Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Jalan Hidup tidak ada yang tahu


__ADS_3

Hari in Gio kembali ke rumah. Sesuai janjinya Baskara tidak marah yang hanya menatap tubuh Gio dari atas kepala sampai bawah kakinya.


Percuma juga jika memarahi Gio kali ini, karena kaki dan tangannya sedang terluka.


"Jangan tanyakan motor. Karena motorku masih diperbaiki," ucap Gio, dengan nada tinggi padahal Baskara tidak menanyakan apa pun.


"Jangan memandangku seperti itu. Jika kamu tidak percaya lihat saja kaki dan tanganku," kata Gio lagi.


Baskara hanya menghela nafas lalu pergi sambil berkata, "Masuklah ke kamarmu dan istirahat." Gio terdiam memandang kepergian sang ayah, dia merasa aneh dengan sikap Baskara. Gio pun melangkah menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Gio langsung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Melipatkan kedua tangan untuk dijadikan bantal kepalanya. Sepasang netra nya menatap fokus ke langit kamar, Gio kembali memikirkan Tiara. Entah kenapa sulit melupakan Tiara.


Sesaat matanya terpejam lalu mengerjap, berharap Gio bisa melupakan Tiara setelah membuka matanya tetapi bayangan Tiara terus saja muncul.


"Kenapa aku tidak bisa melupakannya," ucap Gio yang bangun dari tidurnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Sedetik Gio melirik pada laci di bawah meja belajarnya. Gio turun dari ranjang berjalan ke arah laci itu, mengambil sebuah cincin yang terus dia pandangi.


Sekilas bayangan masa lalu kembali muncul.


"Gio, aku juga punya sesuatu untukmu," kata Tiara yang merogoh saku dressnya. Sepasang cincin Tiara perlihatkan pada Gio.


"Aku menemukannya di halaman, jika boleh aku ingin menyimpannya," ucap Tiara kala itu.


Gio langsung mengambil cincinnya lalu berkata, "Kenapa hanya disimpan tidak kamu pakai?" tanya Gio langsung menyematkan cincin itu di jari manis Tiara.


"Kenapa hanya bengong? Pakaikan juga untukku," ujar Gio membuat Tiara tersenyum lalu memakaikan cincinnya.


Sesaat bayangan itu menghilang, Gio masih tertegun memandang cincin itu tiba-tiba Gio menyematkannya pada jari manis miliknya. Sepertinya Gio sudah lama membuka cincin itu dan ingin memakainya kembali.


"Aku tidak tahu di mana kamu berada, dan aku tidak tahu alasan mu pergi. Aku harap jika kita bertemu lagi kamu akan menjelaskan semuanya," ucap Gio yang mengusap lembut cincin itu.


***

__ADS_1


Revan duduk santai di dalam kamar sambil memainkan ponsel. Bukan bermain game atau semacamnya ternyata Revan sedang membalas pesan.


"Tiara, bahkan kamu masih memikirkan Gio walau ada jarak di antara kalian," ucap Revan setelah membalas pesan itu.


Tiara memang menghubungi Revan sekedar bertanya kabar Gio. Namun, tetap saja Revan tidak tahu keberadaan Tiara di mana. Karena Tiara tidak memberitahukannya.


"Kenapa dia tidak membalasnya," ucap Revan melihat pesan yang masuk tidak ada satu pun balasan dari Tiara.


"Selalu saja begini. Kamu mengirim pesan padaku hanya bertanya keadaan Gio setelah itu melupakanku padahal aku juga ingin bicara denganmu," ucap Revan kesal karena selalu diabaikan. Tanpa Revan tahu saat ini Tiara sedang melakukan kemoterapi.


Seminggu sudah berlalu terapi yang dijalani Tiara sudah selesai. Tiara kembali ke rumah setelah seminggu di rumah sakit, Tiara terus mual dan muntah mungkin itu efek dari kemoterapi.


Namun, Susan merasa kasihan karena melihat Tiara yang kesakitan. Sehingga dia tidak dapat tenang.


"Mas, kenapa ini? Kenapa Tiara terus muntah dan mual?"


"Sebentar Papa akan telepon Dokter," ujar Danu yang langsung menghubungi Dokter.


"Tiara yang kuat sayang ya. Minumlah dulu," kata Susan yang memberikan segelas air. Namun, bukannya meminum Tiara malah menepis gelas itu hingga terlempar dan pecah.


"Tiara ada apa?" tanya Danu sedikit emosi. Sebab, dirinya dan Susan sudah sangat panik tapi Tiara malah bertindak tidak sopan pada ibunya.


"Sudah Mas, jangan marahi Tiara," kata Susan meredakan emosi Danu.


Tiara memejamkan mata lalu berkata, "Mama … Papa … Tiara sudah lelah, jika memang Tiara harus memilih lebih baik Tiara mati saja Ma."


"Tiara!" Perkataan Tiara membuat Danu emosi.


"Tidak Tiara, kamu jangan katakan hal itu sayang," ucap Susan yang berderai air mata lalu memeluk Tiara.


Danu sebagai suami sekaligus seorang ayah hanya bisa melihat kesedihan istrinya dan keputusasaan putrinya. Hingga dia ikut menangis.


"Tiara ikhlas Ma, jika memang Tiara harus pergi. Tiara sudah tidak sanggup lagi. Mama … Papa … ikhlaskan lah Tiara, biarkan Tiara pergi."

__ADS_1


"Tidak!" teriak Susan setelah mendengar perkataan Tiara yang begitu menakutinya.


"Papa bagaimana dengan Dokter! cepat panggilkan Dokter atau kita ke rumah sakit sekarang." Susan benar-benar sudah tidak tahan, dia tidak ingin Tiara meninggalkannya.


Danu masih terus menghubungi Dokter tapi masih tidak diangkat. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Tiara ke rumah sakit lagi tetapi belum sempat mereka pergi Danu dikejutkan dengan teriakan Susan yang begitu histeris.


Tubuh Tiara lemas yang tiba-tiba tidak merespon apa pun. Bahkan saat disentuh tubuh Tiara goyang begitu saja seperti sudah tidak bernyawa.


"Tiara … Tiara!" Panggil Susan dengan histeris. "Papa … Tiara Pa!" Danu segera mendekat mencoba membangunkan Tiara tetapi tidak ada respon apa pun.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Dengan cepat Danu memangku Tiara membawanya pergi ke rumah sakit.


"Tiara bangun sayang! Tiara dengarkan Papa," ucap Danu dengan gelisah. Mereka semua panik wajahnya begitu tegang, serta air mata yang terus turun.


Susan duduk di belakang menemani Tiara dan Danu mempercepat jalan kemudinya. Di rumah sakit beberapa perawat dan Dokter sudah menunggunya. Mereka langsung memindahkan tubuh Tiara ke atas brankar, dengan panik mereka semua mendorong brankar itu menuju ruang ICU.


Tangan Tiara yang lemah jatuh melambai ke bawah brankar hingga cincin pada jari manisnya pun terjatuh, bergelinding hingga jauh. Tidak ada satu pun yang melihat cincin itu terutama Danu dan Susan.


Cincin berlian yang terdampar di sudut lorong, terlihat menyedihkan terlepas dari jari manis pemiliknya. Danu dan Susan hanya bisa berdoa ketika Tiara memasuki ruang ICU. Tangisan mereka semakin tidak berhenti, Danu hanya bisa pasrah sambil memeluk istrinya.


***


Gio melangkah melewati lorong dan kelas, wajahnya begitu tegang dan penuh amarah. Satu tangannya menggenggam sebuah ponsel yang hampir retak karena genggamannya. Langkahnya terhenti ketika melihat Revan yang berdiri di ujung lorong sambil membaca sebuah buku.


Tatapan membunuh Gio semakin menakutkan. Gio mendekat lalu melempar ponsel itu kehadapan Revan.


Semua siswa yang ada di sana terkejut begitupun dengan Revan yang melihat ponselnya di bawah lantai.


Revan segera berjongkok mengambil benda pipih itu lalu mendongak menatap Gio didepannya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu baru saja merusak ponselku," ujar Revan dengan dingin. Revan sedikit emosi karena Gio melempar barang miliknya.


"Karena aku harus melakukan itu. Pengkhianat," ucap Gio, membuat Revan menyipit menatapnya heran.

__ADS_1


"Pengkhianat?" tanya Revan yang benar-benar tidak mengerti.


__ADS_2