Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Masalah Setelah Pertunangan.


__ADS_3

"Papa!" teriak Susan memanggil suaminya.


Susan terus berlari menuruni tangga seraya membawa gaun putih yang dia temukan. Susan tidak berhentinya menangis dan merasa panik.


"Papa … Papa!"


"Ada apa Ma? Kenapa berteriak?" tanya Danu yang ikut panik. "Kenapa dengan gaun itu?" tanyanya melihat Susan mengambil gaunnya.


"Lihatlah ini." Kata Susan seraya menunjukkan gaun pada Danu. Seketika mata Danu membulat dan tercengang. "Apa karena ini Tiara membatalkan pertunangan? Tiara tidak baik-baik saja. Di mana Tiara Pa? Di mana?" tanya Susan dengan nada panik.


Mereka berdua langsung berlari ke luar di mana halaman tempat pesta dimulai. Namun, mereka dikejutkan dengan keadaan Tiara yang berada dalam pangkuan Revan.


"Tiara!" teriak Susan dan Danu. Sedetik Revan pun menoleh ke arah sumber suara. Revan hanya diam ketika Danu mengambil alih Tiara ke dalam pangkuannya dan membawanya ke dalam mobil.


Revan yang kebingungan menawarkan diri untuk menjadi supir. Danu pun membolehkan yang terus mendekap Tiara dan Susan yang terus menangis. Revan hanya melihat itu dari balik cermin di atas kepalanya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Revan lontarkan apa yang sudah terjadi pada Tiara.


Hingga saat sampai di rumah sakit seorang Dokter dan perawat sudah menunggunya. Segera mereka membawa Tiara ke ruang unit gawat darurat.


"Apa yang terjadi pada Tiara?" tanya Dokter pada Susan dan Danu.


"Sepertinya Tiara mimisan. Aku melihat darah pada gaunnya," jawab Susan. Dokter itu pun mengerti dan harus bertindak cepat.


Revan hanya diam menatap kepergian mereka. Sedikit percakapan Susan dan Dokter Revan dengarkan membuat Revan semakin penasaran. "Sepertinya Tiara bukan untuk pertama kalinya masuk rumah sakit," gumam Revan yang memasuki rumah sakit lebih dalam.


Revan masih melihat Susan yang sangat panik menunggu di ruang UGD seorang Dokter keluar seraya mendorong tubuh Tiara di atas brankar. Mereka memindahkan Tiara ke ruang VIP.


"Apa Tiara harus di rawat? Sebenarnya sakit apa Tiara?" tanya Revan pada dirinya sendiri.


***


Di sekolah Gio masih jadi bahan gunjingan karena pertunangan yang batal itu. Tidak hanya Gio Tiara pun menjadi bahan omongan dan dialah orang yang paling mendapat kritikan pedas, di tambah setelah hari itu Tiara tidak masuk sekolah.


Mereka menganggap jika Tiara malu karena ulahnya sendiri. Mytha dan Zy mereka hanya duduk melamun memikirkan temannya.


"Sudah satu minggu ini Tiara tidak masuk, apa menurutmu Tiara malu bertemu Gio?" tanya Mytha pada Zy.

__ADS_1


"Tidak mungkin," jawab Zy. "Pasti ada alasan lain kenapa Tiara tidak masuk sekolah," tambah Zy dengan wajah yang sedih.


Tiba-tiba wajah mereka menjadi tegang ketika Gio masuk ke dalam kelas. Apalagi tatapan Gio begitu menakutkan.


"Kenapa dia menatap kita seperti itu," tanya Mytha yang berbisik pada Zy.


"Entahlah," jawan Zy singkat. "Gio apa yang kamu lihat? Kenapa menatap kita begitu apa kita seorang penjahat." Zy memberanikan diri berbicara pada Gio.


"Ini mataku terserah menatap kalian seperti apa. Kalian benar-benar menggangguku," timpal Gio. Zy berdecak kesal ketika Gio keluar.


"Aku tidak bisa membayangkannya Zy, bagaimana jika Tiara masuk. Mungkin Tiara akan menjadi pelanpiasan amarah Gio," ujar Mytha membayangkan.


Gio keluar dari kelas berjalan ke arah taman. Tiba-tiba dia bertemu Revan yang hendak menuju kelas. Sesaat mereka saling diam dan memandang sebelum akhirnya Gio melangkah melewati Revan.


Namun, perkataan Revan menghentikannya. "Gio, apa kamu tidak menjenguk Tiara?" tanya Revan membuat Gio berbalik.


"Apa urusannya denganku? Aku bukan lagi tunangannya," ucap Gio dengan sinis.


"Mungkin Tiara memiliki alasan yang tidak ingin kamu ketahui," ujar Revan lagi menghentikan langkah Gio.


"Gio?" Panggilan seseorang mengalihkan pandangan mereka. Gio dan Revan menoleh pada seorang siswi yang berdiri di belakang Gio.


Sedetik mereka terdiam ketika melihat wajah Tiara. "Tiara," ucap Revan tapi tidak dengan Gio yang hanya diam seperti sedang menahan amarah. Tatapannya begitu tajam melihat Tiara di depannya.


"Gio …," ucap Tiara terhenti ketika Gio melewatinya. Bahkan Gio menepiskan tangan Tiara yang hendak menyentuh tangannya. Tiara segera berbalik menatap Gio yang melangkah pergi.


"Gio!" teriak Tiara yang hendak mengejar Gio tetapi Revan menahan tangannya.


Tiara berbalik menghadap Revan. "Bagaimana keadaanmu apa sudah lebih baik?" tanya Revan yang masih menggenggam tangan Tiara. Gio tersenyum sinis saat berbalik dan yang dia lihat Revan menggenggam tangan Tiara.


Dengan penuh emosi Gio pergi meninggalkan mereka.


Tiara dan Revan berada di pinggir lapangan. Mereka masih saling diam sebelum akhirnya Tiara berkata, "Aku harus meminta maaf pada Gio, aku harus menjelaskan padanya," ucap Tiara.


"Apa Gio sudah tahu penyakitmu sebelumnya?" tanya Revan yang mendapat anggukan dari Tiara. "Lebih baik kamu tidak peelu menjelaskan apa pun dan tidak perlu meminta maaf," tambah Revan.

__ADS_1


"Tapi …," ucap Tiara tertahan karena Revan menyanggahnya.


"Apa kamu tidak lihat sikap Gio tadi? Dia memang keras kepala," ujar Revan yang kesal pada sikap Gio. Tiara juga bingung harus melakukan apa dia sadar apa yang sudah dilakukannya salah.


Hingga saat akan memasuki kelas Tiara bertemu lagi dengan Gio. Gio masih mengingat genggaman tangan Revan pada Tiara, sehingga Gio semakin marah. Dan Tiara dia merasa bersalah tentang pertunangan itu dan harus menjelaskannya.


"Gio, aku ingin bicara," ujar Tiara menghentikan langkah Gio. "Aku minta maaf jika sudah …."


"Membatalkan pertunangan," sanggah Gio yang berbalik menatap Tiara. "Aku tidak mengerti apa maumu Tiara. Jika memang dari awal kamu tidak menginginkan pertunangan ini sebaiknya diakhiri dari awal, tapi kamu malah mengkahirinya saat pertunangan itu berlangsung," kata Gio dengan nada tinggi. "Apa kamu berniat mempermalukan ku?" tanya Gio dengan emosi.


"Tidak Gio, sama sekali aku tidak berniat seperti itu," ucap Tiara yang semakin merasa bersalah. "Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu, " tambah Tiara.


"Penjelasan. Apa kamu ingat terakhir kali kamu katakan saat di klinik? kamu menahanku untuk membatalkannya bukan," ucap Gio yang membuat Tiara tertegun.


Tiba-tiba Tiara teringat perkataannya saat di klinik. 'Aku sudah bilang aku terlalu bersemangat hari ini mungkin karena kita akan bertunangan. Apa kamu yakin akan membatalkannya? Bukankah kamu tidak ingin itu terjadi? Saat di rumah sakit kamu sampai mengejarku karena takut aku membatalkannya dan sekarang setelah semuanya akan terwujud apa kamu akan membiarkannya begitu saja?' Itulah yang Tiara katakan.


"Apa sekarang kamu sudah mengingatnya?" tanya Gio dengan sinis. "Pada akhirnya kamu sendiri yang membatalkannya, kamu sendiri yang menghancurkannya," ujar Gio dengan emosi. "Mulai saat ini jangan menggangguku lagi," katanya menegaskan.


"Lalu bagaimana dengan kenangan kita? Semua yang kita lalui selama ini apa kamu akan melupakannya begitu saja? Apa semua itu tidak membuatmu berarti Gio. Kita tidak jadi bertunangan bukan berarti aku memutuskan hubungan denganmu. Aku hanya menundanya saja," ucap Tiara berharap Gio mengerti.


"Apa mempermalukanku di depan semua orang termasuk kenangan? Apa kamu memikirkan itu? Kamu menolakku di hadapan semua orang. Aku tahu kamu hanya ingin mempermalukanku," ujar Gio.


"Gio?" Panggil Tiara lagi.


"Dengarkan baik-baik … aku tidak pernah menyukaimu dan berharap bertunangan denganmu. Aku melakukan semua itu karena orang tuaku dan satu hal lagi karena penyakitmu. Aku hanya kasihan padamu," ucap Gio begitu menyakitkan.


Gio pergi meninggalkan Tiara yang tanpa sadar telah meneteskan air mata.


...****************...


Jika sudah begini bagaimana? Author juga jadi sedih 😥 jangan biarkan author sedih ya readerku sayang. Berikan dukungan like dan komentarnya untuk author.


Love You All ❤❤❤


Salam orang sunda

__ADS_1


__ADS_2