
"Tiara sedang apa?" tanya Gio.
Tiara segera membasuh darah mimisannya dengan tissu lalu melemparnya. Tiara berdiri lalu menghadap Gio.
"Kumangnya jatuh, aku baru saja mengambilnya," ujar Tiara gugup.
"Ouh, ini aku sudah menemukan kardusnya," ujar Gio meletakkan kardus itu di atas rumput. Tiara membiarkan kumang-kumang itu berjalan dengan bebas.
****
Gio menghentikan motornya tepat di lampu merah, seorang gadis berhenti tepat di sampingnya. Awalnya Gio biasa saja mengacuhkan gadis itu, tetapi setelah melihat cincin yang tersemat pada jari manis si gadis membuatnya tertegun.
Sebab, cincin itu seperti milik Tiara. Dalam sedetik lampu merah meredup berganti lampu hijau si gadis pun pergi dengan motornya, Gio segera melajukan motor untuk mengikutinya.
Gadis itu terlihat santai melajukan motor, setelah melihat kaca spion gadis itu menoleh pada Gio. "Kenapa motor itu mengikutiku," ucapnya lalu mempercepat laju motornya.
"Sial!" Gio menggerutu karena motor itu semakin menjauh. Namun, Gio terus mempercepat laju motornya hingga menyelip motor sang gadis.
Ckitt …
Gadis itu langsung menghentikan motornya. Gio segera turun dan menghampiri gadis itu yang merasa takut, gadis itu berpikir jika Gio seorang preman atau begal.
"Turun!"
"Ada apa?"
"Turun!"
"Eh! Tolong!" teriak si gadis ketika Gio merampas cincin di jari manisnya.
"Jangan berteriak!" bentak Gio membuat gadis itu diam. Tatapan Gio begitu menakutkan.
"Kembalikan cincinku."
"Cincinmu? Kamu yakin ini cincinmu dari mana kamu membelinya? Apa kamu tahu cincin apa ini?"
"Kenapa bertanya begitu?" tanya gadis itu gugup.
"Sudah jelas ini bukan milikmu. Katakan kamu mencurinya bukan?"
"Jangan asal menuduh aku bukan pencuri."
"Lalu dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Gio dingin. Gadis itu hanya diam tidak menjawab.
"Dasar pencuri," ucap Gio lalu pergi meninggalkan gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu kembali ke rumah dengan rasa takut, bahkan dia hanya termenung sepanjang langkahnya. Sang ibu yang ada di dalam merasa aneh melihat putrinya.
"Rara, ada apa denganmu? Kenapa kamu bengong?" tanya sang ibu yang menghampiri Rara di atas kursi.
"Ibu katakan padaku di mana ibu membeli cincin itu?" tanya Rara.
"Cincin? Mm … Ibu menemukannya di rumah sakit, saat itu Ibu sedang menyapu lantai tidak sengaja menemukan cincin itu. Ibu pikiri cincin itu sangat bagus jadi ibu bawakan untukmu."
"Pantas saja, hari ini aku dituduh pencuri, pemilik cincin itu datang padaku," ujar Rara.
"Pemilik cincin? Tidak mungkin, awas jika dia perampok. Karena Ibu menemukan cincin itu di Singapur bukan di sini."
"Jika dia bukan pemiliknya kenapa laki-laki itu sampai mengejarku hingga menyanggah jalanku."
"Apa kamu ingat wajah lelaki itu?"
"Ingat." Jawab Rara sambil mengangguk.
"Kalau begitu jika ketemu nanti kamu hentikan dia, dan tanyakan cincin itu."
"Ibu, apa Ibu tahu cincin apa itu? Berlian, emas putih atau permata? Tidak, kan. Orang seperti kita mana tahu masalah itu. Tetapi lelaki itu tahu karena dia pemiliknya. Rara hanya takut dia menganggap Rara pencuri. Bagaimana jika dia melaporkan Rara ke kantor polisi?"
"Sudahlah jangan pikirkan itu lagi. Sekarang makanlah," ujar Ibunya menyajikan masakan di atas meja.
"Lain kali ibu jangan sembarang mengambil."
***
"Gio?" Panggil Tiara.
Malam ini Gio langsung datang ke rumah Tiara, menunjukkan cincin itu.
"Malam-malam kamu datang ada apa?" tanya Tiara heran.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu," ucap Gio.
"Tanya apa?"
"Apa aku boleh tahu selama ini kamu pergi ke negara mana?"
"Kenapa baru menanyakannya?"
"Jawab," ucap Gio dingin.
"Singapur," jawab Tiara.
__ADS_1
'Sejauh itu? Kenapa gadis itu bisa memiliki cincinnya, apa dia juga pernah pergi ke Singapur? Lebih baik aku tanyakan lagi nanti, aku harus tanyakan pada gadis itu,' batin Gio.
"Gio?" Panggilan Tiara mengejutkan Gio yang tengah melamun. "Apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?" tanya Tiara.
Gio diam sejenak lalu menghembuskan nafas dan berkata, "Tiara, aku ingin menanyakan suatu hal. Ini tentang kita," ujar Gio.
"Tentang kita?" tanya Tiara heran.
"Selama ini kita tidak pernah mengatakan bagaimana perasaan kita. Baik aku terhadapmu atau kamu terhadapku. Kita bertemu kerena tidak sengaja, dan kita bersatu karena perjodohan. Kali ini aku ingin menanyakan sesuatu hal penting … sangat penting tentang perasaanmu, Tiara … apa kamu menyukaiku?"
Pertanyaan Gio membuat Tiara terkejut. Gio segera menunjukkan cincin yang baru saja dia temukan, mata Tiara semakin terbelalak ketika melihat cincin itu.
"Gio dari mana kamu menemukan cincin itu?" Bukannya menjawab Tiara malah bertanya balik.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ujar Gio.
"Tanpa aku jawab kamu pasti sudah tahu bagaimana perasaanku," balas Tiara membuat Gio tersenyum.
"Itu artinya kamu menyukaiku. Tiara … cincin ini sudah hilang untuk kedua kalinya, yang pertama kamu menemukannya dan sekarang aku yang menemukan cincin ini. Sejauh apa pun kamu pergi, tetap akan kembali. Ke mana pun cincin ini hilang tetap dipertemukan lagi. Mulai detik ini aku tidak ingin kehilanganmu atau cincin ini, Tiara … maukah kamu menikah denganku?"
Mulut Tiara menganga lebar, hatinya semakin berdebar. Lamaran yang tidak terduga Tiara dapatkan. Hati kecilnya sangat bahagia, ketika kata itu Gio ucapkan, tetapi Tiara Ragu dengan kondisi tubuhnya, akankah Gio menyukai Tiara jika melihat wajah dan bentuk rambut Tiara yang sesungguhnya.
"T-Tiara?"
Tiara masih diam belum menjawab.
"Sebelum aku menjawab, aku pun ingin menanyakan sesuatu hal penting padamu. Jika suatu saat nanti kamu mengetahui bahwa aku sudah membohongimu apa kamu akan memaafkan ku?" tanya Tiara.
"Tentu, aku akan memaafkan kesalahanmu," jawab Gio.
"Jika kenyataannya aku tidak secantik yang kamu kira, apa kamu akan tetap mencintaiku?"
"Ya," jawab Gio singkat.
"Bagaimana jika penyakitku tidak bisa disembuhkan dan aku harus pergi untuk selamanya?"
"Aku yakin kamu tidak pergi meninggalkan ku lagi. Dan jika penyakitmu itu datang, aku akan setia menemanimu sampai akhir," jawab Gio membuat Tiara menitikkan air mata.
'Aku takut Gio, kamu malah pergi meninggalkan ku ketika tahu kepala botakku, dan aku takut jika kamu membenciku karena aku sudah membohongimu," batin Tiara.
Gio mendekat, lalu mengahapus air mata Tiara dengan tangannya. "Apa pertanyaanku membuatmu sedih?" tanya Gio.
Tiara mendongak lalu menatap Gio. "Aku bahagia karena ada seseorang yang menginginkanku menjadi istrinya. Walau dia tahu kekuranganku yang tidak tahu apa aku akan selalu menemaninya atau tidak."
Gio segera memeluk Tiara setelah mengatakan itu. Tiara semakin terisak dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku anggap kamu telah menerima lamaranku, aku janji akan menjagamu seperti matahari yang selalu menjaga sinarnya untuk menerangi dunia," ucap Gio, lalu menyematkan cincin itu ke jari manis Tiara.