
"Memangnya kita mau pergi ke mana sampai harus naik pesawat?" tanya Rara setelah sampai di bandara.
"Kamu pasti suka dengan tempatnya nanti," jawab Revan berjalan memasuki bandara.
Mereka menunggu sesaat sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat. Rara tercengang melihat kemegahan dalam pesawat yang ditumpanginya, bisa dibilang itu pengalaman pertamanya.
"Kamu sesenang itu? Setelah kita sampai kamu akan sangat betah nanti, mungkin kamu tidak ingin pulang," ujar Revan membayangkan bagaimana ekspresi Rara nanti.
"Jangan yakin dulu, karena aku belum melihat tempatnya," balas Rara.
'Itu tempat yang ingin kamu kunjungi,' batin Revan.
"Apa kamu sakit?" tanya Revan, saat melihat keringat dingin membasahi wajah Rara.
Rara segera menyentuh wajahnya, mengusap keringat itu.
"Mungkin aku gugup, karena ini pertama kalinya aku menaiki pesawat," jawab Rara lalu mengambil sebuah obat dalam tasnya.
Revan lalu memberikan segelas air minum. "Terima kasih," ucap Rara lalu meneguknya.
"Obat apa itu?" tanya Revan yang hendak mengambil botol obat dari tangan Rara.
Namun, Rara tidak mengizinkannya. Di simpannya kembali ke dalam tas. "Ini obat penenang," ujarnya berbohong.
Rara semakin tegang, jemari tangannya semakin erat menggenggam pada Revan kala pesawat itu mulai terbang. Revan hanya tersenyum melihat itu.
"Maaf," ucap Rara demikian.
Keringatnya semakin terlihat, tapi bukan karena gugup melainkan rasa sakit yang dirasakan. Rara kembali meminum obatnya membuat Revan terheran-heran.
"Apa kamu gugup lagi?" tanya Revan, Rara hanya mengangguk. Namun, kenyataanya ada sesuatu yang harus Rara tahan.
"Kamu semakin pucat, apa segugup itu?" tanya Revan yang langsung menggenggam tangannya. "Dingin," ucap Revan demikian.
"Aku harus ke toilet sebentar," ujar Rara, langsung melangkah menuju toilet.
Sesuatu yang sudah tidak bisa lagi ditahan, akhirnya keluar yang dimuntahkan langsung oleh gadis itu. Rara mulai melemah, rasa mual dan pusing semakin mengganggu kondisi tubuhnya.
Rara hanya bisa bersandar di dalam toilet kecil itu.
"Di mana Rara," gumam Revan yang mencemaskan Rara. Kegelisahannya sangat terlihat hingga harus bertanya pada setiap pramugari yang lewat.
Tidak berselang lama Rara muncul, berjalan ke arah kursinya. Wajahnya semakin pucat, ia duduk di samping Revan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Revan.
Rara hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Tidak terasa mereka tiba di sebuah kota yang memperlihatkan keindahan alam yang masih terlihat asri. Air laut yang biru membentang sangat luasnya, menambah kesan indah perjalanan mereka.
Pepohonan dan tebing yang tinggi memanjakan mata keduanya.
"Sebentar, aku merasa tidak asing. Tempatnya indah, apa kita tidak mencari penginapan?" tanya Rara.
Revan hanya tersenyum, lalu berjalan ke arah perahu yang sudah disediakan.
"Hotelnya ada di tengah laut. Ayo naik," jawab Revan yang menuntun tangan Rara agar naik ke atas perahu.
Sepanjang jalan Rara memikirkan hotel seperti apa yang berada di tengah laut.
"Oh tidak! ini … kita berada di labuan bajo, kan? Kenapa aku bisa lupa, pantas saja tempatnya tidak asing." Rara berkata dengan ceria, rasa sakit seakan hilang seketika.
"Sudah aku bilang kamu sangat senang." Kata Revan yang terus menatap Rara dengan senyuman.
"Tentu saja, ini tempat yang ingin aku kunjungi."
"Ya. Aku sudah tahu," ujar Revan membuat Rara menoleh.
"Kamu tahu dari mana? Apa kamu tahu aku sangat mendambakan tempat ini?" tanya Rara dengan tatapan penuh curiga.
Revan pun mengatakan dan menceritakan tentang foto yang dia lihat waktu itu. Rara benar-benar tidak menyangka ada seorang pria yang kini mewujudkan impiannya.
"Terima kasih, aku pikir aku tidak akan pernah mengunjungi tempat ini. Karena waktuku yang tidak lama lagi," lirih Rara membuat Revan heran.
"Tidak lama lagi? Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Revan, Rara pun gelagapan.
Revan hanya tersenyum.
"Kita masuk, kamu pasti lelah," ajak Revan.
Mereka pun memasuki kapal pesiar yang sangat mewahnya seperti hotel. Tidak pernah terimpikan Rara bisa menaiki kapal pesiar itu.
Dua orang wisatawan turun dari perahu manaiki kapal pesiar yang sama. Seorang gadis seksi yang mengenakan topi pantai begitu ceria sedangkan pria yang bersamanya hanya memasang wajah datar dan masam.
"Gio, kapal ini sangat bagus, kan? Kita akan bersenang-senang," ujar Angel yang menggandeng tangan Gio seolah sepasang kekasih.
Angel sengaja meminta izin pada ayahnya agar diberikan waktu dengan Gio. Sang Direktur pun meminta Gio pergi dengan putrinya.
Mereka memasuki kapal pesiar yang sama, entah mereka akan bertemu Revan dan Rara atau tidak.
"Aku antar kamu sampai sini. Jangan lupa istirahat, aku akan menjemputmu nanti saat kita makan malam," ucap Revan setelah sampai di depan kamar Rara.
"Padahal tidak perlu di antar," balas Rara dengan tawa. "Aku masuk dulu, terima kasih sudah mengantar sampai ketemu nanti."
Rara pun masuk ke dalam kamarnya, Revan pergi setelah memastikan Rara masuk.
__ADS_1
Tidak berselang lama Angel tiba dengan seorang pelayan kapal yang membawakan barangnya. Angel memasuki kamar yang bersebelahan dengan Rara.
.
.
Dengan santainya Gio berbaring di kamarnya, deringan ponsel mengejutkannya.
"Huh." Nafas berat yang dihembuskan, seolah mewakilkan perasaannya saat ini.
Malas sekali Gio menjawab telepon Angel, handphone pun ia kembali simpan.
"Kenapa dia tidak menjawab teleponku? Ih … menyebalkan." Angel menggerutu hingga mencari cara lain supaya bisa bertemu Gio.
Di kamar lain, Rara baru saja selesai mandi. Ia hendak merias wajahnya tiba-tiba badannya merasa sakit. Rara pun berjalan ke sisi ranjang duduk dengan tenang sambil merasakan kesakitannya.
Wajahnya begitu pucat, ketingat dingin mulai bermunculan. Rara sudah tidak tahan yang langsung mencari botol obat dalam tasnya.
"Ah …." Rara meringis, obat yang baru saja diminumnya tidak memberikan reaksi apa pun.
"Mama," gumamnya lirih.
"Mama." Rara terus memanggil ibunya, tubuhnya sudah meringkuk di bawah lantai. Berharap ada seseorang yang masuk dan membantunya.
"To … long."
Cklek,
Pintu terbuka lebar seorang pria mematung di depan kamarnya.
.
.
"Aku harus siap-siap, Gio akan datang sebentar lagi. Gio pasti panik saat mendengar aku sakit, tidak apa-apa aku berpura-pura, asalkan bisa mendatangkan Gio."
Dengan bangga dan penuh percaya diri, Angel menunggu Gio datang.
Tok, tok, tok.
Angel langsung berbaring ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya, hendak saja berakting tapi … yang datang bukan Gio melainkan seorang pelayan hotel.
"Maaf Non, saya sudah memberitahukan pada pria itu jika Non, sakit," ucap si pelayan.
"Bagaimana ekspresinya?" tanya Angel penasaran.
"Saat panik. Dia akan segera datang."
__ADS_1
"Baguslah, sekarang kamu cepat pergi. Jangan sampai ketahuan," titah Angel si pelayan itu pun meninggalkan kamarnya.
Angel sudah tidak sabar, akan diperiksa oleh Gio. Wanita itu pun kembali berbaring.