
Tiara mengerjap, bibirnya melengkung seketika ketika melihat wajah Gio. Tiara berpikir itu mimpi hingga tangannya berusaha menyentuh wajah Gio.
"Tiara," panggil Gio. Seketika Tiara tersadar jika Gio sangat nyata ada di depan matanya.
"G-Gio? Apa ini benar kamu?" tanya Tiara.
"Lalu siapa? Hantu," ucap Gio yang bangun dari duduknya. Tiara ikut terbangun yang duduk di atas ranjang.
Gio kembali pada Tiara seraya membawa segelas air dan obat. "Minumlah!" titah Gio. Namun, Tiara menggeleng menolak untuk meminum obat.
"Pahit, bosan, aku tidak ingin meminumnya lagi. Bisakah kamu memberikan sesuatu yang enak bukan obat," kata Tiara. Gio menaruh obat dan gelas itu di atas meja.
"Tidak ada obat yang manis," ujar Gio. "Bayangkan saja obat ini adalah permen maka akan terasa manis saat meminumnya," tambah Gio terus membujuk Tiara.
"Aku bukan anak kecil yang mudah ditipu, aku tidak mau meminumnya lagi." Tiara tetap menolak.
Gio berpikir sejenak, sedetik senyumnya mengembang. Sepertinya Gio mendapatkan sebuah ide. Gio bangun dari duduknya berjalan ke arah tempat kupu-kupu berada. Tubuhnya menunduk menatap kupu-kupu itu lebih dekat.
"Aku baru melihatnya apa kamu baru membelinya?" tanya Gio.
"Revan memberikannya untukku," jawab Tiara lalu turun dari ranjangnya mendekati Gio.
"Sangat cantik bukan? Kupu-kupu berwarna biru ini aku beri nama Gionino Putra," ucap Tiara dengan tawa.
"Itu namaku." Gio tidak terima.
"Kalau yang itu aku beri nama Revan." Tiara berkata seraya menunjuk kupu-kupu kuning.
"Tidak adil, kenapa Revan di beri kupu-kupu yang cerah sedangkan aku yang gelap," protes Gio.
"Sesuai karaktermu, kadang kamu pemarah, kasar, dan menakutkan. Sedangkan Revan dia selalu bersikap lembut sangat cocok dengan kupu-kupu ini," ucap Tiara membuat Gio semakin kesal.
"Kamu pikir hanya kupu-kupu yang indah? Ada yang lebih indah dari ini," kata Gio.
"Apa?" tanya Tiara penasaran.
"Aku akan beritahu asal kamu meminum obat dulu," jawab Gio seolah membujuk Tiara agar meminum obat.
"Aku tidak akan bisa ditipu. Jika kamu tidak ingin memberitahu ya sudah." Tiara kembali ke atas ranjang dengan wajah murung.
"Padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujar Gio yang melirik pada Tiara.
"Kalau kamu tidak mau akan akan pergi melihat kumang sendiri saja," sambung Gio.
__ADS_1
"Kumang apa itu?" tanya Tiara penasaran. Gio tersenyum licik lalu membawa segelas air dan obat tadi kehadapan Tiara.
"Aku akan membawamu besok," ujar Gio yang memberikan obat itu. Tiara terlihat kesal tapi dia juga penasaran apa itu kumang. Akhirnya Gio berhasil membujuk Tiara untuk minum obat.
"Aku sudah meminumnya sekarang katakan apa itu kumang?"
"Sudah aku bilang aku akan membawamu melihatnya besok," ujar Gio. Lalu meminta Tiara untuk istirahat, menyelimuti tubuh Tiara agar hangat.
"Tidurlah besok pagi aku akan datang lagi," ucap Gio yang hendak pergi. Namun, Tiara menahan tangan Gio agar tidak pergi.
"Temani aku sampai aku tidur. Kadang aku takut jika tidak akan bangun lagi," ucap Tiara yang menggenggam tangan Gio.
"Baiklah aku akan diam di sini sampai kamu tidur," ucap Gio membuat Tiara tersenyum.
Gio terus memandang wajah Tiara yang begitu pucat, dan menatap luka memar pada tangan Tiara. Gio melepaskan genggaman tangannya dengan pelan keika mata Tiara sudah terpejam.
Gio keluar dari kamar dia bertemu dengan Susan yang hendak memasuki kamar Tiara.
"Apa Tiara sudah tidur?" tanya Susan.
"Sudah Tante," jawab Gio. "O ya Tante besok Gio ingin mengajak Tiara pergi apa boleh?" tanya Gio meminta izin.
"Kemana?" tanya Susan.
"Pantai," jawab Gio.
***
Keesokan paginya Tiara sudah siap menunggu Gio menjemputnya. Mengingat akan pergi ke pantai Tiara sangat antusias memilih dress yang cantik. Rambut dibiarkan terurai dan wajah yang diberi riasan.
Namun, ketika hendak menyisir rambut Tiara tertegun melihat banyaknya helaian rambut yang tertinggal pada sisir.
"Rambutku semakin berkurang," ucap Tiara menatap sedih rambut itu.
"Tiara!" Dengan segera Tiara menyembunyikan sisir itu ketika Susan memanggilnya.
Tiata terdiam dengan hati yang tidak karuan. "Anak Mama cantik sekali," ujar Susan memuji Tiara. Tiara segera berbalik menghadap Susan.
"Mama," ucap Tiara pura-pura tersenyum.
"Kamu mau pergi ke pantai terlihat sangat ceria dan cantik. Sayang, pakai jaket ya biar tidak dingin." Susan berkata seraya memakaikan jaket rajut pada Tiara. Tiara hanya mengangguk.
"Jangan lupa membawa obat," kata Susan lagi yang memasukan obat-obatan itu ke dalam tas.
__ADS_1
Tiara hanya menatap datar tas itu lalu berkata, "Apa harus Ma?" tanyanya. Sepertinya Tiara sangat bosan harus membawa obat-obat itu ke mana pun.
Susan hanya menatap Tiara sambil tersenyum lalu merapihkan rambut Tiara. "Kamu tidak boleh telat meminumnya ingat kata Dokter," ucap Susan.
"Apa hidupku tergantung pada obat? Jika tidak meminum obat apa Tiara akan meninggal Ma?" Wajah Susan menegang ketika mendapat pertanyaan itu dari Tiara.
"Gio sudah ada di bawah sebaiknya kamu segera turun," kata Susan mengalihkan pembicaraan. Susan berlalu pergi demi menghindari Tiara.
Gio bangun dari sofa saat melihat Tiara menuruni tangga. Wajah Tiara tidak terlihat ceria lagi yang sangat tidak bersemangat.
"Gio, tolong jaga Tiara ya," pesan Susan pada Gio yang hanya dijawab dengan anggukkan.
"Tiara jangan lup …," ucap Susan tertahan ketika Tiara melewatinya.
"Tiara sudah besar Ma tidak perlu diingatkan," ucap Tiara yang melangkah keluar. Susan hanya bisa menghela nafas dan terdiam.
"Tante kami berangkat dulu," ujar Gio yang diangguki Susan. Mereka pun memasuki mobil, Gio memilih menggunakan mobil untuk membawa Tiara pergi.
Sepanjang jalan Tiara hanya diam sambil menatap jalanan yang bergerak mundur. Gio merasa heran yang berkali-kali melirik Tiara. Hingga mobil Gio berhenti barulah Tiara bicara.
"Apa sudah sampai?" tanya Tiara melirik pada Gio.
"Belum, aku akan membeli cemilan apa kamu mau titip?" tanya Gio Tiara hanya menggeleng.
"Aku tidak tahu apa kesukaanmu apa kamu mau ikut masuk?" tanya Gio lagi.
"Tidak, aku tunggu saja di sini," jawab Tiara.
"Baiklah tunggu aku sebentar," kata Gio lalu turun dari mobilnya. Gio melangkah memasuki mini market, menyusuri setiap rak yang terdapat banyak makanan.
Gio mengambil beberapa minuman dan cemilan ringan, Gio melihat ice cream dan berpikir untuk membelikannya. "Ice cream mungkin akan mengembalikan mood Tiara," ucapnya lalu mengambil satu ice cream rasa strawbery setelah itu berjalan ke arah kasir untuk membayar.
Tiara masih menunggu dalam mobil tidak berselang lama Gio masuk membawa belanjaannya.
"Sudah selesai?" tanya Tiara Gio hanya tersenyum.
"Sepertinya kamu tidak sabar ingin melihat kumang." Kata Gio seraya memasangkan sabuk pengamannya. "Aku membeli ini untukmu kali saja kamu suka," ujar Gio memberikam satu buah ice ream.
Benar saja mood Tiara lebih baik setelah melihat ice cream itu. Wajahnya kembali ceria dan semangat. "Kamu tahu kesukaanku strawbery."
"Aku hanya menebak," balas Gio. "Sini biar aku bukakan," kata Gio yang mengambil ice cream itu dan membukanya untuk Tiara.
"Terima kasih," ucap Tiara yang dibalas dengan senyuman. Gio segera melajukan mobilnya meninggalkan mini market.
__ADS_1
Gio tertawa ketika melihat bibir Tiara yang belepotan karena ice cream. Sejenak Gio memelankan laju mobilnya untuk mengusap lembut bibir Tiara.
Seketika Tiara tertegun ketika jari tangan Gio dengan lembut mengusap bibirnya.