
"Sudah aku bilang jangan ikut olah raga kenapa kamu sangat ngeyel!" Gio berbicara dengan emosi. Emosi yang diluapkan saat ini adalah kecemasan pada Tiara.
Gio benar-benar sangat marah karena Tiara tidak mendengarkan perkataannya. Dan sekarang Tiara hanya diam. Gio melangkah ke arah meja Tiara mencari obat dalam tas Tiara. Namun, semua botol obat itu kosong.
Gio menatap heran pada Tiara yang masih diam. "Kemana obatmu? Kenapa semua botol ini kosong?" tanya Gio.
"Sudah habis aku tidak membawanya lagi," jawab Tiara. Namun, Gio tidak percaya obat sebanyak itu habis dan Tiara tidak mungkin meninggalkan obatnya.
"Katakan? Kemanakan obat itu?" tanya Gio lagi yang terus menekan Tiara.
Tiara mendongak menatap Gio, lalu berkata dengan dingin. "Sudah aku bilang aku tidak membawanya," jawab Tiara dengan kesal.
Gio menghembuskan nafasnya kasar. "Pergilah ke klinik dan istirahatlah," ucap Gio yang hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat satu butir obat tergeletak di bawah kakinya.
Gio menunduk mengambil obat itu, netranya kini tertuju pada satu buah tempat sampah yang berada di dekat pintu. Gio curiga jika Tiara membuang obatnya.
Gio mendekati tempat sampah itu lalu menendangnya. Seketika matanya membulat saat melihat butiran obat yang berhamburan di atas lantai. Tiara terkejut yang langsung berdiri, dia benar-benar tidak menyangka jika Gio melakukan itu.
"Apa ini?" tanya Gio yang marah. "Kamu membuangnya? Kenapa katakan?" tanya Gio dengan emosi.
Gio kembali mendekat dan terus menekan Tiara untuk mengakui apa alasannya membuang obat itu. "Apa kamu sudah bosan hidup? Hah!" bentak Gio.
"Ya, aku sudah bosan hidup," jawab Tiara tidak kalah emosi. "Bagiku tidak ada artinya meminum obat selama ini, apa aku sembuh? Tidak, bahkan semua orang merendahkan ku karena penyakit yang aku derita," ucap Tiara dengan nada tinggi.
"Aku memutuskan untuk tidak meminumnya lagi karena aku sehat, aku sehat," tegas Tiara.
"Sehat? Kamu bilang sehat!" Gio berkata dengan nada tinggi. "Kamu tidak lihat darah yang baru saja menetes? Lihatlah tissu itu," ucap Gio dengan emosi. Tiara hanya menunduk.
"Pergilah!" titah Tiara pada Gio. "Aku tidak ingin menyusahkanmu. Dan aku tidak meminta dikasihani jadi jangan pedulikan aku dan pergilah."
"Baiklah aku tidak akan peduli lagi padamu," ucap Gio dengan kesal lalu pergi meninggalkan kelas. Tiara mulai menangis, tubuhnya sangat bergetar.
__ADS_1
***
Di tempat lain kedua keluarga saling bertemu. Susan dan Danu meminta maaf pada Baskara karena malam pertunangan itu. Dan Susan mengatakan alasan Tiara pada mereka.
Baskara dan Junita pun sangat sedih, mereka malu karena sudah menuduh yang tidak-tidak. Mereka akan coba mengatakannya pada Gio.
Tiara berbaring lemah di dalam kamarnya. Dia hanya melamun sambil memeluk boneka bearnya. Wajahnya begitu pucat kegiatan di sekolah membuatnya kelelahan, bahkan Tiara mengalami demam.
"Tiara?" Panggil Susan ketika memasuki kamar Tiara. Tiara hanya bengong tidak menjawab perkataan Susan.
"Ya Tuhan, Tiara kamu demam." Susan panik setelah menyentuh kening Tiara yang sangat panas. Susan segera mengambil air es untuk mengopres.
Tiara semakin menggigil.
"Papa!" teriak Susan memanggil suaminya. Danu segera berlari ke kamar Tiara ketika sang istri memanggil.
"Ada apa Ma?" tanya Danu ketika masuk.
"Tiara demam, siapkan mobil Pah kita ke rumah sakit sekarang," kata Susan panik.
"Kemana semua obat?" tanya Susan. Sedetik tatapannya tertuju pada Tiara Susan memiliki firasat bahwa Tiara telah membuangnya. "Kenapa kamu melakukan itu lagi Tiara," ucap Susan sedih, bukan untuk pertama kalinya Tiara membuang semua obat. Mungkin Tiara merasa bosan sehingga harus membuangnya.
Danu segera memangku Tiara membawanya ke dalam mobil. Tiara kembali menjalani perawatan di rumah sakit.
Gio terus menatap bangku kosong milik Tiara yang tidak masuk hari ini. Bahkan Mytha dan Zy pun melakukan hal yang sama.
"Tiara tidak masuk lagi," ucap Mytha sedih. Zy hanya mengangguk.
"Apa Tiara di rawat lagi? Mungkin karena olah raga kemarin," ujar Zy hanya mengira tetapi perkiraannya itu benar.
Tiara masih tidak sadarkan diri dengan selang oksigen yang melingkar di bawah hidungnya. Bahkan Susan hanya menangis menunggu putrinya sadar.
__ADS_1
"Tiara melakukannya lagi," ucap Susan.
"Melakukan apa?" tanya Danu.
"Membuang semua obatnya lagi," jawab Susan. Danu hanya menghela nafas lalu bersandar pada sofa.
"Jika aku menjadi Tiara pasti melakukan hal yang sama," ucap Danu membuat Susan menoleh. "Tiara pasti sudah bosan meminumnya. Bahkan aku saja yang melihatnya saja sangat bosan apalagi Tiara yang harus meminum obat itu setiap hari," kata Danu dengan tangisan.
"Mama tahu itu membosankan. Tapi kita melakukan itu untuk kesembuhan Tiara. Sebagai orang tua kita harus memberikannya semangat bukan malah mematahkan semangatnya. Walaupun semua orang bilang penyakit Tiara sulit di sembuhkan," ucap Susan. Danu langsung berdiri melangkah ke arah Susan dan memeluknya.
"Kita harus saling menyemangati." Danu berkata seraya mengusap lembut punggung Susan.
"Tiara akan sembuh, kan Pa? Tiara pasti sembuh," ucap Susan lagi yang tidak berhentinya menangis.
Gio baru saja turun dan hendak pulang. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Susan yang datang ke sekolahnya. Gio tertegun sesaat lalu membungkuk hormat, mereka berdua kini berada di tengah taman.
"Gio Tante ingin minta maaf soal …."
"Tidak perlu meminta maaf Tante," sanggah Gio. "Aku sudah mendengar dari papa, mungkin ada alasan yang tidak bisa Tiara katakan," sambung Gio.
Susan terdiam, lalu melemparkan pandangannya ke sekeliling taman. "Saat itu Tante sangat marah dan kecewa. Tiara yang sangat antusias menyambut pertunangan kalian tiba-tiba membatalkannya begitu saja. Padahal Tiara memesan gaun putih untuk acara itu dia ingin terlihat cantik, tetapi saat turun aku melihat Tiara menggunakan gaun yang berbeda. Dia hanya bilang ingin terlihat simple tapi ternyata … gaun putih itu sudah penuh dengan darah, sesuatu hal buruk terjadi pada Tiara sebelum pertunangan itu dimulai tapi Tiara merahasiakan itu," ucap Susan.
"Setelah hari itu Tiara berbeda. Dia ingin melakukan apa yang tidak pernah dia lakukan, Tiara mengikuti kegiatan olah raga yang tidak mungkin dia ikuti. Aku sudah mencegahnya tapi Tiara sangat keras kepala, dan Tiara membuang semua obatnya," ujar Gio.
"Dia sering melakukannya," ujar Susan membuat Gio menoleh.
"Jadi bukan untuk pertama kalinya?" tanya Gio, Susan hanya menjawab dengan anggukan.
"Gio, Tante pernah melihat saat Tiara tertawa, semangat menjalani hidupnya bahkan dia terus tersenyum walau berada di rumah sakit. Semenjak kamu hadir," ucap Susan menatap Gio.
Gio terperanjat ketika Susan menyentuh tangannya dan memohon. "Gio, maukah kamu berada di samping Tiara selama Tiara di rumah sakit? Tante harap Tiara akan segera sadar jika kamu ada di sisinya."
__ADS_1
"Tapi …."
"Tante mohon, kamulah penyemangat Tiara," ucap Susan yang terus memohon. Gio pun tidak bisa menolak dan pergi ke rumah sakit bersama Susan.