Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Demam


__ADS_3

Salah paham dan cemburu, hal yang wajar dan biasa bagi sepasang anak muda. Apalagi Tiara dan Gio, yang belum paham bagaimana kehidupan setelah menikah, hingga di antara mereka tidak ada yang mengalah terutama Gio.


Tiara duduk melamun di dalam kamar. Gio melangkah mendekat, setelah perdebatan yang singkat.


"Makanlah bubur ini sudah dingin," ucap Gio mendaratkan bokongnya di samping Tiara.


Tiara masih diam, mengalihkan pandangannya ke sisi ranjang. Gio mulai bingung, untuk pertama kalinya Tiara marah.


"Aku simpan di sini. Jangan lupa memakannya," ujar Gio lalu keluar dari kamar.


Namun, sampai sore bahkan Gio sudah pulang dari rumah temannya, bubur itu masih berada di atas nakas tanpa Tiara sentuh.


"Apa dia tidak makan dari pagi," gumam Gio lalu keluar dari kamar, pergi melangkah ke arah dapur.


Makan siang yang Gio siapkan masih tersimpan rapi di atas meja.


"Tiara!" teriak Gio emosi.


Gio yang kesal kembali ke dalam kamar, ingin sekali pria itu memarahi istrinya. Namun, saat akan membangunkan, Gio terkejut menyentuh tubuh Tiara yang semakin demam.


"Demamnya kembali ," ujar Gio yang akan marah tetapi tidak jadi.


Wajah Tiara semakin pucat, Gio mengambil handuk dan air es untuk mengompres Tiara. Hingga Gio tidak bangkit sedikit pun dari kamar, Gio setia menunggu Tiara tersadar.


Tiara terbangun, merasakan sentuhan dingin pada keningnya. Handuk basah masih menempel. Diliriknya Gio yang tertidur di sampingnya, Tiara tersenyum melihat Gio yang masih setia menjaganya.


"Gio?" Panggilan Tiara membangunkan Gio.


Gio menggeliat sambil menguap, ketika membuka mata pandangannya bertemu dengan Tiara. Sedetik mereka terdiam, hingga Gio tersadar dan bangun dari tidurnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Gio yang mengambil handuk pada kening Tiara. "Demamnya sudah turun.,' ucapnya.


"Gio, aku lapar. Di mana buburnya?" tanya Tiara yang tidak melihat mangkuk bubur di atas nakas.


Gio tersenyum, lalu berkata, "Bubur itu sudah dingin, tidak enak jika dimakan. Kamu lapar? Biar aku masakkan lagi."


"Kamu yakin bisa masak? Biar aku saja." Perkataan Tiara menghentikan langkah Gio.


Gio segera kembali menahan Tiara yang hendak turun dari ranjang.


"Mau ke mana? Diam di sini nanti aku bawakan makanannya," ujar Gio.


"Aku mau ...," ucap Tiara terhenti ketika Gio mengecup lembut bibirnya.

__ADS_1


Gio tersenyum, melihat Tiara yang bengong. "Tetap di sini, menurutlah pada suamimu." Gio melangkah keluar dari kamar.


Tiara tersenyum seketika, pipinya merona dan hatinya kini berbunga-bunga.


Tiara melangkah ke dalam kamar mandi, membersihkan wajahnya lalu berjalan mendekati meja rias memilih beberapa make up untuk menghias pipi pucat itu.


Sedetik Tiara termenung, melihat kepala yang botak. Hinaan dari semua orang temannya kembali teringat, detik itu juga Tiara menggeleng. Tiara teringat rambut palsu yang Susan berikan, memilih untuk memakainya dari pada menutup kepala botak itu dengan ciput rajut.


Setidaknya, tidak akan ada yang menghina dirinya.


"Aku tetap cantik memakai rambut ini," ucap Tiara.


Pandangannya pada cermin teralihkan ketika sebuah ring tone pada ponsel berbunyi. Tiara segera mengambil benda pipih itu, membuka sebuah pesan dari Zyana.


Tiara, apa kabar? Bagaimana kesehatanmu? Aku dan Mytha mau pergi ke pantai besok, ikut dong please ... Soal Gio, biar aku yang meminta izin pada suamimu.


Kata Zy, pada pesannya. Tiara termenung sesaat lalu membalas pesan itu.


Kabarku baik, bagaimana kabar kalian? Soal itu ... aku belum bisa memastikan, tapi kayanya asyik main ke pantai. Kalau boleh tahu apa hanya kita? Maksudku hanya perempuan tidak ada laki-laki.


Tiara menghela nafas. Satu balasan sudah dikirimkan pada Zy. Kenapa bertanya begitu? Karena Tiara takut jika Revan juga ikut dan itu akan menambah kecemburuan Gio.


Tiara tidak menyangka, jika gelang yang dia pakai akan membuat kesalahpahaman dan perdebatan antara dirinya dan Gio.


Mungkin, lain kali Tiara akan memikirkannya dulu.


"Tia-ra," ucap Gio tertahan, ketika melihat Tiara dengan rambut panjangnya.


Tiara berbalik pada Gio yang berdiri di depan pintu. "Apa aku boleh memakai ini, tidak berniat untuk menipu, hanya saja ... supaya mereka tidak menghinaku," ujar Tiara.


Gio mendekat lalu menunduk menyetarakan tubuhnya dengan Tiara yang duduk di atas kursi.


"Pakailah aku tidak akan melarangnya. Kamu sangat cantik memakai rambut ini." Gio tersenyum seraya merapihkan rambut Tiara.


"Makanannya sudah siap, ayok!" ajak Gio menuntun Tiara.


"Ini semua kamu yang masak?" tanya Tiara ketika melihat hidangan di atas meja. Gio hanya mengangguk.


"Kelihatannya enak," tambah Tiara.


"Cobalah ini," Gio menyuapi Tiara.


"Mm ... aku tidak menyangka kamu pandai memasak." Gio tersenyum mendengar pujian itu, lalu menuangkan beberapa hidangan di atas piring Tiara.

__ADS_1


"Makanlah, ini semua untukmu," kata Gio.


Pandangan Gio beralih pada tangan Tiara, senyumnya memudar ketika tidak melihat gelang kupu-kupu itu. Gio, kembali tersenyum dan melanjutkan makannya.


Setelah makan mereka kembali ke dalam kamar. Tiara, lupa memberitahukan Gio tentang hari esok. Namun, Tiara juga ragu untuk meminta izin. Tiara hanya bisa diam sambil memikirkan perkataan apa yang bisa di sampaikan pada Gio.


Gio, keluar dari kamar mandi menggunakan piyama. Tiara semakin gugup melihat Gio mendekat ke arahnya.


"Ada apa? Kenapa belum tidur?" tanya Gio yang menarik selimut.


Tiara menghela nafas panjang lalu berkata, "Tadi Zy ...."


"Mengajak mu ke pantai," sanggah Gio membuat Tiara melongo.


"Apa Zy ...," ucap Tiara tertahan lagi karena Gio menyanggahnya.


"Hem, Zyana baru saja meneleponku " jawab Gio singkat lalu menoleh pada Tiara.


"Apa kamu ingin pergi?" tanya Gio.


"Jika kamu mengizinkan," jawab Tiara.


Keputusan berat bagi Gio, tetapi pria itu tidak bisa mengekang Tiara. Karena bagaimanapun Tiara masih muda masih ingin bermain dengan temannya.


"Pergilah, aku mengizinkanmu," ucap Gio membuat Tiara tersenyum.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Tiara sekedar basa-basi.


"Sepertinya tidak ada lelaki yang ikut. Lagi pula besok aku ada janji dengan Papa. Papa meminta ku datang ke perusahaan."


"Apa kamu akan bekerja? Kamu akan menjadi CEO."


"Kenapa? Kamu senang jika aku menjadi CEO?" tanya Gio dengan tawa. "Sudahlah, cepat tidur ini sudah malam. Apa kamu sudah meminum obat?" tanya Gio lagi setelah menyentuh kening Tiara.


"Mm ... Sudah." Tiara berbohong karena semua obatnya sudah dia buang ke dalam closet.


"Ya sudah tidurlah." Dengan lembut Gio menarik selimut menutupi tubuh Tiara, lalu mengusap kepalanya dan mengecup keningnya.


Tiara termangu, merasa Gio seperti seorang ayah yang sedang menidurkan putrinya. Gio tertawa renyah melihat wajah Tiara yang merona.


"Gio, apa ada yang lucu?"


"Tidak-tidak." Gio berkata sambil tertawa. "Cepatlah tidur, jangan sampai Zyana dan Mytha meninggalkanmu besok," pesan Gio lalu berbaring di samping Tiara.

__ADS_1


Gio masih ingin tertawa tetapi dia tahan. Tiara segera memejamkan mata, tanpa sadar Gio terus menatapnya.


__ADS_2