
"Mama, Tiara sekolah dulu."
"Iya sayang. Hati-hati ingat sebelum makan siang nanti kamu harus meminum obat," pesan Susan yang diangguki Tiara.
Tiara turun dari mobil bersamaan dengan Gio yang juga baru datang. Kini mereka saling menatap dalam diam.
"Apa yang terjadi padanya?" Semalam Gio baik-baik saja sekarang tangannya memakai gip serta kepala yang di perban.
"Apa lihat-lihat." Sinisnya Gio berkata.
"Kenapa dengan tangan dan kepalamu?"
"Bukan urusanmu." Gio masih berkata dingin, memang begitulah sikapnya.
"Gio!" teriak para siswi membuat Gio malas melangkah. Mereka begitu khawatir melihat keadaan Gio hingga mengerumuninya. Gio hanya pasrah dan diam.
"Gio, tanganmu."
"Jangan sentuh."
"Maaf. Apa sangat sakit? Kenapa seperti ini?"
"Gio, apa perlu ku bantu? Aku akan membawakan tasmu."
"Diam!" Gio menjadi emosi. Tarikan nafas berat dia hembuskan lalu menatap para gadis di depannya. "Apa kalian bisa menghindariku. Minggirlah!" Semua gadis itu terdiam, perlahan mereka mundur memberikan jalan pada Gio, amarah Gio sungguh menakutkan.
Gio menatap kesal para gadis itu lalu melirik pada Tiara yang hanya diam. Setelah itu Gio pergi menuju kelas.
"Tiara!" panggilan Mytha mengalihkan pandangannya. "Tiara kamu terlihat berbeda hari ini, apa kamu memakai riasan?"
"Aku hanya memakai sedikit lipteen."
"Itu bagus. Kamu terlihat cantik hari ini maksudku tidak terlalu pucat pakailah setiap hari." Tiara merasa malu dipuji seperti itu.
****
Di kelas Gio terus menyendiri tatapan tajamnya tidak berhenti menatap Tiara yang duduk di sampingnya. Tiara yang ditatap seperti itu merasa gugup. Apalagi ketika Gio menendang kaki meja lalu membuka gip dan alat bantu tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membukanya?"
"Apa pedulimu. Aku bukan orang lemah."
"Kamu sedang terluka tidak ada hubungannya dengan orang lemah atau bukan. Ah …," ringis Tiara ketika Gio mencengkram kuat tangannya.
"Kita harus bicara." Dengan kasarnya Gio menarik tangan Tiara keluar dari kelas. Semua siswa memandangnya tapi Gio tidak peduli.
Bahkan Nico dan Revan melihat itu. Revan segera berlari mencegah Gio. "Gio apa yang kamu lakukan?"
"Minggir jangan halangi jalanku."
__ADS_1
"Apa masalahmu dengan anak baru itu. Lepasin tangannya."
"Jangan ikut campur urusanku." Gio mengabaikan Revan membawa Tiara pergi. Revan dan Tiara sempat saling pandang dia bisa melihat betapa kesakitannya Tiara.
"Revan!" tahan Nico. "Jangan ikut campur jika tidak ingin terjadi hal buruk pada gadis itu. Gio tidak akan melukainya percayalah." Dengan kesal Revan melepaskan cengkraman Nico lalu pergi.
"Ah!" Gio menghempaskan tubuh Tiara hingga membentur tembok. Dia tidak peduli Tiara akan kesakitan atau tidak. Namun, Gio sangat kesal padanya.
"Sejak bertemu denganmu selalu saja sial. Tentang perjodohan itu … aku sama sekali tidak ingin melakukannya. Apa aku harus melindungimu setiap saat? Jangan harap aku menjagamu mengerti."
"Itu bukan kemauanku. Dan aku tidak pernah ingin kamu menjadi tunanganku cowok arogan dan tempramental."
"Apa kamu bilang."
Tiara segera menutup mata ketika tangan Gio terangkat dan siap memukulnya. Namun, Gio malah tertegun melihat cairan merah yang turun dari lubang hidung Tiara.
Perlahan Tiara mengerjap menatap Gio dengan heran. Kenapa dia tidak jadi memukulku? Batin Tiara.
"Apa yang kamu lihat?"
"Darah." Tiara terkejut dengan yang Gio katakan. Segera dia menyentuh bawah hidung setelah merasakan sesuatu yang turun mengenai bibirnya. Namun, darah itu tidak kunjung berhenti hingga mengotori seragam putihnya.
"Bagaimana ini." Tiara sudah tidak tahan sehingga menangis. Gio yang sedari tadi diam langsung mengeluarkan sapu tangannya mengusapkan pada hidung Tiara.
"Darah itu tidak akan hilang jika ditahan dengan tangan," ucapnya membuat Tiara terdiam.
"Apa kamu demam?" Gio berpikir Tiara demam tinggi yang menyebabkan mimisan.
"Tunggu." Tahan Gio menghentikan langkah Tiara.
"Kenapa? Apa aku terlihat menyedihkan? Kamu tenang saja, perjodohan itu tidak akan terjadi dan kita tidak akan menikah karena waktuku tidaklah banyak. Mungkin, aku sudah tiada saat pernikahan itu akan terjadi."
"Apa kamu akan keluar dengan pakaian seperti itu. Mereka akan mengira jika aku sudah melukaimu karena melihat seragammu penuh darah." Gio melepas seragam putihnya memakaikannya pada Tiara. Sedangkan dirinya hanya memakai kaos oblong.
"Lupakan perkataanku tadi," ucap Gio lalu melangkah pergi.
***
"Tiara!" teriak Mytha dan Zy berlari ke arahnya.
"Tiara aku dengar kamu dibawa Gio. Apa kamu baik-baik saja? Lalu dimana Gio apa yang dia lakukan padamu?"
"Aku baik-baik saja. Kita hanya bicara itu saja."
"Bicara? Apa kalian sedekat itu?" Zyana merasa curiga.
"Hm …."
"Tiara?"
__ADS_1
"Ya?"
"Bajumu terlihat berbeda. Seperti … "
"Mytha, Zyana aku ingin mengundang kalian ke rumahku." Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Ke rumahmu? Boleh juga. Zy, kapan-kapan kita main ke rumah Tiara." Lirik Mytha pada Zyana.
"Terserah aku ikut saja."
"Mungkin akhir pekan ini."
"Boleh. Aku tunggu kalian di rumah." Tiara merasa lega karena mereka tidak lagi curiga dengan seragam yang Tiara pakai.
Gio duduk melamun di tengah taman. Dia masih memikirkan penyakit apa yang Tiara derita. Pertama bertemu wajahnya sudah sangat pucat. Dan sekarang hidungnya berdarah.
Satu tablet obat membuat Gio penasaran, mungkin Gio akan mengetahui penyakit Tiara dari obat itu.
"Apa yang kamu pegang?" pertanyaan Revan mengejutkannya. Gio langsung memasukkan obat itu ke dalam saku.
"Hanya vitamin," jawabnya. "Ada apa kamu ke sini?" Revan tidak menjawab yang langsung duduk di samping Gio.
"Bagaimana tanganmu?"
"Hanya cedera sedikit."
"Apa kamu membayangkan wanita itu lagi?" Gio segera menoleh, dia tahu wanita yang dimaksud Revan adalah wanita yang dia tabrak.
"Jadi kamu melihatnya."
"Apa karena kejadian itu kamu tidak fokus saat balapan? Gio … kamu tenang saja wanita itu baik-baik saja."
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku melihatnya berdiri lalu pergi. Dia baik-baik saja jangan kamu pikirkan lagi."
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal."
"Aku hanya ingin lihat ekspresimu saja."
"Hei Revan apa masalahmu denganku? Apa kamu ingin aku dihantui rasa bersalah?"
"Aku ingin kamu sedikit merubah sikapmu. Jangan terlalu keras terutama pada anak baru itu."
"Kenapa? Apa kamu menyukainya?" Revan hanya tersenyum tipis lalu melangkah pergi. Gio menatapnya kesal.
"Menyebalkan sekali dia merahasiakan itu sedangkan aku … aku hampir mati karena gadis itu. Aku pikir aku sudah membunuhnya." Gio merasa lega karena wanita yang dia tabrak baik-baik saja.
Gio kembali ke kelas dan bertemu dengan Tiara. Dia hanya diam melihat Tiara yang tertawa bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Gadis itu benar-benar membuatku gila." Gio melangkah menuju kursinya. Pata gadis mulai mengerumuninya mereka bertanya kemana seragam Gio yang hanya memakai kaos saja.
Namun, Gio mengabaikannya lalu menatap lagi pada Tiara. Kini mereka berdua hanya saling pandang.