
"Tiara …." Panggil Susan dengan ekspresi wajah terkejut.
"Mama," ucap Tiara setelah berbalik. Tiara sedikit gugup tetapi mencoba untuk tersenyum.
Susan melangkah pelan ke arah Tiara yang masih berdiri di depan cermin. "Ada apa dengan gaunmu?" tanya Susan melihat gaun Tiara yang berbeda bentuk dan warna.
"Tiara ingin memakai ini saja. Sedikit lebih pendek dan simple," jawab Tiara yang sudah mengganti gaun putih itu dengan gaun yang lebih pendek dan sederhana.
"Bukankah kamu ingin memakai gaun putih? Mana gaun putihnya?" tanya Susan yang akan mencari di dalam lemari tetapi Tiara tahan.
"Mama apa Gio sudah datang? Lebih baik kita keluar saja Tiara sudah siap," ujar Tiara menghentikan Susan. Entah di mana Tiara menyembunyikan gaun itu, gaun yang penuh dengan darah.
Tiara langsung menuntun tangan Susan keluar, Tiara terus berbicara untuk menghilangkan kecurigaan ibunya.
Beberapa jam lalu, Tiara sangat kesakitan berulang kali dia memuntahkan cairan kental merah yang keluar dari mulutnya dan menahan darah mimisan yang terus turun dari lubang hidungnya.
Tiara sudah tidak kuat, tubuhnya sudah sangat lemah dan wajah yang begitu pucat. Namun, Tiara tidak ingin mengecewakan teman-teman dan semua tamu yang datang apalagi Gio dan keluarganya. Hingga Tiara bangkit dan semangat lagi untuk berdiri.
Tiara mulai mencari gaun baru yang mungkin cocok untuk malam ini karena gaun putih yang di pakainya sudah tidak mungkin lagi.
"Itu Tiara," ucap para tamu membuat Danu menoleh. Berbeda dengan Baskara dan Junita yang tersenyum melihat Tiara tetapi Danu dia tidak tersenyum karena melihat Tiara dengan gaun yang berbeda apalagi ketika melihat wajah Tiara yang begitu pucat.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gio setelah Tiara mendekat.
"Aku baik-baik saja," jawab Tiara. Namun, tidak dengan kedua tangannya yang mencengkram kuat ujung gaunnya. Tiara hanya bertahan sampai acara malam ini selesai.
Tiara terus memindai sekelilingnya, dia menatap sedih mereka semua. Apalagi saat melihat Gio, kotak cincin sudah di tangan dan Gio siap menyematkan pada jari manis Tiara.
Namun, Tiara menghentikannya.
"Gio, maaf aku tidak bisa bertunangan denganmu," ucap Tiara mengejutkan semua orang.
Gio baru saja ingin menyematkan cincinnya tertahan karena Tiara yang tiba-tiba membatalkan pertunangan. Ekspresi Gio semakin tidak bersahabat dia tidak mengerti apa maksud Tiara membatalkan pertunangan itu tepat di depan semua orang.
__ADS_1
Susan semakin terkejut dengan keputusan Tiara yang tiba-tiba padahal Tiara terlihat bahagia sebelumnya.
"Tiara apa maksudmu?" tanya Susan. "Maaf semuanya mungkin Tiara gugup, kita lanjutkan saja acaranya. Gio kamu bisa sematkan cincin itu sekarang," titah Susan menghangatkan suasana.
"Tiara saatnya pertukaran cincin jangan mengatakan hal konyol. Bukankah kamu menginginkan ini?" tanya Susan. Tiara menjawab dengan lantang.
"Tidak! Maafkan Tiara Mama … Papa Tiara tidak bisa melakukan ini, Gio maafkan aku," ucap Tiara membuat mereka semua terkejut.
"Ada apa dengan Tiara? Kenapa tiba-tiba membatalkan pertunangan ini. Apa dia sengaja ingin mempermalukan Gio," ucap para teman sekelasnya.
Gio terlihat sangat marah apalagi ketika mereka semua membicarakannya. Tatapanya kini tertuju pada Tiara, amarahnya semakin memuncak ketika melihat air mata yang Tiara keluarkan.
Gio pergi menginggalkan pesta tanpa sepatah kata pun. Bahkan kotak cincin yang dia pegang dibiarkan terjatuh begitu saja.
Nico langsung mengejar Gio, sedangkan Revan terus menatap Tiara. Dia ingin tahu apa alasan Tiara membatalkan pertunangan ini. Baskara dan Junita pun pergi merasa kecewa para undangan pun bubar.
Kini hanya ada Susan, Danu dan Tiara.
"Papa tidak tahu apa alasanmu. Tapi apa pun itu alasannya, tindakanmu salah, Nak. Kamu sudah mempermalukan keluarga Gio dan membuat semua orang kecewa," ucap Danu yang melangkah pergi.
Tiara hanya duduk sendirian di area pesta. Cincin yang sempat Gio buang dia ambil kembali. "Maafkan aku Gio, aku terpaksa melakukan ini," ucapnya yang menangis tersedu-sedu.
"Tiara?" Panggil seorang pria. Tiara mendongak menatap siapa pria itu.
"Revan," ucap Tiara ketika melihat Revan di depannya.
****
"Arghh!" teriak Gio.
Gio meluapkan semua emosinya yang terus memukul pintu mobil dengan tangannya. Nico yang melihat itu langsung menghampiri Gio.
"Gio, Gio, Gio! Hentikan aku mohon. Jangan sakiti dirimu, aku tahu kamu kecewa tapi mungkin Tiara punya alasan," ujar Nico.
__ADS_1
"Alasan apa? Aku sudah pernah ingin membatalkan pertunangan ini tetapi Tiara menolak dan tetap ingin bertunangan. Sekarang dia malah membatalkannya dia benar-benar membuatku kecewa." Gio langsung masuk ke dalam mobil meminta Nico untuk mengantarnya.
Di lain tempat Tiara dan Revan masih ada di area pesta. Mereka kini duduk berdua di tengah taman.
"Apa alasanmu membatalkan pertunangan?" tanya Revan. Tiara masih diam.
"Aku hanya belum siap," jawab Tiara.
"Apa selama ini kamu terpaksa? Aku mengerti perasaanmu, seharusnya mereka tidak terburu-buru," ujar Revan.
"Aku sudah membuat kesalahan dan membuat semua orang kecewa, Gio pantas membenciku. Orang tuaku marah, semua orang marah padaku."
"Jangan pikirkan perkataan orang, kamu yang merasakan dan memilih jalan hidupmu. Biarkan orang memandangmu seperti apa mereka tidak berhak menyalahkanmu," kata Revan.
"Aku tidak ingin menyakiti Gio lebih lama lagi, sehingga aku memilih untuk berhenti. Aku takut menjadi beban baginya," ucap Tiara yang terus menunduk. Revan hanya diam menatapnya.
Revan langsung berdiri mengajak Tiara untuk pulang. "Mari ku antar kamu pulang. Udara di luar semakin dingin," ajak Revan. Tiara hanya mengangguk lalu berdiri.
Langkah Tiara semakin kaku, rasa nyeri yang luar biasa kembali dia rasakan. Tiara tidak ingin melihatnya dalam keadaan lemah. Namun, Tiara tidak bisa menghindar, yang sudah tidak kuat lagi menahan.
"Revan kamu bisa pergi lebih dulu," ucap Tiara.
"Kenapa? Kita bisa pulang bersama, lagi pula jarak rumahmu sudah dekat tingga beberapa langkah lagi,," ucap Revan yang menolak untuk pergi.
"Justru itu karena jaraknya dekat sampai di sini saja. Kamu pasti lelah dan harus pulang."
"Apa aku harus membiarkan seorang gadis di luar sendirian," ucap Revan yang tersenyum lalu melangkah. Tiba-tiba Revan merasakan hal lain yang membuay langkahnya terhenti lalu berbalik. Matanya terbelalak ketika melihat Tiara yang sydah tergeletak di atas tanah.
"Tiara!" teriak Revan yang berlari ke arah Tiara. Revan benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Tiara yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Susan masih marah dan kecewa pada Tiara. Dia memasuki kamar Tiara untuk mencari gaun itu, ketika hendak membuka pintu lemari Susan melihat sebuah gaun yang terdampar di bawah ranjang tidur Tiara.
Sesaat Susan tertegun, dia merasa bingung kenapa Tiara menyimpan gaun itu di bawah ranjang tidurnya. Susan berjongkok dan langsung mengambil gaun itu, matanya membulat seketika saat melihat noda merah yang begitu banyak mengotori gaun putih itu.
__ADS_1