
"Gio kumang itu seperti apa?" tanya Tiara yang masih dalam perjalanan menuju pantai.
"Seekor binatang, yang kecil juga lucu sering dimainkan semua orang," jawab Gio yang fokus mengemudi.
"Aku baru mendengar namanya. Memangnya hanya ada di pantai?" tanya Tiara lagi yang menghadap Gio.
"Tidak juga, tapi kita akan sering melihatnya di sana. Karena di pantai banyak orang yang menjualnya. Sebagian orang menyebutnya kelumang kalau aku kumang, karena waktu itu pergi ke pantai selatan yang ada di daerah sunda mereka di sana memanggilnya kumang dan aku baru mengetahuinya. Pokoknya kamu pasti terpesona melihat binatang itu," ucap Gio.
Tiara sudah tidak sabar ingin melihat pantai. Moodnya kembali membaik ketika gemuruh ombak mulai terdengar. Air laut yang biru mulai terlihat, seketika Tiara membuka kaca jendela menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat indahnya air laut yang biru.
Sampai tiba di pesisir pantai Tiara langsung berlari ke arah ombak yang siap menerjangnya.
"Tiara!" teriak Gio yang memeluk tubuh Tiara menariknya agar menjauh dari ombak. "Nanti tubuhmu basah," ujar Gio setelah melepas pelukannya.
"Bukankah kita ke sini untuk bermain air? Ayolah Gio kita bermain sebentar," ucap Tiara yang begitu senang.
"Tapi kamu tidak membawa pakaian, kan? Bagaimana jika basah? Lebih baik kita duduk di atas karang saja. O iya aku lupa bukankah kamu bilang ingin melihat kumang?" tanya Gio.
"Apa kumang itu sudah ada?" Tiara menjawab dengan pertanyaan.
"Ayo ikut aku," ajak Gio langsung menuntun Tiara menghampiri seorang penjual kumang.
"Itu yang namanya kumang? Lucu sekali," ucap Tiara yang berjongkok melihat kumang yang berjalan di atas pasir.
"Eh, mereka memindahkan pada tangan," ujar Tiara yang melihat seorang bocah membiarkan kumang itu berjalan di atas telapak tangannya. "Apa dia tidak menggigit?" tanya Tiara.
"Tidak, kumang tidak menggigit. Lihatlah ini," ujar Gio lalu mengambil satu ekoe kumang yang dia tiup. Tiba-tiba kumamg itu bersembunyi di dalam cangkangnya.
"Apa dia pemalu? Aku ingin mencobanya," kata Tiara yang mengambil kumbang itu.
Bibirnya melengkung sesaat menciptakan senyuman yang sangat indah. Tiara terus mengamati kumangnya yang dia beli.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan terus memandangnya?" tanya Gio yang duduk disampingnya seraya memberikan segelas air kelapa. "Minumlah ini biar segar," titahnya pada Tiara.
"Sebentar, aku akan memasukan kumang ini ke dalam tas," ucap Tiara yang akan memasukan kumang itu ke dalam tasnya. Namun, Tiara jadi tertegun ketika melihat beberapa obat yang ada di dalamnya.
Tiara berpikir sejenak lalu berkata, " Gio aku ke toilet sebentar," ujar Tiara yang melangkah pergi.
Gio hanya mengiyakan tapi hatinya tetap mencemaskan Tiara.
Bukan toilet yang Tiara tuju melainkan pantai. Tiara berjalan ke sisi pantai hingga sapuan ombak membasahi kakinya. Tiara segera membuka tasnya membuang semua obat-obat itu ke laut.
Entah apa yang Tiara pikirkan sehingga melakukan itu. "Aku harap penyakitku juga pergi bersama mereka," ucap Tiara lalu kembali pada Gio. Namun, baru saja berbalik membelakangi pantai Gio sudah berada dihadapannya, melihat Tiara membuang semua obat-obatnya.
"G-Gio," ucap Tiara gugup. Gio tidak menjawab dia langsung pergi meninggalkan Tiara.
"Gio!" teriak Tiara terus mengejar Gio. "Gio tunggu! Gio!" teriak Tiara menahan Gio.
"Kenapa kamu membuang semua obat itu lagi?" tanya Gio emosi.
"Lalu … apa setelah ini kamu tidak akan bertemu dengan obat-obat itu? Percuma, percuma Tiara ibumu akan meminta lagi pada Dokter. Jadi untuk apa kamu membuangnya?" tanya Gio dengan nada tinggi.
"Apa kesehatanku membaik? Katakan Gio apa kesehatanku membaik setelah meminumnya?" tanya Tiara dengan emosi. "Bahkan kamu tidak bisa menjawab. Menurutku tidak ada artinya aku meminum obat, bertahun-tahun aku meminumnya tapi apa … obat itu sama sekali tidak menyembuhkanku," ucap Tiara membuat Gio terdiam.
"Aku lelah Gio … aku bosan. Minum obat atau tidak semua tidak ada yang berubah. Hidupku tidak akan lama lagi." Tiara berkata sambil menangis dan berjongkok.
Gio masih diam.
"Peganglah ini," kata Tiara yang menarik tangan Gio untuk memegang rambutnya. Hanya dipegang saja rambut Tiara sudah rontok, banyaknya helaian rambut yang tersisa di telapak tangan Gio.
Gio semakin tidak bisa bicara melihat rambut itu. "Rambutku semakin berkurang, entah esok atau lusa aku tidak akan memiliki rambut lagi. Dan aku tidak bisa melihat indahnya lautan … juga kumang," ucap Tiara melihat kumang di telapak tangannya.
"Gio, biarkan sehari ini saja aku menikmati hidupku, lupakanlah penyakitku, lupakanlah jika aku orang sakit, aku ingin … merasakan seperti orang normal." Tiara berkata seraya menutup matanya. Merentangkan kedua tangannya, merasakan hembusan angin yang menerpa.
__ADS_1
Gio membiarkannya dan hanya diam melihat Tiara.
"Tiara sudah cukup kita ke tepian sekarang," ajak Gio yang menarik tangan Tiara. Namun, Gio terkejut tubuh Tiara tiba-tiba melemas, jatuh begitu saja padahal Gio baru saja ingin menariknya.
"Tiara." Gio menahan tubuh Tiara yang hendak terjatuh. Gio berniat membawa Tiara pergi tetapi tangan Tiara mencengkalnya.
Tiara berkata, "Aku masih ingin di sini," lirih Tiara.
Kini Gio dan Tiara duduk di atas pasir menghadap ke arah laut. Gio membiarkan Tiara tertidur di atas bahinya, tidak lupa Gio menghangatkan tubuh Tiara dengan jaketnya.
Kedua tangan mereka terus menggenggam. Gio sama sekali tidsk melepaskannya, hingga akhirnya genggaman itu terlepas dengan sendirinya.
Gio termenung, genggaman Tiara terlepas. Sedetik bulir air mata turun ketika melirik wajah Tiara yang begitu pucat dengan mata terpejam. Tangisan pun pecah menggetarkan punggungnya.
***
Gio duduk melamun, memandang langit yang cerah. Sedetik wajahnya menoleh ke arah samping kirinya yang berharap Tiara akan kembali datang dan duduk disampingnya.
Sekilas bayangan Tiara terlintas senyumannya begitu indah dan manis. Namun, itu hanya bayangan, Gio tidak tahu bagaimana keadaan Tiara sekarang.
"Gio!" panggil Nico membuyarkan lamunan Gio. Nico berlari ke arah Gio yang duduk di tengah taman.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Lihatlah hasil ujian kita sudah keluar. Kamu sangat pintar mendapat nilai tertinggi," ujar Nico memberikan selembar kertas yang memperlihatkan nilai ujian mereka.
Satu semester sudah dilalui, bahkan sekolahnya akan segera berakhir. Selama itu juga Tiara pergi tanpa kabar dan belum juga kembali. Gio selalu melihat layar ponselnya berharap ada satu panggilan dari Tiara.
"Gio!" teriak para siswi yang tergila-gila padanya. Mereka semua tidak berubah yang masih sama mengagumi Gio.
"Gio!" teriak siswi itu lagi. Gio langsung pergi meninggalkan taman untuk menghindari mereka.
"Gio tunggu!" teriak Angel yang mengejar Gio.
__ADS_1
Nico menghela nafas seraya menatap kepergian Gio lalu berkata, "Tidak afa yang bisa membuatmu tersenyum selain Tiara, bahkan hasil ujian ini tidak membuatmu senang," ucap Nico lalu menatap ke atas langit sana.