
Revan masih memikirkan gelang pemberiannya untuk Tiara, sampai tidak fokus dalam berkendara hingga menabrak sebuah motor di depannya.
Revan segera berhenti, menghampiri seorang gadis yang terjatuh dari motornya.
"Maaf," ucap Revan yang membantu mengangkat motor itu.
"Kamu tidak bisa li …," ucap gadis itu terhenti.
Revan tercengang, jika gadis yang dia tabrak adalah Rara. Mereka tertegun dalam beberapa saat, lalu Revan membantunya berdiri.
"Ah." Rara meringis merasakan sakit pada kakinya. Segera Revan membawa Rara ke atas trotoar jalan, mendudukkan gadis itu di atas tembok pembatas jalan.
"Kaki mana yang sakit?" tanya Revan membuat Rara speechless.
"Ah!" Revan memandangi Rara saat gadis itu kembali meringis. Kaki kiri yang disentuhnya membuat Rara kesakitan.
"Yang ini? Pasti karena tertindih motor," ucap Revan setelah mencoba memijat.
"Ah! tidak usah. Jika kamu sentuh rasanya semakin sakit," keluh Rara.
Revan pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak pandai memijat. Tanpa berkata, Revan memangku Rara menuju motornya.
"Eh, ngapain? Mau dibawa ke mana aku?" tanya Rara menghentikan langkah Revan. Detik itu juga Revan menoleh menatap gadis itu dengan intens.
Rara mulai gugup, karena tatapan itu menghipnotis dirinya, sehingga Rara tidak mampu memandang terlalu lama. Segera Rara memalingkan tatapan itu sambil mengatur nafasnya dengan pelan.
"Bukankah kakimu sakit? Jadi aku harus mengobatinya. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit," ucap Revan lalu melanjutkan langkahnya.
"Tapi motorku." Bukan kaki yang gadis itu khawatirkan melainkan motor bebeknya.
"Jangan khawatir, aku sudah menghubungi pihak bengkel." Revan berkata sangat dingin, tanpa menatap Rara.
Setelah mendudukkan Rara, Revan segera melajukan motornya menuju rumah sakit.
.
.
Gio baru saja mengantar Tiara ke ruang ICU. Ekspresinya sangat gelisah menunggu Dokter memeriksa istrinya. Rara kembali relapse. Kondisinya kini semakin memburuk.
Gio masih takut, saat menemukan Tiara yang tergeletak di tengah dapur. Bercak darah tertinggal di setiap titik, telapak tangannya penuh darah menahan cairan mimisan yang terus menetes.
"Tiara, maafkan aku," ucap Gio dengan tubuh yang gemetar.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar, Gio segera berdiri. Beberapa Dokter dan perawat membawa Tiara ke ruangan lain. Gio setia berada di samping Tiara, mengikuti ke mana arah brankar itu di dorong. Hingga saat di ujung lorong mereka bertemu Revan.
Namun, hanya Revan yang melihat tidak dengan Gio.
"Tiara," ucap Revan.
Terlihat sekali kecemasan pada wajahnya. Revan segera berlari menyusul Gio dan Tiara.
Rara yang baru ke luar ruangan Dokter celingukan mencari sosok pria yang membawanya. "Ke mana pria itu? Ngilang terus." Rara mulai melangkah menyusuri lorong untuk mencari Revan.
Revan hanya bisa melihat Tiara dari balik kaca. Entah kenapa tidak ada keberanian untuk memasuki kamar itu, hanya karena Gio ada di dalam.
Revan teringat peristiwa beberapa jam lalu, saat dirinya berbalik ke rumah Tiara untuk mengantarkan obat yang tertinggal. Namun, hendak mengetuk pintu Revan mendengar perdebatan antara mereka.
Hingga perkataan Tiara yang memohon untuk menjelaskan, kebersamaannya dengan Revan. Dari situlah Revan mengerti kenapa Tiara tidak memakai gelang pemberiannya.
Revan memilih untuk pergi meninggalkan kamar Tiara. Namun, panggilan Gio menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" Suara Gio sedikit meninggi.
Revan menoleh dan Gio mendekat. Sedetik pandangan mereka bertemu. Tatapan keduanya sama-sama menakutkan.
"Jangan pernah memberikan apa pun pada Tiara," ucap Gio.
Pandangan Revan turun pada telapak tangannya. Sebuah gelang kupu-kupu yang Gio berikan. Gelang yang dia berikan pada Tiara.
"Jadi kamu yang melarang Tiara memakainya?"
"Ya," jawab Gio. "Karena kamu menyukainya," sambung Gio.
"Ya, aku akui. Aku masih menyukainya bukan berarti aku akan merebut Tiara darimu. Barang ini sudah kumiliki sejak lama tapi tidak sempat aku berikan."
"Lebih baik kamu simpan saja dan berikan pada yang lain." Gio berkata dengan tegas lalu masuk ke dalam kamar.
Revan diam. Menatap gelang itu yang susah payah dia buat untuk Tiara. Rasa kecewa dan kesal bercampur jadi satu.
Dengan emosi yang terpendam Revan melangkah meninggalkan kamar VIP, membuang gelang itu lalu pergi. Tanpa dia tahu Rara mendengar percakapan itu, dan mengambil gelang yang sudah Revan buang.
"Cantik," ucap Rara memandangi gelang itu. "Kenapa harus dibuang, lebih baik aku simpan saja." Rara memasukkan gelang itu ke dalam sakunya lalu pergi.
Revan kebingungan mencari Rara. Saat sudah jengkel tiba-tiba Rara datang yang langsung mendapatkan amarahnya.
"Dari mana saja?" tanya Revan dengan emosi.
__ADS_1
"Kamu yang dari mana saja, aku mencari mu. Aku kira kamu akan lari dari tanggungjawab." Bukannya meminta maaf, Rara balik ngegas.
"Sudah, kan berobatnya? Sekarang aku antar kamu pulang."
"Bisakah kamu tidak marah padaku? kamu yang kesal kenapa aku yang jadi korban," cetus Rara, membuat Revan melongo.
"Aku akan pulang sendiri, jangan lupa antarkan motorku. Aku tunggu di cafe nanti malam." Revan semakin aneh dengan gadis itu.
Rara pergi begitu saja tanpa menghiraukan Revan. "Gadis aneh," gumam Revan lalu pergi.
.
.
Rara terus memandangi gelang kupu-kupu itu. Entah apa yang dia pikirkan tentang kedua laki-laki itu.
"Beruntung sekali kamu Tiara, kedua pria tampan menyukaimu. Satu suamimu, yang tidak rela ada pria lain mengagumi atau memberikan hadiah untukmu. Dan satu pria yang tampan, pendiam, pembaca buku romansa, tetap perhatian dan menginginkanmu walau sudah menjadi milik orang lain. Bisakah aku juga mendapatkan lelaki seperti mereka?" Rara bermonolog sambil memainkan gelang itu.
"Rara, kamu hanya bermimpi," ucapnya yang memasukkan gelang itu ke dalam saku.
"Rara!" Panggil seorang teman.
"Iya." Rara menyahut.
"Antarkan pesanan ini ke meja nomor 8," ujar temannya.
"Oke." Rara segera membawa nampan itu keluar dari dapur. Rara celingukan mencari seseorang yang duduk di bangku nomor 8.
Bibirnya tersenyum ketika melihat Revan yang duduk di sana. Segera Rara melangkah membawa nampan itu pada Revan.
"Hai!"
Seperti biasa, Rara so dekat dan akrab. Wajahnya yang ceria selalu tersenyum ramah pada setiap pengunjung cafe, menuangkan minuman itu di depan Revan.
"Apa kamu membawa motorku?" tanya Rara yang sudah duduk dihadapan Revan.
Revan tidak menjawab, pria itu langsung menyerahkan kunci motor itu pada Rara.
"Ternyata kamu menepatinya, terima kasih," kata Tiara lagi.
"Aku menyimpan motormu di ujung jalan," kata Revan lalu bangkit dari duduknya. Pria itu hendak pergi tapi Rara menyanggahnya.
"Tidak meminum kopi?" tanya Rara menunjuk kopi di depannya.
__ADS_1
Revan hanya berbalik, menyimpan selembar uang kertas dan berkata," Untukmu saja," ucapnya lalu pergi.
Rara hanya bengong menatap kepergian Revan.