Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kepanikan Gio


__ADS_3

Gio berlarian menuju klinik. Di dalam klinik Mytha dan Zy masih menunggu Tiara yang terbaring lemah.


"Tiara!" teriak Gio yang membuka pintu. Gio segera masuk ke dalam untuk melihat Tiara.


"Apa yang terjadi pada Tiara?" tanya Gio yang menatap tajam Mytha dan Zy. Mereka berdua sangat ketakutan bahkan bicara pun sedikit gugup.


"Hm … t-tadi," ucap Mytha tertahan karena Gio menyanggahnya.


"Apa kalian bisa bicara?" tanya Gio sedikit tinggi.


"Ya, tentu. Kami bisa bicara," jawab Zy tidak kalah tinggi. "K-kata Dokter Tiara hanya kelelahan saja dia akan sadar segera, jadi jangan khawatir," jelas Zy.


"Apa aku menanyakan hal itu hah! Apa yang terjadi pada Tiara kenapa bisa pingsan?" tanya Gio dengan emosi.


Mytha dan Zy hanya saling pandang tiba-tiba tangan Tiara bergerak menyentuh tangan Gio, meredahkan emosi Gio detik itu juga. Gio langsung melirik pada Tiara.


"Jangan marahi teman-temanku," ucap Tiara dengan suara yang lemah.


"Tiara, kamu baik-baik saja?" Gio bertanya sambil membantu Tiara bangun.


Mytha dan Zy diam melongo tidak percaya dengan apa yang sudah dilihat. Perkataan Tiara mampu merendamkan emosi Gio. Dan Gio terlihat sangat khawatir.


"Mm … Tiara k-kita ke kelas dulu." Kata Zy seraya menyikut tangan Mytha.


"O … iya kita ke kelas dulu masih ada yang harus kita bereskan," ujar Mytha.


"O iya, makeup. Kita harus membereskan makeup." Zy berkata seraya menarik tangan Mytha keluar. Tiara dan Gio hanya menatap kepergian mereka.


"Apa kamu lupa minum obat lagi?" tanya Gio membuat pandangan Tiara menoleh padanya.


"Mungkin karena aku terlalu bersemangat hari ini. Aku tidak bisa mengontrol diriku hingga aku pingsan. Maaf, sudah membuatmu cemas," ucap Tiara.


Gio menghela nafas lalu berkata, "Apa karena pertunangan kita? Jika kamu memang belum siap kita bisa membatalkannya. Jika dipikirkan kita memang masih sekolah seharusnya masih ada waktu," ucap Gio tersenyum sinis.


"Masih ada waktu untuk membicarakannya. Aku akan katakan pada orang tuaku," ucap Gio yang hendak berdiri tetapi ditahan Tiara.


"Gio?" Panggil Tiara seraya menggenggam tangan Gio. "Aku sudah bilang aku terlalu bersemangat hari ini mungkin karena kita akan bertunangan. Apa kamu yakin akan membatalkannya? Bukankah kamu tidak ingin itu terjadi? Saat di rumah sakit kamu sampai mengejarku karena takut aku membatalkannya dan sekarang setelah semuanya akan terwujud apa kamu akan membiarkannya begitu saja? Aku sakit bukan karena itu, sudah dari dulu aku sakit dan aku memang gadis penyakitan," ucap Tiara sedikit pelan. Tiara kembali teringat perkataan Angel.

__ADS_1


"Jangan katakan itu, setiap penyakit pasti ada obatnya," ujar Gio yang kembali duduk di samping Tiara. "Sekarang istirahatlah, setelah pelajaran selesai aku akan mengantarkanmu." Setelah mengatakan itu Gio pun pergi.


***


"Apa kamu lihat tadi ekspresi Gio? Dia begitu khawatir saat mendengar Tiara dibawa ke klinik. Aku jadi penasaran sebenarnya sakit apa Tiara," ucap Nico pada Revan.


Namun, Revan malah membiarkannya tidak mendengarnya sama sekali. Revan tetap fokus pada bukunya. Merasa diabaikan Nico pun marah.


"Apa kamu tidak mendengarku tadi? Aish … Revan kamu," ucap Gio terhenti ketika Revan menatapnya.


"Jika aku diam itu artinya aku tidak tahu. Kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Gio." Revan bangkit dari duduknya lalu pergi setelah mengatakan itu.


"Dia benar-benar dingin," ucap Nico yang menggeleng.


Revan masih berdiri di depan pintu dia terus menatap bukunya, buku romansa yang pernah dia berikan pada Tiara, tetapi dia temukan pada orang lain.


Beberapa hari lalu, Revan baru saja keluar dari kelas dan akan meninggalkan sekolah. Ketika melewati kelas Tiara langkahnya terhenti ingin melihat Tiara sebentar tetapi, bukan Tiara yang dia temukan melainkan buku romansa yang dia berikan sedang dibaca oleh Zy.


Melihat itu Revan segera memasuki kelas dan menghampiri Zy.


"Hei!" teriak Zy ketika Revan mengambil bukunya. "Ouh, Revan," ucap Zy sedikit terkejut.


"Mm … Tiara yang memberikannya," jawab Zy. Revan terlihat marah lalu membawa buku itu pergi.


Revan marah menganggap buku itu tidak penting. Dia memberikannya pada Tiara tetapi Tiara malah memberikannya pada orang lain. Revan sangat kecewa.


Dan sekarang Revan membuang buku itu ke dalam tempat sampah lalu pergi. Di tengah lorong dia berpapasan dengan Gio, mereka hanya saling diam sebelum akhirnya Gio berkata, "Apa kamu kecewa karena aku dan Tiara akan bertunangan?" tanya Gio menghentikan langkah Revan yang melewatinya.


"Kecewa? Tidak ada hak untuk aku kecewa," jawab Revan tanpa berbalik menghadap Gio.


"Aku hanya ingin mengingatkan jika Tiara milikku sekarang, kamu tidak berhak mendekatinya," ujar Gio. Revan tersenyum sinis.


"Kalian baru saja bertunangan belum menikah. Apa ada larangan untuk aku dekat dengan Tiara? Bukankah kita berteman itu artinya Tiara temanku juga," ucap Revan menegaskan.


Gio dan Revan memang tidak pernah berhubungan baik. Di antara mereka selalu ada problema. Sepertinya mereka menyukai wanita yang sama.


Revan akhirnya pergi meninggalkan Gio yang kini masih menatapnya tajam.

__ADS_1


Di dalam klinik Tiara merasa bosan yang terus berbaring. Hingga dia merasa bosan dan memutuskan untuk pergi. Tiara tidak sengaja bertemu Revan ketika hendak meninggkan klinik.


"Revan?" panggil Tiara Revan hanya tersenyum.


"Kamu mau ke klinik?" tanya Tiara.


"Tidak, aku hanya lewat saja," jawab Revan.


"Lalu kamu mau pergi ke mana?


"Mm … perpus," jawab Revan asal. Tanpa di duga Tiara ingin ikut bersamanya.


"Apa aku boleh ikut?"


"Tentu."


Kini mereka berdua berada di perputakaan. Tiara fokus membaca buku tetapi bukan buku romansa yang dia cari melainkan buku tentang medis dan kanker. Juga tentang obat herbal, berharap Tiara menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakinya.


Revan yang duduk di depannya sesekali mencuri pandang. Dia tidak fokus membaca dan hanya memandang Tiara.


"Apa yang kamu cari? Medis, kanker," ucao Revan membaca judul buku yang Tiara baca. Tiara segera menutup buku-buku itu oleh tangannya menjauhkan dari Revan.


"Untuk apa kamu membaca buku itu?" tanya Revan.


"Untuk pengetahuan. Aku punya cita-cita menjadi Dokter," jawab Tiara memberi alasan dia tidak ingin Revan tahu tentang penyakitnya. Revan kembali membaca bukunya.


Tiara terus menatap Revan.


"Revan aku sudah membaca buku yang kamu berikan kemarin. Sampai aku menangis tersedu-sedu, Revan jika wanita itu adalah kekasihmu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tiara tentang tokoh wanita yang penyakitan dalam buku romansa.


Revan tertegun sesaat sebelum akhirnya bicara. "Aku akan bersamanya sampai dia sembuh," jawab Revan.


"Lalu bagaimana jika wanita itu meninggal?" tanya Tiara lagi.


"Aku akan ada di sampingnya hingga maut menjemput," jawab Revan.


"Kamu akan tetap bersamanya walau tahu dia menderita penyakit parah dan sewaktu-waktu akan tiada apa itu tidak membuang waktumu? Kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dan sehat," kata Tiara.

__ADS_1


"Mungkin aku akan tetap bersamanya memberikan semangat hidup untuknya. Walaupun dia akan tiada, dia hanya akan mengingat orang yang berada di sisinya selama ini," ucap Revan. "Kamu terlalu meresapi ceritanya," tambah Revan. Tiara hanya tersenyum.


Apa Gio akan melakukan itu juga?, tanyanya dalam hati.


__ADS_2