
"Apa!"
Semua orang terkejut mendapat undangan atas nama Gio dan Tiara. Terutama Angel yang sangat mencintai Gio.
"Serius, Gio dan Tiara menikah," ujar Angel yang memutar balikkan kertas undangan. "Oh tidak Gio ku," rengek Angel sedih, karena tidak ada harapan lagi untuk memiliki Gio.
Mytha dan Zy juga berekpresi yang sama, tetapi mereka sangat girang mendapat undangan itu.
"Zy, kamu mendapatkan undangan juga, kan? Aku sungguh tidak percaya, merasa baru kemarin kita lulus Gio sudah menyebarkan undangan saja," ujar Mytha yang berbicara pada sambungan telepon.
"Aku sudah tidak terkejut, karena mereka memang sudah dijodohkan. Mytha aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Angel benar, kan?" Zy berkata seraya mempercantik kukunya.
"Oh ya Mytha, kita harus mempersiap gaun untuk acara nanti, aku harap menemukan seorang pendamping untuk menemaniku ke acara undangan," kata Zy yang masih berbicara dengan Mytha pada sambungan telepon.
"Apa kamu berharap Revan atau Nico menemanimu?" tanya Mytha tersenyum mengejek.
"Walaupun bukan di antara mereka berdua yang penting seorang pemuda yang tampan," jawab Zy berkhayal.
"Zy, sudah dulu nanti aku telepon lagi," kata Mytha sebelum menutup sambungan telepon. Zy menjawab, "Oke." Telepon pun ditutup.
Revan terlihat biasa saja memandang kertas undangan. Cukup membaca nama kedua mempelai lalu menyimpannya lagi.
Ekspresi wajahnya tidak bisa diartikan, datar dan kaku, Revan pergi meninggalkan rumah menuju sebuah cafe. Tempat favoritnya di atas rooftop menikmati kopi sambil membaca buku romansa.
"Jarang sekali lelaki suka membaca," ujar Rara membuat Revan menoleh.
Rara membawa sebuah nampan lalu menyimpannya di atas meja Revan.
"Pesanan mu, selamat menikmati," ucap Rara sebagai pelayan cafe.
Revan menatapnya dengan heran. 'Gadis itu sepertinya aku pernah bertemu di mana?' tanyanya dalam hati.
'Wajahnya tidak asing? Sepertinya aku pernah melihat lelaki itu,' batin Rara yang mengintip Revan.
Mereka tidak menyadari pernah bertemu di sekolah, saat keduanya menuruni dan menaiki tangga.
***
"Gio kamu mau membawaku ke mana?" tanya Tiara yang dituntun Gio dengan mata tertutup.
__ADS_1
Gio terus menaiki tangga sambil menuntun Tiara. "Bukalah," ucap Gio setelah melepas penutup matanya.
Tiara tercengang, melihat lampu berkelap kelip di depannya. Atap yang selama ini menjadi tempat bersantai, dihias indah lengkap dengan lilin aromatherapi.
"Gio," ucap Tiara yang berbalik pada Gio.
"Bagaimana apa kamu suka? Selama ini kita tidak pernah berkencan. Aku pikir aku harus mengajak mu berkencan sebelum menikah." Gio berkata sambil tersenyum.
"Ini kamu yang menyiapkan semuanya?" tanya Tiara.
"Hem," jawab Gio lalu membawa Tiara ke arah meja.
Makanan sudah tersaji, di atap rumah sakit, sepasang sejoli sedang melakukan dinner romantis. Bukan hotel atau tempat mewah lainnya, bagi Gio di atas cukup mengesankan.
"Gio, aku tidak percaya kamu melakukan ini sendirian. Jadi begini ya rasanya berkencan?"
"Mungkin," ucap Gio membuat Tiara menatapnya heran. "Aku mencari tahu lewat google," kata Gio membuat Tiara tertawa.
"Aku pikir kamu pernah berkencan. Apa makanan ini juga kamu yang memasaknya?"
"Kalau ini aku memesannya," ujar Tiara dibarengi senyuman.
Bukan karena tidak di undang, melainkan pernikahan Gio terlalu dini baginya. Bella ingin Gio menikmati masa muda, sekolah lebih tinggi bukannya menikah. Apalagi dengan gadis penyakitan seperti itu.
"Antarkan aku ke pondok pelita," ucap Bella pada Asistennya. Bella akan menemui Gio.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah, kediaman Baskara. Bella, menatap rumah itu sejenak, rumah yang pernah tinggalkan dan sekarang dirinya kembali.
Para pelayan dan securty diam melongo ketika melihat seorang artis datang ke rumah majikannya. Bella terlihat acuh mengabaikan pandangan mereka lalu berjalan memasuki rumah.
"Tunggu Nyonya, anda tidak boleh sembarang masuk," ujar seorang pelayan.
"Kamu tidak tahu siapa aku?" tanya Bella, seketika pelayan itu menunduk.
"Aku hanya ingin bertemu dengan anakku," ucap Bella menerobos masuk.
"Nyonya den Gio tidak ada, dan Tuan juga tidak ada."
"Kalau begitu aku akan menunggunya." Bella berkata seraya duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Tapi Nyonya …." Perkataan pelayan itu terhenti saat melihat Junita turun dari tangga.
Bella mendongak, mengikuti arah tatapan pelayan. Junita dan Bella pun bertemu dan saling pandang. Junita terlihat santai mungkin dia sudah tahu siapa Bella, tetapi Bella dia terkejut dengan kehadiran Junita.
"Ada tamu," ucap Junita.
"Siapa kamu?" tanya Bella.
"Aku … Nyonya rumah ini ibu dari Gionio Putra," jawab Junita berjalan ke arah Bella.
"Ambilkan dia jamuan," titah Junita pada pelayan, lalu duduk berhadapan dengan Bella.
"Putra dan suamiku sedang tidak ada di rumah. Jika ada yang ingin kamu sampaikan, katakan saja padaku. Apa kamu membawa hadiah untuk Gio?"
"Hadiah? Undangan saja aku tidak terima," ucap Bella sinis.
"Itu bukan salahku, Gio dan Askalah yang mengatur. Apa perlu aku mengambilnya untukmu?"
"Tidak," sanggah Bella. "Aku datang untuk mengatakan jika aku tidak setuju dengan pernikahan ini. Apa kalian yang menjodohkan? Seharusnya kalian berpikir tentang pendidikannya, karir dan masa depannya. Gio masih muda dan baru lulus apa harus menikah secepat itu?" Bella berkata dengan emosi.
"Tahu apa kamu tentang masa depan anakku?" Suara Baskara mengalihkan pandangan mereka berdua.
Bella terlihat kaku, dan Baskara sangat dingin menatapnya lalu berjalan ke arahnya.
"Kamu memikirkan masa depan Gio, tapi kamu tidak memikirkan bagaimana keadaan Gio setelah kamu tinggalkan. Hanya aku yang tahu apa yang terbaik buat putraku," tegas Baskara.
"Aska, apa kamu tidak melihatku? Aku ibunya setidaknya kalian beritahu aku tentang pernikahan ini." Bella kecewa karena Gio tidak memberi restu.
"Istriku adalah Junita, jadi kamu tahu apa maksud perkataan ku bukan? Pergilah, Gio tidak butuh restumu."
Perkataan Baskara sangat menyakiti Bella. Dengan tajam Bella menatap sepasang suami istri di depannya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Hati Bella sangat kesal mendengar Baskara, tetapi dirinya tidak bisa menyangkal. Ketika hendak memasuki mobil Bella berpapasan dengan Gio yang baru saja datang.
Sesaat mereka terdiam dan saling pandang, Gio segera melewatinya lalu berkata, "Datanglah ke hari pernikahanku," ucap Gio lalu melanjutkan langkahnya.
"Apa pernikahan ini keinginanmu?" tanya Bella menghentikan langkah Gio.
Gio berbalik menghadapnya. "Hem," jawab Gio singkat lalu pergi memasuki rumahnya.
__ADS_1
Di dalam sana Gio juga berpapasan dengan Baskara dan Junita yang masih diam di ruang utama. Sedetik tatapan mereka bertemu, Baskara bisa menebak Gio bertemu Bella di depan. Namun, Gio tidak mengatakan apa pun yang langsung menaiki tangga untuk menuju kamarnya