Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Khawatir


__ADS_3

Gio membawa Tiara ke atas atap, karena Tiara terus saja memaksa. Pria itu hanya diam melihat sang istri yang menyusuri setiap bunga yang ada di atas pagar pembatas, hanya mengandalkan kursi roda untuk berjalan.


Entah apa yang sedang Gio rasakan, tatapannya sungguh menyedihkan. Gio masih teringat bunga yang penuh dengan darah, Tiara sama sekali tidak mengatakannya.


"Gio, kenapa kamu hanya diam di situ? Kemarilah aku ingin berfoto denganmu," ucap Tiara dengan senyuman, tetapi tidak merubah wajah pucat nya.


Gio menghela nafas sejenak, lalu berjalan menghampiri Tiara.


"Keluarkan kameranya, aku ingin berfoto dengan bunga-bunga ini, dan semua yang ada di atap ini."


Mereka sering mengunjungi tempat itu, tapi tidak pernah Tiara meminta foto. Gio, mulai mengangkat ponselnya mengambil potret Tiara secantik mungkin.


"Gio, kamu juga ikut berfoto," ujar Tiara. Gio terlihat tidak bergairah dan malas mengambil potretnya.


Setelah puas berfoto, mereka duduk di atas sofa. Gio terus melamun tanpa kata.


"Gio, aku lihat hubunganmu dengan Revan semakin jauh, kenapa? Apa ada masalah? Aku ingin melihat kalian akur lagi. Aku tidak ingin karena adanya aku membuat persahabatan kalian renggang."


"Sebelum ada kamu hubunganku dengannya memang kurang baik," ujar Gio dingin.


Tiara hanya menunduk.


"Mungkin aku akan pergi, dan sebelum pergi aku ingin melihat kedamaian kalian," ucap Tiara.


Gio segera menoleh. Tatapannya sangat dingin. "Kamu tidak akan pergi." Gio berkata dengan tegasnya. Tiara hanya tersenyum.


"Aku hanya bilang mungkin," ucap Tiara yang bersandar pada Gio.


"Sinar mentari sangat menyengat, tapi aku tidak silau melihatnya." Gio semakin sedih mendengar perkataan Tiara.


"Karena matahari tidak menghadap ke arahmu," ucap Gio yang menahan tangisan.


Mereka kembali ke dalam kamar setelah Tiara merasa bosan. Gio menidurkan Tiara di atas ranjang menyelimutinya dengan pelan.


"Aku ingin pulang," ucap Tiara.


"Dokter belum mengizinkan. Di sini pun ada aku, kamu jangan takut aku tidak akan meninggalkanmu."


"Aku rindu rumah, papa dan mama. Aku ingin berkumpul dengan mereka."

__ADS_1


"Aku akan hubungi mama dan papa. Besok mereka akan datang." Tiara berkata dengan senyuman. Lalu memejamkan mata.


.


.


Revan mendatangi rumah sakit, hendak memasuki kamar Tiara langkahnya terhenti, ketika melihat Gio keluar, Revan hanya diam ketika Gio menatapnya.


Kini mereka berada di taman rumah sakit.


"Bagaimana kabar Tiara? Aku dengar dari teman, hari ini dia melihat Tiara batuk darah, apa itu bahaya?" tanya Revan lalu menunduk.


"Aku tidak tahu apa hari ini Tiara batuk darah atau tidak. Tiara tidak pernah mengatakannya padaku," jawab Gio yang menatap lurus ke depan.


"Hari ini dia meminta foto, dan meminta pulang. Dia bilang rindu keluarga dan temannya. Apa firasatmu tentang semua ini?" Gio bertanya sambil menitikkan air mata.


Revan hanya diam menatap langit malam di atasnya. Setetes butiran bening keluar dari sudut matanya.


"Kita hanya berharap pada Tuhan, semoga memberi kesembuhan untuk Tiara," ujar Revan masih menatap ke atas langit. Gio semakin terisak.


Seorang lelaki yang kuat, juga bisa lemah saat melihat seseorang yang di cintai tidak berdaya. Entah apa yang Gio dan Revan rasakan, sehingga tidak dapat menahan tangisan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Gio membuyarkan lamunan Tiara.


Tiara segera menoleh, dia tersenyum. "Aku teringat kembang api," jawab Tiara. Lalu menatap kembali ke luar jendela.


"Kamu ingin menyalakan kembang api?"


"Tidak. Aku hanya berpikir, jika usiaku sampai di tahun baru, aku ingin kita melakukannya lagi kala waktu itu. Melihat kembang api di tengah jembatan cinta pasti sangat indah bukan?" tanya Tiara, tapi tatapan wanita itu kosong, menerawang jauh ke luar sana.


Gio terdiam.


"Kenapa Jika? Kita pasti melakukannya," ujar Gio dingin. "Berhentilah mengatakan jika, mungkin, dan kalau. Jangan seperti orang berputus asa, kamu akan sembuh dan kita akan melakukan apa yang kita inginkan." Tiara hanya tersenyum menanggapi perkataan Gio.


Gio sangat kesal, Tiara selalu mengatakan sesuatu yang seolah-olah dia sedang sekarat. Kini mereka hanya saling diam.


"Apa kamu tidak ingin hidup? Kamu akan menyerah? Penyakitmu tidak bisa disembuhkan bukan berarti kamu akan meninggal. Pasti ada cara dan obatnya, tidak ada penyakit yang tidak ada obat."


Gio berkata seraya menghela nafasnya panjang. Tiara hanya diam sambil menunduk tidak berani menatap suaminya. Gio yang sedari tadi berdiri akhirnya mendekat, disentuhnya pundak Tiara, wanita itupun mendongak.

__ADS_1


"Apa pagi ini kamu batuk ...," ucap Gio tertahan. Gio tidak sanggup bertanya hal yang menyakiti Tiara.


"Kamu jangan khawatir, aku hanya batuk biasa. Buktinya aku masih sehat, masih bisa tersenyum dan bicara denganmu. Dokter pasti salah, batuk darah tidak terlalu berbahaya. Seperti yang kamu katakan, aku akan sembuh."


Bendungan air mata dari keduanya sama-sama pecah, jatuh menuruni sudut matanya. Tiara masih bisa tersenyum tapi tidak dengan Gio. Seorang suami yang harus berjuang untuk kesembuhan sang istri.


Segera Gio menjauh dari Tiara, memalingkan wajahnya seraya menghapus air matanya.


.


.


Revan duduk merenung di atas rooftop cafe. Rara melihatnya dari jauh, langsung menghampirinya.


"Apa kamu tidak memesan kopi?" tanya Rara membuat Revan tersadar.


Revan menoleh padanya, tatapannya sangat dingin dan datar.


"Apa kamu ada masalah?" tanya Rara lagi yang kini sudah duduk di samping Revan.


Revan masih diam sambil menghela nafasnya panjang. "Entahlah, aku tidak paham dengan perasaanku saat ini. Aku takut kehilangan seorang teman,"jawab Revan.


"Apa teman yang kamu maksud adalah Tiara? Kamu menyukainya, kan? Mungkin karena itu kamu jadi khawatir," ujar Rara.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku menyukainya?"


Rara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Revan, lalu menatap langit malam sambil berkata, "Saat di rumah sakit, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dan Gio," jawab Tiara lalu melirik pada Gio.


"Maaf," ucapnya demikian.


Revan hanya diam, sedetik senyumnya mengembang. "Untuk apa kamu meminta maaf? Itu memang kenyataannya. Walaupun aku menyukainya tapi aku tidak akan merebutnya. Tiara adalah milik Gio, tapi ... aku mengkhawatirkan keadaannya saat ini," ungkap Revan.


"Apa keadaannya semakin memburuk? Apa sakitnya parah?" tanya Rara. Namun, Revan tidak mengatakan apa yang terjadi pada Tiara.


"Kita berdoa saja semoga Tiara cepat sembuh." Jawaban yang Revan berikan tidak menghilangkan rasa penasaran Rara..


Rara penasaran penyakit apa yang di derita Tiara, hingga terus terpikirkan sepanjang jalan pulang. Rara tidak fokus mengendalikan kuda besi itu, hingga saat di persimpangan jalan. Rara terus melajukan motornya saat lampu merah menyala.


Suara klakson berbunyi membuyarkan lamunannya, Rara segera sadar dan menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"A ....!"


__ADS_2