
Rara kembali ke rumah sakit untuk melihat hasil lab. Ia bertemu Dokternya lagi, perkataan Dokter sangat mengejutkan.
"Ada kemungkinan itu Leukimia. Apa ada anggota keluarga yang mengidap leukimia? Biasanya itu adalah faktor keturunan," jelas Dokter.
"Aku tidak tahu," jawab Rara. "Apa Dokter yakin?" tanya Rara ingin memastikan.
"Kami harus melakukan beberapa tes lagi untuk memastikan. Untuk saat ini jangan kelelahan, dan jangan kena pukulan itu akan meninggalkan memar pada tubuhmu. Minggu depan kamu kembali ke sini, untuk pemeriksaan yang lainnya."
"Apa yang harus aku lakukan Dokter?"
"Kamu harus menjalani beberapa pengobatan, tranfusi darah, kemoterapi dan lainnya. Jika hasil tes berikutnya benar, menyatakan kamu terkena penyakit leukimia, saya akan merujukmu ke Dokter hematologi, Dokter yang biasa menangani penyakit kanker. Atau ku bisa mendatanginya minggu depan untuk sementara aku akan memberikanmu obat."
Dokter itu memberikan selembar kertas pada Rara, yang akan digunakan untuk mendatangi Dokter Hematologi. Dan satu kertas lagi resep obat yang akan Tiara tebus.
Hasil lab masih belum meyakinkan, tetapi Rara sangat sedih dan sudah putus asa. Bagaimana jika benar dia menderita leukimia.
Semakin hari, kesehatannya semakin menurun, gejala-gejala kanker sudah dia alami. Rasa mual, pusing, dan lemas. Tubuh seperti tidak bertenanga, badan terus demam.
Hampir satu minggu Rara tidak memasuki kedai, yang dilakukannya hanyalah berbaring di dalam kamar. Keringat dingin membasahi tubuhnya, ia tidak bisa lewat sedetik saja meminum obat.
Karakternya yang ceria kini sudah hilang. Rara menjadi gadis yang pendiam, dan pucat.
"Rara?" Panggilan Miranti mengejutkannya. Rara segera menyembunyikan obat itu, di dalam selimut.
"Mama," ucap Rara demikian.
"Kamu semakin pucat, badanmu semakin demam. Kita ke rumah sakit."
"Mama, pulang dengan cepat? Kamu menutup kedai lagi? Jangan mengkhawatirkanku. Rara sudah minum obat, hanya butuh istirahat saja," ucap Rara semakin membuat Miranti khawatir.
"Mama … tiba-tiba aku merindukan papa. Aku ingin mengunjungi makamnya," ujar Rara.
"Kamu sangat aneh. 20 tahun ayahmu sudah pergi kenapa kamu tiba-tiba merindukannya?" Miranti bicara dengan penuh emosi.
"Apa salah jika Rara merindukannya? Tidak banyak kenangan aku dengan papa. Mama … mohon." Rara berkata seraya menyentuh tangan Miranti.
Akhirnya Miranti dan Rara pergi ke pemakaman.
"Sudah lama kita tidak datang, makamnya tidak terurus." Rara berkata seraya menyapu daun-daun kering dengan jarinya.
"Wajar saja kuburan papamu tidak terlihat karena sudah lama," ujar Miranti.
__ADS_1
"Mama, apa setelah meninggal papa dilupakan begitu saja? Apa jika aku meninggal juga seperti itu?"
"Kamu benar-benar aneh. Ayo cepat kita pergi dari sini." Miranti pergi begitu saja meninggalkan Rara.
"Mama tunggu! Apa aku boleh tahu apa penyakit papa?" Pertanyaan Rara membuat langkah Miranti terhenti.
Miranti menatapnya tajam.
"Ada apa denganmu? Kenapa hari ini kamu terus saja membahas papamu yang sudah tiada."
"Aku hanya ingin tahu. Papa sering muntah, mimisan, dan … Rara hanya ingin tahu karena temanku juga mengalami gejala yang sama."
"Kamu peduli pada temanmu? Periksalah ke Dokter, jangan sampai terlambat. Papamu dulu tidak pernah berobat saat sakit. Hingga saat mengalami demam tinggi, mual, pusing sampai mimisan barulah kami periksakan ke Dokter. Tidak pernah terbayangkan saat itu Dokter mengatakan jika papamu diagnosis leukimia. Kabar yang sangat mengejutkan apalagi kamu saat itu masih kecil, tidak pernah terbayangkan papamu akan pergi meninggalkan kita," kata Miranti.
"Kapan papa meninggal setelah diagnosis leukimia?" tanya Rara menbuat Miranti menoleh.
"Dua bulan? Enam bulan? Berapa lama Mah?"
Bukan jawaban yang Rara dapatkan melainkan tangisan Miranti.
.
.
Namun, tiba-tiba Gio datang menyeret dan mendorong tubuhnya. Rara semakin terkejut dengan sikap Gio yang tiba-tiba kasar.
"G-Gio," ucapnya terbata-bata.
Tatapan Gio sangat menakutkan dan penuh amarah. Pria itu sama sekali tidak melihat wajah pucat Rara.
"Bagaimana perasaanmu ketika melihat dengan mata orang lain?"
"Apa?" Rara sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja Gio ucapkan.
"Apa kamu senang bisa melihat lagi dengan mata Tiara. Apa karena Tiara meninggal kamu seenaknya minta mata itu? Aku sama sekali tidak terima," kata Gio penuh penekanan.
"Apa maksudmu?" tanya Rara yang sama sekali tidak mengerti.
"Apa kamu pura-pura bodoh? Aku jelaskan lagi matamu adalah mata Tiaraku."
Rara tertegun, dia sangat terkejut. Baru pertama kalinya Rara tahu jika pendonor itu adalah Tiara.
__ADS_1
"T-Tiara … maksudmu mata ini?"
"Ya. Selama ini kamu melihat dengan mata Tiara. Kamu pasti senang karena Tiara meninggal, kamu bisa melihat lagi, karena kamu membutuhkan matanya bukan?"
"Gio aku sama sekali tidak tahu siapa pendonorku. Dan aku sama sekali tidak tahu jika mata ini adalah mata Tiara. Aku tidak pernah meminta Tiara untuk mendonorkan matanya," jelas Rara.
Tetapi Gio tidak ingin mendengar penjelasan sedikit pun. Bahkan Gio meminta Rara untuk mengembalikan mata itu.
"Aku tidak pernah rela satu bagian tubuh istriku ada padamu," ujar Gio.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa kamu ingin aku melepasnya? Biarkan aku memakainya, biarkan aku melihat dunia ini dengan matanya. Aku tidak tahu kapan aku mati, berapa lama lagi aku bisa melihat dunia ini. Gio, tatap aku … apa kamu benci karena melihat Tiara pada diriku? Apa kamu benci karena aku bukanlah Tiaramu?" tanya Rara membuat Gio terdiam.
"Aku janji aku akan menjaga mata ini," tambah Rara, lalu pergi meninggalkan Gio.
Gio terdiam dan termenung merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.
Rara terus berlari disepanjang lorong. Sakit hatinya saat ini ketika seseorang menuduhnya pencuri. Gio sudah menuduhnya mencuri mata Tiara, padahal Rara sama sekali tidak tahu tentang pendonor itu.
'Tiara, apa kamu mengutukku? Apa kamu menghukumku karena aku menjadikan matamu sebagai penglihatanku? Apa kamu ingin aku sepertimu Tiara? Haruskah aku menderita leukimia,' batin Rara dengan air mata.
Tiba-tiba tubuhnya semakin melemah, matanya mulai kabur, kepalanya terasa berputar hingga Rara tidak mampu lagi berjalan.
Rara terduduk lemah di bawah lantai, tubuhnya bersandar pada dinding. Semakin lemas tubuh itu hingga tidak bertenaga, sedetik tubuhnya terjatuh dalam beberapa saat matanya masih terbuka, sampai akhirnya menutup rapat.
Para perawat mulai berdatangan, membantu Rara yang jatuh pingsan.
.
.
Gio memasuki ruangannya. Pikirannya kini sedang berkecamuk antara marah dan menyesal.
'Apa yang aku lakukan? Apa aku salah?' batin Gio yang mengusap wajahnya kasar.
"Tiara apa benar kamu yang menginginkannya?" tanya Gio pada foto Tiara.
"Kamu tahu? Itu sangat menyiksaku. Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi … seseorang datang seperti aku melihatmu kembali. Apa itu keinginanmu? Apa benat itu keinginanmu Tiara?"
Gio masih berkata pada potret itu.
Seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke ruangannya. Gio segera menghapus air mata dan menyimpan foto itu lagi.
__ADS_1
"Dokter, ada pasien yang baru saja pingsan. Tolong anda periksa," kata suster itu.
"Ya," jawab Gio. Suster itu pun pergi.