
Tiara sudah berdandan cantik hari ini. Tidak lupa Susan yang datang menjemput.
"Mama apa Gio tidak datang hari ini?" tanya Tiara membuat Susan tersenyum.
"Baru semalam bertemu sudah rindu lagi," kata Susan yang mengejek. "Gio sekolah sayang, mungkin nanti pulang sekolah Mama akan suruh Gio ke rumah." Susan berkata seraya mengemas baju-baju Tiara.
Tiba-tiba pintu terdengar diketuk dari luar. Susan pun melangkah mendekati pintu untuk membukanya. Susan tertegun ketika melihat Bella yang tersenyum.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Bella pada Susan.
"B-Boleh," jawab Susan gugup. Bella pun melangkah memasuki kamar.
Tiara menatap heran pada Bella yang tidak dikenali tetapi merasa tidak asing melihat wajahnya. Sepertinya Tiara pernah melihat Bella di suatu tempat.
"Maaf apa kamu Nyonya Bebi yang di TV itu?" tanya Susan yang merasa kenal dengan wajah Bella. Bella hanya mengangguk Nyonya Bebi adalah nama panggilannya dalam drama yang dia mainkan.
Susan dan Tiara saling pandang hingga akhirnya melongo tidak percaya bisa bertemu dengan publik figure yang terkenal.
"Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu, bagaimana bisa kamu datang ke sini?" tanya Susan.
Bella hanya tersenyum lalu melirik ke arah Tiara. Semalam Bella melihat Gio yang begitu bahagia bersama Tiara. Bella hanya ingin tahu apa hubungan Tiara dengan Gio.
"Aku tidak sengaja melihat kembang api semalam, dan aku melihat putrimu kamukah yang menyalakannya?" tanya Bella yang langsung mendapat anggukan dari Tiara.
"Aku melihat ada seorang lelaki di sampingmu," ujar Bella yang langsung di sanggah Tiara. "Namanya Gio dia temanku," ucap Tiara membuat Susan tersenyum.
"Sepertinya kalian sangat akrab," ujar Bella lagi.
"Gio anak temanku," balas Susan yang langsung mendapat lirikan dari Bella. "Duduklah," titah Susan tetapi Bella menolaknya.
"Tidak usah, aku hanya sebentar. Sepertinya kalian juga akan pergi," ucap Bella yang melihat barang-barang yang sudah dikemas.
"Iya, hari ini Tiara dibolehkan pulang," ujar Susan.
"Syukurlah, o ya Mirna tolong berikan padanya." Perintah Bella pada asistennya seorang wanita yang membawakan hampers untuk Tiara.
Wanita yang bernama Mirna itu pun memberian nya pada Tiara. "Semoga kamu cepat pulih ya, O iya kalau boleh tahu di mana sekolahmu?" tanya Bella entah hanya sekedar basa-basi atau ingin mengetahui sekolah Gio.
"High School," jawab Tiara. "Nyonya apa aku boleh minta fotomu?" sambung Tiara.
"Tentu." Bella pun mengizinkan mereka mengambil potretnya. Tidak lupa Susan pun ikut serta dalam selfie. Setelah melakukan itu Bella pamit pergi.
"Terima kasih sudah menjenguk putriku," ujar Susan.
__ADS_1
"Sama-sama. Aku sedang shootting di sini dan melihat Tiara yang begitu menarik, sehingga aku datang kemari," ujar Bella dengan senyuman lalu pergi.
"Aku permisi," ucap Bella meninggalkan kamar Tiara.
"Nyonya kenapa bertanya tentang sekolahnya?" tanya Mirna asistennya.
"Aku hanya ingin tahu. Apa kamu tahu alasan gadis itu di rawat?" tanya Bella. Mirna pun menjawab, " Gadis itu sering di rawat di sini dia menderita kanker."
"Kanker? Kenapa Gio berteman dengannya," gumam Bella melanjutkan langkahnya.
***
Tiara sudah sampai di rumah dia langsung berlari ke arah taman. Mencium bunga mataharinya. Tiara merasa senang bisa melihatnya lagi.
Wajahnya yang bersinar tiba-tiba muram saat melihat halaman rumahnya. Tiara kembali terbayang saat Gio pergi di malam pertunangannya.
Tiara melangkah mendekati halaman itu, memindai sekeliling sambil membayangkan pesta yang pernah terjadi di sana. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu, Tiara langsung menunduk lalu berjongkok mengambil sebuah cincin yang dia temui.
Cincin itu adalah cincin pertunangan yang Gio lemparkan. Namun, Tiara hanya menemukan satu cincin saja tidak dengan pasangannya.
"Kemana satu lagi? Pasti ada di sekitaran sini," ucapnya lalu mencari cincin itu hingga menyibakkan rumput-rumput di bawah kakinya.
"Ketemu," ucapnya yang tersenyum.
"Ada Gio," kata Susan. Membuat Tiara semangat untuk berlari dan segera menemui Gio.
"Di mana Gio Ma?" tanya Tiara yang tidak melihat Gio di ruang tamu.
"Mungkin ke kamarmu" kata Susan. Tiara segera naik ke atas kamarnya. Benar saja Gio sedang berada di dalam kamar Tiara melihat-lihat seisi kamar.
"Gio!" teriak Tiara yang berlari. Sedetik Gio berbalik menghadap Tiara. Gio terkejut matanya membulat seketika ketika Tiara memeluknya. Gio hanya terdiam tubuhnya merasa kaku apalagi kedua tangannya yang tidak mampu membalas pelukan Tiara.
Tiara segera melepaskan pelukan itu segera setelah tersadar.
"Mm … apa kamu mau minum? Aku akan ambilkan," kata Tiara canggung lalu pergi meninggalkan kamar. Gio pun masih merasa canggung yang bingung harus melakukan apa.
Gio kembali melihat-lihat seisi kamar Tiara yang berwarna pink dan boneka bear, Gio tersenyum ketika melihat boneka bear pemberiannya, ternyata Tiara masih menyimpannya.
Gio kembali menaruh boneka itu lalu melangkah menuju lemari. Gio teringat apa yang dikatakan Susan, dan Gio sangat penasaran seperti apa gaun putih itu. Ketika membuka lemari Gio tidak melihat gaun putih yang penuh darah mungkin Susan sudah membuangnya.
Segera Gio menutup kembali pintu lemari itu sebelum Tiara datang.
"Gio aku membawakan mu jus dan brownis apa kamu suka?" tanya Tiara yang menyimpan kue dan jus itu di atas meja. "Kamu kenapa diam di situ?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Aku hanya melihat-lihat kamarmu, penuh dengan warna," jawab Gio lalu melangkah ke arah ranjang dan duduk di sana.
"Apa kamu sangat menyukai warna pink?" tanya Gio.
"Ya. Warna yang cerah dan ceria dan lambang cinta," jawab Tiara membuat Gio tertawa.
"Kenapa tertawa?" tanya Tiara.
"Lucu saja, ada warna sebagai lambang cinta," jawab Gio lalu meneguk jusnya.
"Jangan mengejek. Gio apa kamu mau melihat bunga matahariku? Ayo."Belum sempat Gio menjawab Tiara langsung membawanya turun ke halaman belakang.
Tiara memperlihatkan bunga-bunga matahari yang semakin tumbuh dan mekar. " Aku merawatnya dengan baik bukan," kata Tiara yang menyentuh lembut bunga-bunganya.
"Aku juga punya sesuatu untukmu," ujar Gio.
"Apa? Aku tidak ulang tahun seharusnya aku yang memberikan hadiah untukmu," kata Tiara.
"Ulang tahunku sudah lewat," ujar Gio. "Tutuplah matamu," titah Gio. Tiara hanya menurut. Gio mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sakunya.
"Bukalah," titah Gio. Sedetik Tiara membuka mata yang tertegun melihat bunga matahari kecil yang begitu indah dengan rantai emas putih yang mengkilap.
"Aku ingat kamu menyukai bunga matahari jadi aku belikan khusus untukmu. Harapanmu akan semakin kuat jika memakai kalung ini, karena kekuatan matahari ada bersamamu tidak hanya menemanimu," ucap Gio membuat Tiara sedih.
Tanpa terasa titik air mata jatuh membasahi pipinya, Gio segera memakaikan kalung itu pada Tiara. "Harapanmu akan menjadi kenyataan, kamu seperti matahari akan terus hidup menyinari bumi," ucap Gio lalu menghapus air mata Tiara dengan kedua telapak tangannya.
Tiara tidak bisa menahan tangisnya yang semakin tersedu-sedu. "Jika kamu menangis bunga mataharimu akan layu, dan lihat." Tunjuk Gio ke atas langit. "Awan pun mendung, karena matahari menghilang," kata Gio lalu menatap Tiara yang langsung menghapus air matanya.
"Siapa bilang aku menangis. Aku terlalu bahagia," ucap Tiara membuat Gio tersenyum.
"Gio, aku juga punya sesuatu untukmu," ucap Tiara membuat Gio menatapnya.
"Apa? Jangan bilang hadiah ulang tahunku," katanya. Tiara tidak menjawab yang langsung merogoh saku roknya, sepasang cincin dia perlihatkan membuat Gio terkejut melihatnya.
"Aku menemukannya di sana." Tunjuk Tiara pada rumput hijau yang membentang. "Karena aku cincin ini menjadi pelanpiasan mu. Dia dibuang seperti tidak ada arti. Gio, aku ingin menyimpannya apa boleh?" tanya Tiara pada Gio yang masih terdiam.
Gio masih ingat saat dia membuang cincin itu yang seharusnya ada di jari manis Tiara.
"Untuk apa kamu menyimpannya?" tanya Gio membuat Tiara diam. Gio mengambil satu cincin dengan berlian pada tangan Tiara lalu berkata, "Cincin ini seharusnya kamu pakai bukan di simpan." Kata Gio seraya menyematkan cincin itu pada jari manis Tiara.
"G-Gio." Tiara berkata seraya menatap jari manisnya.
"Kenapa diam? Pasangkan cincin itu pada jari manisku," titah Gio membuat Tiara melongo.
__ADS_1