Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Ketika Semua Orang Mengetahuinya


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Hendak tertidur, ketukan pintu membuat Gio kembali terbangun. Dengan santainya pria itu berjalan ke arah pintu, saat terbuka seorang pelayan kapal dengan panik bicara padanya. Pelayan itu memberitahukan jika ada yang sakit dan butuh pertolongan.


"Tolong, penghuni kamar xxx kesakitan. Saya bingung mau melakukan apa, tapi dia memintaku untuk memanggilmu, dia bilang anda seorang Dokter. Tolong," ujar Pelayan itu yang bersandiwara.


"Apa dia seorang wanita?"


"Ya. Namanya Angel nona itu bilang dia temanmu."


"Aku akan segera datang," kata Gio yang diangguki pelayan itu.


Namun, saat mau masuk, Gio salah membuka kamar. Bukan kamar Angel melainkan kamar Rara yang ia buka. Tepatnya, sang pelayan kapal tadi salah menyebutkan nomor kamar.


"Angel!"


Pria itu terkejut, Gio berpikir gadis yang tergeletak itu adalah Angel, tetapi saat dihampiri Gio semakin kaget saat tahu itu Rara. Wanita pembawa masalah juga pasien-nya sekarang.


"Rara," ucapnya demikian.


Mengingat penyakit Rara, Gio langsung memindahkannya ke atas ranjang. Dalam waktu bersamaan, Revan datang yang emosi melihat Gio menidurkan Rara.


Kesalahpahaman pun terjadi, dengan amarah Revan membaku hantam Dokter muda itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Revan dengan nada tinggi.


"Revan," ujar Gio demikian.


"Apa yang kamu lakukan hah! Kamu masuk ke kamarnya, kamu mau …."


"Stop!" bentak Gio menyanggah ucapan Revan. "Jangan salah paham, aku hanya ingin mengobatinya," sambung Gio.


"Mengobati?"


"Apa kamu tidak lihat keadaan Rara? Dia sakit dan harus segera diobati. Dia harus di bawa ke rumah sakit."


"Jangan pikir aku percaya," ujar Revan. "Rara baik-baik saja tidak mungkin sakit." sambung Revan.


Kedua pria itu terus berdebat hingga mengundang kericuhan. Angel yang bersantai menunggu Gio segera keluar setelah mendengar kegaduhan itu.


Gio tidak peduli dengan umpatan Revan. Pria itu masih menatapnya tajam, tapi Gio lebih memilih Rara. Sebagai seorang Dokter dia harus menyelamatkan pasieunnya.


Gio tidak pernah menyangka akan bertemu Rara di tempat ini. Entah, sebuah kebetulan atau takdir Tuhan supaya dia menjaganya.


Rara … kembali mengingatkan Gio pada Tiara, gadis cantik yang selalu ada di hatinya. Namun, setelah mengetahui bahwa mata Tiara ada pada Rara membuat Gio serasa dekat dan melihat istrinya lagi.


"Gio! Ada apa ini? Revan!"


Angel bingung sendiri melihat keberadaan Gio di dalam kamar bersama Revan, apalagi saat melihat Rara yang ada dalam pangkuan Gio.

__ADS_1


Namun, Gio tidak peduli pada mereka berdua yang langsung membawa Rara pergi.


"Gio! Hey!" teriak Revan yang hendak mengejar tapi di sanggah Angel.


"Tunggu! Apa yang terjadi? Kenapa Gio bisa ada di dalam kamar ini? Seharusnya dia ada di kamarku sekarang."


Revan menatap Angel datar.


"Kamu pikir aku peduli?"


Dengan juteknya Revan meninggalkan kamar. Angel langsung mengejar mereka.


……


Revan dan Angel masih menunggu di luar kamar Gio. Entah, apa yang Gio perbuat kedua manusia itu gelisah antara cemas dan cemburu. Tidak berselang lama Gio keluar bersama seorang pelayan kapal yang membantunya.


Ekspresi Revan masih sama. Marah dan kesal.


"Apa yang kamu tahu tentang Rara? Apa karena kamu seorang dokter bisa seenaknya." Revan berkata dengan nada tinggi. Namun, Gio tetap diam.


"Jika kamu menyukainya, seharusnya kamu tahu apa yang dialaminya."


Hanya itu yang Gio katakan lalu pergi. Revan segera masuk melihat keadaan Rara, sedangkan Angel dalam keadaan bimbang. Ingin mengejar Gio tapi juga ingin tahu apa yang terjadi pada Rara.


Gio berdiam diri di depan pagar pembatas, membiarkan angin menerpa wajahnya. Rara benar-benar mengingatkannya pada Tiara. Rasa sakit membuat Gio tidak bisa menahan tangisnya.


"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Angel yang tiba-tiba datang. Gio menoleh sesaat pada gadis yang selama ini mendambakannya.


"Apa kamu mengingat Tiara lagi? Kapan … kapan aku bisa menggantikan Tiara di hatimu Gio? Katakan … apa yang harus aku lakukan? Bila perlu aku akan menjadi seperti Tiara supaya kamu mencintaiku," ujar Angel.


"Tidak bisa … aku tidak ingin siapa pun menjadi Tiara baik itu kamu atau orang lain."


"Kenapa? Apa karena tidak tergantikan?"


Gio menghadap Angel yang terus bertanya padanya.


"Karena aku tidak ingin kamu mengidap kanker seperti Tiara." Perkataan Gio mampu membuat Angel diam.


"Ya, aku tahu itu. Tiara pasti merasa kesakitan. Dulu … aku sering merundungnya tapi sekarang aku menyesal. Namun, percuma Tiara sudah tiada," ujar Angel menyesali.


"Kamu tahu? Apa alasanku ingin menjadi seorang Dokter. Perkataanmu benar, memang Tiaralah yang membuatku jadi seperti sekarang. Aku ingin menyembuhkan siapa pun yang terkena penyakit yang sama, dan aku tidak ingin terlambat melakukannya. Itu juga yang aku lakukan pada Rara," ujar Gio.


"Rara? Jadi Rara …."


"Ya, Rara mengalami penyakit yang sama."


"Bagaimana bisa?" pikir Angel.


Rara baru saja tersadar, Revan yang berada di sampingnya begitu senang ketika melihat Rara sadar.

__ADS_1


"Rara kamu baik-baik saja? Aku mencemaskanmu."


"Di mana aku?"


Rara hendak bangun dari tidurnya. Revan segera membantunya. Pria itu ingin sekali bertanya tentang penyakit yang Rara derita, perkataan Gio mengganggu pikirannya.


"Rara … apa selama ini kamu sakit?"


Rara menatapnya datar.


"Revan bukankah kamu akan mengajakku makan malam? Sebentar aku akan siap-siap dulu."


"Jawab pertanyaanku Rara, aku dengar dari Gio kamu sakit. Apa hanya aku yang mengetahuinya? Apa aku tidak berhak tahu Rara!"


Revan mulai emosi.


"Kapan Gio mengatakan itu?"


"Jawab saja."


"Aku hanya kelelahan."


"Bohong. Aku tahu kamu menderita kanker iya, kan? Obat ini … obat ini yang selalu kamu minum saat di pesawat." Revan menunjukkan satu botol obat yang dia temukan di dalam tas Rara.


Gadis itu tidak bisa menjawab, hanya tetesan air matalah yang menjawabnya. Revan, pria itu tidak mampu menahan tangisnya yang memeluk Rara dengan erat.


Revan sudah jatuh cinta pada gadis itu. Dia tidak mungkin membiarkan gadis yang di cintainya menderita. Sepulang dari labuan bajo, Revan membawa Rara ke sebuah rumah sakit lembaga kanker, bahkan pria itu mencari rumah sakit terhebat di berbagai negara yang bisa menyembuhkan penyakit itu.


Revan sudah berjanji akan menjaganya dan selalu menemaninya.


Saat ini keduanya berada di depan sebuah kedai, itulah kedai milik Rara dan ibunya. Wajah Rara tidak lagi terlihat ceria, yang semakin pucat tidak bercahaya. Namun, Rara tetap kuat tidak memperlihatkan kelemahannya.


"Kamu siap untuk besok, kan?" tanya Revan seraya merapihkan pakaian hangat Rara.


Rara hanya mengangguk.


"Aku akan menemanimu, tidak ada yang perlu di takutkan. Semua akan baik-baik saja."


"Aku tidak pernah merasa takut."


"Aku suka itu."


Revan menghela nafas sejenak.


"Masuklah, tidur dan istirahatlah. Ingat jangan memikirkan apa pun oke!"


Rara hanya tersenyum, gadis itu berbalik melangkah masuk ke dalam kedainya. Sesaat langkahnya terhenti yang berbalik menghadap Revan yang masih bertengger menatapnya.


"Terima kasih, kamu orang pertama yang akan aku ingat sebelum aku pergi. Terima kasih."

__ADS_1


Senyum Revan memudar, perkataan Rara tidak membuatnya bahagia sama sekali. Namun, membut Revan sangat takut akan kehilangan.


__ADS_2