
Suara sirine ambulan begitu nyaring, mobil merah putih itu berhenti tepat di depan rumah sakit. Para Dokter dan perawat berlarian menghampiri seorang wanita yang baru saja diturunkan dari ambulan.
Wanita yang terbaring di atas brankar didorong dengan cepat oleh mereka menuju ruang unit gawat darurat.
Panik dan tergesa-gesa. Mereka memasang beberapa alat medis dan melakukan beberapa pemeriksaan pada wanita itu. Tubuh yang penuh dengan darah, pecahan kaca perlahan dibersihkan yang menancap pada area wajahnya.
Sungguh memilukan, pecahan kaca itu begitu banyak hingga terselip di bagian sudut matanya. Akhirnya setelah lama membersihkan wanita itupun di bawa pergi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
.
.
Gio mendudukkan Tiara di atas kursi roda, hari ini Tiara diizinkan pulang.
"Kita ke rumah mama dan papa," ujar Gio membuat Tiara tersenyum. Tiara sudah merindukan kedua orang tuanya, kini mereka berjalan keluar dari kamar menyusuri setiap lorong untuk sampai di depan.
Tiara celingukan mencari seseorang, hingga dia menghentikan Gio yang mendorong kursi rodanya.
"Tunggu sebentar," ucap Tiara.
"Ada apa?" tanya Gio setelah menghentikan langkahnya.
"Aku mencari Rara," jawab Tiara yang mendongak menatap Gio. "Hari ini aku tidak melihatnya," sambung Tiara.
"Untuk apa mencarinya? Mungkin dia sedang bekerja," tutur Gio, kembali melanjutkan langkahnya.
Tiara masih mencari sosok Rara gadis yang ceria, selalu menemaninya di rumah sakit. Tanpa Tiara tahu gadis itu sedang berjuang di ruang operasi.
Beberapa jam yang lalu, Rara hendak pulang menuju rumahnya. Namun, pikirannya tidak fokus yang terpikiran ucapan Revan tentang Tiara.
Hingga saat persimpangan jalan, Rara terus melewati lampu merah hingga sebuah truk melaju mengejutkannya dan menghantam motornya hingga terlempar ke dalam mobil.
"Ayo!" ajak Gio membawa Tiara ke dalam mobil.
Seorang wanita berlarian dari arah gerbang menuju ruang operasi. Wanita itu semakin cemas ketika seorang Dokter mendorong seorang pasien dari dalam ruang operasi.
"Rara! Dokter bagaimana dengan putriku? Kenapa dengan matanya Dokter? Kenap matanya harus ditutup seperti itu?"
Dokter tidak menjawab, sebelum mereka sampai di sebuah ruangan inap. Barulah Dokter mengatakan apa yang terjadi pada gadis itu.
"Kami harus mengoperasi matanya, karena banyak pecahan kaca yang masuk ke dalam korneanya," jelas Dokter membuat si ibu wanita itu panik.
"Apa anak saya akan buta? Apa anak saya masih bisa melihat?"
"Kita lihat setelah perbannya dibuka. Semoga saja anak Ibu masih bisa melihat."
__ADS_1
Wanita itu mendadak lemah, tubuh kurusnya melorot ke bawah lantai. Ia tidak sanggup bagaimana jika anaknya buta.
Hari terus dilalui, tiba saatnya bagi Rara untuk membuka perban matanya. Rasa gugup dan gelisah menjadi satu. Sang ibu sangat berharap Rara tidak mengalami kebutaan.
"Bukalah matamu perlahan," ujar seorang Dokter.
Rara pun membuka matanya sedikit demi sedikit hingga mata bulat itu terlihat dengan jelas. Namun, Rara tidak memberikan reaksi apa pun yang hanya diam.
"Kenapa ruangan ini gelap sekali?" Pertanyaan itu membuat sang ibu menangis dan Dokter hanya menunduk sedih. Rara harus kehilangan penglihatannya.
"Dokter! Mama!" panggil Rara.
"Maaf, kamu tidak bisa melihat karena luka di matamu," ungkap Dokter.
Rara semakin bergetar, dia syok dan menjerit tidak terima dengan apa yang sudah terjadi. Sang ibu pun memeluknya.
"Tidak! Aku tidak mungkin buta."
"Rara, tenang. Mama akan cari cara agar kamu dapat melihat."
Rara hanya bisa menangis menerima nasibnya.
"Dokter, apa anak saya tidak bisa operasi mata? Dia bukan buta permanen, setidaknya masih ada kesempatan untuk melihat, kan?"
"Untuk saat ini kami sulit mencari pendonor mata," ucap Dokter membuat wanita itu semakin lemas. Dengan terpaksa Rara harus menjalani hidup sebagai gadis buta.
.
.
Gio dan Tiara sudah sampai di kediaman Susan. Sementara mereka akan tinggal di sana, karena tidak mungkin Gio meninggkan Tiara sendirian dalam keadaan sakit.
Susan dan Danu menyambut dengan hangat putri dan menantunya, mereka menyiapkan makan siang. Tiara hanya diam saat semua orang menikmati hidangannya.
"Tiara ada apa? Kenapa tidak makan sayang? Apa masakan Mama tidak enak?" tanya Susan yang menyentuh tangan Tiara. Gio dan Danu langsung melirik pada mereka berdua.
"Tiara hanya ingin melihat kalian saja," jawab Tiara. "Mama, Papa tetaplah tersenyum seperti ini. Terima kasih karena selama ini kalian menyayangiku, selalu sabar menjaga dan merawatku. Maaf, aku tidak bisa membalasnya, dari kecil Tiara hanya merepotkan Mama dan Papa."
Susan turun dari kursi berjalan ke arah Tiara lalu memeluknya. "Mama tidak pernah merasa kerepotan, Mama sangat menyayangimu," kata Susan demikian.
Gio dan Danu hanya diam.
Tiara duduk termenung di belakang rumah. Halaman yang luas dan penuh bunga-bunga, sun flower salah satu bunga favoritnya.
Gio hendak pergi ke arah kamar. Segera berbalik dan berjalan pada Tiara yang sedang duduk di atas kursinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu bayangkan? Bunga matahari, kumang, atau cincin? Banyak sekali kenangan kita di sini bukan?"
Gio bertanya seraya menunduk dan memeluk Tiara dari belakang.
"Gio, aku ingin pergi ke sekolah," kata Tiara membuat Gio terheran-heran.
"Sekolah?" tanya Gio. Tiara langsung mendongak dan berkata, "Bukankah di sana juga banyak kenangan," ucap Tiara membuat Gio diam.
"Haruskah kita pergi?"
Tiara mendongak menatap Gio lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, kita pergi besok. Hari ini istirahatlah," ucap Gio.
Gio merasa aneh, ada apa dengan Tiara yang sangat banyak permintaan.
"Tunggu sebentar aku harus jawah telepon dulu, papa telepon," ujar Gio seraya memperlihatkan layar ponsel.
Gio melangkah menjauh, membiarkan Tiara sendirian di tengah taman. Tiara terus mendekat pada bunga hingga memetiknya.
Bunga matahari itu langsung dihirupnya. Namun, setelah dijauhkan, setitik cairan merah membasahi kelopak bunga itu. Tiara tertegun lalu mendongak, menahan darah mimisannya keluar.
Tidak hanya mimisan, batuk kembali dialaminya bersamaan dengan darah yang dimuntahkan. Pandangan Tiara mulai kabur, rasa pusing mulai melanda hingga akhirnya Tiara pun jatuh pingsan.
"Tiara!"
Baru saja Gio menghentikan teleponnya, sudah dikejutkan oleh Tiara yang tergeletak di tengah taman. Gio segera berlari membawa Tiara ke rumah sakit.
Danu dan Susan ikut panik, mereka semakin sedih saat melihat Tiara menjerit kesakitan. Susan tidak sanggup melihatnya sedangkan Gio hanya diam dalam tangisan.
.
.
"Gio," ucap Tiara setelah bangun.
Suara lembut itu membangunkan Gio yang tertidur di sampingnya.
"Tiara, apa merasa sakit?" tanya Gio.
Tiara hanya diam, wajah pucat itu hanya memberi sedikit senyuman.
"Kenapa membawaku ke rumah sakit lagi? Aku ingin pulang."
"Berhentilah meminta pulang, kamu belum sembuh." Gio menjadi emosi.
__ADS_1
"Bukankah kita akan pergi ke sekolah?" tanya Tiara.
Gio yang kesal hanya diam. Mulutnya tidak mampu berkata, tapi tersirat kesedihan di matanya.