Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Kembalinya Tiara part 1


__ADS_3

Baskara sedang mengadakan pertemuan penting dengan para investor. Tiba-tiba seorang pria datang mendekati lelaki yang memimpin meeting nya saat ini.


Wajah lelaki itu berubah sendu, entah apa yang dibisikkan asistennya. Lelaki itu berdiri menghadap tamu-tamu pentingnya, tentu saja mereka semua penasaran termasuk Baskara yang ada di sana.


"Maaf sebelumnya, aku menghentikan meeting ini sejenak. Saya baru dapat kabar jika klien kita pak Danu sedang berduka putri beliau baru saja meninggal dunia."


Mendengar pernyataan itu Baskara sangat terkejut, hingga melotot. Dia terus bertanya-tanya apa anak yang di maksud adalah Tiara. Hingga dia pergi keluar mencari asistennya untuk mencari tahu informasi tersebut.


Bersamaan dengan itu,


Seorang guru memasuki kelas, suasana yang ramai seketika hening. Gio dan Nico baru saja memasuki kelas langsung duduk di tempatnya. Mytha dan Zy yang sedang bercanda langsung terdiam, bahkan tidak ada yang berani memainkan ponsel.


"Bu, bukankah hari ini tidak ada pelajaran fisika?" tanya Angel yang menatap heran guru di depannya, padahal bukan mata pelajarannya.


"Saya meminta waktunya sebentar. Kita mendapatkan kabar duka, teman kalian meninggal dunia."


Perkataan guru itu mengejutkan semua siswa, mereka bertanya-tanya siapa? Keadaan pun mulai riuh.


"Bu siapa?"


"Iya siapa?"


"Diam! Tolong kalian diam. Dengarkan Ibu bicara." Guru itu sangat kesal mendengar kericuhan murid-muridnya.


"Mutiara Andini."


Sontak bola mata mereka membulat sempurna, mulut menganga lebar terutama Zy dan Mytha yang tidak percaya jika yang meninggal itu Tiara teman mereka.


"T-Tiara maksudnya? Tidak mungkin," rengek Mytha yang menangis tersedu-sedu.


Gio hanya diam menatap bangku kosong Tiara, lalu mengejar sang guru yang sudah meninggalkan kelas.


"Bu!" teriak Gio menghentikan guru itu.


Guru itu pun menoleh pada Gio lalu bertanya, "Ada apa?"


"Apa Ibu tahu di mana Tiara berada?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, kamu tidak perlu ta'jiyah, kalian doakan saja dari jauh," ucap guru itu lalu pergi.


Bukan masalah berdoa tetapi Gio ingin tahu di mana Tiara tinggal selama ini. Revan yang tidak sengaja mendengar langsung menitikkan air mata, dan bersandar pada tembok.


"Tiara apa kamu tidak bisa bertahan?" Revan masih ingat apa yang Tiara katakan, jika dia akan kembali bertemu tetapi jika tidak, Tiara sudah tidak bisa bertahan.


Gio merasa terpukul, kenapa dengan kabar buruknya Tiara ada yang mengabarinya, tetapi saat Tiara pergi tidak ada satu pun yang memberi kabar.


***


Setahun sudah berlalu,


Gio masih mengenang kepergiaan Tiara yang selalu datang membawakan bunga ke atap rumah sakit. Namun, bukan bunga matahari yang Gio bawa kali ini, tetapi bunga anyelir putih.


Rooftop yang penuh dengan lukisan indah kini hanya tinggal kenangan. Selama satu tahun atap itu tidak berubah, bunga matahari di sekitarnya kembali mekar karena Gio selalu menggantinya dengan yang baru.


Gio duduk di atas sofa sambil mendongak ke atas langit. Sedetik matanya terpejam untuk tidur sesaat. Namun, mata itu kembali terbuka saat ponselnya berdering.


"Gio, lo di mana? Cepat kembali acara akan segera dimulai." Terdengar suara di sebrang sana.


Entah acara apa yang sedang berlangsung, penampilan Gio pun sangat rapi memakai blazer tidak biasanya.


Di sekolah para siswa heboh menyambut acara kelulusan. Para gadis berdandan dengan sangat cantiknya, mereka memoles macam-macam make up pada wajahnya.


Bahkan bibir mereka terlihat sangat merah, para lelaki hanya bengong menatapnya.


"Apa perlu memakai riasan seperti itu?" tanya seorang siswa pada temannya.


"Para gadis memang seperti itu," jawab temannya.


"Nico! Revan!" Para gadis lain malah mengerumuni kedua cowok keren itu, hanya untuk berfoto.


Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu, jika tidak bisa menjadi pacar salah satunya setidaknya mereka memiliki foto untuk dikenang. Nico dan Revan hanya pasrah, diam, ketika mereka memotretnya.


Angel terus mencari keberadaan Gio, ketika Gio turun dari motornya Angel segera menuruni tangga agar sampai di lantai dasar. Namun, belum dia sampai para siswi lain sudah mengerumuninya.


"Aish, menyebalkan sekali," umpat Angel lalu mendekat, memecah kerumunan itu.

__ADS_1


"Hei! Minggir, minggir, minggir. Jangan ada yang dekati pacarku," ujar Angel yang menggandeng tangan Gio.


"Apaan sih!" umpat Gio kesal lalu menurunkan tangan Angel.


"Gio lo mau ke mana tunggu!" teriak Angel mengejar Gio.


Hari kelulusan pun dimulai mereka berfoto bersama. Semua siswa terlihat happy tapi tidak dengan Gio dan Revan. Mereka menatap sendu kelas yang akan mereka tinggalkan.


"Apa kamu memikirkan Tiara?" tanya Revan. "Yakinlah, Tiara sudah tenang di surga sana," ucap Revan pada Gio.


Gio hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan kelas. Langkah Gio terhenti ketika sampai di taman, Gio duduk di atas kursi yang selalu diduduki oleh Tiara.


Tatapannya tertuju pada pohon sirsak di depannya, sedetik bayangan Tiara kembali muncul. Bibir Gio tersenyum ketika mengenang kebersamaannya dengan Tiara.


Gio bangun dari kursi mendekati pohon sirsak, tiba-tiba Gio melihat sebuah benda kecil seperti cincin berada di bawah pohon. Gio tercengang ketika mengambilnya, itu cincin yang pernah dia lemparkan.


"Selama satu tahun dia ada di sini, tapi kenapa tidak hilang?" tanya Gio, berpikir cincin itu sudah lama hilang.


Gio mengambil cincin itu kembali, memasukkannya ke dalam saku.


Di sebuah atap seorang wanita berdiri di depan pagar. Wanita itu terus memindai sekelilingnya, lukisan, bunga, dan sofa. Bibirnya tersenyum, ketika menyentuh bunga matahari.


Gio turun dari motornya berjalan menuju rooftop. Pandangannya terus pada cincin yang baru ditemukan. Gio menaiki lift sampai atap, langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita berpakaian putih.


Wanita itu terus membelakangi, hingga saat Gio memanggil barulah wanita itu menoleh, "Siapa kamu?" tanya Gio.


Seketika mata Gio membulat sempurna, kalung liontin matahari melingkar pada leher wanita itu, sedetik cincin tunangan itu jatuh bergelinding mendekati Tiara.


Ya, Tiara sudah kembali.


Tiara menunduk, mengambil cincin itu. Lalu menatap pada Gio.


"T-Tiara."


Gio masih tidak percaya jika Tiara kembali hadir, setelah kabar kematiannya satu tahun lalu. Tiara masih diam lalu berkata, "Gio," panggilnya.


"Tiara apa ini kamu?" Gio bertanya seraya mendekat. Tiara hanya mengangguk, Gio segera lari untuk memeluk Tiara

__ADS_1


__ADS_2