Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Malu tapi Mau


__ADS_3

"Maaf," ucap Gio setelah melepaskan ciumannya. Tiara terdiam dia masih tidak percaya apa yang Gio lakukan.


"Aku akan membawamu ke kamar."


"Tunggu Gio," ucap Tiara menghentikan langkah Gio yang hendak berdiri. "Apa?" tanya Gio setelahnya.


"Jantungku mulai bermasalah, dia berdetak lebih cepat." Sedetik pipi Gio memerah setelah mendengar perkataan itu. Gio semakin canggung dan salah tingkah.


"Sebaiknya kamu harus periksa ke Dokter," kata Gio yang langsung mendorong kursi roda Tiara. Tiara hanya tersenyum melihat Gio yang malu-malu seperti itu. Setelah mengantarkan Tiara ke kamar Gio segera pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kenapa dengannya. Tadi saja dia berani menciumku sekarang malu-malu," ucap Tiara lalu menyentuh bibirnya yang kembali teringat kejadian di atap tadi.


"Ouh … sungguh indah. Dia sudah mencuri ciuman pertamaku," ucap Tiara yang semakin tidak karuan. Dia terus tersenyum dan tertawa sendiri membayangkannya.


Bahkan Susan sampai menatap heran pada putrinya itu. "Apa sesuatu sudah terjadi?" tanya Dokter pada Susan.


"Entahlah, tadi Tiara terlihat biasa saja," jawab Susan.


"Mungkin pacarnya sudah datang," ucap seorang suster yang bertemu dengan Gio saat akan pergi ke atap.


"Pantas saja putrimu sangat bahagia. Jika seperti ini tidak perlu di rawat kamu hanya cari pria itu saja. Sudah aku bilang nikahkan saja mereka," kata Dokter itu dengan canda Susan pun tertawa.


"Mama!" Tiara yang tersadar sangat malu di perhatikan ibunya dan Dokter.


"Kamu sangat ceria, terlihat sehat Tiara. Sepertinya ada Dokter baru yang mengobatimu." Dokter berkata sambil mengejek


Di parkiran Gio terus mengumpat, dia masih malu dengan tingkahnya tadi. "Kenapa aku menciumnya? Gio kamu sungguh gila," ucap Gio yang mengacak rambutnya seperti orang yang frustasi. Gio segera naik ke atas motornya lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


***


"Kemana Gio aku hubungi kenapa dia tidak menjawab!" umpat Tiara kesal yang menutup sambungan teleponnya.


Tiara baru saja pulang dari rumah sakit, keadaannya mendadak pulih. Mungkin hati yang bahagia membuatnya kembali sehat.


"Tidak apalah jika Gio tidak menjawab. Aku akan menemuinya besok di sekolah. Ouh … aku tidak sabar ingin segera pergi ke sekolah. Cincin ini terlihat sangat indah," ucap Tiara yang memandang cincin di jari manisnya.


"Eh, bukankah itu cincin …." Tiara segera menyembunyikan tangannya ketika Susan melihatnya. "Kenapa di sembunyikan? Sini perlihatkan pada Mama." Tiara terpaksa memberikan tangannya.

__ADS_1


"Ini cincin tunangan itu, kan?" tanya Susan.


"Iya. Tiara menemukannya di taman," jawab Tiara.


"Lalu?" tanya Susan.


"Tiara ambil berniat menyimpannya tapi Gio bilang untuk apa hanya di simpan, Gio memakaikannya untukku," jawab Tiara.


"Gio juga?" tanya Susan yang di jawab dengan anggukan. "Kalung itu juga sangat indah pasti Gio yang memberikannya," ucap Susan lalu duduk di samping Tiara.


Menggenggam tangan Tiara dengan lembut. "Kesehatanmu semakin membaik, kamu juga terlihat bahagia, istirahatlah jangan lupa meminum obat sebelum tidur ya sayang," ucap Susan Tiara mengangguk.


"Mama bawakan kamu air daun sirsak. Mama dapat saran dari teman katanya ini bagus untuk penyakitmu, di minum sampai habis ya."


"Iya Ma," ucap Tiara dengan senyuman. Susan melangkah pergi setelah mengecup keningnya.


"Papa?" Panggil Susan pada Danu yang tengah menonton berita.


"Tiara sudah tidur?" tanya Danu Susan langsung menggeleng dan berkata, "Belum, dia masih tertawa mungkin sedang memikirkan Gio," ujae Susan lalu duduk di samping Danu.


"Apa hubungannya dengan pak Baskara?" tanya Danu heran.


"Mama jadi kepikiran perkatan Dokter, untuk menikahkan Tiara."


"Mama!" Danu merasa terkejut.


"Kadang Mama selalu berpikir apa akan ada saatnya Tiara menikah? Apa kita akan melihat itu? Perkataan Dokter membuat Mama tidak bisa tenang, Mama hanya ingin melihat Tiara bahagia. Melihat Tiara menikah dengan orang yang dia cintai tapi apa hidup Tiara akan sampai ke waktu itu? Sekarang saja Tiara sering keluar masuk rumah sakit, kadang sehat kadang drop. Mama hanya takut tidak bisa melihat Tiara menikah." Susan berkata sambil menangis. Danu langsung memeluknya dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Jangan katakan itu, Tiara pasti sembuh kita akan melihat Tiara menikah," ucap Danu yang melepas pelukannya.


"Sudah jangan menangis, bagaimana jika besok kita adakan makan malam bersama pak Baskara dan Gio. Tiara pasti senang papa akan memesan ruang VIP sekarang," ujar Danu yang memberikan semangat untuk istrinya.


Tiara termenung yang tanpa sengaja mendengar perkataan kedua orang tuanya lalu kembali ke dalam kamar. Tiara duduk di atas ranjang sambil menatap bintang yang terlihat di jendela kamarnya.


Seketika mata Tiara terpejam, kedua tangannya saling menggenggam yang Tiara dekatkan pada dadanya.


Tuhan, hanya satu harapanku. Biarkanlah aku hidup, aku ingin hidup lebih lama lagi, batin Tiara lalu membuka mata.

__ADS_1


"Aku tidak tahu perkataan siapa yang benar. Tapi aku yakin hanya engkaulah yang memutuskan, aku tidak menginginkan apa pun dalam dunia ini selain hidupku yang lebih lama," ucap Tiara yang menatap sendu bintang-bintang itu.


***


Tiara baru saja turun dari mobilnya. Dia melangkah penuh semangat memasuki sekolah. Matanya yang berbinar terus memindai seisi sekolah Tiara masih mencari Gio yang belum dia temukan.


"Tiara!" teriak Mytha dan Zy membuat Tiara menoleh. Mereka langsung berlari dan memeluknya.


"Ouh Tiara, aku merindukanmu," ucap Mytha yang memeluk Tiara.


"Aku juga," ucap Zy.


"Aku mengerti, aku juga merindukan kalian," ujar Tiara setelah melepas pelukan mereka.


Gio baru saja datang, dia turun dari motornya dan melangkah memasuki kelas. Melihat itu Tiara segera berlari untuk mengejarnya.


"Mytha, Zy, aku pergi dulu. Bye …," ucap Tiara yang melangkah pergi.


"Eh, Tiara!" teriak Mytha dan Zy ketika Tiara pergi.


Tiata tidak peduli yang terus berlari mengejar Gio. Gio pergi menuju lokernya, ketika menutup pintu loker dia dikejutkan Tiara yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Hai Gio?" sapa Tiara.


"Hai," jawab Gio gugup.


"Aku sudah masuk sekolah apa kamu tidak terkejut?" tanya Tiara.


"Mm … Tiara aku ke toilet sebentar," jawab Gio yang langsung lari.


"Gio kok lari? Pasti dia masih malu-malu," ucap Tiara yang tersenyum lalu melangkah menuju kelasnya.


"Gio juga belum masuk kelas kemana sih!" Tiara masih menunggu Gio yang belum juga masuk ke dalam kelas. Padahal bangku mereka bersebelahan.


Karena bosan Tiara tertidur di atas meja. Gio baru saja datang dia melihat Tiara yang tertidur di mejanya. Segera Gio mendekat duduk di bangkunya lalu menatap fokus wajah Tiara yang terpejam.


Sedetik senyum Gio mengembang.

__ADS_1


__ADS_2