
"T-Tiara," ucap Zy dan Mytha melongo.
"H-Hantu!"
Semua kelas menjadi riuh, mereka semua menganggap Tiara adalah hantu. Revan hanya diam memandang Tiara di depannya. Hatinya terasa sakit ketika melihat mereka berciuman.
"Diam kalian semua," ujar Revan dengan nada tinggi, seketika membuat kericuhan terhenti.
"Apa kalian tidak bisa melihat kakinya? Menapak lantai atau tidak," lanjut Revan.
Mereka semua langsung melihat pada Tiara dan melihat kedua kakinya.
"Menapak," ucap Angel.
"Jadi dia bukan hantu?" tanya seorang siswa.
"Lalu … kabar kematian itu," ucap Mytha.
"Aku akan menjelaskan pada kalian semua," ujar Gio menghampiri teman-temannya.
Kini mereka duduk bersama di dalam kelas, setelah mendengar penjelasan Gio barulah mereka percaya. Mytha dan Zy tentu sangat senang karena Tiara masih hidup, tetapi tidak dengan Angel yang kecewa dan kesal karena Gio tidak akan pernah miliki.
"Sekarang kita semua berfoto dengan Tiara, itulah kenapa aku meminta kalian datang," ujar Gio.
"Tentu, potret tanpa dirimu merasa ada yang kurang," kata Zy yang langsung berdiri.
"Tunggu dulu Gio, tadi maksudnya apa?" Nico bertanya seraya menyatukan kedua telunjuknya. "Apa kamu juga ingin memperlihatkan itu pada kami?" tanyanya lagi.
"Mm … itu aku tidak sengaja," jawab Gio gugup.
"Ouh, tidak sengaja. Tiara apa kamu tahu betapa hancurnya Gio saat kamu menghilang, apa sekarang kamu akan menjadi lebih baik Gio?" Nico bertanya seraya menurun naikkan alisnya.
"Nico apa selama ini aku terlihat lemah? Jangan bicara omong kosong. Cepat berbaris untuk berfoto."
Nico tertawa ketika mendapat perintah dari Gio.
***
Revan duduk melamun di atas rooftop, sambil membaca sebuah novel. Mungkin hanya itulah ketenangan Revan.
"Kamu membaca buku lagi," ujar Nico menghampiri Revan.
"Apa kamu cemburu melihat Tiara dan Gio berciuman tadi. Aku harap kamu tidak frustasi," ujar Nico membuat Revan kesal.
"Bisakah kamu diam! Aku sedang membaca buku pergilah." Setelah menegur Nico, Revan berpindah tempat mencati tempat yang nyaman untuk membaca buku.
Namun, bukannya nyaman Revan malah melihat Tiara bersama Gio di tengah taman. "Ck, menyebalkan," ucap Revan yang berlalu pergi.
"Revan lo mau ke mana?" tanya Nico setengah teriak, ketika Revan meninggalkan rooftop.
__ADS_1
Bugh,
"Maaf," ucap seorang gadis yang tidak sengaja menjatuhkan buku Revan.
"Buku romansa," ucap gadis itu.
"Berikan padaku," kata Revan dingin yang mengambil bukunya. Gadis itu menatap polos kepergiaan Revan lalu naik ke atas rooftop yang berpapasan dengan Nico.
Sejenak Nico menghentikan langkahnya, lalu menatap kepergiaan gadis itu. "Ngapain dia ke rooftop," ucap Nico lalu turun menyusul Revan.
***
"Kamu bilang cincin itu hilang, apa sengaja membuangnya?" tanya Gio pada Tiara. Mereka duduk berdua di tengah taman.
"Aku tidak tahu pergi ke mana cincin itu. Saat aku sadar aku sudah berada di rumah sakit," jawab Tiara yang memang tidak merasakan cincin itu jatuh dari jarinya.
"Mungkin cincin itu jatuh." Pikir Gio.
"Maaf." Tiara merasa menyesal karena cincin itu sudah hilang.
"Tidak apa-apa aku bisa memberikannya yang baru, yang penting kalung ini masih kamu pakai," ucap Gio menyentuh kalung Tiara.
"Aku tidak akan pernah melepaskannya karena ini adalah kekuatanku," ucap Tiara dengan senyuman.
Cup,
Satu kecupan kembali Gio berikan, membuat Tiara terbelalak.
"Bukakah mereka sudah melihatnya tadi? Mulai sekarang aku tidak akan sembunyi-sembunyi. Aku ingin semua orang tahu jika kamu milikku," ucap Gio yang mengecup Tiara lagi.
Di atas rooftop sana, seorang gadis sedang membaca buku romansa, senyumnya sangat indah dan manis. Namun, sebuah cincin melingkar di jari manisnya terlihat indah dan elegan. Cincin berlian dengan satu permata.
***
"Mama!" Panggil Tiara yang turun dari motor Gio, Susan tertegun melihat kedatangan Gio ke rumahnya. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu.
"Gio," ucap Susan.
"Apa kabar Tante?" tanya Gio yang mencium punggung tangan Susan.
"Kabar Tante baik, masuklah," ajak Susan pada mereka berdua. Susan tidak percaya jika menemui Gio, dan Tiara terlihat sangat bahagia.
"Gio, kamu tunggu sebentar, aku ke kamar dulu," ujar Tiara lalu melangkah ke kamarnya.
"Gio, Tante akan ambilkan minum dulu. Kamu santai saja dulu," ujar Susan.
"Iya, Tante," jawab Gio.
Raut wajah Susan terlihat berbeda, seperti pura-pura bahagia ketika bertemu Gio. Bukannya melangkah ke dapur Susan malah pergi ke kamar Tiara.
__ADS_1
Di dalam kamar Tiara duduk di depan meja riasnya, menatap wajahnya dengan malang lalu membuka rambut palsu itu. Ya, rambut yang Gio lihat adalah palsu.
Sampai saat ini Tiara sudah tidak memiliki rambut.
"Tiara?" Panggilan Susan mengejutkan Tiara, yang langsung menutupi kepalanya dengan sehelai kain, tetapi setelah tahu itu Susan Tiara membuka kain itu.
"Mama," ucap Tiara.
Susan mendekati Tiara, dia terlihat sedih memandang wajah putrinya. "Tiara apa Gio …."
"Ma," ucap Tiara menghentikan perkataan Susan. "Jangan katakan pada Gio, tentang keadaanku. Aku akan tetap memakai rambit jika bersamanya, aku tahu … aku telah membohonginya."
Tiara terpaksa berbohong, sampai kapan pun penyakitnya tidak akan sembuh. Kanker stadium 4 telah merogoti tubuhnya walau keajaiban pernah datang, tetapi bukan menyembuhkan penyakit kankernya.
Tiara memilih untuk kembali ke tanah air, demi untuk melihat Gio, dan Tiara ingin menghabiskan waktunya bersama Gio.
"Tapi itu akan menyakitinya," ucap Susan meminta Tiara untuk berkata jujur.
"Tiara malu Ma, akankah Gio tetap mencintai Tiara jika melihat kepalaku yang botak, mungkin Gio akan pergi meninggalkan Tiara. Mama, Tiara mohon … Mama tahu, kan Gio adalah kebahagiaan Tiara."
Susan tidak bisa lagi berkata, dia hanya diam mendengar pemohonan putrinya. "Cepat temui Gio di bawah jangan sampai dia datang ke kamarmu," ucap Susan laku pergi meninggalkan kamar Tiara.
"Terima kasih Mama," ucap Tiara.
Gio berada di halaman belakang, mencari kumbang pada setiap bunga matahari. Tiara datang dengan pakaian yang berbeda. Bibirnya tersenyum pada Gio yang menatapnya.
"Sedang apa?" tanya Tiara setelah mendekat.
"Cari kumbang," jawab Gio.
"Kenapa mencari kumbang bukan mengusirnya? Nanti kumbang-kumbang itu merusak tanamanku," ucap Tiara yang menyentuh bunga-bunganya.
"Rambutmu indah sekali, mau aku ikat?"
"Eh! tidak." Gio tertegun ketika Tiara berjalan mundur saat Gio akan mengikat rambutnya. "Maksudku, aku tidak ingin mengikat rambut. Sekarang aku lebih suka mengurainya," ucap Tiara.
"Hem," gumam Gio.
"Gio, kamu ingat kumang?" tanya Tiara.
"Iya, dari pantai itu?" tanya Gio.
"Hem." Tiara bergumam sambil mengangguk. "Aku masih menyimpannya," ucap Tiara menunjukkan sebuah kotak kecil yang terdapat dua kumang di dalamnya.
"Aku pikir kamu sudah membuangnya," ujar Gio.
"Aku tidak akan membuang pemberianmu," ucap Tiara dengan senyuman.
"Baiklah, kita turunkan apa mereka bisa berjalan, tapi … mereka tidak akan bisa berjalan di atas rumput, aku akan mencari kardus dulu," kata Gio yang pergi meninggalkan Tiara.
__ADS_1
Tiara hanya diam lalu menunduk, satu ekor kumang berubah jadi merah, Tiara merasa heran, hingga akhirnya dia tahu jika warna itu berasal dari hidungnya.
Gio sudah mendapatkan kardus dan berjalan ke arahnya. Segera Tiara berjongkok membasuh hidung dengan tissu dan membasuh cangkang kumang dengan tissu untuk menghilangkan darahnya.