Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Pesan tersembunyi


__ADS_3

Tiara hanya diam, pipinya bersemu merah. Mengingat peristiwa semalam membuatnya malu juga bahagia. Pantas saja semua pasangan selalu ingin segera menikah.


"Gio, biar aku saja," ucap Tiara ketika Gio memakaikan sweater nya. Tiara masih malu saat bertemu pandang dengan Gio.


Gio hanya tersenyum.


"Kenapa? Apa seorang suami tidak boleh membantu istrinya," ujar Gio setelah memakaikan sweater untuk Tiara.


"Kalau begitu biar aku bantu kamu," ucap Tiara.


"Bantu apa?" tanya Gio.


"Bantu, merapihkan rambutmu," jawab Tiara gugup. Gio menanggapi dengan tawa.


Tidak akan ada yang percaya, seorang Gio yang sangat kasar dan tempramental kini menjadi pria lembut dan romantis. Semua itu karena Tiara dan hanya pada Tiara.


Setelah selesai berdandan, mereka pergi jalan-jalan di sekeliling rumah. Tidak hanya taman yang indah, rumah itu terdapat sebuah danau yang jernih. Sungguh pemandangan alam yang menakjubkan.


"Aku pikir ini sebuah vila, yang berada di atas bukit, di kelilingi tanaman hijau dan danau juga. Aku tidak percaya kamu mencari rumah seindah ini," kata Tiara.


"Tentu saja, karena aku ingin menghabiskan waktu bersamamu juga anak-anak kita nanti." Mendengar kata anak-anak, pipi Tiara kembali memerah.


"Kita lihat ke sana," ujar Gio yang mendorong kursi roda itu menuju sebuah pohon. Tiara masih belum pulih benar hingga harus duduk di kursi roda.


.


.


Berbeda dengan Tiara dan Gio yang sudah menikah, teman-teman yang lain harus memasuki universitas. Bukan tidak ingin Gio melakukan hal yang sama tetapi, Gio hanya menunda demi untuk menjaga Tiara.


"Hai! Aku Rara, apa kamu masih ingat?" Lagi-lagi Revan dan Rara bertemu.


"Kita satu universitas ternyata, o ya kita sering bertemu tapi aku tidak tahu namamu. Siapa namamu?" tanya Rara yang mengulurkan tangannya.


Rara gadis ceria dan mudah bergaul. Namun, dia terlalu percaya diri hingga membuat Revan bosan saat bertemu dengannya.


"Ih, kenapa dia tidak menjawab aku." Rara menggerutu ketika Revan meninggalkannya tanpa menjabat tangan yang Rara ulurkan.


"Dasar cowok kulkas, pantas saja selalu baca buku romansa ternyata tidak punya teman." Rara berbalik arah lalu pergi.


"Tiara Anastasya," ujar seorang Dosen.


"Iya Pak?" jawab Rara.


"Duduklah."


"Siap Pak." Rara langsung mencari tempat duduk, netranya memindai sekeliling kelas hingga dia menemukan pria itu lagi.


Revan, menatapnya dalam diam. Rara tersenyum licik, dia berniat untuk duduk di samping Revan tapi, seorang gadis sudah mendahuluinya.


"Hei! Ini tempatku," ujar Rara.

__ADS_1


Gadis di samping Revan pun menoleh. "Sejak kapan?" tanya Angel dengan sinis. "Cari tempat duduk lain, kamu tidak bisa duduk di samping Revan, dia cowokku," ujar Angel dengan PD"Nya.


Rara mendengus, lalu pindah ke bangku depan. Tanpa Rara tahu Revan sesekali mencuri pandang padanya.


'Tiara, aku dengar dosen memanggilnya Tiara,' batin Revan, yang kembali teringat Tiara.


"Revan aku," ucap Angel terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari Revan.


"Jangan berisik jika ingin duduk di sebelahku," ucap Revan dingin. Bibirnya tidak senyum sama sekali.


.


.


"Gio, kenapa kamu tidak kuliah?" tanya Tiara. Gio hanya diam.


"Jika aku kuliah siapa yang menjagamu," ucap Gio lalu duduk di samping Tiara. Mereka berdua hanya memandang danau dalam diam.


"Gio?" Panggilan seorang wanita mengalihkan pandangan mereka.


"Mama!"


Wajah Tiara berbinar, ketika melihat Susan dan Junita ada di rumah mereka. Gio segera bangun dari atas kursi taman menyambut kedatangan ibu dan mertuanya.


"Apa kabar sayang?" Susan bertanya seraya memeluk Tiara, lalu diulangi oleh Junita.


"Baik, Mah. Tiara kangen Mama," ucap Tiara memeluk Susan.


"Hem," gumam Gio dengan anggukan lalu pergi menemui ayah dan mertuanya. Tiara duduk bersama Junita dan Susan.


"Rumah kalian ada danaunya, Mama baru tahu."


"Ya, juga banyak tumbuh-tumbuhan hijau," kata Tiara.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Susan yang masih mengkhawatirkan Tiara.


"Gio menjagaku dengan baik," ucap Tiara meyakinkan Susan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Jangan lupa meminum obat." Tiara hanya mengangguk, selalu itu yang Susan katakan.


"Bagaimana kita masuk ke dalam, kita berkumpul bersama," ajak Junita. Mereka berdua pun mengangguk.


Canda tawa menghangatkan rumah itu, Tiara tersenyum melihat Gio yang tertawa, dan rukun bersama Baskara.


Junitalah orang yang paling bahagia melihatnya.


"Mama kelihatannya sangat bahagia?" tanya Tiara pada Junita.


"Tentu, kamu tahu inilah pemandangan yang sangat indah. Untuk pertama kalinya melihat suami dan anak sendiri bisa damai, dan rukun. Jika seperti ini rumah kami akan terasa hangat," ucap Junita.


"Kelihatannya mereka sudah damai sekarang," kata Susan. Junita hanya tersenyum.

__ADS_1


"Mama Tiara masuk ke kamar dulu," ujar Tiara.


"Biar Mama antarkan," kata Susan.


"Tidak usah, Tiara bisa sendiri." Tiara tidak ingin melibatkan orang lain.


Setelah memasuki kamar, Tiara langsung duduk di atas ranjang. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering. Tiara menemukan ponsel Gio tertinggal di dalam kamar.


"Gio meninggalkan ponsel," ucap Tiara lalu turun dari ranjang yang kembali menduduki kursi roda.


Tiara memutar roda itu hingga sampai di depan meja, mengambil sebuah benda pipih yang terdampar di sana. Tanpa sengaja Tiara membaca sebuah pesan dari Bella.


Gio, baru sadar tidak melihat Tiara di ruangan. Gio segera bangkit dan pergi menyusul Tiara ke dalam kamar.


"Gio mau ke mana?" tanya Danu.


"Ke kamar dulu Pah. Mau lihat Tiara." Danu dan Baskara langsung tersenyum.


Baru saja Gio memasuki kamar sudah dikejutkan dengan keadaan Tiara yang tergeletak di bawah lantai. Gio terkejut, yang langsung menghampiri Tiara.


"Tiara!" Gio segera membawa Tiara keluar dari kamar.


Susan dan Junita terkejut, begitu pun Danu dan Baskara yang menghentikan obrolannya saat Gio berlari memangku Tiara.


"Gio, kenapa dengan Tiara?" tanya Danu panik.


"Aku tidak tahu Pah, Tiara sudah pingsan di dalam kamar," jawab Gio.


"Siapkan mobil," ujar Susan.


Danu dan Baskara segera berlari keluar. Gio segera, menidurkan Tiara dalam mobil Baskara, mereka pergi menuju rumah sakit. Sedangkan Susan mengikutinya dengan Danu.


Entah apa yang menyebabkan Tiara pingsan. Handphone Gio, tergeletak di bawah ranjang, seketika ponsel itu berdering dan bergetar. Layar ponsel menyala memperlihatkan satu nama yang tertera, Bella.


"Kenapa Gio tidak menjawab teleponku," ucap Bella menutup sambungan teleponnya.


"Apa dia marah?" monolognya.


Gio dan Baskara baru saja sampai di depan rumah sakit, segera membawa Tiara ke ruang UGD.


"Maaf, Pak tolong tunggu di sini. Biar pasien kami tangani," ucap seorang perawat menarik sebuah brankar yang sudah ditiduri Tiara.


"Gio duduklah," ucap Baskara menuntun Gio untuk duduk di atas kursi.


Gio tidak bisa tenang, selama Tiara masih terpejam. Dan Gio masih berdiri di depan pintu, menatap Tiara pada kaca.


'Tiara aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi … aku mohon," batin Gio. Setetes butiran bening jatuh membasahi pipinya.


...----------------...


Maaf ya jika author telat update hehe, kasih semangatnya buat Gio dong biar tidak sedih. Author akan update tiap malam jadi selalu tunggunya updatenya dari thor.

__ADS_1


__ADS_2