Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kegilaan Gio


__ADS_3

"Gio, gue titip ponsel Revan," ujar Nico memberikan sebuah ponsel pada Gio.


"Ngapain di kasih ke gue?" tanya Gio dingin. Gio sedang asyik bersantai di kelasnya Nico mengganggu dengan ponsel itu.


"Sorry gue titip sebentar gue dipanggil ke ruang guru," jawab Nico yang berlalu pergi.


Awalnya Gio hanya mendiamkan ponsel itu, tetapi Gio penasaran dan ingin membuka isi dari ponsel itu. Beruntung Revan tidak pernah mengunci ponselnya memudahkan Gio untuk membuka.


Tidak sengaja Gio membaca pesan antara Revan dan Tiara. Wajah acuhnya berubah jadi sangar, kedua telapak tangan mulai mengepal, lalu pergi dari kelas membawa gawai milik Revan yang dicengkramnya dengan kuat.


Gio menyusuri sepanjang lorong dan kelas, hingga saat melihat Revan langkahnya terhenti. Gio melangkah mendekati Revan yang berdiri di ujung lorong sambil membaca sebuah buku.


Tatapan membunuh Gio semakin menakutkan. Gio mendekat lalu melempar ponsel itu kehadapan Revan.


Semua siswa yang ada di sana terkejut begitupun dengan Revan yang melihat ponselnya di bawah lantai.


Revan segera berjongkok mengambil benda pipih itu lalu mendongak menatap Gio didepannya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu baru saja merusak ponselku," ujar Revan dengan dingin. Revan sedikit emosi karena Gio melempar barang miliknya.


"Karena aku harus melakukan itu. Pengkhianat," ucap Gio, membuat Revan menyipit menatapnya heran.


"Pengkhianat?" tanya Revan yang benar-benar tidak mengerti.


"Ah!" jerit semua siswa ketika Gio memukul wajah Revan. Revan mendongak lalu berdiri dan membalas pukulan itu.


Susana lorong jadi riuh, semua siswa siswi berkumpul untuk menyaksikan perkelahian mereka. Gio yang salah paham dan Revan yang tidak tahu apa alasan Gio memukulnya.


Hati mereka diselimuti amarah hingga tidak berpikir untuk menyelesaikannya baik-baik. Gio yang emosi karena cemburu terus menghajar Revan, dan Revan yang tidak terima Gio sudah merusak barang miliknya hingga memukulnya terus melawan.


"Gio, Revan!" teriak Nico yang berlari di ujung lorong. Nico langsung menghadang kedua temannya, memisahkan mereka yang wajahnya sudah berantakan.


"Revan … Gio … ada apa ini?" tanya Nico dengan nada tinggi. Revan dan Nico hanya saling pandang.


Kini Nico membawa mereka ke markas mereka, ruangan hanya untuk mereka bertiga. Revan dan Gio hanya saling diam, Nico terua menatap mereka berdua sambil memegang ponsel milik Revan.

__ADS_1


Nico menghela nafas sesaat lalu berkata, "Jadi kalian bertengkar karena ini?" tanya Nico.


"Revan, apa selama ini kamu tahu di mana Tiara? Dan kamu diam-diam menghubunginya," ujar Nico.


"Dia menghubungiku bukan berarti aku tahu di mana dia tinggal. Tiara tidak pernah memberitahuku dia ada di mana dan hanya menanyakan kabar Gio," jelas Revan dingin.


"Jika dia ingin tahu kabarku kenapa harus bertanya pada mu?" tanya Gio yang menatap Revan tajam. Gio bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Revan hanya diam dan Nico hanya bisa menghela nafas. "Salah paham lagi," ucap Nico lalu duduk di samping Revan.


***


"A …!" teriak Gio di atas atap. Gio melepas cincin di jari manisnya lalu melemparnya dengan jauh.


"Kamu pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Tapi kamu bisa memberikan kabar pada Revan, aku tidak tahu apa salahku Tiara sehingga kamu tidak ingin bicara denganku." Gio merasa kecewa selama ini Tiara tidak pernah mengabarinya.


Gio pergi meninggalkan atap, melewati kelas yang menuju parkiran. Menaiki motor lalu pergi meninggalkan sekolah. Revan dan Nico hanya memandang kepergian Gio di luar kelasnya.


"Gio pasti pergi balapan lagi," ucap Nico. "Kali ini aku harus mengabari ayahnya," tambah Nico tapi di tahan Revan.


"Revan … Revan!" teriak kedua orang siswi. Mereka adalah Mytha dan Zy, Nico dan Revan segera berbalik pada mereka.


Mytha dan Zy terlihat menarik nafasnya perlahan. Mereka sepertinya berlari dengan kencang sehingga nafasnya tersengal-sengal.


"Revan aku dengar Tiara menghubungimu. Sekarang katakan padaku di mana Tiara?" tanya Zy.


"Aku tidak tahu Tiara di mana. Dia tidak pernah memberitahuku," jawab Revan.


"Tap …," ucap Zy tertahan karena Revan menyanggahnya. "Jangan bertanya padaku lagi karena aku tidak tahu," ucap Revan datar lalu pergi meninggalkan mereka.


"Seharusnya kalian yang lebih tahu," ujar Nico lalu pergi meninggalkan Zy dan Mytha.


"Oh Tuhan, kenapa sulit sekali mencarimu Tiara, sebenarnya ke mana kamu," ujar Mytha merasa kecewa.


"Zy, apa Tiara masih hidup?" tanya Mytha membuat Zy menoleh. "Apa kamu mendoakannya mati?" tanya Zy dengan sorot mata yang tajam. Mytha langsung menggeleng dan berkata, "Tidak."

__ADS_1


"Sepertinya Tiara pergi ke luar negeri," ujar Zy.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Mytha.


"Karena penyakit Tiara. Mungkin saja Tiara pergi berobat," jawab Zy. "Tiara semoga kita bisa bertemu lagi," ujar Zy.


Gio membawa motornya tanpa arah. Gio pergi tanpa tujuan hingga larut malam Gio masih berada di jalanan.


Para pemuda sedang berpesta miras yang asyik berjoget, berteriak dan balapan bebas. Mereka terus menikmati cairan alkohol dalam botol hijau.


"Gio!" Panggil seorang pemuda pada Gio yang baru saja turun dari motornya. Tampang Gio masih terlihat marah dan emosi, pemuda itu melangkah ke arahnya sambil membawa sebotol minuman.


"Gio, kamu datang di waktu yang tepat brow. Kita berpesta," ucap pemuda itu dengan tingkah yang aneh, berjalan sempoyongan dan bicara ngaur.


"Aku tahu kamu pasti sedang ada masalah. Cobalah meminumnya sedikit saja, kupastikan pikiran mu akan tenang," ucap pemuda itu.


"Berikan itu padaku," pinta Gio yang langsung mengambil botol itu dan meneguknya. Mata Gio terpejam seraya melemetkan lidahnya saat merasakan minuman aneh itu.


Untuk pertama kalinya Gio mencoba minuman yang memabukan. Bukannya memuntahkan Gio malah menghabiskan satu botol.


"Gio! Kamu hebat ayo kita berpesta," ujar seorang pemuda yang memberikan botol itu. Gio semakin kehilangan akal, kondisinya kini sudah benar-benar mabuk.


Badannya sempoyongan dan bicara ngaur. Tiba-tiba sekelompok polisi datang membubarkan mereka, semua orang berlari tapi tidak dengan Gio yang tertangkap.


Kini Gio berada di kantor polisi. Tidak ada rasa takut saat diinterogasi, Gio malah meracau.


"Hei, anak muda jawab pertanyaan ku. Masih sekolah udah mabuk-mabukan," ujar seorang polisi lalu menggeledah tas dan motornya.


"Cari ponselnya hubungi orang tuanya," titah polisi itu pada anggotanya.


"Kalian mau hubungi orang tuaku?" tanya Gio dengan gaya mabuk. "Aku beritahu artis papan atas Bella itu adalah ibuku kalian panggil saja dia," ujar Gio. "Kalian pasti tidak menyangka, kan aku … anak artis terkenal," kata Gio dengan tawa.


Kedua polisi itu saling pandang, lalu seorang polisi menemukan sebuah kartu nama atas nama Bella di dalam dompetnya. Mereka pun menghubungi Bella ingin tahu apa benar Gio anak artis terkenal itu.


Dan seorang polisi juga menemukan nomor Baskara, mereka pun menghubunginya.

__ADS_1


"Hubungi saja kedua orang tuanya," perintah seorang polisi pada bawahannya.


__ADS_2