
Gio dan Revan mendorong sebuah brankar menuju UGD. Keduanya terlihat cemas panik, seorang wanita dengan wajah pucat terbaring lemah di atasnya. Noda merah pada hidung menambah kekhawatiran mereka berdua.
"Revan kamu tunggu di sini biar aku memeriksa Rara," ujar Gio yang membawa Rara ke dalam.
Revan hanya diam membiarkan pintu UGD yang tertutup. Dalam hati dia memohon agar Tuhan menyembuhkan Rara. Entah, apa yang terjadi pada gadis itu sehingga berakhir di tempat ini.
'Rara aku mohon ... jangan tinggalkan aku'
Suara batinnya yang bicara.
Di ujung lorong terlihat Angel berlari menghampiri Revan. Pakaian dokter yang dikenakan sangat cocok untuknya. Hari ini Angel terlhat berbeda dia peduli pada Rara.
"Revan dimana Rara?" tanyanya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Di dalam," jawab Revan menunjuk ke pintu UGD.
Angel terlihat cemas. Dia kasihan melihat Revan yang sangat mengkhawatirkan Rara. Angel duduk di sampingnya memeluk Revan dengan hangat.
"Rara pasti baik-baik saja, percayalah." Rara berkata seraya mengusap lembut punggung Revan.
Dari dalam Gio melihatnya. Kali ini bibirnya melengkung sempurna, melihat tingkah Angel Gio yakin bahwa wanita itu sudah berubah. Bukan lagi Angel penindas. Gio melangkah keluar dan lagi-lagi dikejutkan dengan tingkah Angel.
Angel bangkit dan berlari kepada Gio hanya untuk menanyakan bagaimana keadaan Rara. Entah, kenapa tatapan Gio kali ini juga berbeda. Seperti tatapan cinta, mungkinkah Gio mulai membuka hati untuk Angel.
"Rara baik-baik saja. Akan tetapi dia harus menjalani kemoterapi demi kesembuhannya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin."
__ADS_1
"Harus," balas Revan.
Revan terus menunggu Rara di rumah sakit. Pria itu rela meninggalkan pekerjaannya demi gadis yang dia cinta. Namun, Rara tidak melihat pengorbanan Revan kali ini. Cintanya sempat di tolak, dan Rara sudah menyakiti hatinya.
"Maaf Revan aku tidak bisa."
"Kamu tidak menyukaiku kenapa? Apa ada alasan lain? Berikan aku alasan yang bisa aku terima Rara. Aku tidak peduli penyakit yang kamu derita, aku tetap mencintaimu dan aku akan berusaha menyembuhkan mu. Aku akan cari dokter yang paling hebat yang bisa menyembuhkan mu dari kanker."
"Bukan itu alasannya Revan, tapi ... sepertinya ada seseorang yang aku suka."
"Maksudmu?"
"Aku juga tidak tahu, tetapi ketika melihat pria itu aku langsung terpesona. Aku merasa ada ikatan, punya kenangan dengannya. Setiap kali menatapnya mataku akan berbinar dan aku selalu bahagia, walaupun aku tidak mengerti kenapa."
"Siapa ... siapa pria itu?"
Lagi-lagi cinta Revan bertepuk sebelah tangan. Dulu Tiara dan sekarang Rara.
"Gio, apa tujuanmu membantu Rara?" Revan tidak bisa menahan diri hingga menanyakan hal itu.
"Maksudmu? Kenapa kamu bertanya begitu bukankah kamu juga ingin Rara sembuh. Aku seorang dokter dan sudah kewajiban ku menyembuhkannya."
"Bohong," ujar Revan yang menatap tajam.
Tatapan kebencian kembali Revan pancarkan. Mungkinkah mereka akan berseteru lagi? Sepertinya tidak, ada Angel datang. Angel terdiam melihat tingkah kedua temannya, Gio dan Revan saling pandang. Kepalan tangan Revan menandakan jika dia sudah tidak tahan ingin menghajar Gio dan Angel bisa lihat itu.
__ADS_1
Diam-diam Angel mendekat.
"Ada apa dengan kalian?" tanyanya setelah dekat dengan mereka berdua. Revan dan Gio pun tidak lagi saling pandang. Keduanya saling menjauh.
"Ikut aku."
Angel membawa keduanya pergi dari kamar Rara. Kini mereka berada di sebuah kantin dan kedua pria itu masih saling diam.
"Bicaralah! Revan bicaralah apa yang kamu inginkan? Apa masalahmu dengan Gio aku lihat kamu ingin menghajarnya tadi. Sekarang katakanlah!" Angel berkata dengan emosi.
"Apa kamu menyukai Rara?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Gio dan Angel langsung memandangnya.
Apalagi Angel yang langsung menatap Gio, gadis itu penasaran apa yang akan Gio katakan. Angel belum siap untuk patah hati, jika benar Gio menyukai Rara apa yang akan terjadi padanya.
"Katakan apa kamu mencintainya?" tanya Revan lagi.
"Gio, apa benar yang Revan katakan?" Kini Angel yang bertanya.
Gio masih diam.
Ayo katakan ... Gio aku harap kamu tidak pernah menyukainya, batin Rara.
"Apa maksudmu menyukainya. Apa aku pernah mengatakannya? Kenapa kamu bisa berpikir begitu Revan. Sudah aku bilang aku hanya mencintai Tiara."
Nama Tiara membuat Angel semakin sakit hati. Angel merasa yakin jika Gio tidak akan pernah membuka hati untuknya. Dan ... berada di sana membuat Angel tidak tahan, tidak tahan untuk menangis.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian bicara berdua. Aku duluan ada pasien yang harus aku urus." Pada akhirnya itulah keputusan Angel. Lebih baik pergi tidak mendengar apapun. Walau sebenarnya sangat penasaran dengan obrolan mereka.