
"Kamu istirahat saja, biar aku yang kerjakan." Gio berkata sambil mengambil alih piring-piring yang Tiara cuci.
"Biar aku yang lakukan," ucap Tiara yang kembali mengambil piring-piring itu.
Gio menatap Tiara dingin, ada rasa kesal karena Tiara tidak menurut padanya. Dengan marah Gio melempar busa sabun lalu pergi.
Tiara hanya bengong menatap kepergiaan Gio, sikap Gio mulai aneh setelah kepulangan teman-temannya. Tiara, melangkah ke kamar setelah semua cucian selesai.
Gio berdiri di depan ranjang dengan pakaian yang berbeda. "Kamu mau ke mana?" tanya Tiara, melihat Gio berpakaian layaknya anak motor.
"Apa kamu marah karena aku tidak menurut? Dan aku terus mencuci piring." Rasanya tidak mungkin jika Gio marah karena hal itu.
Dengan ragu Tiara mendekat, tetapi Gio malah menghindar, mengambil helm fullfacenya lalu pergi.
"Gio!" teriak Tiara yang mengejar Gio.
Entah, apa yang yang terjadi pada Gio, tadi pagi pria itu baik-baik saja, setelah kepulangan teman-temannya Gio kembali kepada sikapnya yang dulu.
Tiara tahu Gio pasti pergi untuk balapan, dan berniat menyusulnya. Tiara kembali ke dalam kamar, mengambil baju hangat serta topi rajut untuk menutupi kepalanya. Satu buah taksi sudah terparkir di depan rumah, Tiara memesan taksi online sebagai kendaraannya.
"Mbak, kita mau ke mana? Wajah Mbak pucat sekali," ujar seorang supir.
"Apa Bapak tahu tempat tongkrongan anak motor?" tanya Tiara.
"Geng motor maksudnya? Untuk apa ke sana? bahaya," jawab si supir.
"Antarkan saya ke sana ya Pak."
"Tapi …."
"Jalan saja, Pak," ucap Tiara si supir pun tidak bisa membantah yang langsung menjalankan mobilnya.
Tangan gemetar Tiara saling menggenggam, Tiara takut jika Gio melakukan hal-hal yang aneh, yang menyebabkan tubuhnya cedera.
Tiara semakin bingung dengan sikap Gio yang tiba-tiba marah padanya.
Gio menjalankan motor itu dengan cepat, tatapan yang dipancarkan sangat tajam dan menakutkan. Revan membuatnya cemburu hari ini, tanpa bertanya dan meminta penjelasan pada Tiara Gio pergi begitu saja meluapkan emosinya.
Pengobat hatinya hanya dengan balapan liar.
"Hai Bro," panggil sang teman.
Gio hanya diam tanpa menyahut. Laki-laki itu duduk di antara pemuda yang berkumpul sambil berpesta.
__ADS_1
"Ambilkan satu gelas buat sobat kita," ujar seorang pria tetapi di sanggah Gio.
"Gue mau balapan," ucap Gio dingin.
"Santai saja kali, kita minum dulu," ujar temannya. Tetapi Gio tidak ingin minum dan langsung menaiki motor menuju area balap.
Para pemuda yang melihat itu tidak ingin kalah yang langsung berbaris di area balap.
"Gio lo pasti ada masalah. Gue saranin lupakan masalah lo jangan sampai lo jatuh seperti kemarin." Seorang pemuda meremehkannya.
Namun, Gio tidak peduli. Masalah memang tidak bisa Gio lupakan, tetapi tidak membuat Gio kalah malah membuat aksi balapnya semakin cepat menyusul pemotor lain.
Bayangan Tiara dan Revan pun terlintas, Gio melihat Revan memeluk Tiara. Namun, semua itu tidak seperti yang Gio lihat.
Beberapa jam yang lalu, Revan terus diam tidak ikut ngobrol bersama Nico. Gelang kupu-kupu digenggamnya, Revan berniat memberikannya pada Tiara.
Di luar sana Tiara yang di olok-olok Mytha dan Zy terus melangkah menghindari mereka yang ingin bertanya tentang malam pertamanya.
Dari dalam Revan tersenyum melihat itu, yang langsung bangkit dan melangkah ke halaman belakang. Gio yang masih duduk terus memperhatikan, hingga akhirnya berdiri lalu pergi menyusul Revan.
"Tiara," panggil Revan mengejutkan Tiara.
Langkah Tiara terhenti seketika dan hampir menabrak tubuh Revan, Tiara mundur dengan tidak hati-hati, tubuhnya oleng yang hampir terjatuh jika Revan tidak langsung meraih pinggang rampingnya.
Bersamaan dengan itu Gio datang, dalam sekilas Revan dan Tiara seperti berpelukan tetapi tidak, jika melihatnya dari dekat.
"Revan," ucap Tiara.
"Kamu selalu saja ceroboh, bagaiman jika jatuh," ujar Revan. "Terimalah ini, aku ingin memberikannya padamu sejak lama, tapi aku baru bisa memberikannya sekarang."
Tiara menerima gelang kupu-kupu pemberian Revan. "Terima kasih gelangnya cantik sekali, kenapa kamu selalu memberikan kupu-kupu?" tanya Tiara terus menatal kupu-kupu kecil pada gelang rantainya.
"Karena aku menyukainya," jawab Revan. Tatapan pria itu sangat tulus pada Tiara.
"Tiara!" Panggilan Zy dan Mytha, membuat Tiara berlari ke dalam rumah. Tiara takut jika kedua temannya itu bertanya lagi tentang malam pertama di depan Revan.
"Revan, aku masuk dulu." Belum sempat Revan menjawab, Tiara sudah memasuki rumah.
Tiara menyiapkan makanan untuk teman-teman, dibantu Zy dan Mytha. Mereka menyajikannya pada piring lalu dibawa ke meja makan.
Gio, menghampiri Tiara yang langsung melihat gelang yang dipakai istrinya. "Dari mana gelang itu? Aku tidak pernah memberikannya," ucap Gio sedikit sinis.
"Ini, barusan Revan berikan. Bagus, kan?"
__ADS_1
"Biasa saja," cetus Gio lalu pergi membawa beberapa hidangan yang tertinggal.
"Kenapa dengannya," ucap Tiara lalu melangkah mengikuti Gio.
Tiara duduk berhadapan dengan Gio dan Revan, saat akan memulai makan malam Revan, memberikan beberapa lauk untuknya. Bersamaan dengan itu Gio juga melakukan hal yang sama.
Nico, Zy dan Mytha terdiam, mereka memandang Revan yang perhatian pada Tiara, lalu melirik pada Gio yang memasang muka kesalnya.
"Tiara aku ingin memberikannya juga untukmu," ujar Nico yang juga memberikan beberapa lauk pada piring Tiara.
"Kalian berdua kenapa hanya diam?" tanya Nico pada Zy dan Mytha. "Bukankah kita menyambut kepulangannya," tambah Nico dengan isyarat mata, Zy dan Mytha pun mengerti.
"Ah iya, Tiara kami senang kamu sudah pulang dan sembuh, kamu harus makan yang banyak," ujar Mytha dan Zy memecah keheningan.
"Gio, kenapa hanya diam, suapi Tiara," kata Nico lagi.
"Benar, tunjukkanlah keharmonisan kalian pada kami," ujar Mytha dan Zy. Mereka berharap bisa menghilangkan kekesalan Gio.
"Kalian juga makanlah," ujar Tiara memecah keheningan.
Revan hanya diam yang fokus pada makanannya. Gio melirik Revan sekilas, lalu menyuapi Tiara. Nico, Zy dan Mytha merasa lega karena Gio tidak lagi marah dan diam. Makan malam pun berjalan lancar hingga mereka semua meninggalkan rumah Tiara.
Namun, saat mencuci piring sikap Gio kembali dingin, hanya karena melihat gelang itu lagi. Hingga Gio pergi mengunjungi teman-teman balapnya.
.
.
Tiara turun dari taksi, melihat ramainya anak muda di ujung jalanan sepi, tiba-tiba Tiara mengingat kejadian masa lalu, saat seorang pemotor menyerepet tubuhnya.
"Di mana Gio," ucap Tiara yang terus berjalan mendekati para pemuda itu.
Dari jauh Tiara masih bisa melihat balapan yang berlangsung, Gio sebagai pemimpin yang hampir sampai di garis finish, tiba-tiba menghentikan motornya saat melihat Tiara dari jauh.
'Tiara,' batin Gio.
"Gio ngapain lo bengong? Sedikit lagi lo akan menang!" Seorang pria berteriak mengingatkannya.
Segera Gio melajukan motor itu melebihi garis finish, Gio segera membuka helmnya dan menatap Tiara. Tiba-tiba seorang gadis mencium pipinya Tiara terbelalak seketika.
"Apa-apaan lo cium gue!" bentak Gio dengan emosi.
"Santai saja Gio, kenapa si lo," ujar seorang pria yang menganggap masalah itu enteng.
__ADS_1
Gio segera turun ketika tidak melihat Tiara. Dia berlari ke arah di mana Tiara berdiri, tetapi Gio tidak menemukan istrinya itu.
"Di mana Tiara," ucapnya lalu kembali ke arah motor menaikinya lalu pergi mencari Tiara.