Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Meresmikan pertunangan


__ADS_3

"Tiara!" Gio terus memanggil Tiara. Sedangkan Tiara terus saja berjalan hingga sampai di depan pintu kamar Gio.


Langkahnya Terhenti ketika melihat kedua orang tuanya. "Mama … Papa?" Panggil Tiara. Tiba-tiba Gio datang menabrak tubuhnya. "Tiara, kita perlu bicar …." Perkataan Gio tertahan ketika melihat kedua orang tua mereka di dalam kamar.


Susan dan Danu tersenyum melihatnya. "Ternyata putriku yang membawa kabur pasien di sini," kata Susan yang bercanda.


"Masuklah jangan hanya diam di depan pintu. Sapa kedua orang tua Tiara," ujar Baskara tertuju pada Gio.


Gio dan Tiara pun melangkah bersama memasuki kamar. Mereka duduk berdampingan.


"Gio, bagaimana keadaanmu?" tanya Susan.


"Sudah lebih baik Tante," jawab Gio.


"Apa itu di bibirmu?" tanya Junita menunjuk bibir Gio yang terdapat sisa-sisa jeruk. Segera Gio membuangnya.


"Itu sisa jeruk, tadi aku membawakannya jeruk," ujar Tiara menjawab pertanyaan Junita.


"Terima kasih Tiara kamu sangat memperhatikan Gio," kata Junita lagi.


"Sama-sama Tante," jawab Tiara dengan senyuman.


"Pak Baskara Bu Junita kami ke sini ingin membicarakan tentang pertunangan itu," ujar Susan.


"Pertunangan!" Gio dan Tiara terkejut.


"Kami ingin menanyakan lagi pada saat makan malam itu apa pak Baskara serius dengan perkataannya untuk menjodohkan mereka?" tanya Susan lagi.


Baskara tertegun sebelum akhirnya tersenyum. "Jika kalian setuju kenapa tidak. Tapi terserah anak-anak aku tidak akan memaksakan." Kata Baskara seraya melirik Gio.


"Setelah kami lihat-lihat Gio dan Tiara semakin dekat bahkan semakin akrab. Kami ke sini ingin membicarakan masalah itu. Kami ingin Gio dan Tiara bertunangan resmi," ucap Susan mengejutkan Tiara dan Gio.


"Apa harus diresmikan? Kami masih sekolah," ujar Tiara.


"Kalian hanya bertunangan bukan menikah. Jadi tidak akan mengganggu sekolah kalian," jelas Susan.


"Itu artinya kami saling terikat, Tiara tidak akan dekat dengan lelaki mana pun dia hanya milikku," ucap Gio yang mendapat senyuman dari Susan. "Baiklah, aku setuju," kata Gio. Namun tidak dengan Tiara yang terlihat kesal.

__ADS_1


***


"Gio!" teriak para siswi langsung mengerumuninya saat turun dari mobil.


Tiara yang melihat itu sangat kesal sebab, Gio melarangnya dekat dengan lelaki tapi Gio sendiri berdekatan dengan wanita itu sangat tidak adil.


"Gio, kepalamu. Pasti sangat sakit sekali bukan?"


"Gio, lebih baik kamu jauhi Tiara setelah dengannya kamu selalu sial," Perkataan siswi itu membuat Gio marah, dia tidak suka ada yang mengatakan hal buruk tentang Tiara.


"Apa yang kamu bilang sial? Justru kalianlah yang membuatku sial. Minggir kalian semua," ujar Gio dengan nada tinggi.


Sedetik para siswi itu mundur membiarkan Gio melangkah melewati mereka. Walau dalam hati mereka sangat kesal karena Gio terlalu membela Tiara.


Hari pertunangan mereka akan diresmikan. Semua siswa mendapat undangan digital resmi yang di kirimkan lewat ponsel mereka. Sontak satu sekolah heboh mendapat undangan itu. Apalagi para penggemar Gio mereka harus menangis karena kecewa.


"Tiara, jadi kamu dan Gio akan resmi bertunangan malam ini?" tanya Zy.


"Pertunangan kalian sangat mewah sekali," kata Zy yang terus menatap ponselnya.


"Karena setelah bertunangan kamu pasti menikah," kata zy membuat Tiara semakin gugup.


"Bagaimana ekspresi Gio setelah mendengar ini? Apa dia tidak menolak atau membantah orang tuanya?" tanya Mytha penasaran.


"Tidak, justru dia yang sangat setuju," jawab Tiara.


"Wah! Itu artinya Gio sudah jatuh hati padamu," kata Mytha memuji.


"Nanti malam kalian akan datang, kan?" tanya Tiara berharap temannya datang.


"Tentu kami akan datang," jawab Zy dan Mytha bersamaan. "Aku harus membeli gaun sore ini," ucap Zy dengan semangat. Begitu pun dengan Mytha.


Di tempat lain Gio menemui teman-temannya di lapangan basket. Revan terlihat gigih yang terus melemparkan bolanya ke dalam ring, sedangkan Nico dia hanya menjadi penonton.


"Ada apa dengannya terlihat emosi," ujar Gio mendekati Nico lalu duduk di samping Nico melihat Revan yang bermain basket sendirian.


"Gio, kamu sudah sembuh?" tanya Nico yang mendapat anggukan dari Gio.

__ADS_1


"Kamu selalu membuat kejutan untuk kami. Soal kecelakaan mu itu kami benar-benar terkejut. Bahkan kamu tidak bisa melihatku dengan Revan, kami menjengukmu waktu itu. Keadaanmu sangat mengkhawatirkan. Tapi sekarang aku lega kamu sudah sehat, lain kali datanglah ke rumahku jika ada masalah dengan ayahmu jangan kabur atau balapan aku tidak ingin kamu celaka," ujar Nico.


"Terima kasih sudah merasa khawatir. Bagaimana dengan dia?" tanya Gio menatap Revan yang masih asyik bermain.


"Tentu saja dia 'kan temanmu. Aku tahu hubungan kalian tidak terlalu baik tapi kita sahabat Revan juga merasa cemas ketika kamu kecelakaan," ujar Nico. "O ya, sekarang kamu mengejutkan kami dengan undangan pertunanganmu, kedua orang tuamu bertindak sangat cepat. Bahkan kalian sudah akan bertunangan."


"Tentu. Apa dia juga dapat?" tanya Gio lagi yang melirik pada Revan, dalam waktu bersamaan Revan pun meliriknya pandangan mereka saling bertemu.


"Pasti karena undangan itu dia berusaha keras," ujar Gio berpikir Revan kesal dengan undangannya sehingga bermain basket sendirian.


"Jangan lupa datang untuk malam ini," ujar Gio lalu melangkah pergi.


Revan berjalan mendekati Nico, lalu duduk di sampingnya. Meraih sebotol air minum yang sudah sedia. "Apa yang dia lakukan? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyanya pada Nico.


"Dia mengingatkan kita untuk datang malam ini," jawab Nico.


"Mereka terlalu buru-buru padahal masih sekolah," ujar Revan lalu meneguk air minumnya lagi.


Di dalam kelas Tiara sedang bermain dengan teman-temannya. Zy dan Mytha menghiasi rambut dan wajahnya bak seorang putri. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Tiara terlihat bahagia memilih macam makeup yang Zy bawa, dan Mytha pandai merias rambut.


"Tiara malam nanti kamu pasti sangat cantik," ujar Zy.


"Gio akan tergila-gila padamu," tambah Mytha yang tiba-tiba mendapat semburan dari Angel the geng.


"Aelah, wajah pucat tetap saja pucat," kata Angel membuat mereka menoleh. "Aku tidak yakin pertunangan itu keinginan Gio. Dia pasti tertekan karena harus bertunangan denganmu. Gadis penyakitan," kata Angel dengan sinis.


"Tiara kamu jangan mengundangnya, wanita seperti dia tidak pantas datang ke pestamu," kata Mytha yang emosi.


Zy langsung bangkit dari bangkunya mendekati Angel lalu berkata, "Apa maumu? Kamu tidak jauh berbeda dengan hama yang terus mengganggu. Terima saja jika Gio milik Tiara bukan dirimu. Lebih baik kalian pergi sebelum aku menghajarmu."


"Tiara, kenapa kamu hanya diam?" Bukannya pergi Angel semakin berulah. "Tiara, apa kamu tidak berpikir ajalmu sudah dekat, apa kamu ingin menyiksa Gio agar bertunangan denganmu menemani hari-harimu sebelum tiada. Dan jika pun kalian menikah akhirnya kamu tetap akan tiada." Perkataan Angel begitu menyakitkan.


Tiara yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. "Anggap saja jika ini permintaan terakhirku. Jika memang ajalku sudah dekat aku akan meminta Gio untuk segera menikahiku tidak hanya tunangan, karena aku ingin merasakan hal itu sebelum aku tiada. Sekarang katakan padaku kapan ajalku tiba? Kapan aku akan tiada?" tanya Tiara dengan tegas. Hatinya merasa sakit begitupun dengan nafasnya terasa sesak. Apa orang sakit tidak berhak bahagia?.


"Katakan Angel kapan waktu itu tiba? Kapan ajalku datang?" tanya Tiara dengan emosi. Angel hanya diam, tiba-tiba tubuh Tiara jatuh di hadapannya membuat Mytha dan Zy terkejut.


"Tiara!"

__ADS_1


__ADS_2