Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Malam Pertunangan


__ADS_3

Pesta akan dimulai. Rumah sudah dihias para tamu undangan sudah berdatangan. Tiara sudah cantik dengan gaun putihnya. Entah kenapa dia memilih gaun putih bak seorang pengantin. Dan Tiara meminta dirias sebagaimana pengantin.


Gio sudah rapih mengenakan tuxedonya. Revan dan Nico pun menemaninya mereka berangkat bersama menuju rumah Tiara.


"Tiara sudah siap sayang?" tanya Susan ketika memasuki kamar Tiara. Tiara hanya membalas dengan senyuman.


"Sudah Mah," jawab Tiara.


"Anak Mama sangat cantik sekali." Kata Susan seraya merapihkan rambut Tiara. Susan duduk di hadapan Tiara lalu menatapnya.


"Sayang, apa ada yang kamu rasakan? Jika merasa sakit katakan pada Mama."


"Tidak ada Ma. Tiara sehat-sehat saja," jawab Tiara yang tersenyum.


"Kalau begitu jangan lupa minum obat, sebentar lagi acara dimulai Mama akan datang lagi menjemputmu," ucap Susan yang terus menyentuh tangan Tiara. Susan kembali merasa gelisah seperti saat Tiara akan menjalani kemoterapi.


Seharusnya malam ini Susan bahagia akan melihat Tiara bertunangan dengan Gio.


"Mama apa Gio sudah datang?" tanya Tiara menghilangkan kegelisahan Susan.


"Belum mungkin sedang di jalan, kamu siap-siap saja dulu ya."


"Iya Ma," balas Tiara. Susan mengecup lembut keningnya lalu pergi. Tiara kembali merapihkan gaun dan riasannya tentu saja Tiara ingin terlihat cantik malam ini.


Tiara bangkit dari meja rias untuk mencari obatnya. "Di mana obatku," ucapnya yang mencari dari setiap laci. "Ketemu," ucap Tiara setelah menemukan botol obat itu.


Namun, rasa sakit tiba-tiba datang. Tiara merasa nyeri di sekujur tubuhnya, kepala pun seakan berputar. "Kenapa ini? Ya Tuhan jangan … jangan malam ini," ucapnya lalu merunduk.


Kedua tangan yang memegang erat pada atas laci, obat yang sempat dia pegang terjatuh. Karena tidak kuat lagi menahan Tiara pun terduduk lemah di atas lantai. Tidak peduli dengan gaun yang indah kini menjadi kusut dan berantakan.


Aaahh!


Tiara menjerit kesakitan, entah apa yang dia rasakan. Wajahnya terlihat sangat pucat, Tiara hanya bisa bersandar pada laci.


"Obat … obatku." Tiara mencoba meraih obat yang terlempar jauh, yang terus merangkak mendapatkan obat itu. Baru saja obat itu didapatkan, mulutnya sudah tidak tahan ingin memuntahkan sesuatu.


Hingga cairan kental merah pun keluar dari mulutnya. Bahkan menodai gaun putihnya.


"Mama …." Tiara merengek dan hanya bisa menangis. Namun, Tiara ingat jika Gio akan datang, dia pun kemvali meraih obat itu dan meminumnya.

__ADS_1


Di tempat lain Gio masih berada dalam mobil. Dia pergi bersama Nico dan Revan. Sedangkan Baskara dan Junita berada di mobil yang berbeda. Gio terus menatap ke arah jalanan, matanya membulat seketika saat melihat seseorang yang dia kenal.


"Berhenti!" teriaknya pada Nico yang melajukan mobil. Nico pun menghentikan mobilnya mendadak.


"Ada apa Gio?" tanya Nico tetapi Gio mengabaikan yang langsung turun dari mobilnya.


Nico dan Revan pun terkejut mereka langsung turun mengejar Gio.


"Gio! Mau kemana dia," ujar Nico kesal.


"Nico, kamu tunggu saja di sini aku akan mengejarnya," ujar Revan lalu berlari mengejar Gio.


"Mama! Mama!" teriak Gio yang terus mengejar seorang wanita. "Aku yakin aku melihatnya di sini," ucap Gio yang hendak berlari tapi terhenti karena Revan memanggilnya.


"Gio! Gio berhenti. Apa yang kamu lakukan? Hari ini adalah pertunanganmu apa kamu ingin membuat Tiara menunggu?" tanya Revan dengan emosi.


"Ini lebih penting. Aku akan segera kembali," ujar Gio lalu pergi.


"Gio!" teriak Revan yang sudah kesal. Dia ingin mengejar lagi tapi Nico menghubunginya. Revan pun memutuskan untuk kembali ke mobil dan menunggu Gio di sana


Gio masih terus mencari wanita itu menyusuri setiap gang, setiap pasar dan melewati keramaian. Gio benar-benar yakin dia melihat sang ibu di sini. Namun, jejak wanita itu hilang.


"Mama … kenapa kamu menghindariku? Aku akan kembali lagi nanti dan aku akan menemukanmu." Gio terus memindai lingkungan di sana, dia berharap menemukan ibunya tapi tidak. Gio pun memilih pergi dan kembali ke mobil.


Nico dan Revan menatapnya heran.


"Gio?" Panggil Nico, tetapi Gio tidak menjawab yang langsung memasuki mobil.


"Jalan," titah Revan pada Nico. Karena Baskara sudah menghubunginya berkali-kali.


"Gio, apa yang kamu kejar?" tanya Nico menatap Gio pada kaca. Namun Gio tidak menjawab.


Aku pasti akan menemukanmu, batin Gio.


"Gio kamu itu akan bertunangan jadi lupakanlah masalahmu hari ini oke," ucap Nico. Namun, tetap tidak ada jawaban dari Gio yang terus melamun.


'Mama, jika kamu ada di kota ini kenapa tidak pernah mendatangiku? Bahkan menemuiku saja tidak pernah. Sampai sekarang aku tidak tahu apa alasanmu meninggalkanku' batin Gio yang terus memikikan ibunya.


Deringan ponsel membuyarkan lamunannya. Gio hanya menatap layar datar itu tanpa menjawab panggilan dari Baskara. Dia sudah tahu pasti Baskara sudah menunggunya.

__ADS_1


"Katakan pada ayahku jika kita hampir sampai," katanya pada Revan dan Nico. Revan pun memberitahukan Baskara akan hal itu.


"Di mana mereka," ucap Baskara yang mulai gelisah karena Gio belum juga datang. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar.


"Apa Gio tidak akan datang?" tanya seorang wanita yang berbisik pada temannya.


"Mungkin saja Gio kabur," ucap Angel yang tersenyum sinis.


"Hei kalian! Apa tidak bisa membicarakan hal lain? Tutup mulut kalian semua," ujar Zy yang kesal.


"Zy, Gio kemana ya? Apa mungkin Gio kabur lalu bagaimana dengan Tiara?" tanya Mytha dengan wajah panik.


"Ssst … bisa diam tidak!" tegur Zy. "Jangan asal bicara tidak mungkin Gio kabur, mungkin masih di perjalanan," ucap Zy yakin.


"Itu Gio!" teriak Zy antusias jetika Gio memasuki area pesta.


"Wah! Ada Revan dan Nico juga. Mereka sangat tampan," ucap tamu wanita.


"T-C-K …!" teriak seorang gadis dengan lantangnya. Gio dan Revan hanya menggeleng sedangkan Nico dia membalas seruan itu dengan senyuman dan lambaian tangannya membuat para gadis itu berteriak histeris.


"Wah, mereka begitu tergila-gila padaku," ucap Nico begitu percaya diri. Lalu melangkah mengikuti Gio dan Revan yang yang sudah lebih dulu masuk.


"Papa Gio sudah datang," ucap Junita memberitahukan Baskara. Baskara mulai sedikit tenang dia langsung memberitahukan pada Susan dan Danu.


Melihat Gio sudah hadir Danu meminta Susan untuk menjemput Tiara di kamarnya.


"Sayang, jemput Tiara acara sebentar lagi akan di mulai," ujar Danu.


"Iya Pa," balas Susan lalu pergi memasuki rumah. Susan berjalan menaiki tangga untuk sampai di depan kamar Tiara. Wajahnya begitu berseri ketika memasuki kamar itu.


"Tiara …." Panggil Susan dengan lembut. Seketika senyum Susan memudar. Wajahnya berubah jadi tegang dan matanya terbelalak seketika.


"T-Tiara …"


***


Hai reader penasaran, kan apa yang dilihat Susan? Ayo bisa nebak tidak apa yang terjadi pada Tiara?


Sebelum author kasih tahu minta like dan komentarnya dulu dong, jangan lupa vote dan hadiahnya juga ya. Terima kasih

__ADS_1


Salam orang sunda


❤❤❤


__ADS_2