Badboy Untuk Tiara

Badboy Untuk Tiara
Sentuhan Lembut untuk Tiara


__ADS_3

Setelah mendapat kabar Tiara sudah sadar Gio langsung mendatangi Tiara di rumah sakit. Gio kembali membawa sebuket bunga matahari kini mereka menata bunga itu bersama.


"Kamu sungguh menakutkan ku," ucap Gio yang menatap Tiara. "Lain kali aku tidak akan mengizinkanmu tidur di pundakku lagi," tambahnya. Tiara hanya tersenyum.


"Maaf, aku sudah membuatmu khawatir," ucap Tiara.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Gio.


"Sudah lebih baik," jawab Tiara.


"Tubuhmu semakin kurus saja," ujar Gio membuat Tiara mencebik. "Apa kamu bosan? Mau keluar?" tanya Gio tapi Tiara tidak terlihat senang.


"Bukankah aku dilarang keluar," kata Tiara.


"Kita hanya ke atap apa ada yang melarang? Lagian kita masih berada di rumah sakit, kan." Gio berkata seraya menatap wajah Tiara, sedetik senyumnya mengembang ketika Tiara mengangguk.


Gio langsung berdiri, menyimpan tasnya di atas meja lalu membuka jaketnya memperlihatkan seragam putihnya. Gio menarik sebuah kursi roda, mendekatkannya pada Tiara lalu membawa Tiara untuk duduk.


Tiara hanya memegang infusannya.


"Sebentar aku ikat rambutmu dulu," kata Gio lalu mencari sebuah ikat rambut yang terletak di atas meja. Tiara tersenyum dalam diam ketika Gio mengikat rambutnya.


"Sudah rapi, sekarang kita pergi," ucap Gio.


"Ikatanmu ini sangat nyaman apa kamu sering mengikat rambut?" tanya Tiara yang tertawa seolah mengejek. Gio terlihat kesal lalu mencubit pipi Tiara.


"Gio sakit." Tiara berkata seraya mengusap pipinya. Tidak di sangka cubitan Gio membuat pipinya merah.


Gio yang melihat itu segera menunduk, Gio panik karena teringat luka memar di kaki Tiara waktu itu. "Maaf, aku pikir tidak akan membekas." Kata Gio seraya mengusap pipi Tiara. Tiara hanya diam ketika wajah Gio begitu dekat, bahkan bibir mereka hampir saja bersentuhan.


Sedetik Gio terpana mata indah Tiara sangat menghipnotis dirinya. "Kita pergi sekarang," ucap Gio segera berdiri lalu mendorong kursi rodanya.


Mereka terlihat canggung, begitupun Tiara yang masih diam.


"Kalian mau kemana?" tanya seorang perawat menghentikan mereka.

__ADS_1


"Mau ke atap apa tidak boleh?" tanya Gio dengan dingin.


"Awas jika membawanya kabur lagi," kata seorang suster. "Tiara jika dia mengajakmu pergi jangan mau ya," pesan seorang suster Tiara hanya mengangguk dan tersenyum.


Suster itu pun pergi meninggalkan mereka. "Apa aku terlihat seperti penjahat," ujar Gio kesal. Lalu mendorong kursi rodanya lagi.


***


"Wah! Gio ini tampak berbeda, aku sudah lama tidak datang ke sini," ucap Tiara yang menatap takjub tempat itu.


Gio sengaja menanam banyak bunga matahari di sana, bahkan Gio sudah menghiasi atap itu seperti sebuah rumah. Ada sofa untuk bersandar.


"Duduklah," kata Gio membantu Tiara duduk di sofa.


"Nyaman sekali," kata Tiara yang bersandar pada sofa. "Kamu masih memakai cincinnya?" tanya Tiara yang menyentuh tangan Gio.


"Apa aku harus membuangnya?" tanya Gio yang melepaskan tangan Tiara.


"Apa kamu berniat untuk membuangnya? Aku sudah susah mencarinya tapi kamu malah akan membuangnya lagi. Tapi tidak apa jika kamu membuangnya aku akan mencarinya lagi. Seperti hidupku … walau ku jatuh sakit akan tetap bangun lagi," ucap Tiara membuat Gio terdiam.


"Kata siapa penyakitmu tidak akan sembuh? Jika aku jadi Doktermu aku tidak akan mengatakan itu, aku akan menyembuhkanmu bagaimanapun caranya," ucap Gio.


"Jika semua Dokter sepertimu semua pasien akan semangat dan tidak sedih lagi," kata Tiara.


"Baiklah kalau begitu aku akan jadi Dokter," ujar Gio membuat Tiara tertawa. "Apa wanita itu kembali datang?" tanya Gio.


"Siapa? Ah … apa artis itu maksudmu Bella? Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Mungkin dia tidak tahu aku ada di sini," ujar Tiara lalu menatap lurus ke depan.


"Dia adalah ibuku," ucap Gio membuat Tiara terkejut. Tiara langsung menatap Gio di sampingnya.


"Dia ibuku yang meninggalkanku delapan tahun lalu," sambung Gio.


"Apa kamu pernah bertemu dengannya? Maksudku menemuinya?" tanya Tiara.


"Hari ini dia datang ke sekolah, membawa ku hadiah tapi aku tidak menerimanya semudah itu. Pantas saja selama ini papaku tidak pernah mengizinkanku bertemu dengannya sekarang aku mengerti, wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah. Dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan."

__ADS_1


"Mungkin ada alasan …," ucap Tiara tertahan karena Gio menyanggahnya.


"Apa pun alasannya apa harus meninggalkan anaknya? Bukankah seorang ibu tidak akan melakukan itu," ucap Gio.


"Iya, seorang ibu tidak akan melakukannya. Apa pun itu alasannya dia sudah melakukan kesalahan, eh … tapi aku tidak pernah mendengar Bella menikah atau punya anak. Apa ini alasannya?" tanya Tiara membuat Gio tersenyum sinis.


"Sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi, aku hanya ingin memberitahumu jika dia ibu kandungku itu saja," ungkap Gio membuat Tiara tersenyum.


"Apa aku orang yang berarti di hidupmu sehingga kamu harus memberitahuku?" tanya Tiara dengan senyum menggoda. Gio hanya menanggapi dengan senyuman.


"Karena kamu adalah tunanganku jadi aku harus memberitahumu," ujar Gio.


"Apa kita harus memberitahukan orang tua kita jika kita diam-diam bertunangan," ucap Tiara sedikit berbisik.


"Jika harus aku akan memberitahukan orang tuaku. Bila perlu …," ucap Gio tertahan.


"Bila perlu apa?" tanya Tiara penasaran. "Katakan bila perlu apa?" tanya Tiara lagi.


"Bila perlu kita adakan pesta lagi," jawab Gio. Namun bukan itulah yang ingin dia katakan.


"Aku takut kamu meninggalkan pesta lagi," kata Tiara.


"Kamu yang membuatku meninggalkannya. Jika kamu mengatakan sedang sakit aku tidak akan pergi," balas Gio.


"Aku hanya takut kamu kecewa," ucap Tiara membuat Gio menatapnya heran. "Aku pikir saat itu aku akan mati, jadi lebih baik aku membatalkan pertunangan itu dari pada membuatmu bersedih nanti," sambung Tiara.


Tiara bisa merasakan ketika dirinya sakit parah, darah yang menetes tidak kunjung berhenti yang terus mengenai gaun putihnya. Bahkan saat itu Tiara sudah tidak mampu lagi untuk terbangun, yang Tiara harapkan hanyalah bertahan sampai acara itu selesai.


"Aku mengerti ketika kamu marah Gio, karena aku sudah menyakitimu. Namun, aku berterima kasih padamu karena kamu sudah mau memaafkanku dan peduli padaku. Perkataanmu saat itu sangat menyakitiku," ucap Tiara setetes cairan bening membasahi pipinya. Tiara hanya menunduk membiarkan air mata itu terus terjatuh.


"Perkataan yang mana maksudmu?" tanya Gio yang mungkin sudah lupa.


Tiara mendongak lalu menatap Gio di sampingnya. "Bukankah kamu pernah bilang jika kamu mendekatiku karena kasihan, kamu hanya merasa kasihan karena penyakitku," ucap Tiara.


"Aku mengatakan itu karena emosi," ucap Gio merasa bersalah.

__ADS_1


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Tiara lagi. Gio hanya diam seraya menatap wajah Tiara teduh, dia tidak mengatakan apa pun. Wajahnya semakin mendekat dan … Tiara terpaku ketika sentuhan lembut mengenai bibirnya.


__ADS_2