
"Tiara!" Gio terlihat emosi hingga panggilannya mengejutkan semua siswa yang ada di lorong. Zy dan Mytha yang bersama Tiara pun merasa terkejut.
"Dari mana saja kamu?"
"Haruskah kamu marah seperti itu?"
"Kamu tidak tahu aku mencemaskan mu mengerti! Lain kali beritahu aku kemana pun kamu pergi." Sontak mata Zy dan Mytha terbelalak, merasa mual mendengar perkataan Gio.
"Apa kamu sakit? Sejak kapan aku harus memberitahumu."
"Ikut aku."
"Tidak mau!" Tidak peduli dengan perkataan Tiara, Gio menarik tangan Tiara pergi dari sana.
"Ada apa dengan Gio kenapa dia sebucin itu."
"Kamu mendengarnya, kan tadi. Aku rasanya ingin muntah."
"Tetap saja Gio memperlakukan Tiara dengan kasar."
"Aku kasihan pada Tiara. Mereka pasti tertekan karena perjodohan itu."
***
"Gio lepas! Bisakah kamu memperlakukanku dengan lembut." Tiara menghempaskan tangannya.
"Minum obatmu."
"Apa?"
"Aku bilang minum obatmu! Apa kamu tidak mengerti kenapa hanya diam saja.".
"Gio stop!" Tahan Tiara pada Gio yang akan membuka obatnya. "Bisakah kamu berhenti … berhenti jadi penjagaku. Apa kamu Dokterku? Aku bisa melakukannya sendiri jadi jangan pedulikan aku."
"Apa kamu tidak ingin aku perhatikan? Baiklah urus dirimu sendiri. Jangan meminum obat-obat ini jika kamu ingin mati."
"Apa kamu Tuhanku sehingga kamu tahu aku akan mati. Walaupun aku meminum obat itu bukankah tetap sama tidak ada yang berubah. Jadi untuk apa aku meminumnya bahkan hidupku tidak akan sampai satu tahun."
"Apa kamu percaya perkataannya. Dia hanya Dokter bukan Tuhan, tidak akan ada keajaiban yang terjadi selain kehendaknya. Minumlah obat ini kamu sudah melewati waktunya." Gio melihat arloji di tangannya.
Kini mereka hanya diam di klinik.
"Bertahun-tahun aku meminum obat ini aku sudah sangat bosan." Kata Tiara yang menunduk menatap botol obat di tangannya.
"Sabarlah demi kesembuhanmu." Gio melirik Tiara sesaat. Hanya helaan nafas yang Tiara lakukan, tatapannya menatap kosong dinding di depannya.
"Sabar, kamu tahu berapa lama aku bersabar? Bahkan kedua orang tuaku sudah tidak punya harapan lagi. Mereka percaya apa yang Dokter katakan sehingga rela melakukan apa pun demi aku walau harus memetik bintang di langit mungkin mereka akan lakukan. Namun, aku tidak menginginkan semua itu kekayaan atau kesenangan aku katakan pada mereka satu keinginanku yang terakhir. Kamu tahu apa yang aku inginkan?"
"Mm … keliling dunia. Mungkin kamu ingin menikmati hidup mu."
Tiara tertawa renyah.
__ADS_1
"Kamu seperti papaku dia mengajakku keliling dunia tapi bukan itu yang aku inginkan." Tiara menghela nafas sejenak. "Yang aku inginkan hanya satu masuk sekolah."
"Sekolah? Hanya itu yang kamu inginkan. Dari kecil kita memasuki taman kanak-kanak, sekolah dasar dan terus sekolah hingga sekarang. Bagiku itu sangat membosankan."
"Itu bagimu. Ini adalah sekolah pertamaku, dari kecil aku tidak pernah masuk sekolah yang kulakukan hanyalah berada di rumah sakit. Saking bosannya aku pernah meminta pada papaku sekolah sungguhan tapi apa yang papaku lakukan? Dia hanya mengumpulkan anak-anak di rumah sakit lalu mendatangkan guru privatku dan kita belajar bersama, papaku bilang inilah sekolahmu. Kadang aku iri pada kalian yang bisa bermain, berlari bebas di luaran sana. Aku selalu ingin melakukan itu tapi tidak bisa karena setiap aku akan pergi penyakit ini selalu kambuh dia penghalang bagiku."
"Apa kamu masih ingin melakukan itu? Aku akan membantumu."
****
Tiara sudah berpakaian rapih malam ini, Gio sudah berjanji akan membawanya pergi. Tiara begitu cantik dengan home dress selutut, rambut panjang dibiarkan terurai yang diberi sedikit hiasan jepit kupu-kupu. Tidak lupa Tiara merias wajahnya agar tidak terlihat pucat dan menambahkan lipteen favoritnya.
Tiara terus memandang dirinya dalam pantulan cermin.
"Apa ini kencan? Aku penasaran Gio akan membawaku kemana. Aku tidak boleh melupakan ini." Katanya yang mengambil sebuah botol obat. Namun, Tiara menyimpannya kembali.
"Aku rasa tidak perlu membawanya, aku akan minum saja dulu." Merasa sehat Tiara tidak perlu membawa obat itu kemana pun.
Gio sudah menunggunya, sedetik tatapannya teralihkan pada Tiara yang baru saja turun. Gio terpesona hingga tidak mampu berkedip. Susan yang melihat itu hanya tersenyum.
"Itu Tiara dia sudah datang."
"Mama, Papa apa Tiara boleh pergi?"
"Kenapa tidak. Putri Papa sudah dandan sangat cantik apa Papa akan melarangnya dan memintamu kembali ke kamar. Jika bersama Gio Papa izinkan." Kata Danu yang menyentuh putrinya.
Tiara sangat senang karena dia bisa bermain seperti apa yang dia inginkan.
"Itu sudah pasti Om." Gio tersenyum tipis.
"Dadah Papa … Mama Tiara pergi dulu." Susan dan Danu sangat senang melihat Tiara yang tersenyum bahagia.
"Aku pikir Tiara tidak terima dengan perjodohan itu. Tetapi setelah melihatnya malam ini aku senang dia sangat bahagia. Sudah lama kita tidak melihatnya tersenyum."
"Ya. Semua berkat Gio."
****
Gio menghentikan motornya di depan sebuah mal yang terlihat sangat ramai. Tiara masih diam memandang
gedung tinggi di depannya. Hingga tidak sadar saat Gio sudah menuntun tangannya.
"Katakan, pertama apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku bingung tempat ini sangat ramai."
"Kalau begitu ikut aku kita akan bersenang-senang." Gio kembali menuntun Tiara menaiki beberapa eskalator. Hingga mereka sampai di lantai tertinggi tempat dimana banyaknya game dan mainan.
"Apa kamu bisa melakukan itu?"
"Aku ingin mencobanya." Tiara dan Gio pun memainkan sebuah time zone. Mereka meloncat, kedua kaki yang terus bergerak menginjak sebuah tombol, bahkan gerakan mereka seperti akan menari.
__ADS_1
Tiara terlihat menikmatinya karen dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Aku ingin coba lagi."
"Kamu tidak terima kalah? Baiklah kita coba."
"Aku akan mengalahkanmu kali ini." Dan benar saja Tiara mengalahkan Gio dalam permainan kedua.
Mereka kembali menyusuri mal mencoba permainan yang ada di sana. Gio tidak percaya dia melakukan hal itu yang tidak pernah dia lakukan. Waktu berjalan begitu cepat Gio mengajak Tiara pulang tapi Tiara menolak.
"Kita harus pulang."
"Aku masih ingin bermain."
"Kita sudah cukup lama bermain. Jangan terlalu lelah."
"Aku sehat sekarang. Lupakan penyakitku untuk saat ini aku mohon." Tiara menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Baiklah. Hanya lima menit."
"Aku ingin memainkan itu." Tunjuk Tiara pada mesin pencapit boneka. Mereka pun melangkah bersama, Tiara sangat menyukai bear dia ingin Gio mendapatkan itu.
"Apa kamu bisa mendapatkannya untukku?"
"Hanya itu. Jangan remehkan aku apa yang tidak aku bisa." Gio mulai menarik dan menekan tombol. Menggerakkan ke kiri dan kanan hingga saat pencapit itu mengenai boneka bear Gio langsung menekan tombolnya boneka bear pun dia dapatkan.
"Wah, kamu mendapatkannya."
"Ini untukmu." Gio memberikannya pada Tiara. "Apa masih ada yang kamu inginkan?"
"Tidak, terima kasih."
"Kalau begitu kita pulang." Gio hendak melangkah tiba-tiba boneka bear itu terjatuh yang tidak sengaja dia injak. Gio kesal karena Tiara sengaja menjatuhkannya.
"Tiara apa mau … Tiara!" Gio terkejut melihat tubuh Tiara yang sudah tergeletak di bawah lantai sana. Bahkan semua orang di sana ikut panik.
"Tiara! Tiara bangun." Gio segera memangku Tiara membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Melihat Tiara yang tidak merespon Gio jadi panik dia melupakan boneka bear yang ditinggal begitu saja dan melupakan motornya.
Gio menaiki taksi membawa Tiara ke rumah sakit. Tidak lupa memberitahukan Danu dan Susan keadaan Tiara saat ini.
"Gio!" Panggil Susan yang baru saja sampai. Dia terlihat panik yang berlari ke arahnya.
"Bagaimana keadaan Tiara?"
"Masih di dalam. Dokter masih memeriksanya."
"Tiara …." Susan tidak bisa menyembunyikan kecemasannya yang menangis dalam pelukan Danu.
Melihat mereka bersedih Gio merasa bersalah karena telah membawa Tiara pergi. "Tante … Om, maafkan aku aku tidak bisa menjaganya. Ini semua karena aku membawanya pergi."
"Jangan salahkan dirimu. Justru kami berterima kasih kamu telah membuat Tiara bahagia malam ini." Danu sama sekali tidak menyalahkannya. Namun, Gio tetap merasa bersalah.
__ADS_1