
Hari yang bahagia berubah jadi tangisan, Gio duduk pasrah menunggu Tiara di ruang ICU, dan untuk pertama kalinya Gio tahu, Tiara sudah tidak punya rambut.
Gio, melangkah menuju atap, rasanya ingin menyendiri dan merenung. Sepasang netranya terus memindai bunga matahari yang ada di sekelilingnya.
Bayangan Tiara kembali muncul.
"Sebelum aku menjawab, aku pun ingin menanyakan sesuatu hal penting padamu. Jika suatu saat nanti kamu mengetahui bahwa aku sudah membohongimu apa kamu akan memaafkan ku?" tanya Tiara.
"Tentu, aku akan memaafkan kesalahanmu," jawab Gio.
"Jika kenyataannya aku tidak secantik yang kamu kira, apa kamu akan tetap mencintaiku?"
"Ya."
"Bagaimana jika penyakitku tidak bisa disembuhkan dan aku harus pergi untuk selamanya?"
"Aku yakin kamu tidak akan pergi meninggalkan ku lagi. Dan jika penyakitmu itu datang, aku akan setia menemanimu sampai akhir."
Semua pertanyaan itu sudah terjawab, Tiara sudah membohonginya tentang rambut botak. Dan sudah berbohong tentang penyakitnya.
"Pantas saja, kamu menolak saat aku akan menyentuh rambutmu," ucap Gio mengingat kenangan saat di taman.
Tiara begitu takut jika Gio menyentuh rambutnya, dan tingkah yang aneh saat kumang tiba-tiba terjatuh.
"Kenapa kamu selalu menyembunyikannya dariku Tiara," ucap Gio terisak.
Gio kembali ke ruang ICU, dia hanya menatap Tiara dari dinding kaca.
Hari demi hari dilalui, Gio tidak pernah meninggalkan Tiara sedetik pun. Dia selalu ada menjaga Tiara walau tidak tahu kapan akan terbangun.
Semua orang membicarakan Gio, mereka merasa kasihan, baru saja menikah Gio harus melihat Tiara terbaring di rumah sakit, yang seharusnya ini adalah hari kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru.
"Gio." Panggilan seorang pria mengalihkan pandangannya. Danu, datang menghampiri Gio.
"Maafkan saya, seharusnya kamu tidak menikahi Tiara." Danu merasa bersalah, menikahkan Gio dengan Tiara yang jelas memiliki mengidap penyakit parah.
"Kenapa harus minta maaf Pa? Tiara istriku sekarang, sudah tugasku menjaganya, jika tentang penyakit Tiara, aku sudah tahu dari awal," ujar Gio.
"Jadi tidak ada lagi yang perlu dimaafkan dan meminta maaf, karena ini bukan kesalahan kita, semua ini adalah takdir Tuhan," sambung Gio menyentuh hati Danu.
.
.
Revan, datang kembali ke cafe. Hobinya adalah membaca buku romansa, di tempat itu Revan kembali bertemu Rara karena sudah kenal gadis itu sok akrab yang menghampiri Revan.
"Hai!" Revan menoleh, ketika Rara menyapanya.
__ADS_1
"Kamu," ucap Revan datar.
"Iya, aku. Kita sudah bertemu beberapa kali. O ya, mau pesan apa?" tanya Rara yang memegang buku catatannya.
"Cheese tea," jawab Revan.
"Baiklah, ada tambahan?" tanya Rara.
"Pesankan dua," jawab Revan.
"Oke, silahkan ditunggu," ucap Rara lalu pergi mengambil pesanan.
Revan hanya memasang wajah datar lalu membaca bukunya lagi. Setelah beberapa saat Rara kembali membawa dua gelas cheese tea untuknya.
"Duduklah," titah Revan membuat Rara melongo.
"A-Aku?" tanya Tiara.
"Ya, aku memesan dua gelas untukmu, duduklah." Rara, segera duduk berhadapan dengan Revan.
"O ya, kemarin apa yang terjadi pada pengantin wanita?" Rara penasaran dengan apa yang terjadi pada Rara saat di pernikahannya.
Revan masih diam, menutup bukunya dan menyimpannya di atas meja. Revan pun berkata, "Pengantin wanita memang sudah lama sakit, dia mengidap penyakit parah hingga berulang kali masuk rumah sakit. Bahkan satu tahun lalu sempat dinyatakan meninggal."
Rara, melotot ketika mendengar penjelasan Revan.
"Sangat miris," ucap Rara.
"Gio?"
"Pengantin pria," jelas Revan, barulah Rara mengerti.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia datang menghadang jalanku, aku pikir dia seorang begal atau preman. Namun, dia hanya merampas cincinku," ujar Rara.
"Mungkin itu cincin pertunangan mereka," kata Revan yang sudah menduga.
"Pantas dia sangat marah. Aku pikir ibuku membelikannya untukku ternyata tidak, dia menemukan cincin itu saat bekerja, jadinya aku dituduh mencuri," kata Rara.
"Gio memang seperti itu," ucap Revan yang membaca bukunya lagi.
"Aku ke belakang dulu,'' ujar Rara, meneguk cheese tea lalu pergi.
.
.
Seminggu sudah berlalu, hari ini Gio membawa Tiara pulang, Gio menurunkan Tiara di atas kursi roda, tubuh yang kurus, wajah yang pucat, penampilan Tiara sudah berubah. Hanya ciput rajut yang menutupi kepalanya.
__ADS_1
Tiara memandang rumah asing di depannya, rumah kecil yang dikelilingi bunga matahari, hamparan rumput hijau begitu membentang.
"Rumah siapa ini?" tanya Tiara mendongak menatap Gio di atasnya.
Gio, menghembuskan nafas, lalu berkata," Ini rumah kita, aku memilih bangunan yang sederhana karena itu cukup untuk kita. Sengaja aku tanam bunga-bunga karena kamu menyukainya, tempat yang sejuk dan tenang. Semoga kamu nyaman inilah rumah kecil kita," ucap Gio lalu tersenyum pada Tiara.
"Sekarang kita masuk, aku akan memperlihatkan rumah baru kita." Gio mendorong kursi roda Tiara memasuki rumah kecil itu.
Tiara menatap takjub rumah itu, pemandangan nan hijau menyejukkan, jendela yang terbuka memudahkan udara dan sinar mentari masuk.
Kamar yang sederhana, cukup untuk mereka berdua. Tiara tertawa ketika melihat boneka bearnya.
"Kamu juga membawanya?" tanya Tiara menunjuk boneka itu.
"Tentu," jawab Gio. "Karena dia keluarga kita," tambah Gio lalu memangku Tiara ke atas ranjang.
Tiara terus memindai sekeliling kamar, tidak ada foto mereka yang terpajang.
'Aku lupa, aku bertahan hanya sampai akad,' batin Tiara, mengingat pernikahannya, sehingga tidak ada foto perkawinan mereka.
"Gio?" Tiara memanggil.
"Ya," sahut Gio lalu duduk di samping Tiara.
"Kenapa, saat itu kamu tidak pergi? Kenapa kamu tetap bersamaku? Aku sudah tidak cantik lagi, aku tidak sehat lagi, aku hanya bisa mempermalukanmu sebagai suami, dan aku hanya bisa membebanimu karena penyakitku," ucap Tiara.
Gio menghela nafas lalu berkata, "Saat janji suci terucap, kamu adalah istriku dan tanggungjawabku, aku akan tetap menjagamu sampai kapan pun," ucap Gio membuat Rara terharu.
Dengan lembut Gio mengecup kening Tiara lalu memeluk Tiara.
Hari-hari masih dilalui, Tiara dan Gio menikmati hari-hari bahagia di rumah mereka. Gio selalu membantu Tiara menyiram bunga. Hingga memasak bersama.
"Tiara bajuku basah," protes Gio ketika Tiara menyiram bajunya. Tiara hanya tertawa dan semakin mengarahkan air itu pada Gio.
"Tiara!"
"Eh, eh …."
Kini tubuh mereka basah, Tiara dan Gio bercanda sambil memainkan air. Air itu berhenti menyiram ketika pandangan mereka bertemu.
Tiara, tertegun membiarkan Gio mengusap lembut wajahnya. Dalam waktu singkat kedua bibir mereka saling menyatu.
Mata Tiara terpejam ketika sentuhan itu semakin dalam. Sedetik ciuman itu terlepas, Gio menatap Tiara dengan tulus. Tiara terkejut, ketika tubuhnya melayang, Gio membawa Tiara memasuki rumah.
Dengan perlahan Gio menunrunkan tubuh Tiara pada ranjang, tatapan keduanya tidak terlepas dan masih memandang.
"Tiara," ucap Gio membuat Tiara semakin gugup.
__ADS_1
Tiara hanya diam, Gio semakin mendekatkan wajahnya, dan sentuhan benda kenyal kembali dia rasakan. Tiara hanya diam, merasakan setiap sentuhan demi sentuhan.
Kedua tangan Gio mulai bergrilya, meraba setiap inci tubuh Tiara. Mungkin, Tiara akan melepas kesuciaannya pada malam ini. Malam pertama setelah lama menikah.