Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Melupakan Masa Lalu, Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

Rara celingukan mencari Tiara disepanjang lorong rumah sakit. Gadis itu tidak sabar ingin memberitahukan kabar baik itu pada Tiara, bahwa dia sudah kembali melihat.


Namun, disepanjang lorong yang gadis itu susuri tidak menemukan Tiara. Hingga langkahnya terhenti saat bertemu dengan Revan.


Mereka terdiam sesaat, hingga sebuah lengkungan manis tercipta di sepasang sudut bibir mereka. Rara dan Revan kini berada di tengah taman. Revan masih diam belum mengatakan apa pun.


"Awalnya aku ingin memberitahukan Tiara, bahwa aku sudah bisa melihat. Namun, kamu yang lebih dulu melihatku," kata Rara.


Sedetik Rara melirik pada pria disampingnya, Revan masih saja diam.


"Ada apa?" tanya Rara membuat Revan menoleh. "Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu hanya diam. Apa kamu tidak senang mataku kembali lagi?"


Rara memalingkan wajahnya dari pandangan Revan lalu menunduk. "Aku terlalu berharap," lanjut Rara yang tersenyum masam.


"Apa kamu tidak tahu? Kamu benar-benar tidak mengetahuinya?" tanya Revan membuat Rara menoleh.


"Tiara sudah meninggal," jawab Revan.


Rara terbelalak seketika, gadis itu tidak akan pernah menyangka akan mendapatkan kabar buruk ini.


"B-Benarkah? K-Kapan?" tanya Rara.


"Tiga hari lalu," jawab Revan.


"Itu hari … operasi mataku. Pantas saja aku tidak tahu," gumam Rara yang mulai menangis.


"Apa kamu mau mengantarkanku? Aku ingin mendatanginya walau terlambat."


Entah kenapa Rara sangat sedih mendengarnya. Revan pun membawa Rara mengunjungi pusara Tiara. Gadis itu semakin terisak saat melihat pusara penuh dengan bunga.


"Jangan menangis, Tiara tidak akan suka jika melihatmu menangis. Berikan doa yang terbaik untuknya," ujar Revan membiarkan Rara bersimpuh di sisi pusara itu, yang pergi menjauh.


Rara menyimpan sebuket bunga di atas tanah tersirat, tidak lupa menyiramkan air di atasnya.


"Aku akan selalu merindukanmu Tiara, kamu orang pertama yang mendukungku. Karena kamu aku sekarang bisa melihat lagi dunia."


Rara menghentikan ucapannya sejenak.


"Benar apa katamu, aku orang yang beruntung, aku kehilangan penglihatanku tetapi masih ada kesempatan untuk aku melihat. Banyak … sangat banyak kesempatan. Buta, bukan berarti akhir dari hidupku. Namun, seseorang sepertimu … tidak ada yang tahu kapan akan bertahan, dan seberapa kuat untuk bertahan. Tiara, aku pikir kamu kuat, aku percaya kamu kuat karena selama belasan tahun kamu berjuang menahan rasa sakit, belum tentu aku bisa menahannya. Namun, …."


Perkataan Rara terhenti karena tangisnya.


"Apa kamu sudah tidak kuat lagi Tiara, hingga memutuskan untuk pergi."

__ADS_1


Rara semakin sedih menatap pusara itu. Segera ia menghapus air matanya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Aku akan selalu mengunjungimu, semoga kamu tenang di surga sana."


Rara bangkit dan pergi meninggalkan makam itu berjalan menghampiri Revan yang lama menunggunya.


"Apa aku menangis terlalu lama?" tanya Rara membuat Revan berbalik padanya.


"Lumayan, kakiku sangat pegal," ucap Revan dengan senyuman.


Mereka berdua berjalan gontai di sepanjng pemakaman. Tanpa kata atau obrolan.


"Bagaimana dengan Gio? Dia pasti sangat terpukul," ujar Rara.


"Ya, Gio orang yang paling sedih," ucap Revan.


"Apa kamu juga sangat sedih?" tanya Rara menghentikan langkahnya, dan menatap Revan.


Rara tahu jika Revan sangat mencintai Tiara, lelaki itu juga pasti sangat terpukul dan sedih. Namun, Revan tidak ingin membahasnya hingga melemparkan pembicaraannya pada topik lain.


"Apa rencanamu selanjutnya? Sekarang kamu sudah bisa melihat. Apa kamu akam kembali ke cafe?" tanya Revan mengalihkan pembicaraan.


"Aku akan kembali seperti dulu. Bekerja dan bekerja. Ibuku pasti sudah tidak memiliki tabungan karena aku buta, jadi … tidak ada yang bisa aku lakukan selain bekerja," jawab Rara.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Aku … aku akan merilis novel baru," jawab Revan dengan senyuman.


"Buku romansa lagi? Tentang apa? Jangan kisah cinta yang tragis lagi." Rara berkata seraya mencebikkan bibirnya.


Revan tersenyum merasa lucu.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya? kalau begitu aku akan menulis tentang gadis yang pekerja keras."


"Apa itu tentang aku?"


"Siapa bilang. Banyak gadis yang pekerja keras bukan hanya dirimu."


Rara berdecak kesal seraya melirik pada Revan.


.


.

__ADS_1


Gio, duduk termenung di dalam kamarnya, menatap foto pernikahan yang baru saja terpajang. Sebuah kalung dengan liontin matahari dan cincin pernikahan mereka terus Gio genggam, lalu di masukkannya ke dalam kotak.


"Tuan?" Seorang pelayan memanggilnya.


"Ada yang ingin bertemu denganmu," ujar Pelayan itu yang menunduk. Gio segera keluar dari kamar, menemui tamu yang datang.


Bella, duduk diam di tengah ruangan sambil menelisik setiap sudut rumah. Tatapannya tertuju pada Gio yang baru saja turun dari kamarnya.


Bella langsung berdiri menghadap putranya.


Kini mereka duduk bersama saling berhadapan.


"Mama turut berduka cita atas meninggalnya Tiara. Ini pasti berat buatmu," ujar Bella.


"Apa kamu senang? Karena kamu bebas memilihkan wanita untukku. Apa kamu masih ingat, berapa kali kamu menyakitinya? Perkataanmu, perlakuanmu, sangat menyakiti Tiara."


Gio menatap Bella penuh dengan dendam.


"Aku ingin minta maaf tentang semua itu, tapi … aku melakukannya untuk kebaikanmu. Aku tidak salah, pada akhirnya Tiara meninggalkan?"


Tatapan Gio semakin tajam setelah mendengar perkataan itu dari Bella.


"Aku pikir kamu akan meminta maaf, ternyata … kamu wanita yang tidak pernah merasa berdosa. Lebih baik kamu pergi aku ingin sendiri."


"Gio?" Panggil Bella menghentikan Gio yang hendak pergi. "Maaf, aku minta maaf untuk semuanya," ucap Bella.


"Aku sudah kehilanganmu selama 8 tahun, aku sudah cukup membuatmu menderita. Izinkan aku menebus semua kesalahanku. Aku … minggu depan aku akan kembali ke Amerika. Aku ingin kamu ikut, ikutlah denganku Gio," ucap Bella.


Gio langsung berbalik menghadap Bella.


"Apa yang bisa aku lakukan jika ikut denganmu?"


"Apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikkanmu yang tertunda? Meninggalnya Tiara bukan hal yang mudah untukmu melepas kepergiaannya. Apa kamu tidak ingin pergi sementara, setidaknya sampai kesedihanmu itu hilang. Kamu bisa melakukan apa pun di sana, kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan. Aku tidak bermaksud untuk melupakan Tiara, tetapi tidak apa kamu akan hidup penuh dengan kenangan? Tanpa melihat masa depan. Usiamu masih muda, kamu juga harus membuka lembaran baru, tidak akan terus menerus sedih seperti ini, kan? Pikirkanlah perkataanku ini, aku harap kamu mempertimbangkannya," kata Bella.


Bella pun pergi meninggalkan Gio.


Gio terus memikirkan perkataan ibunya. Sekilas dia melirik foto pernikahannya, menatap wajah Tiara dengan lekat.


"Apa yang akan kamu lakukan Tiara? Haruskah aku pergi atau tetap di sini. Apa kamu senang jika aku menjadi CEO, tetapi … bukan itu keinginanku sekarang. Maafkan aku Tiara, maafkan aku. Aku akan segera kembali." Gio berkata seraya menatap foto itu.


Akhirnya Gio memutuskan untuk pergi bersama Bella. Meninggalkan rumah kecilnya sementara. Namun, Gio tidak pernah melupakan Tiara, semua kenangan ada bersamanya.


Ke manapun pria itu pergi liontin matahari selalu di bawanya.

__ADS_1


__ADS_2