Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Bella


__ADS_3

Ketegangan di dalam kamar Tiara masih berlangsung. Bahkan perselisihan karena sebuah jeruk belum juga selesai. Gio membawa Revan ke luar tampang Gio terlihat marah menatap Revan dengan tajam.


"Apa maumu?" tanya Gio dengan dingin.


"Seharusnya aku yang bertanya apa maumu," jawab Revan yang tidak kalah sinis.


"Ku peringatkan kamu untuk tidak mendekati Tiara," ujar Gio penuh penekanan.


"Siapa kamu bukankah kalian sudah bukan tunangan lagi? Tiara sudah membatalkannya," ucap Revan.


"Hanya menunda," sanggah Gio. "Katakan saja apa maumu apa kamu menyukai Tiara?" tanya Gio.


"Ya." Jawab Revan dingin. Sorot mata keduanya saling menatap tajam, Gio terlihat tidak suka dengan pengakuan Revan.


"Aku tidak berniat merebut Tiara darimu. Bagaimana jika kita bersaing sehat biar Tiara yang memutuskan," ucap Revan yang diangguki Gio.


"Oke," ucap Gio menyetujui kesepakatan. Kini mereka berdua kembali masuk ke dalam.


"Tiara, aku pamit. Semoga kamu cepat sembuh," ucap Revan.


"Iya, terima kasih Revan," ujar Tiara.


"Sudah pergi sana Tiara harus istirahat," ujar Gio yang mendorong tubuh Revan agar segera keluar kamar.


"Gio, aku tidak suka kamu bersikap seperti itu. Kenapa kamu juga tidak pulang?" tanya Tiara kesal.


"Aku dapat perintah dari ibumu," ujar Gio lalu duduk di atas sofa. Dengan santainya Gio mengunyak jeruk yang dibawakan Revan tadi tanpa peduli dengan tatapan Tiara.


"Gio itu punyaku," ucap Tiara yang tidak terima jeruknya Gio habiskan.


"Aku akan membelikannya lagi untukmu," kata Gio yang menimpali. Tiara hanya mendelik pada Gio.


Memakan jeruk yang berlebihan membuat perutnya melilit. Suara aneh berbunyi dari dalam perut, Gio segera berlari ke kamar mandi ketika sudah tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu dari bawah duburnya. Tiara yang melihat itu hanya tertawa.


"Kualat memakan jeruk orang," ujarnya.

__ADS_1


Hampir 10 menit Gio berada di dalam kamar mandi akhirnya Gio keluar. Tiara pura-pura tidak tahu yang memfokuskan dirinya pada sebuah buku. Baru saja Gio akan duduk panggilan alam sudah memanggil lagi membuat Gio harus kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Lama-lama Tiara pun kasihan pada Gio yang terus bulak-balik kamar mandi. "Minumlah," titah Tiara memberikan segelas air minum. Gio pun menerimanya lalu meminumnya.


"Pergilah ke apotek dan belilah obat," ucapnya yang diangguki Gio.


"Aku ke apotek sebentar kamu tunggu di sini," ujar Gio yang ketakutan jika Tiara akan pergi.


"Aku tidak akan pergi kemana pun," balas Tiara.


Gio pun pergi menuju apotek, sekalian Gio pergi ke sebuah mini market yang ada di sana untuk membeli cemilan. Saat memasuki mini market Gio tidak sengaja melihat seorang wanita yang turun dari mobil. Wanita itu berjalan ke dalam rumah sakit.


"Mama," ucapnya mengenali wanita itu sebagai ibunya. Segera Gio berlari memasuki rumah sakit untuk mengejar ibunya. Namun, lagi-lagi Gio kehilangan jejaknya.


"Kemana perginya?" tanyanya lalu kembali mencari.


Gio kembali ke dalam kamar dengan wajah yang murung. Tiara yang melihatnya bingung apa yang terjadi pada Gio. Gio duduk melamun di atas sofa bahkan panggilan Tiara dia abaikan.


"Gio ada apa? Apa perutmu masih sakit?" tanya Tiara.


"Siapa?" Tiara pun bertanya siapa yang Gio katakan. Namun, Gio malah berkata yang lain.


"Dia ada di kota ini tapi tidak mencari ku atau mengabari ku," ucapnya lagi semakin membuat Tiara kebingungan.


"Apa maksud perkataannya aku tidak mengerti," gumam Tiara. "Gio!" Panggilnya lagi kali ini membuat Gio tersadar.


"Gio kamu baik-baik saja? Siapa yang kamu maksud?" tanya Tiara Gio hanya diam.


"Tiara aku harus pulang. Maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini, aku harus pergi," ucap Gio lalu melangkah pergi.


Tiara tertegun.


"Apa sakit perutnya sangat parah?" tanya Tiara yang menatap kepergian Gio.


Sepanjang langkah Gio terus melamun dan membayangkan wanita yang ditemuinya beberapa hari lalu. Yang dianggapnya sangat mirip dengan ibunya dan kini Gio melihatnya lagi tetapi masih belum dipertemukan.

__ADS_1


Entah suatu kebetulan atau takdir, mereka berdua dipertemukan lagi ketika Gio hendak memasuki lift. Wanita itu ada di dalam lift dan mereka kini hanya saling pandang.


"Gio," ucap wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Beberapa tahun lalu …


"Mama! Mama!" Bocah kecil itu terus memohon dan menangis padanya. Dia menahannya untuk pergi. Namun, wanita itu tidak merasa kasihan yang rela meninggalkan putranya begitu saja demi kariernya.


"Gio!" Baskara datang dengan tampang marah. Emosi sudah sangat meluap dia memangku Gio yang sedang menangis.


Wanita itu hanya menatap Gio dari dalam mobilnya. "Maafkan Mama Gio," ucapnya yang meneteskan air mata.


Setitik bulir air mata itu terjatuh sampai ujung kakinya, ketika melihat bocah kecil yang pernah dia tinggalkan dulu kini sudah beranjak dewasa. Ingin rasanya dia memeluk Gio tapi jika mengingat masa lalu itu membuatnya malu.


"Nyonya Bella?" Panggilan seorang wanita mengalihkan pandangan Gio dan ibunya. "Waktu shooting sudah di mulai, kamu ditunggu para kru yang lain," ujar wanita itu yang membawa Bella ke luar dari lift.


Bella tidak mengatakan apa pun yang menatap Gio dalam diam.


"Tidak berubah," ucap Gio. "Baik dulu atau sekarang kamu selalu pergi tanpa kata. Apa dia benar-benar tidak mengenaliku sebagai putranya?" tanya Gio tanpa terasa sudah meneteskan air mata lalu melangkah memasuki lift.


"Gio!" teriak Bella yang berbalik ke arah di mana Gio berdiri. Namun, Gio sudah tidak ada di sana.


Entah apa yang Bella rasakan membuatnya harus berlari mengejar Gio.


"Nyonya Bella!" teriak seorang wanita yang menjabat sebagai manajernya. Bella terus berlari dan memasuki lift tidak peduli shooting atau kariernya saat ini yang dia pedulikan hanya satu Gio.


Pintu lift pun terbuka lebar, Bella sampai di di lantai dasar untuk mengejar Gio. Sayangnya Gio sudah lebih dulu pergi menggunakan motornya. Ada rasa menyesal dalam diri Bella.


"Nyonya Bella apa yang kau lakukan?" tegur seorang wanita tadi. "Para kru dan sutradara sudah menunggumu ayo cepat kita ke atas," ajak wanita lalu membawa Bella masuk kembali ke dalam lift.


Bella hanya diam melamun, diantara temannya tidak ada yang tahu kehidupan Bella sebelumnya. Karena Bella menyembunyikan identitasnya sebagai istri Baskara dan Ibu dari Nathaniel Gionino Putra. Demi impiannya Bella mengkhianati putra dan suaminya, dia mengakui masih gadis dan belum menikah untuk kepopulerannya. Demi semua itu Bella rela pergi meninggalkan Gio anak semata wayangnya.


...----------------...


Maaf nih author kemalaman updatenya. Jangan khawatir author akan update dua bab setiap harinya. Di tunggu update selanjutnya ya 🤗.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komen dan ulasan bintang limanya makasih 🙏🏻.


__ADS_2