
Gio menatap mobilnya yang sudah tidak mulus lagi. Sang teman pun merasa takut karena sudah merusak mobil Gio semalam. "Gio, maafin gue. Gue janji akan ganti rugi," ucap temannya.
"Mana kuncinya?" pinta Gio. Temannya pun memberikannya.
"Lo marah?" tanya temannya lagi. Gio meliriknya dengan dingin lalu menjawab, "Siapa yang marah, gue mau pulang. Gak usah lo pikirin mobil gue santai saja."
"Tapi Gio."
"Gue cabut dulu." Gio tidak banyak bicara, menuntut temannya pun tidak mungkin. Lebih baik dia siap-siap dimarahi sang ayah. Beruntung ketika pulang sang ayah sedang tidak ada dan hanya ada Junita.
Junita syok saat melihat goresan pada mobil mewah itu. Namun, Gio tidak peduli yang langsung melempar kunci mobil padanya. "Katakan pada ayahku untuk memperbaikinya," ucap Gio lalu melewati Junita.
"Gio!" panggil Junita menghentikannya. "Kemana kamu semalam? Kamu sudah membuat ayahmu khawatir apa kamu balapan lagi?" tanya Junita.
Gio segera berbalik menatap Junita lalu berkata, "Mustahil pria itu khawatir," katanya.
"Kenapa hatimu begitu keras Gio! Apa karena masa lalu aku sudah membakar foto ibumu. Apa kamu masih menyimpan dendam sampai saat ini? Jika pun foto itu masih ada apa akan merubah semua yang telah terjadi?"
"Mungkin, karena dari kalian tidak ada yang pernah peduli padaku," ucapnya dengan nada tinggi. "Apa kamu membelaku ketika aku menangis? Dibentak olehnya dan ditampar apa kamu peduli itu!" Gio semakin emosi.
"Kamu yang tidak mengerti Gio."
"Mengerti! Katakan apa aku belum cukup dewasa untuk mengerti? Hal apa yang harus ku mengerti?" tanya Gio dengan emosi.
"Ayahmu bersikap seperti itu karena sayang padamu," jawab Junita.
"Sayang! Sayang kalian semua palsu. Tidak ada yang sayang padaku di rumah ini. Kenapa kamu tidak pergi saja hah!"
"Gio!" teriak Baskara dari ujung pintu. Wajahnya penuh amarah ketika melihat sang anak memarahi istrinya. Namun Gio masih terlihat tenang.
"Dasar anak tidak tahu diri. Semalam kamu pergi dan sekarang kembali membuat keributan apa mau mu?" Baskara bertanya sambil melayangkan tamparannya.
Namun, bukan Gio yang tertampar melainkan Junita karena dia menghalanginya. Baskara terdiam seraya menatap telapak tangannya. "Junita?" panggilnya.
"Sudah cukup Mas, jangan tampar Gio lagi." Junita mencoba menghalangi tetapi Gio, akankah anak itu berterima kasih? Gio semakin berulah.
"Sudah muak ku tinggal di rumah ini. Kalian semua pandai bersandiwara, dan kau ibu sambung … pandai sekali mencari muka," ucap Gio lalu pergi.
"Gio! Kembali dan meminta maaf. Hei anak brengsek!" Gio tidak peduli dengan teriakan Baskara.
Gio masuk ke dalam kamar, mengambil semua pakaiannya lalu pergi. Baskara semakin murka melihatnya. "Gio mau kemana kamu! Gio!" Gio tidak peduli yang menaiki motornya lalu pergi.
Tangan Baskara sudah mengepal sangat kuat, bahkan terasa sakit pada dadanya. Junita langsung membawa Baskara masuk dan duduk supaya lebih tenang.
__ADS_1
***
Tiara terus tersenyum menatap boneka bearnya. Dia terus terbayang-bayang peristiwa semalam hingga tidak sadar ketika Susan dan Danu menatapnya.
"Apa yang sedang kamu bayangkan? Begitu bahagia," ucap Susan menyadarkan Tiara. Tiara merasa malu yang ditatap kedua orangtuanya.
"Apa Mama harus menghubungi Gio agar datang? Sepertinya iya."
"Jangan dulu Mama, biarkan mereka bertemu di sekolah besok," ujar Danu membuat Tiara terkejut.
"Papa! Mama! Apa Tiara akan kembali sekolah?" tanya Tiara. Susan dan Danu hanya mengangguk.
"Yeah! Akhirnya aku akan bertemu teman-temanku." Tiara sangat merindukan Mytha dan Zy.
"Teman-teman atau Gio?" goda Danu membuat bibir Tiara mencebik. Susan dan Danu hanya tertawa.
"Mama bolehkah pinjam ponselnya?"
"Untuk apa?"
"Mama!" rengek Tiara, Susan semakin senang menggoda anaknya. Lalu memberikan ponsel itu pada Tiara. "Silahkan hubungi Gio, dan bicaralah sepuasnya. Mama dan Papa akan keluar dulu," ujar Susan lalu melangkah pergi.
Tiara terus menatap ponselnya lalu menghubungi Gio, tetapi panggilannya tidak dijawab. "Kemana Gio? Tidak apa-apa lebih baik aku tidak memberitahunya aku akan berikan kejutan besok di sekolah," ucap Tiara dengan tawa.
Hingga saat lampu merah menyala Gio terus saja melaju sampai sebuah truk dari sisi kiri datang dan menghantamnya. Kecelakaan pun tidak terhindari Gio dan motornya telempar jauh hingga sebuah mini bus datang langsung menabraknya.
Tubuh Gio diangkut ke dalam mobil ambulan. Cairan kental merah terus bercucuran di sekujur tubuhnya, Gio sudah tidak merespon matanya pun tertutup rapat.
Suara serine terdengar di sepanjang jalan, para tenaga medis terus berusaha memompa detak jantungnya dan mengontrol denyut nadinya. Baskara dan Junita segera meninggalkan rumah ketika mendapat kabar sang anak yang sedang sekarat.
Bahkan Baskara tidak berhenti menyalahkan dirinya. Junita sebagai seorang istri hanya bisa menangis dan menenangkan Baskara.
"Dimana Gio!" Baskara langsung menuju bagian resepsionis menanyakan seorang pasien yang baru saja kecelakaan.
Mereka pun ditunjukan ke sebuah ruangan yang dimana Dokter dan perawat panik memberikan pertolongan untuk Gio. Baskara tertegun melihat tubuh Gio yang berlumuran darah. Semua alat medis menancap di sekujur tubuhnya.
"Dokter, jantungnya mulai melemah." Suara seorang perawat membuat Baskara semakin cemas.
"Ambilkan pacemaker," pinta seorang Dokter. Pacemaker sebuah alat pacu jantung yang sering digunakan. Alat itu pun diletakan di atas dada Gio sesekali tubuh Gio terangkat ketika alat itu ditempelkan.
Baskara dan Junita semakin cemas, melihat Gio yang tidak merespon.
"Gio!" teriak Junita dengan tangisan, dia tidak tega melihat keadaan Gio yang sekarang.
__ADS_1
"Dokter apa yang terjadi dengan putra ku? Kenapa dengan jantungnya?" tanya Baskara penuh emosi.
"Bapak dan Ibu mohon tenang biarkan Dokter memeriksanya. Kalian tolong tunggu di luar." Seorang suster menghadang mereka.
"Tapi Suster," ucap Junita.
"Percayakan pada kami. Dokter akan berusaha." Terpaksa Baskara dan Junita menunggu di luar. Junita terus menangis hingga Baskara memeluknya.
***
Tiara kembali sekolah, dia terus menunggu Gio di depan gerbang. Namun, orang yang ditunggu belum juga muncul hingga suara bel berbunyi menandakan semua harus masuk ke dalam kelas.
Tiara terus melihat jarum arlojinya. "Kemana Gio." Katanya sambil menghembuskan nafas. Tiara terus menatap gerbang berharap Gio datang.
Namun, dia tidak melihatnya, sampai di dalam kelas Tiara terus menatap bangku kosong yang tidak berpenghuni. Biasanya Gio akan duduk di sana.
"Tiara?" panggil Mytha.
"Iya," jawab Tiara.
"Kamu masih menunggu Gio? Dia tidak akan masuk bahkan sudah pelajaran kedua dia tidak datang, tidak mungkin dia terlambat.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Zy. "Satu minggu kemarin kalian berdua tidak masuk dan ku dengar kamu di rawat dan Gio menemanimu di sana. Apa kalian ingin terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan yang dimana mereka selalu bersama. Kamu membuat iri semua orang," kata Zy.
"Kenapa mereka semua memperhatikan ku?" tanya Tiara yang merasa aneh dengan tatapan teman-temannya.
Zy pun menjawab, "Mereka sudah tahu jika kamu dan Gio sudah dijodohkan. Bahkan ada rumor kalian sudah bertunangan."
"Dari mana mereka tahu?" tanya Tiara heran
"Karena Gio yang menemanimu selama seminggu di rumah sakit," jawab Zy sedikit emosi.
"Lihatlah tatapan membunuh mereka," ujar Mytha yang melihat gadis-gadis di kelasnya. "Sungguh menakutkan," tambahnya.
"Lalu kemana Gio sekarang?" tanya Zy penasaran.
"Aku tidak tahu," jawab Tiara. "Padahal aku ingin memberikan Gio kejutan," ucap Tiara yang kecewa.
"Hubungi saja dia," saran Mytha.
"Tidak diangkat," jawab Tiara tidak bersemangat.
"Apa terjadi sesuatu pada Gio?" tanya Mytha yang langsung mendapat pukulan dari Zy.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu jangan membuat Tiara cemas," bisik Zy pada Mytha..