Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Koma


__ADS_3

Baru saja Gio turun dari mobilnya tiba-tiba sekumpulan wartawan mengerumuninya, Gio langsung menghalangi wajahnya dari sinar kamera.


"Apa ini," ketusnya.


"Gio, apa benar anda anaknya Bella? Tolong katakan?" tanya seorang wartawan.


"Bagaimana perasaan anda setelah bertemu ibu kandung yang ternyata seorang artis?" tanya wartawan satunya lagi.


Gio sangat kesal karena kamera dan mikropon yang terus mengarah padanya. Hingga mendorong tubuhnya, Gio tidak segan-segan melempar kamera dan mikropon itu.


Bahkan tingkah Gio di tonton semua orang yang melihat acara live tersebut.


"Kenapa dengan wajahnya?" Para wartawan tertegun melihat luka di wajah Gio. Namun, Gio tidak peduli dengan tatapan mereka semua yang langsung memasuki sekolah.


"Gio! Gio!" teriak para siswa yang kepo. Gio tetap melangkah mengabaikan mereka semua.


Langkah Gio terhenti ketika melihat Nico dan Revan di dalam markas mereka. Revan bangun dari duduknya memilih untuk pergi, bahkan mereka belum saling menyapa sampai saat ini.


Gio melangkah menuju kursi dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Gio, apa benar tentang kabar itu?" tanya Nico yang menghampiri Gio.


"Kabar apa?" tanya Gio datar.


"Bahwa kamu anak Bella bintang ternama itu," jawab Gio.


"Menurutmu," ucap Gio dingin.


"Jadi benar?" Nico segera mendekat ke arah Gio. "Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?" tanya Nico. Gio malas bicara yang hanya diam tidak menjawab apa pun.


"Ah, kamu ini. Kenapa lagi dengan wajahmu?" tanya Nico lagi.


"Semalam aku masuk penjara, ini perbuatan ayahku," jawab Gio santai yang tiduran di atas sofa.

__ADS_1


"Gio, kenapa lo sampai sefrustasi itu? Gue tahu lo kehilangan Tiara tapi jangan begitu, biasanya juga lo gak kaya gini jika ditinggal cewek. Dan satu hal lagi Revan sudah berkata jujur, Tiara memang tidak memberitahukan keberadaannya dan mereka hanya satu kali membalas pesan. Tiara mengkhawatirkan mu yang menanyakan kabarnya pada Revan, mungkin Tiara punya alasan kenapa dia tidak menghubungimu," ucap Nico panjang lebar tetapi tidak di dengar Gio.


"Berbaikanlah dengan Revan, kita ini sahabat jangan ada pertengkaran lagi," ucap Nico lalu pergi meninggalkan markas.


Gio tertegun memikirkan perkataan Nico, sedangkan Revan diam melamun di dalam perpustakaan. Dia membuka buku tapi seolah tidak membacanya, Revan menutup buku itu lalu menatap jendela yang memperlihatkan cahaya mentari yang begitu silau.


Beberapa hari lalu Revan sempat mengirimkan sebuah pesan pada Tiara, hubungannya dengan Gio semakin memburuk. Revan berusaha menanyakan apa alasan Tiara tidak memberitahukan keberadaannya dan harus merahasiakan dari mereka semua.


Akhirnya pertanyaan itu sudah Tiara jawab lewat sebuah pesan.


Maafkan aku Revan, aku tidak bisa memberitahu kalian. Kenapa aku menghindar, karena aku tidak ingin Gio kecewa. Aku berada di suatu tempat yang sedang berusaha agar tetap bertahan hidup. Jika hidupku masih panjang kita akan bertemu lagi, tapi jika tidak … maafkan aku, aku tidak bisa bertahan.


Hanya itulah pesan dari Tiara yang Revan ingat. Revan berpikir jika Tiara sedang tidak baik-baik saja. Mungkin penyakitnya kambuh.


Dan di sebuah tempat rahasia, Tiara saat ini dalam keadaan koma. Tubuhnya hanya berbaring tanpa bergerak, beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Hanya denyutan jantung dari monitor yang terdengar. Tidak ada satu pun yang menemani Tiara di dalam sana.


"Ma?" Panggil Danu pada Susan yang masih berdiri di depan kaca ruang ICU.


Sudah satu bulan lamanya Tiara berada di dalam sana, semenjak keputusasaan nya pada hidup. Bahkan tidak ada yang tahu apa Tiara akan kembali sehat atau sebaliknya. Dan sekarang hanya mesin monitorlah yang membantu detakan jantungnya.


Danu langsung merangkul Susan. "Tiara saja bisa bertahan kenapa kamu tidak bisa? Siapa yang akan Tiara lihat saat terbangun jika bukan kamu ibunya. Dia akan sedih jika melihatmu sakit." Danu berkata dengan lembut, dia terus membujuk sang istri agar mau makan.


Akhirnya setelah lama merayu Susan menurut pada Danu. Mereka pergi meninggalkan ruang ICU menuju kantin. Tiba-tiba beberapa Dokter dan perawat memasuki ruang ICU.


Di ujung lorong rumah sakit seorang petugas kebersihan sedang menyapu sudut lantai yang tidak sengaja menemukan sebuah cincin.


Petugas itu segera mengambilnya. "Cincin siapa ini? Bagus sekali," ujar petugas itu lalu memasukan cincin itu ke dalam sakunya.


Tidak berselang lama Danu dan Susan melewatinya.


"Dokter detakan jantungnya semakin melemah," ujar seorang perawat yang memantau monitor.


"Berikan alat pacu jantung," ujar seorang Dokter mereka terlihat panik.

__ADS_1


Susan dan Danu baru saja keluar dari lift, mereka terlihat tenang dan tertawa, seketika tawa mereka terhenti ketika tiba di depan ruang ICU. Susan langsung berlari ingin melihat ada apa di dalam sana.


Kepanikannya semakin terlihat ketika seorang Dokter terus menancapkan alat pacu jantung pada dada Tiara.


"Tiara! Papa kenapa dengan Tiara?" tanya Susan histeris yang lengsung berlari masuk ke dalam. Namun, seorang perawat menghentikan langkahnya ketika Susan akan masuk.


"Maaf Bu, sebaiknya Ibu tunggu di luar," kata seorang perawat.


"Aku ingin melihat anakku. Biarkan aku melihat Tiara!" teriak Susan.


"Maaf ya Bu, Dokter sedang menanganinya jadi jangan ganggu kami. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Ibu dan Bapak berdoa saja," ujar seorang perawat lalu menutup pintunya.


Susan hanya bisa pasrah dan menangis dalam pelukan Danu.


***


Gio turun dari sebuah taksi. Namun, bukan di depan rumahnya melainkan di depan sebuah rumah sakit. Gio tertegun sesaat menatap ke atap sana lalu melangkah memasuki rumah sakit.


Tujuannya bukan untuk menjenguk atau berobat. Gio berada di atap tempat favoritnya dengan Tiara. Banyak kenangan yang mereka lukis, sepasang netranya terus memindai sekeliling atap.


Entah Tiara selalu datang atau tidak ke tempat itu. Gio mendaratkan bokongnya di atas sofa, mendongak menatap langit cerah di atas sana. Bunga matahari mulai layu seperti tidak terawat.


"Kenapa kamu suka bunga matahari?"


"Karena menyukainya. Bunga ini adalah harapanku."


"Harapan?"


"Aku berharap akan seperti matahari yang terus menyinari bumi, selalu bercahaya sepanjang waktu yang tidak pernah lelah. Hidupnya sangat panjang yang tidak akan lenyap sampai hari akhir."


Gio kembali mengingat perkataan Tiara. Gio melangkah mendekati bunga matahari pada pas bunga.


"Kamu yang pandai merawat bunga, sekarang bunga ini layu semenjak kepergiaanmu," ucap Gio menyentuh bunga itu. "Kamu pernah mengatakan jika bunga ini seperti nyawamu, jika bunga ini layu … lalu bagaimana denganmu?" tanya Gio yang mengkhawatirkan Tiara.

__ADS_1


Tut … tut … tut …


Suara aneh dari dalam monitor diikuti sebuah grafik lurus yang tergambar. Dokter dan perawat semua terdiam melihat layar monitor itu.


__ADS_2