
Satu tahun yang lalu …
Tut … tutt … ttt
Suara monitor menghentikan seorang Dokter yang sedang menggerakkan alat pacu jantungnya. Dokter itu tertegun ketika melihat satu garis lurus dalam monitor.
Para perawat hanya diam, dan menunduk sedih. Sang Dokter pun menatap Tiara yang berbaring di atas ranjang, tatapannya terlihat menyedihkan.
"Tutupi dia," ucap Dokter itu meminta seorang perawat menutupi Tiara dengan selimut. Kalung liontin matahari masih Tiara pakai, hanya saja kekuatan liontin itu sudah tidak berarti.
Dokter keluar dari ruangan, memberitahukan pada Danu dan Susan. Tubuh Susan langsung melorot di atas lantai, ketika mendengar putrinya telah tiada.
Danu hanya bisa ikhlas, merelakan kepergian Tiara. Sang asisten Danu yang mendengar kabar itu langsung memberitahukan kabar duka pada semua rekan bisnis Danu.
Hingga dalam waktu singkat kabar kematian Tiara sudah diketahui semua orang termasuk teman sekolahnya.
Namun, keajaiban datang. "Dokter!" Panggil seorang perawat. Lalu bekata, "Detak jantungnya kembali lagi." Sontak, Dokter itu tercengang yang langsung masuk ke dalam ruangan.
Kajaiban Tuhan, Tiara kembali hidup, nafas dan detak jantungnya kembali normal.
"Ini benar-benar keajaiban," ucap Dokter itu yang kembali memeriksa Tiara, denyut jantung dan semuanya kembali normal. Tiara kembali sadar dari komanya.
Hingga selama satu tahun Tiara menjalani perawatan seperti kemo dan lainnya, sampai Dokter mengatakan jika penyakitnya sudah sembuh, walau sel-sel kanker masih ada dalam tubuhnya.
***
Tiara sudah kembali ke tanah air, tempat yang dituju adalah rumah sakit yang selama ini menjadi rumahnya. Tiara tercengang menatap atap yang selama ini dirindukan.
Bunga matahari berjajar di atas pagar tembok, terlihat mekar dan indah.
Tatapan Tiara tertuju pada bunga anyelir putih yang berjajar di samping bunga matahari. Tiara mendekat dan mengambilnya, tiba-tiba suara Gio mengejutkannya.
"Siapa kamu?" Pertanyaan Gio membuatnya terdiam, Tiara sangat mengenali suara itu, suara seseorang yang dia rindukan.
Tiara mulai berbalik, mata Gio membulat dengan sempurna melihat kalung liontin matahari yang Tiara pakai, hingga cincin tunangan itu jatuh bergelinding mendekati Tiara.
Tiara menunduk, mengambil cincin itu. Lalu menatap pada Gio.
"T-Tiara."
Gio masih tidak percaya jika Tiara kembali hadir, setelah kabar kematiannya satu tahun lalu.
"Kamu masih menyimpan cincin ini? Maaf, aku telah menghilangkannya," ucap Tiara.
Gio tidak peduli apa yang Tiara katakan, dia langsung berlari ke arah Tiara dan memeluknya. "Aku tidak peduli dengan cincin itu yang hilang, aku tidak ingin kehilangan mu lagi," ucap Gio yang langsung mendapat pelukan dari Tiara.
__ADS_1
Kini mereka berdua duduk di atas sofa, Gio terus memperhatikan Tiara antara nyata dan tidak Tiara ada di depan matanya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Tiara.
"Jika kamu benar-benar tidak tiada, lalu kenapa kabar kematian mu diumumkan?" tanya Gio.
Tiara menghela nafas sejenak lalu berkata, "Aku … memang sempat meninggal. Detak jantungku, aliran nafasku, dan denyut nadiku sudah tidak ada. Dokter pun mengatakan pada keluargaku jika aku sudah meninggal, mereka percaya jika aku sudah Tiada. Namun, keajaiban datang, Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Dan aku percaya ini berkat kekuatan bunga matahari yang kamu berikan."
Tiara berkata seraya menggenggam liontin mataharinya.
"Sekarang jelaskan kenapa kamu pergi tanpa mengabariku? Dan ke mana kamu selama ini?" tanya Gio dengan ekspresi datar.
Tiara menunduk, dia tahu Gio pasti meminta penjelasan padanya.
"Maaf," kata itu yang pertama kali Tiara ucapkan. "Aku takut kamu kecewa, dan aku sangat malu jika bertemu denganmu. Waktu itu aku bukan Tiara yang cantik, yang memiliki rambut indah berkilau, yang akan kamu lihat hanyalah Tiara si gadis pucat, dengan kepala botak."
Gio masih diam mendengarkan penjelasan Tiara. Setitik air mata jatuh dari sudut mata Tiara, cairan bening mulai membendung matanya. Jika mengingat itu Tiara selalu takut, dan ingin menangis.
"Aku hampir mati Gio, aku sangat takut dan aku sangat merindukanmu," ujar Tiara dengan tangisan.
Gio segera mendekat, kedua tangannya mulai terangkat, menyapu air mata yang membasahi wajah Tiara. Gio langsung memeluknya.
"Aku tahu, maaf … aku tidak mengerti," ucap Gio.
***
"Kamu baru saja merayakan kelulusan, apa kamu berfoto bersama?" tanya Tiara.
"Foto itu kurang lengkap tanpa ada kamu," ujar Gio lalu menuntun Tiara ke dalam kelas.
"Gio, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Tiara.
"Apa kamu tidak ingin duduk di bangkumu untuk terakhir kali. Kita tidak akan masuk sekolah lagi."
Mendengar perkataan Gio Tiara langsung duduk di bangkunya. Lalu mengingat pertemuan pertamanya dengan Gio.
"Kita berfoto," ajak Gio yang membawa Tiara ke depan papan tulis. Masih ada sisa riasan kelulusan sehingga Tiara bisa berfoto di sana.
"Kita hanya berdua, aku ingin berfoto dengan teman-temanku," ucap Tiara dengan raut wajah yang sedih.
Gio berjalan ke arah jendela, bibirnya melengkung sesaat ketika melihat para siswa memasuki sekolah.
"Ngapain sih Gio nyuruh kita datang?" tanya Mytha.
"Entahlah," jawab Zy.
__ADS_1
"Pasti Gio akan menembakku di depan kalian semua, untuk kalian siap-siap saja jangan ada yang pingsan saat Gio mengungkapkan perasaannya padaku," ujar Angel yang sangat percaya diri.
Mytha dan Zy merasa mual mendengarnya. "Angel, kalau mengkhayal jangan ketinggian, nanti jatuhnya sakit tahu!" tegur Mytha.
"Benar," ujar Zy. "Sampai kapan sih kamu akan terus mengejar Gio?" tanya Zy.
"Zyana, Mytha … aku tahu kalian sangat iri padaku, lebih baik kalian diam saja berdoa untuk teman kalian yang sudah meninggal."
Perkataan Angel membuat Zy dan Mytha kesal, ingin sekali mereka menghajarnya.
"Eh itu Revan dan Nico," teriak mereka semua ketika melihat Revan dan Nico turun dari kuda besinya.
"Rev, apa Gio mengundang teman sekelas? Untuk apa? Dan kita diminta memakai seragam juga," ujar Nico.
"Entahlah, lebih baik kita masuk saja." Revan dan Nico pun masuk ke dalam sekolah.
Gio melangkah mendekati Tiara yang masih berdiri di depan papan tulis. Gio tersenyum, seraya menggenggam tangan Tiara.
"Kamu ingin berfoto dengan teman-teman, kan? Keinginan mu akan terwujud tapi …," ucap Gio terhenti.
"Tapi apa?" tanya Tiara yang menatap Gio.
"Setelah ini," jawab Gio.
"Setelah ini?" Tiara mulai bingung dengan perkataan Gio.
Perlaha Gio mendekat, menatapnya wajahnya dengan lekat. Tiara tertegun ketika benda kenyal milik Gio mendarat di bibir ranumnya. Sentuhan itu sangat lembut, membuat Tiara terenyuh hingga menutup mata, merasakan sentuhan yang Gio berikan.
Kini kedua benda kenyal itu saling menyesap dan membelit. Hingga mereka tidak sadar kehadiran teman-temannya.
"Apa ini?" tanya Zy.
"Apa Gio ingin memperlihatkan kemesraannya," ujar Mytha.
"Tapi siapa wanita itu?" tanya Nico yang masih tercengang.
"Yang pasti bukan Angek," jawab Zy yang melirik Angel. Ingin rasanya Zy tertawa melihat kekesalan Angel.
"Angel, khayalanmu tidak jadi kenyataan," ujar Mytha semakin membuat Angel kesal.
"Gio!" teriakan Angel mengejurkan Gio dan Tiara yang langsung melepaskan pagutannya.
Sedetik Tiara menoleh, membuat mereka semua terkejut.
"H-Hantu."
__ADS_1