Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Demam


__ADS_3

Hari terus berlalu, Rara semakin sibuk hingga tidak kenal lelah, sering kali ia pulang malam, dan bolak-balik mengantarkan pesanan untuk Revan.


Namun, pada hari ini Revan dan Nico sudah berdiri di depan kedainya, kemungkinan mereka akan makan di tempat itu.


"Kedaimu sangat ramai," ujar Revan mengagetkan Rara yang baru saja mengantarkan pesanan untuk pelanggannya.


"Revan," ucapnya yang melangkah ke arah Revan dan Nico.


"Apa yang membuatmu datang kemari? Seharusnya kamu telepon saja aku," tambah Rara.


"Aku sengaja tidak menghubungimu. Aku ingin makan di sini," kata Revan membuat Rara tersenyum.


"Baiklah, aku akan menyiapkannya, kalian tunggu saja. Kalian bisa duduk di sana itu sangat nyaman." Rara berkata seraya menunjuk meja paling ujung.


Revan dan Nico pun melangkah ke arah meja itu. Rara, berlari ke dalam dapur memberitahukan ibunya untuk menyiapkan pesanan Revan.


"Mama, tolong buatkan makanan spesial, karena di luar sana ada pak Direktur."


"O ya? Mama ingin lihat seperti apa rupanya," ucap Miranti yang hendak pergi tetapi di sanggah Rara.


"Buatkan dulu pesanannya." Rara merajuk. Miranti pun kembali memasak.


.


.


Gio baru saja selesai memeriksa pasiennya. Baru beberapa hari berada di rumah sakit pria itu sudah menjadi Dokter favorit semua pasien terutama anak-anak.


Kinerja kerjanya mampu menghipnotis atasannya.


"Dokter Gio?" Panggil seorang perawat wanita. "Anda diminta ke ruangan Direktur," tambahnya.


Gio hanya mengangguk lalu pergi ke ruangan Direktur. Sikapnya kembali dingin seperti dulu. Namun, tidak membuat para wanita benci malah semakin menyukainya.


Gio mengetuk pintu sebelum masuk. Seorang pria menyahutnya dari dalam.


Gio sangat sopan yang langsung menunduk saat bertemu dengan atasannya.


"Duduklah," ujar pria tua itu. Gio langsung duduk dihadapannya.


"Apa pak Ditektur memanggil ku?" tanya Gio.


"Ya, aku suka cara bekerjamu sebagai Dokter. Aku dengar, kamu selalu memberi semangat bagi para pasien. Bahkan mereka yang sudah putus asa. Mereka semua semangat dan mau berjuang karena kamu," kata pria itu.


Gio hanya tersenyum.


"Saya hanya melakukan yang seharusnya. Semua pasien di sini pasti merasa terasingkan, apalagi penyakit yang mereka derita sangat menakutkan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah, sampai kapan hidup, dan kapan akan mati. Mereka akan terus berkata bagaimana dan bagaimana. Itulah sebabnya aku tidak pernah mengdiagnosa pasienku tentang … berapa lama lagi mereka akan hidup," kata Gio membuat Direktur itu tertegun.

__ADS_1


"Aku dengar istrimu meninggal karena kanker, apa itu benar?" tanya pria itu dengan ragu.


Gio menatapnya sesaat lalu berkata, "Tidak aku sangka, mereka tahu tentang kehidupanku. Padahal aku belum lama bekerja di sini."


"Aku juga heran dari mana mereka tahu tentang dirimu," ujar pria itu. "Lupakanlah perkataanku tadi," tambahnya.


"Aku ingin mengundangmu makan malam," ujar pria itu yang menatap Gio.


"Terima kasih tapi …," ucap Gio tertahan.


"Jangan menolak. Nanti malam aku akan meminta seseorang untuk menjemputmu," kata pria itu tetapi Gio menyanggahnya.


"Tidak perlu. Katakan saja di mana tempatnya aku akan datang," ujar Gio.


"Baiklah, nanti aku kirimkan alamatnya melalui ponsel. Sekarang kamu bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu."


"Permisi," ucap Gio lalu bangun dan membungkuk hormat. Setelahnya Gio pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Gio masuk ke ruangannya yang penuh dengan bunga matahari. Langkahnya terhenti di depan sebuah kursi lalu duduk sambil menatap bunga-bunga itu.


Diambilnya sebuah kalung dari dalam laci, dengan liontin bunga matahari. Semua kenangan tentang Tiara kembali dia ingat, bahkan sepasang kumang kini sudah membesar yang masih Gio pelihara.


Semua benda-benda itu berada di ruangannya.


Di luar sana, para perawat saling berbisik melihat Gio yang melamun. Mereka terus memperhatikan Gio dari balik kaca jendela.


"Ya. Jarang sekali ada pria yang suka bunga. Aku pernah masuk ke ruangannya, banyak sekali bunga matahari," kata temannya.


"Apa kamu pernah mendengar? Dokter itu sudah menikah, tetapi istrinya meninggal karena kanker," bisik perawat itu pada temannya.


"Aku baru mendengarnya. Aku pikir dia belum menikah habisnya masih muda dan tampan." kata temannya sambil nyengir kuda.


"Aku rasa karena itu dia menjadi seorang Dokter. Pria itu pasti sangat mencintai istrinya," kata mereka serempak.


Mereka langsung berjongkok, ketika Gio menoleh pada jendela.


.


.


"Terima kasih sudah datang, sampai jumpa lagi," ucap Rara pada setiap pelanggan yang makan di kedainya.


Rara terduduk lemah, peluh keringat membasahi pipinya, hingga wajah itu terlihat pucat. Rara ingin sekali tertidur sejenak tetapi tidak bisa, karena kedainya sangat ramai hari ini.


Gadis itu bangkit berdiri menyambut tamu yang datang.


"Silahkan duduk mau pesan apa? Baiklah tunggu sebentar."

__ADS_1


Rara pergi setelah menuliskan pesanan.


"Cumi bakar, sop iga, pesanan meja nomor 5," ujar Rara memberitahukan Miranti.


"Kenapa dengan wajahmu? Apa sakit?" tanya Miranti setelah menengok putrinya.


"Aku hanya lelah, badan rasanya lemes sekali," jawab Rara.


"Istirahatlah, biar pesanan ini Mama antarkan. Setelah ini kita tutup kedai lalu pulang," ujar Miranti lalu pergi mengantarkan pesanan.


.


.


Sesampainya di rumah Rara segera masuk ke dalam kamar. Aneh, badannya terasa lemas sekali, wajahnya pun begitu pucat hingga keringat dingin membasahi pipinya.


"Kenapa dengan tubuhku ini?" monolognya.


Rara bangkit dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika sesuatu yang dingin terasa, keluar dari lubang hidungnya.


Rara segera mendongak, membiarkan kepalanya menghadap atap kamar. Rara semakin terkejut saat melihat cairan kental merah membasahi jari manisnya.


Segera Rara pergi ke kamar mandi untuk membasuh darah itu.


"Tidak biasanya aku seperti ini," ucap Rara setelah membasuh hidungnya.


Rara kembali ke atas ranjang untuk tidur.


Di pagi hari demamnya semakin tinggi. Keringat dingin membasahi pipinya, disertai batuk kering yang menyesakkan dadanya. Rara sampai terbangun, mulai turun dari ranjang mengambil segelas air minum di atas meja.


Tubuhnya semakin lemas, hingga tidak kuat berdiri.


"Rara, mukamu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya Miranti panik hingga menyentuh wajah gadis itu.


"Demam," ucap Miranti demikian.


Akhirnya kedai mereka tutup untuk hari ini karena Miranti harus merawat Rara. Demam Rara semakin tinggi, sedangkan Miranti hanya menggunakan air dingin untuk mengompresnya.


"Kamu jarang sakit. Melihatmu seperti ini aku tidak tega," ucap Miranti.


"Mama …." Panggil Rara dengan suara lemahnya.


"Jangan bicara, istirahatlah. Nanti kita pergi ke Dokter," ujar Miranti lalu keluar dari kamar Rara.


Di tempat lain, Revan terus melihat ke arah kedai di seberang perusahaannya. Tidak biasanya tempat itu tutup. Hendak menghubungi Rara, sebuah taksi turun di depan kedai menghentikannya.


Revan melihat Miranti membuka kedainya tetapi tidak dengan Rara. Rasa ingin tahu tiba-tiba muncul, Revan segera melangkah menyeberangi jalan.

__ADS_1


__ADS_2