudah makan?" tanya Angel penuh semangat. 


"Di sini ada kantin, jadi tidak perlu khawatir," jawab Gio dengan juteknya. 


Angel berdecak, seraya mencebikkan bibirnya. Tidak sengaja matanya melirik sebuah foto yang dia kenal. 

__ADS_1


'Gio kamu sama sekali belum melupakan Tiara,' batin Angel. 


__ADS_2